PENGUSAHA KENA PAJAK
PROSEDUR KERJA PEMBERIAN NPWP DAN PENGUKUHAN
Proses Pendaftaran dan Pengukuhan
Pada pembahasan mengenai Pelayanan Terpadu telah dijelaskan bahwa permohonan pendaftaran yang diajukan Wajib Pajak diterima dan diberikan bukti tanda terima di unit kerja Tepat Pelayanan Terpadu. Dari perekaman permohonan pendaftaran di unit kerja Tempat Pelayanan Terpadu tersebut
outputnya akan terakses di komputer Seksi TUP, dan kemudian Seksi TUP setelah menerima dokumen permohonan pendaftaran melakukan perekaman data pada formulir permohonan pendaftaran yang diajukan oleh Wajib Pajak tersebut. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebelum melakukan perekaman adalah:
a. bahwa undang-undang pajak adalah menganut asas material bukan asas formal, artinya tidak memasalahkan dari mana datangnya penghasilan, yang penting apabila ada penghasilan sebagai obyek pajak dan dibayar pajaknya. Oleh karena itu persyaratan tempat usaha dan atau keterangan lurah tentang tempat usaha yang tercantum dalam formulir pendaftaran tidak perlu kiranya dipermasalahkan. Tidak dapat dibayangkan apabila seorang Wajib Pajak menjalankan usahanya misalnya di suatu Mall (misalnya Mangga Dua), apakah mungkin Lurah Mangga Dua akan tahu bahwa yang bersangkutan menjalankan usaha di daerah itu. Suatu persyaratan yang hanya akan merepotkan bagi Wajib Pajak yang mendaftarkan diri dan berakibat ekonomi biaya tinggi baginya, sedangkan manfaatnya sendiri bagi fiskus adalah kurang karena hanya akan melemahkan upaya pengelolaan data;
b. pendaftaran Wajib Pajak badan khususnya bentuk “Perseroan Terbatas” sudah seharusnya diminta pula Neraca Pendiriannya dan sekaligus bukti setoran modalnya sekalipun dalam formulir pendaftaran tidak disyaratkan (mungkin kesalahan di perencanaan formulir). Mengapa hal ini perlu diminta? antara lain adalah:
• Perseroan Terbatas adalah bentuk asosiasi modal, bukan asosiasi orang belaka;
• Pengertian setoran modal sebagai pengganti saham tidak hanya berupa uang saja, akan tetapi ada kemungkinan berupa harta misalnya tanah dan/atau bangunan. Apabila demikian maka dari pendirian Perseroan Terbatas tersebut ada kemungkinan telah timbul obyek Pajak Penghasilan yaitu selisih lebih antara besarnya penggantian saham dibandingkan dengan Nilai Jual Obyek Pajak dari harta yang diserahkan dan dapat dipastikan timbul obyek Bea Pengalihan Hak atas Tanah dan atau Bangunan dari para pemegang saham kepada Perseroan Terbatas; • Neraca Pendirian adalah Neraca awal dalam menentukan Neraca Pra
Operasi setelah melalui tahap pembangunan, misalnya untuk usaha-usaha yang memerlukan waktu pembangunan (misalnya usaha-usaha properti atau pabrik dan perkebunan atau usaha-usaha lain) atau memerlukan waktu persiapan sebelum produksi ;
• Menghindari terjadinya window dressing dalam penyusunan Neraca Pra Operasi, sehingga besarnya aktiva tetap dan juga besarnya biaya penyusutan dapat terawasi;
• Sebagai sumber data dari para pemegang saham perseroan tersebut, atau yang dapat disebut Penanggung Pajak.
Proses Pendaftaran dan/atau Pengukuhan PKP/Perubahan Data/Penghapusan/ Pencabutan Pengukuhan PKP
Dalam rangka melaksanakan pendaftaran/perubahan data tersebut Wajib Pajak dapat menggunakan formulir-formulir sebagaimana tersebut berikut ini:
DEPERTEMEN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA DIREKTORAT JENDERAL PAJAK
KANTOR WILAYAH………..
KANTOR PELAYANAN PAJAK………. NPWP di isi petugas
SEMUA INFORMASI HARAP DI ISI DENGAN HURUF CETAK. Isi atau beri tanda x pada kotak jawaban yang sesuai.
