• Tidak ada hasil yang ditemukan

Khusus dalam periode III, apabila diterbitkan: STP (A) atau SKPKB (B.b) atau SKPKBT (C), maka mekanismenya adalah sebagai berikut:

Dalam dokumen Administrasi-Pajak (Halaman 131-136)

BUKTI PEMBAYARAN

MEKANISME PEMBAYARAN PAJAK DALAM SELF ASSESSMENT

8. Khusus dalam periode III, apabila diterbitkan: STP (A) atau SKPKB (B.b) atau SKPKBT (C), maka mekanismenya adalah sebagai berikut:

tgl.penerbitan STP; SKPKB;SKPKBT

Pasal 9 ayat (3) KUP (sebulan) Jatuh Lewat Jatuh Tempo Tempo

Kemungkinan yang Apabila tidak lunas, Dilakukan WP kemungkinannya adalah: 6/5-’05 6/6-’05

a. melunasi utang pajak s.d. 6/6-’05 atau a. Diterbitkan STP Bunga b. mengajukan angsuran pembayaran/ Penagihan 14(1) jo19(1)

penundaan pembayaran – Ps.9 KUP Ayat (4) KUP

c. mengajukan keberatan, dengan batas b. Penagihan Paksa; 3 (tiga) bulan sejak 6/5-2005.

Batas akhir pelunasan Penjelasan:

1. Pengertian sebulan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (3) KUP bukanlah bentuk fasilitas, namun karena pertimbangan jangka waktu yang diperlukan untuk arus dokumen. Pengertian ini dalam sistem komputer Ketetapan dan Kearsipan dijabarkan dari suatu tanggal ke tanggal yang sama pada bulan berikutnya, bukan ke satu hari sebelum tanggal pada bulan berikutnya. Namun demikian tidak perlu kiranya dipermasalahkan karena selain tidak material perbedaannya juga sama sekali tidak merugikan Wajib Pajak;

2. Apabila Wajib Pajak kurang yakin terhadap perhitungan Kantor Dirketur Jenderal Pajak/Kantor Pelayanan Pajak maka sebelum dirinya mengajukan surat permohonan keberatan dapat mengajukan permohonan untuk mendapat penjelasan secara tertulis akan hal-hal yang menjadi dasar diterbitkannya SKPKB/SKPKBT/SKLB/SKPN – Pasal 25 ayat (6) KUP. Hikmah dari lembaga permohonan penjelasan tertulis tersebut agar Wajib Pajak dapat mempertimbangkan masak-masak apakah jadi mengajukan keberatan atau apakah ada alasan untuk mengajukan keberatan, kemudian apabila tidak ada alasan untuk mengajukan keberatan apakah akan langsung dibayar lunas atau apakah akan mengajukan permohonan angsuran atau penundaan pembayaran;

3. Setelah menerima penjelasan tertulis dari kantor Direktorat Jenderal Pajak, maka Wajib Pajak dapat mempertimbangkan apakah akan terus mengajukan surat permohonan keberatan atau melunasinya, karena pertimbangan bahwa perhitungan telah benar;

4. Apabila Wajib Pajak telah meyakini bahwa perhitungan ketetapan telah benar dan ternyata kondisi likuiditas tidak siap untuk melakukan pelunasan pada saat jatuh tempo, maka dirinya dapat mengajukan permohonan angsuran pembayaran atau penundaaan pembayaran;

5. Apabila Wajib Pajak yakin bahwa hal-hal yang menjadi dasar diterbitkannya surat ketetapan pajak (SKPKB/SKPKBT/SKPLB/SKPN) adalah tidak benar atau kurang benar sehingga berakibat kepada besarnya utang pajak yang dirasa memberatkan dirinya, atau jumlah kerugian yang lebih kecil dari

yang seharusnya, maka Wajib Pajak sebelum mengajukan surat permohonan keberatan dapat mengajukan surat permohonan untuk diberikan penjelasan tertulis dari pihak kantor Direktorat Jenderal Pajak, dan penjelasan tertulis tersebut dapat dipergunakan sebagai dasar menyusun alasan keberatan.

Dalam kasus pengajuan keberatan terhadap Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar (SKPKB) maka harus benar-benar diperhatikan satu hal yakni dasar hukum dari penerbitan SKPKB tersebut apakah Pasal 13 ayat (1) huruf a/c atau SKPKB Pasal 13 ayat (1) huruf b/d KUP. Dalam kasus pengajuan keberatan terhadap SKPKB yang diterbitkan berdasarkan Pasal 13 ayat (1) huruf b/d maka Wajib Pajak harus membuktikan akan ketidakbenaran dari surat ketetapan pajak tersebut.

