• Tidak ada hasil yang ditemukan

ARUS DOKUMEN BUKTI PEMBAYARAN PAJAK

Dalam dokumen Administrasi-Pajak (Halaman 136-141)

BUKTI PEMBAYARAN

ARUS DOKUMEN BUKTI PEMBAYARAN PAJAK

Gambar arus dokumen pembayaran pajak disajikan dengan penjelasan sebagai berikut:

1. Lembar ke-3 Surat Setoran Pajak baik sebagai Surat Pemberitahuan Masa maupun sebagai lampiran dari Surat Pemberitahuan diterima KPP melalui Tempat Pelayanan Terpadu sebagai laporan dari Wajib Pajak;

2. Setelah diteliti oleh petugas TPT direkam dengan keluaran : a. Bukti Tanda Terima Surat Masuk;

b. LPAD (Lembar Pengawasan Arus Dokumen).

3. Setelah itu oleh TPT bersama dengan LPAD original dokumen lembar ke-3 (ketiga) tersebut disalurkan ke masing-masing seksi tergantung Mata Anggaran Penerimaan (MAP) yang ditulis oleh Wajib Pajak;

4. Lembar kedua diterima KPP melalui Seksi Penerimaan/Unit kerja Rekonsiliasi dari KPKN bersama dengan DA.08.01;

5. Kemudian dilakukan sortir, direkam dan disalurkan ke masing-masing seksi yang antara lain berupa:

a. Daftar Nominatip Penerimaan (DNP);

b. Daftar Rekap Surat Perhitungan (SPH) yang diterima;

c. Daftar Rekap SPS Retur dari seksi lain karena salah kirim, dan d. Daftar Rekap Pemindah Bukuan (PBk).

I.Wajib Pajak Lembar ke-3 SSP sbg SPT atau sebagai lampiran SPT lapor Tempat Pelayanan Terpadu (TPT) * LPAD (Lembar Pengawasan Arus Dokumen), dan

* Lembar ke-3 SSP II. KPKN

I. Penagihan di catat dalam: KP.Rikpa 4.31 KP.Rikpa 4.23 KP.Rikpa 4.28 II. PPh. OP. Dicatat dalam : Bk.Pengawasan Pembayaran. III. PPh.Badan Dicatat dalam: Bk.Pengawasan Berkas Th.Berjalan

DA.08.01 KPP

Unit kerja Rekonsiliasi sortir & perekaman lembar -2 1. Rekap DNP. 2. Rekap SPH/ SPS retur & PBk Pembayaran.

IV. PPh Pot Put

Dicatat dalam: Bk.Pengawasan Pembayaran. V. PPN/ PPn BM Dicatat dalam: Kartu Pengawasan Pembayaran

6. Oleh masing-masing seksi setelah dicatat atau dicek dalam komputer, diarsipkan ke dalam anak berkas tahun berjalan;

7. Terhadap Surat Setoran Pajak yang menjadikan pajak seharusnya dibayar atau utang pajak terjadi kurang bayar, maka petugas dari masing-masing seksi tersebut menerbitkan Nota Perhitungan Surat Tagihan Pajak, yaitu: a. untuk seksi PPh OP, Badan atau Pot Put serta PPN diterbitkan STP

Pasal 14 ayat (1) huruf a atau huruf b jo Pasal 14 ayat (3) KUP;

b. untuk seksi Penagihan menerbitkan STP Bunga Penagihan Pasal 14 ayat (1) huruf c jo Pasal 19 ayat (1) KUP, apabila pembayaran telah lewat saat jatuh tempo.

RANGKUMAN

1. Formulir Surat Setoran Pajak adalah sebagai sarana pembayaran pajak; 2. Pengertian Surat Setoran Pajak yaitu antara lain:

a. Surat Setoran Pajak Standar; b. Surat Setoran Pajak Khusus;

b. Surat Setoran Pabean, Cukai dan Pajak-Pajak, yang digunakan dalam rangka impor; dan

c. Surat Setoran Cukai dan Pajak Pertambahan Nilai.