PERMOHONAN PENDAFTARAN DAN PERUBAHAN DATA WAJIB PAJAK
Pendaftaran Perubahan data
Pilih Jenis Wajib Pajak Untuk pendaftaran WP yang status usaha 2, 4 dan 5 sebutkan NPWP Pusat/domisili/suami, untuk perubahan Data tulis NPWP.
Orang Pribadi Badan Pemungut A. IDENTITAS UMUM
1. Titel/ Gelar (WP.OP) : ………
2. Nama Wajib Pajak (lengkap) : ……… 3. Nama Wajib Pajak (sesuai KTP) : ……… 4. Alamat tempat kedudukan/tinggal : ………
Kelurahan/Kecamatan/Kota/
Kabupaten : ………Kode pos…….
5. Usaha/Pekerjaan Bebas/
Status usaha : 1.Pusat. 2.Cabang. 3.Tunggal. 4.Isteri/Jo 5. Orang Pribadi tertentu Jenis Usaha/ Pekerjaan bebas : ……….. (di isi petugas) Alamat tempat Usaha kegiatan : ……….
……… Kelurahan/Kecamatan/Kota/Kab. : ………
………RT/RW………….. 6. Kewajiban Pajak (di isi petugas): PPh.Ps.25 PPh Ps.21 PPh Ps.22 PPh.Ps23 PPh.Ps.26 PPh.Ps.29 PPh. Ps.4(2) PPh.Ps.15.
B. KORESPODENSI
7. Alamat (di isi berbeda dengan alamat tempat kedudukan/ tinggal di Indentitas Umum jalan :……….
………RT/RW……… 8. Telepon/ Faksimile dan E-mail : ………./ ……….
Nomor HP : ………..
Nomor E-mail : ……….
C. WAJIB PAJAK ORANG PRIBADI
9. Tempat/Tanggal Lahir : ………./ ……….
10. No.KTP/Paspor : ………
11. Kebangsaan Indonesia Asing……… 12. Merk Dagang/Usaha : ……….……….
D. WAJIB PAJAK BADAN
13. Bentuk Hukum : ………
14. Status Modal : ………
15. Akate Pendirian/ Perubahan terakhir :
Nomor Akte : ………
Tempat/Tanggal Akte :………./ ………
Nama Notaris : ………..
Nomor Akte Perubahan : ………
16. Akhir Tahun Buku : ………. 17. Identitas Pimpinan/Penanggung Jawab:
Nama : ………
Jabatan : ………
No.KTP/Paspor : ………
Kebangsaan : Indonesia Asing ………
NPWP : ………
Alamat Tempat Tinggal : ……….. ………RT/RW………..
Kelurahan/Kecamatan : ………
Kota/Kabupaten : ………Kode Pos…………
E. WAJIB PAJAK PEMUNGUT: 18. Instansi/Proyek
Nama : ………..
Alamat Instansi/Proyek : ……….
Kelurahan/Kecamatan : ……….
Kode Pos : ……….
19. Nomor Surat Penunjukan : ………
20. Jadwal Proyek : ……….
F. PERMOHONAN UNTUK DIKUKUHKAN SEBAGAI PENGUSAHA KENA PAJAK
21. Mengajukan permohonan penghapusan NPWP ya/tidak 22. Menentukan kegiatan usaha yang wajib melaporkan SPT PPN ya/tidak
NPWP : ………..
Jalan : ……….
Kota/Kabupaten : ………
G. PERMOHONAN PENGHAPUSAN NPWP/ PENCABUTAN PKP
23. Mengajukan Permohonan Penghapusan NPWP ya/tidak 24. Mengajukan Permohonan Pencabutan PKP ya/tidak 25. Mengajukan Permohonan Pencabutan ya/tidak H. PERNYATAAN
Dengan menyadari sepenuhnya akan segala akibat termasuk sanksi sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku, saya menyatakan bahwa apa yang telah saya beritahukan diatas beserta lampiran-lampirannya adalah benar dan lengkap.
……….., ………. Petugas Pemohon
NIP ………
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH ………
KANTOR PELAYANAN PAJAK………..
SURAT KETERANGAN TERDAFTAR Nomor:……….