Mengapa demikian? Hal ini di sebabkan karena penerbitan SKPKB Pasal 13 ayat (1) huruf b atau d sebelumnya didahului dengan suatu ”dakwaan” yaitu:

• untuk huruf b, dakwaan bahwa Wajib Pajak telah ditegur dan tetap tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan sebagaimana tanggal yang ditetapkan dalam surat teguran, atau

• untuk huruf d, Wajib Pajak tidak menyelenggarakan ketentuan Pasal 28 KUP (kewajiban menyelenggarakan pembukuan) dan Pasal 29 KUP (tidak melayani jalannya pemeriksaan). Dalam ketentuan pasal 13 ayat (1) huruf d ini kedua pelanggaran tersebut adalah bersifat kumulatif.

Surat Ketetapan Pajak Lebih Bayar, maka mekanismenya sbb: SKPLB Pasal 17

1. Tanggal 6/5-’05 SKPLB diterbitkan;

2. Wajib Pajak mengajukan permohonan pengembalian; Pasal 11 ayat (2) KUP.

3. PMKP diterbitkan paling lambat satu bulan sejak surat permohonan restitusi disampaikan;

SKPLB Pasal 17B

1. Tanggal 6/5-’05 SKPLB diterbitkan;

2. Tanggal 6/6-’05 saat paling lambat penerbitan SPMKP;

Pasal 11 ayat (2) KUP

3. Penerbitan SPMKP setelah tanggal tersebut butir b negara membayar bunga 2 % (dua persen) sebulan terhitung sejak tanggal tersebut

Pasal 11 ayat (2) KUP;

4. Penerbitan setelah tanggal tersebut c, negara membayar bunga 2 % (dua persen) sebulan yang dihitung sejak tanggal yang seharusnya diterbitkan sampai dengan tan-gal penerbitan SPMKP;

Pasal 11 ayat (3) KUP.

huruf b sampai dengan tanggal penerbitan SPMKP;

Pasal 11 ayat (3) KUP

Dari uraian tersebut maka jelas sekali bahwa ada perbedaan yang mendasar antara SKPLB sebagai produk Pasal 17 KUP dan SKPLB sebagai produk Pasal 17B KUP dan khususnya adalah perbedaan dalam menerbitkan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP) sebagai realisasi pengembalian kelebihan dalam SKPLB yang menjadi hak Wajib Pajak tersebut. Oleh karena pelaksanaan tata usaha hilir sebagai akibat diterbitkannya SKPLB tersebut adalah tidak sama antara SKPLB Pasal 17 dan Pasal 17B maka sudah sewajarnya apabila di dalam penerbitan SKPLB dibedakan secara tertulis dari masing-masing SKPLB, misalnya SKPLB Pasal 17 atau SKPLB Pasal 17B. Apabila dalam penebitan SKPLB tersebut tidak dibedakan secara jelas, maka dengan sendirinya akan menyulitkan unit kerja yang bertugas menerbitkan SPMKP, karena SKPLB Pasal 17 perlu adanya surat permohonan di satu pihak sedangkan di pihak lain SKPLB Pasal 17B tidak perlu surat permohonan.

Mengapa Wajib Pajak mengajukan angsuran atau penundaan pembayaran? Dalam kaitannya dengan pertanyaan tersebut sebagai jawabannya adalah bahwa dalam kasus ini Wajib Pajak sebenarnya telah menyetujui kebenaran dari diterbitkannya surat ketetapan pajak, baik kebenaran formal (dasar hukum penerbitan) maupun dasar hukum material (perhitungan besarnya penghasilan kena pajak). Namun demikian oleh karena Wajib Pajak baru dalam kesulitan likuiditas yang bersifat sementara maka dirinya dapat mengajukan permohonan angsuran atau penundaan pembayaran, oleh karena itu dalam pelaksanaan penagihan pajak selanjutnya apabila Wajib Pajak bertindak wan prestasi dalam pelaksanaan angsuran pajak atau penundaan pembayaran maka penerbitan Surat Teguran tidak diperlukan lagi, dapat langsung diberitahukan Surat Paksa.