3. Pada setiap SSP Standar tertulis Kode Mata Anggaran Penerimaan (MAP) dan Kode Jenis Penerimaan (KJS), sebagai pengganti Rubrik penerimaan pada masa yang lalu;

4. Semua pembayaran yang dimaksudkan untuk Masa berjalan atau Tahun berjalan sebenarnya adalah kredit pajak, bukan sebagai bentuk angsuran pajak;

5. Semua bentuk pembayaran pajak tersebut diadministrasikan ke dalam Berkas Tahun Berjalan kecuali pembayaran utang pajak dalam Surat ketetapan pajak yang diadministrasikan dalam Klaimban Lembar Surat Ketetapan;

6. Sebagai bukti pembayaran yang sah Direktur Jenderal Pajak/Kantor Pelayanan Pajak hanya mengakui lembar ke-2 (dua) Surat Setoran Pajak, sekalipun hal ini perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut karena menimbulkan persengketaan;

7. SSP sebagai bukti pembayaran diterima oleh seksi-seksi dari unit kerja rekonsiliasi yang menerima pengiriman/pengambilan bukti tersebut dari Kantor Perbendaharaan dan Kas Negara (KPKN) melalui Surat Penganatar DA.08.01, atau dari Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak sebagai Pengelola Penerimaan apabila dalam satu Kota terdapat beberapa KPP; 8. Lembar ke-3 (tiga) Surat Setoran Pajak diterima oleh Seksi-seksi pengelola

dari unit kerja Tempat Pelayanan Terpadu, sebagai Surat Pemberitahuan maupun sebagai lampiran dari Surat Pemberitahuan;

9. Terhadap lembar ke-2 (dua) yang tidak kunjung diterima dalam batas waktu yang wajar, sedangkan lembar ke-3 (tiga) dari SSP sudah ada maka Seksi perlu menyurati Bank penerima pembayaran dan ditindaskan kepada KPKN;

10. Secara periodik pada setiap akhir tahun setelah semua pembayaran dalam tahun dimaksud dibukukan dan diarsipkan maka masing-masing seksi mengirimkan Berkas Tahun Berjalan tersebut ke unit kerja Tata Usaha Perpajakan /korlak TAPSIP.

LATIHAN

2. Jelaskan berapa jenis bentuk Surat Setoran Pajak!

3. Berapa lembar Surat Setoran Pajak diterima oleh unit kerja pengelola dan dari mana saja unit kerja pengelola menerima Surat Setoran Pajak?

4. Jelaskan Surat Setoran Pajak lembar berapa sebagai bukti pembayaran, dan jelaskan mengapa Direktorat Jenderal Pajak menganggap demikian!

5. Langkah apa yang harus diambil oleh pengelola Surat Setoran Pajak apabila pada waktunya ternyata SSP lembar ke-2 (dua) tidak ada? Dan jelaskan apa yang mungkin terjadi apabila SSP lembar ke-2 (dua) tidak ada?

6. Jelaskan apa saja yang menjadi penyebab adanya SSP yang tidak dapat sampai kepada tujuan pembayaran!

7. Apakah Bukti Pemindahbukuan dapat disamakan derajatnya dengan Surat Setoran Pajak?

8. Jelaskan mengapa terminologi angsuran PPh 25 dalam Pasal 25 UU PPh dianggap kurang pas/benar oleh penulis!

9. Jelaskan bagaimana tata cara mengarsipkan Pembayaran PPh Pasal 25 dengan pembayaran pajak lain yang bersifat final di dalam Anak Berkas Tahun Berjalan!

10. Dimanakah pembayaran PPh Pasal 24 harus diarsipkan?

11. Apakah pembayaran PPh Pasal 25 dapat dilakukan sekali untuk Masa 12 (dua belas) bulan? Berikan argumentasi yang mendasari atas jawaban saudara!

12. Apakah Wajib Pajak dapat mengajukan pengurangan kewajiban pembayaran PPh Pasal 25? Dan atas jawaban saudara berikan apa yang menjadi dasar hukumnya?

13. Berikan pendapat bebas saudara sebagai seorang pelaksana hukum tentang tidak diakuinya sebagai bukti pembayaran atas SSP lembar ke-3 dan ke-1 apabila lembar keduanya tidak ada?

14. Berikan jawaban bebas saudara, apakah menurut saudara masih diperlukan Buku Tabelaris Pengawasan Pembayaran Masa di KPP!

15. Terhadap Pembayaran PPh Pasal 25 Wajib Pajak diwajibkan melaporkan pembayarannya, apakah demikian pula terhadap pembayaran surat ketetapan pajak?

BAB

5

PENGELOLAAN

Dalam dokumen Administrasi-Pajak (Halaman 136-141)