Sesuai dengan Pasal 2 ayat (1)/Pasal 2 ayat (4) UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No.16 Tahun 2000 dan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-…./PJ/2001 dengan ini diterangkan bahwa :
1. Nama : ……….
2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) : 99.999.999.9-999.999 3. Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) : (Kode) – (Uraian KLU)
4. Alamat : ………..
5. Merk/Akronim : ………
6. Status Modal : ………
7. Status Usaha : ……….………..
8. Kewajiban Pajak : [ ] PPN [ ] PPnBM 9. Kode Seri Faktur Pajak : XXXXX-999
telah dikukuhkan pada tata usaha kami sebagai Pengusaha Kena Pajak. Dengan terbitnya surat ini, maka dalam melaksanakan hak dan kewajiban yang berkenaan dengan PPN dan PPnBM wajib mencantumkan NPWP sejak tanggal : (hh/bb/tt).
………,……….2…. A.n. Kepala Kantor Pelayanan Pajak….. Kepala Seksi Tata Usaha Perpajakan
(………..) NIP ……….
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH ………
KANTOR PELAYANAN PAJAK……….
SURAT PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK Nomor:………..
Sesuai dengan Pasal 2 ayat (1)/Pasal 2 ayat (4) UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No.16 Tahun 2000 dan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor KEP-…./PJ/2001 dengan ini diterangkan bahwa:
1. Nama : ………..
2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) : ………. 3. Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) : (Kode) – (Uraian KLU)
4. Alamat : ………..
5. Merk/Akronim : ………..
6. Status Modal : ………..
7. Status Usaha : ………..
8. Kewajiban Pajak : [ ] PPN [ ] PPnBM
9. Kode Seri Faktur Pajak : ……….
telah dikukuhkan pada tata usaha kami sebagai Pengusaha Kena Pajak. Dengan terbitnya surat ini, maka dalam melaksanakan hak dan kewajiban yang berkenaan dengan PPN dan PPnBM wajib mencantumkan NPWP sejak tanggal : (hh/bb/tt).
………,………..,20…. A.n. Kepala Kantor Pelayanan Pajak ……. Kepala Seksi Tata Usaha Perpajakan
(……….) NIP ………....
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH ………
KANTOR PELAYANAN ……….
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH ……… KANTOR PELAYANAN PAJAK………..…….
SURAT TUGAS PEMBUKTIAN ALAMAT Nomor:
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH ……… KANTOR PELAYANAN PAJAK………. BERITA ACARA HASIL PEMBUKTIAN ALAMAT Nomor:
Pada hari ………tanggal ……….. bulan …………. tahun ………, saya :
1. Nama : ………..
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH ……… KANTOR PELAYANAN PAJAK……….
SURAT PELAPORAN PENGUSAHA KENA PAJAK Nomor:
Sesuai pelaporan Wajib Pajak Nomor ………. Tanggal ……….. untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak dan Berita Acara Hasil Pembuktian Alamat Nomor ……… tanggal ………, dengan ini dinyatakan
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH ……… KANTOR PELAYANAN PAJAK……….
SURAT PENCABUTAN SURAT KETERANGAN TERDAFTAR Nomor:
Setelah mempertimbangkan adanya Surat Keterangan Terdaftar Nomor ……… tanggal ……. yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak …… dan atau laporan hasil pemeriksaan Nomor: …….. tanggal ………. Dengan ini Surat Keterangan Terdaftar Nomor: ………… tanggal ………. atas:
1. Nama : ………..
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH ………
KANTOR PELAYANAN PAJAK……….
SURAT PENCABUTAN SURAT PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK
Nomor:
Setelah mempertimbangkan adanya Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak Nomor ………. Tanggal ………. Yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak ………. dan atau laporan hasil pemeriksaan Nomor …………. Tanggal ………dengan ini Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak Nomor ………….. tanggal ………….atas:
1. Nama : ………..
2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) : 3. Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) :
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH ………
KANTOR PELAYANANPAJAK……….