Mekanisme Pajak Pertambahan Nilai

1/6-’05 30/6-’05 15/7-‘05

(Masa Pajak mis.Juni-‘05) akhir Masa Transaksi dalam Masa Pajak:

a. Transaksi penyerahan BKP/JKP Penyetoran kepada pembeli- memungut PPN: P (K) Kekurangan dari b. Transaksi perolehan BKP/JKP dari SPT (KB)

Penjual – dipungut PPN : P (M)

Penyampaian SPT Akhir Masa/ bu- paling lambat

lan takwin. Tugas PKP : menutup Bk. Penyerahan dan Bk.Perolehan Dan menyampaiakan SPT, apabila 1. P (K) > P(M) - SPT. (KB) 2. P (K) < P (M) - SPT. (LB) 3. P (K) = P (M) - SPT (N)

Catatan:

Dalam praktek pelaksanaan penerbitan SKPLB maka tidak pernah dibedakan antara SKPLB Pasal 17 dan SKPLB Pasal 17B, sehingga untuk menghindari kesalahan di dalam pengembalian di unit kerja hilir (Unit Kerja Rekonsiliasi) semua Wajib Pajak diminta untuk mengajukan permohonan pengembalian sekalipun SKPLB nya adalah Pasal 17B. Kondisi yang demikian ini membuat performen Direktorat Jenderal Pajak tidak baik di depan Wajib Pajak.

Dalam mekanisme Pajak Pertambahan Nilai tidak mengenal penyetoran dan atau pelaporan pajak sebagai pertanggungjawaban pelaksanaan perpajakan selama satu tahun pajak atau Surat Pemberitahuan Tahunan, tidak sebagaimana halnya dalam Pajak Penghasilan atas orang pribadi maupun badan. Namun demikian satu hal yang harus diperhatikan dalam penyampaian surat pemberitahuan PPN sebagai Laporan Pertanggungjawaban terhadap pelaksanaan PPN maka sebenarnya apa yang harus dilaporkan Pengusaha Kena Pajak adalah bukannya rekap dari Buku Perolehan dan Buku Penyerahan yang

ditutup pada setiap akhir bulannya, akan tetapi berupa pemindahan Buku Perolehan dan Buku Penyerahan bulanan.

Oleh karena itu sebaiknya penggunaan Buku Perolehan dan Buku penyerahan sebagaimana dimaksud dalam pasal 1 angka 26 KUP tentang pengertian “Pembukuan” dilaksanakan saja dengan model “Buku PPN Lampiran 1195 A1, A2 dan A3” dan juga “Buku PPN Lampiran PPN B1, B2, B3 dan B4”. Bentuk Kartu yang setiap akhir bulan dapat dicetak atau tinggal memindahkan ke dalam Lampiran Surat Pemberitahuan apabila pembukuan diselenggarakan secara komputerisasi atau tinggal memfotokopi apabila pembukuan masih diselenggarakan secara manual. Dengan cara demikian maka Pengusaha Kena Pajak tidak direpotkan dengan penutupan buku bulanan dan melakukan pemindahan buku tersebut ke dalam Lampiran Surat Pemberitahuan pada setiap akhir Masa/bulan.

Catatan:

Apabila kita perhatikan dengan seksama maka mekanisme dalam pelaksanaan Pajak Pertambahan Nilai adalah hampir sama dengan mekanisme dalam pelaksanaan pemotongan pajak penghasilan pasal 21. Oleh karena itu penulis sejak awal tax reform selalu menyarankan agar pengawasan pemotongan PPh pasal 21 adalah dilakukan secara bulanan. Lembaga Surat Pemberitahuan PPh Pasal 21 Tahunan atau SPT 1721 hanya menimbulkan:

a. Pengawasan pihak Direktorat Jenderal Pajak yang menjadi teledor karena terfokus pada SPT 1721 (SPT Tahunan);

b. Dengan pengawasan yang teledor tadi seolah-olah memberikan kesempatan kepada pemotong pajak untuk menggunakan terlebih dahulu uang pajak dari hasil pemotongan tersebut, penggeseran bulan penyetoran atau bahkan penggelapan pemotongan yang telah dilakukan pada setiap bulannya ke tahunan;

c. Berdasarkan butir b tersebut maka timbul penumpukan pengawasan yang seharusnya dilakukan setiap bulan menjadi setiap tahun disatu pihak, padahal perhitungan pemotongan bulanan itu sendiri telah dilakukan dengan cara disetahunkan;

d. Laporan SPT Tahunan PPh 21 (1721) tidak menggambarkan asas pemungutan pajak yang ekonomis.

Dalam dokumen Administrasi-Pajak (Halaman 131-136)