SURAT PENGHAPUSAN NOMOR POKOK WAJIB PAJAK Nomor:………
Setelah mempertimbangkan adanya permohonan penghapusan dan laporan hasil pemeriksaan Nomor ……….. tanggal ………., dan berdasarkan Pasal 2 ayat (5) UU No.6 Tahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan sebagaimana telah diubah terakhir dengan UU No.16 Tahun 2000 dan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: KEP ………. /PJ/2001 dengan ini Nomor Pokok Wajib Pajak atas:
1. Nama : ………..
2. Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) : ……….. 3. Klasifikasi Lapangan Usaha (KLU) : ...
4. Alamat : ………..
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH ……… KANTOR PELAYANAN PAJAK……….
SURAT PINDAH Nomor:
Sehubungan dengan permohonan Wajib Pajak Badan/Orang Pribadi, dengan ini diterangkan bahwa :
Nama : NPWP : Jenis Usaha : Alamat : Status Modal : Status Usaha : Kewajiban Pajak :
Terhitung mulai tanggal ………….. pindah tempat tinggal atau tempat kedudukan atau tempat kegiatan usaha ke:
DEPARTEMEN KEUANGAN R.I. DIREKTORAT JENDERAL PAJAK KANTOR WILAYAH ………
KANTOR PELAYANAN PAJAK……….
Nomor :………../tanggal……….
Sifat : Amat Segera
Hal : Surat Pemberitahuan Pernyataan Pindah Yth. Kepala Kantor Pelayanan Pajak ………..
…………. ………. ……….
Sehubungan dengan surat pernyataan pindah Nomor ……… tanggal ………. .yang diajukan oleh:
Nama : ………..
Alamat lama : ………..
Alamat baru : ………..
Nomor Pokok Wajib Pajak : ………... Dengan ini diberitahukan bahwa Wajib Pajak tersebut diatas telah memenuhi syarat yang ditentukan.
Berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor: KEP ………/PJ./2001, diminta Saudara menerbitkan dan mengirimkan melalui faksimili Surat Pindah kepada kami paling lama pada hari kerja
Dari bentuk-bentuk formulir sebagaimana tersebut dimuka yang dibuat oleh Direktur Jenderal Pajak, penulis kurang memahami akan maksud dari pemeriksaan setempat akan kebenaran alamat dan pembuatan Berita Acara Kebenaran Alamat dalam kasus Wajib Pajak yang mendaftarkan diri tersebut juga mengajukan permohonan untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Apakah apabila ternyata si petugas yang mencari kebenaran alamat tersebut tidak menemukan alamat yang dimaksud maka Nomor Pokok Wajib Pajak yang telah diberikan dicabut kembali? Mengapa tidak dilaporkan saja kepada Kepolisian jika nyata-nyata ada bukti pemalsuan alamat?, kebijaksanaan pendaftaran seperti ini cukup membingungkan dan tidak jelas apa alasannya.
Di Seksi TUP / Sub Seksi Pendaftaran
Masukan Keluaran
2. Perekaman formulir permohonan atau pendaftaran/pelaporan usaha (KP.PDIP.4.1-00)
2. Surat keterangan terdaftar, dan/atau
3. Surat pengukuhan pengusaha kena pajak
4. Hasil perekaman akan nampak pada komputer seksi lain yang terkait
Catatan:
Dengan sendirinya penggunaan kode misalnya KP.PDIP.4.1. – 00 dapat saja berubah setiap saat sejalan dengan kebijaksanaan administrasi pemerintahan c.q. Direktorat Jenderal Pajak misalnya dalam Keputusan Direktur Jenderal Pajak Nomor-168/PJ/2001 tanggal 22 Februari 2001, walau penggunaan bentuk-bentuk Formulir lama masih berlaku/terjadi.
Proses kerja yang harus dilakukan sebelum perekaman adalah:
a. Meneliti kelengkapan persyaratan permohonan pendaftaran (dengan memperhatikan catatan sebagaimana dijelaskan dimuka) dengan memperhatikan:
• apabila permohonan diajukan/ditandatangani oleh orang lain maka diminta Surat Kuasanya;
• cabang, orang pribadi pengusaha tertentu dan wanita kawin tidak pisah harta harus melampirkan fotokopi Surat Keterangan Terdaftar (KP.P.PDIP.4.2.-00) Kantor Pusat/ domosili/ suami;
• dalam hal permohonan belum lengkap diminta untuk dilengkapi.
(catatan: hal yang demikian ini sebenarnya tidak akan terjadi apabila TPT memahami dan dapat melaksanakan tugasnya dengan baik).
b. Mengisi kolom-kolom formulir Permohonan Pendaftaran yang harus diisi oleh dinas;
c. Meneliti apakah yang bersangkutan sudah pernah terdaftar atau belum; d. Melakukan perekaman data Wajib Pajak dari formulir Permohonan
Pendaftaran;
e. Mencetak Lembar Pengawasan Arus Dokumen (LPAD.1 – di unit TPT); f. Kartu Nomor Wajib Pajak (KP.PDIP.4.4-00) dan Surat Keterangan
Terdaftar (KP.PDIP 4.2-00) setelah ditandatangani oleh Kepala Seksi TUP harus diterbitkan dan disampaikan kepada Wajib Pajak paling lama pada
hari kerja berikutnya setelah permohonan pendaftaran diterima secara lengkap;
g. Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak harus diterbitkan paling lama 3 ( tiga ) hari kerja berikutnya setelah pelaporan usaha beserta persyaratannya diterima dengan lengkap;
h. Dalam hal permohonan pendaftaran diri sekaligus juga pelaporan usaha untuk dikukuhkan sebagai PKP maka Kartu Nomor Wajib Pajak, Surat Keterangan Ter- daftar dan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak diterbitkan bersamaan paling lama 3 (tiga) hari kerja berikutnya setelah permohonan disampaikan dengan lengkap.
Catatan:
Dalam hal menyangkut permohonan pendaftaran diikuti dengan Laporan Usaha untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak, sebelum dilakukan perekaman maka :
• pertama-tama dicetak dahulu Surat Tugas Pembuktian Alamat Pengusaha Kena Pajak (KP.PDIP 4.6-00) yang ditandatangani oleh Kasi TUP;
• Oleh petugas yang ditunjuk atas dasar Surat Tugas tersebut melakukan pembuktian alamat pemohon dan membuat Laporan Berita Acara Pembuktian Alamat;
• Menerima dan merekam Berita Acara Hasil Pembuktian Alamat (KP.PDIP.4.7 -00);
• Mencetak Surat Penolakan Pendaftaran Wajib Pajak apabila Pelaporan Pengusaha dan diteruskan ke Seksi TUP dalam hal alamat Wajib Pajak tidak benar;
i. Mencantumkan Nomor Pokok Wajib Pajak yang diberikan di formulir Permohonan Pendaftaran selanjutnya membuat Berkas Sementara Wajib Pajak yang berisi dokumen pendaftaran Wajib Pajak dan lainnya untuk diteruskan ke unit kerja yang mengurusi kearsipan.
Perekaman di unit kerja TPT tersebut dilakukan selain untuk pendaftaran dan atau pelaporan usaha untuk dikukuhkan sebagai PKP juga untuk semua kepentingan dalam kaitannya dengan NPWP dan Pengukuhan, misalnya perubahan data, permohonan penghapusan dan permohonan pencabutan Pengukuhan PKP.
Proses Pemberian NPWP dan Pengukuhan PKP secara manual
Dalam kasus tertentu atau keadaan force majeur adakalanya komputer yang ada mengalami kerusakan sehingga tidak berfungsi disatu pihak, sedangkan di pihak lain pelaksanaan pelayanan tidak boleh terhenti, atau ada kemungkinan
pelayanan pemberian NPWP diberikan oleh Kantor Penyuluhan Pajak yang terletak di kota lain di luar kota Kantor Pelayanan Pajak. Dalam hal yang demikian ini maka pemberian pelayanan pendaftaran NPWP dan atau Pengukuhan PKP dilaksanakan dengan cara manual, dengan menggunakan jatah listing NPWP yang sebenarnya telah diberikan oleh Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak sebagai cadangan apabila komputer tidak berfungsi.
Proses yang ditempuh adalah sama dengan apabila pemberian NPWP dengan cara komputerisasi, hanya pekerjaan dikerjakan dengan manual. Hal yang ditempuh dalam hal ini adalah:
1. Tugas-tugas sebelum perekaman dilakukan tetap dikerjakan dengan cara yang sama, yakni meneliti kelengkapan, meneliti kebenaran alamat, meneliti kebenaran pusat/domisili/dan suami;
2. Membuat Lembaran Pengawasan Arus Dokumen (LPAD) secara manual dan menyerahkan Bukti Penerimaan Surat (BPS) kepada Wajib Pajak di unit TPT;
3. Membuat :
a. Wajib Pajak hanya mengajukan Permohonan Pendaftaran NPWP saja. Bukti Pendaftaran Wajib Pajak (KP.PDIP.4.5-00) rangkap dua yang diteruskan ke seksi TUP untuk ditanda tangani dan diserahkan kepada Wajib Pajak,
cara penomoran: Kode Wajib Pajak dari listing NPWP, Kode Administrasi Perpajakan 3 digit pertama dan kode kantor KPP tiga digit selanjutnya ’000’ apabila pusat usaha atau 001 apabila cabang atau perwakilan.
b. Wajib pajak selain mendaftarkan diri juga melaporkan usahanya.
• membuat Surat Tugas Pembuktian alamat (KP.PDIP 4.5.-00) Pengusaha Kena Pajak untuk diteruskan dan ditandatangani Kasi TUP;
• menerima dan merekam Berita Acara Hasil Pembuktian Alamat (KP.PDIP.4.7 -00);
• membuat Bukti Pendaftaran Wajib Pajak (KP.PDIP.4.5 -00) selanjutnya diteruskan ke Kasi TUP untuk ditandatangani, dalam hal pembuktian alamat benar atau penolakan pendaftaran (KP.PDIP.4.8 -00) apabila pembuktian alamat tidak benar;
• menyampaikan KP.PDIP.4.5 – 00; KP.PDIP.4.9-00 atau KP.PDIP.4.8–00 kepada Wajib Pajak dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) hari kerja setelah permohonan pendaftaran;
4. Mencantumkan Nomor Pokok Wajib Pajak pada formulir pendaftaran Wajib Pajak, selanjutnya membuat berkas sementara Wajib Pajak yang berisi dokumen pendaftaran Wajib Pajak dan surat-suratnya;
Petugas pendaftaran Wajib Pajak setelah komputer berfungsi mempunyai tugas:
a. Merekam data Wajib Pajak dari formulir Permohonan Pendaftaran (KP.PDIP.4.1-00) dan Berita Acara hasil Pembuktian Alamat (KP.PDIP.4.7-00) sesuai dengan tata cara yang telah ditentukan;
b. Mencetak Kartu NPWP (KP.PDIP.4.4-00) dan Surat Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (KP.PDIP.4.3-00), Surat Keterangan Terdaftar (KP.PDIP.4.2–00) diteruskan ke Seksi TUP untuk ditandatangani; c. Menyampaikan KP.PDIP.4.4-00, KP.PDIP.4.2-00 dan KP.PDIP.4.3-00
kepada Wajib Pajak paling lama pada hari kerja berikutnya setelah komputer berfungsi;
d. Meneruskan berkas sementara Wajib Pajak yang berisikan dokumen pendaftaran Wajib Pajak dan surat lainnya kepada Sub Seksi Ketetapan dan Arsip.
Demikianlah pemberian NPWP dan atau Pengukuhan PKP dalam hal komputer sedang tidak berfungsi. Jadi ada dua tahapan kerja yang harus dipatuhi, yakni manual dan komputerisasi setelah komputer berfungsi.
Catatan:
Dapat saja dengan pertimbangan kemudahan pendaftaran dilakukan pada Kantor Penyuluhan Pajak yaitu kantor penyuluhan yang letaknya diluar kota dari Kantor Pelayanan Pajak. Adapun tata cara yang ditempuh adalah tidak ada bedanya dengan tata cara pemberian NPWP dan atau pengukuhan dengan manual yang dilakukan manakala komputer tidak berfungsi di KPP. Hasil pendaftaran di Kantor Penyuluhan tersebut setelah dikirim ke Kantor Pelayanan Pajak maka dilakukan perekaman.
Prosedur Kerja Pendaftaran/Pengukuhan
Dalam permohonan pendaftaran dan pelaporan usaha sampai dengan penerbitan produk pendaftaran dan pelaporan usaha diperlukan formulir-formulir sebagai sarana untuk segala kegiatan tersebut. Maksud dan tujuan dari adanya formulir adalah untuk menyeragamkan dan mempermudah administrasi belaka, sehingga tujuan menyeragamkan dan mempermudah tersebut tidak etis apabila sampai memberatkan Wajib Pajak, ataupun menjadi persyaratan yang kaku dan mati yang tidak dapat ditawar lagi. Pendapat penulis ini berlandaskan suatu fakta bahwa letak kantor Direktorat Jenderal Pajak dan bahkan Kantor Penyuluhan Pajak kadangkala cukup jauh dari tempat tinggal Wajib Pajak.
Sebagai contoh, seorang Wajib Pajak yang tempat tinggalnya jauh dari kantor Direktorat Jenderal Pajak dapat saja mengajukan permohonan dengan surat biasa dengan melampirkan persyaratan yang diperlukan dengan cara lewat pos. Petugas di Tepat Pelayanan Terpadu setelah menerima surat permohonan Wajib tersebut segera diteliti kelengkapannya kemudian mengambil formulir menurut ketentuan dipergunakan dan mengisi formulir tersebut berdasarkan data yang tercatat dalam surat permohonan Wajib Pajak, kemudian menandatangani formulir yang telah diisi tersebut dan memberi catatan bahwa permohonan dan persyaratan pendaftaran dengan lengkap terlampir. Mengapa penulis menyarankan demikian? Ada beberapa sebab yang melandasi saran penulis tersebut yaitu antara lain:
a. Bahwa pengertian pemberian NPWP bukan berarti pada saat diberikannya NPWP tersebut seseorang/badan mulai menjadi Wajib Pajak. Kewajiban perpajakan sebenarnya telah lama timbul yaitu sejak saat Subyek Pajak tersebut melekat pada Obyek Pajak dan kewajiban melaksanakan penghitungan dan pembayaran pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (1) KUP tidak tergantung adanya Nomor Pokok Wajib Pajak atau tidak, ataupun adanya surat ketetapan pajak apa tidak. Namun demikian kewajiban perpajakan ini dengan sendirinya secara administrasi menjadi gugur apabila Wajib Pajak setelah mengajukan pendaftaran diri, namun oleh pihak Kantor Pelayanan Pajak tidak diberikan NPWP, apapun yang menjadi alasannya;
b. Geografis Indonesia yang cukup luas, sehingga bukan mustahil bahwa domisili seorang Wajib Pajak jauh dari Kantor Pelayanan Pajak/Kantor Penyuluhan Pajak. Sedangkan pelaksanaan kewajiban perpajakan tidak terikat dengan letak geograpis seseorang bertempat tinggal atau badan berkedudukan;
c. Dengan cara sebagaimana penulis maksud tersebut maka berarti pemungutan pajak tetap berpegang kepada salah satu asas yaitu asas ekonomis atau pemungutan pajak dilaksanakan dengan penerapan biaya administrasi yang murah/rendah, baik bagi Wajib Pajak maupun bagi Direktorat Jenderal Pajak;
d. Cara yang demikian ini pernah diterapkan dahulu di Kantor Inspeksi Pajak Jambi (1984-1987) dan fakta bahwa Wajib Pajak merasa mendapat pelayanan yang baik dan penuh dengan kemudahan, sehingga penyampaian SPT tahunan untuk orang pribadi pada waktu mencapai 92 % dari yang terdaftar per akhir tahun dan untuk badan mencapai 85 % dari yang terdaftar per akhir tahun;
e. Bukan mustahil suatu saat dengan perkembangan teknologi informasi maka pendaftaran juga dapat dilakukan dengan elektronic pendaftaran atau e- Regestration yang sebenarnya pada saat sekarang untuk Kantor Pelayanan Pajak tertentu sudah menjalankannya.
Pada prinsipnya pendaftaran Wajib Pajak adalah upaya menjaring dan menambah Wajib Pajak terdaftar, sehingga tidak pada tempatnya apabila proses pendaftaran menjadi bertele-tele dan menyulitkan Wajib Pajak. Administrasi pendaftaran haruslah dibuat sesederhana mungkin dengan menjamin adanya perlakuan yang baik kepada Wajib Pajak.