Self assessment sebagai suatu sistem perpajakan membutuhkan persya-ratan dari pihak Wajib Pajak agar dapat berhasil, yaitu antara lain:
1. Wajib Pajak harus memahami terlebih dahulu arti pentingnya pajak. Dalam kasus ini kendala terbesar yang dialami administrasi pajak nasional adalah tingginya tingkat korupsi, kolusi, dan nepotisme dalam pemerintahan, sehingga Wajib Pajak merasa tidak perlu membayar pajak yang benar sebab pembayaran yang benar akan menjadi penerimaan pajak berhasil dan keberhasilan penerimaan pajak hanya akan menjadi pupuk dari kegiatan KKN tersebut;
2. Memiliki pengetahuan perundang-undangan perpajakan. Dalam kasus ini hukum pajak sebagai ilmu memang benar-benar belum berkembang dengan baik di Indonesia. Perguruan-Perguruan Tinggi lebih terpancang pada studi perpajakan daripada studi hukum pajak. Bukan mustahil kadangkala melakukan pembenaran dari suatu kesalahan pelaksanaan hukum, apabila para pengajarnya adalah dari aparat Direktorat Jenderal Pajak. Pembenaran yang tidak disadari itu kadangkala menimbulkan konflik dengan Wajib Pajak sebagai pelaku pelaksanaan kewajiban perpajakan;
3. Dapat mengaplikasikan metode akuntansi untuk pelaksanaan kewajiban Pajak Penghasilan;
4. Adanya kesadaran membayar pajak yang menjadi tanggung jawabnya. Sebenarnya kesadaran Wajib Pajak untuk membayar pajak adalah sejalan dengan bagaimana administrasi publik dilaksanakan.
Dari uraian tersebut, apabila kita bicara masalah pajak sebagai kepentingan suatu bangsa yang bernegara tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari administrasi publik yang ada. Semakin bagus administrasi publik maka akan semakin bagus keberhasilan administrasi pajak, sebaliknya semakin buruk administrasi publik maka semakin buruk pula pengelolaan pajak. Oleh karena itu sangatlah salah apabila studi masalah pajak dilepaskan dari studi administrasi publik, hal yang demikian ini dapat kita ketahui dari bagaimana penerimaan pajak dari negara-negara lain misalnya dapat diambil perbandingan dari negara tetangga yang terdekat yaitu Singapura dan Malaysia akan besarnya persentase penerimaan pajak dari Pendapatan Domistik Brutonya. Indonesia baru 13,5 % Tahun 2005 dan itu pun belum tercapai sedangkan kedua negara tersebut telah mencapai masing-masing 23 % dan 22%.
Administrasi pajak merupakan suatu bagian administrasi negara yang untuk lebih memelihara dan memahami hubungan antara pemerintah yaitu Direktorat Jenderal Pajak dengan masyarakatnya yaitu Wajib Pajak, yang memiliki ciri-ciri khusus karena sebagai manifestasi dari pelaksanaan ketentuan formal perpajakan dalam ketatausahaan. Beberapa ciri dari pelaksanaan tata usaha perpajakan tersebut antara lain:
1. Bahwa administrasi pajak adalah suatu pekerjaan yang memiliki ciri-ciri sebagai pelayanan yang sekaligus pengawasan dan juga pembinaan kepada para Wajib Pajak dalam pelaksanaan kewajiban perpajakan. Oleh karena itu tata usaha perpajakan haruslah disusun sedemikian rupa sehingga dalam rangkaian ketiga kegiatan tugas tersebut dapat meningkatkan motivasi Wajib Pajak untuk dapat dengan mudah serta penuh kesadaran melaksanakan kewajiban perpajakan;
2. Administrasi pajak juga menyangkut pelaksanaan kegiatan administrasi piutang pajak sebagai akibat dari timbulnya surat ketetapan pajak yaitu bentuk Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar, Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar Tambahan dan Surat Tagihan Pajak sebagai salah satu bagian dari hasil proses pembinaan yang dilaksanakan oleh Direktur Jenderal Pajak. Maka dalam kasus yang demikian ini tugas administrasi penerimaan pajak dan piutang pajak haruslah disusun sebagaimana Standar Akuntansi Pemerintahan yang telah dibakukan.
3. Tata usaha perpajakan juga meliputi tata usaha pelaksanaan penyelesaian dalam rangka upaya hukum Wajib Pajak dalam mencari keadilan melalui proses pengajuan keberatan yang diselesaikan melalui suatu quasi peradilan. Di sini tata usaha perpajakan juga seolah-olah sebagai pelaksanaan dari “hukum acara peradilan”.
4. Sarana di dalam tata usaha perpajakan meliputi penggunaan:
a. Buku-buku Register, adalah buku yang berisi kolom-kolom atau lajur daftar-daftar dan catatan-catatan tentang segala yang bersangkutan dengan hal-hal yang ditentukan oleh nama Buku Register tersebut;
b. Daftar, tulisan dalam lajur atau kolom-kolom yang dimaksudkan untuk mencatat data tertentu baik berupa angka maupun peristiwa; c. Formulir, yakni lembaran kertas yang harus diisi dan telah tersedia
diatasnya ruangan-ruangan tempat pengisian, serta telah ada pula petunjuk pengisian mengenai apa yang harus diisikan dalam ruangan tersebut;
d. Blangko, yakni lembaran kertas yang telah ditentukan bentuk dan sistematikanya, sedangkan isi, maksud dan kegunaan tidak ditegaskan, tergantung kepada tujuannya;
e. Atau mungkin dengan cara elektronik yaitu diselenggarakan melalui komputerisasi ketatausahaan, misalnya SPT, Regestration, e-Filling dan SI DJP.
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa tata usaha perpajakan adalah merupakan instrumen dari pelaksanaan hukum pajak khususnya ketentuan formal perpajakan, atau dengan kata lain bahwa dalam melaksanakan administrasi pajak, aparatur pajak sebagai pelaksana pemungutan pajak pada dasarnya adalah beracara dengan Wajib Pajak dalam sistem perpajakan yang menganut self assessment. Oleh karena itu tata pelaksanaan administrasi pajak haruslah tetap menjamin agar Wajib Pajak termotivasi dengan baik dalam pelaksanaan kewajiban perpajakan melalui suatu kegiatan yang terkendali, dengan cara pelaksanaan tata administrasi pajak haruslah disusun dengan memenuhi ketentuan-ketentuan sebagai berikut:
1. Transparan,
artinya pelaksanaan tata usaha harus benar-benar dilaksanakan sesuai dengan kemauan undang-undang serta fakta yang benar-benar terjadi; 2. Sederhana,
artinya tata usaha harus bersendikan kepada kesederhanaan yang meliputi antara lain mudah, lancar, cepat, tidak berbelit, mudah dipahami dan mudah dilaksanakan. Dalam setiap awal tahun pajak selalu kita baca dalam iklan-iklan surat kabar tentang akan diadakannya ceramah, workshop atau seminar tentang tata cara pengisian Surat Pemberitahuan yang dilaksanakan oleh kelompok-kelompok tertentu bahkan pejabat Direktorat Jenderal Pajak sebagai pembicara maupun pembicara utama. Apakah begitu sulit mengisi Surat Pemberitahuan sebagai media pelaporan pelaksanaan self assessment system? Jika demikian mengapa tidak disederhanakan? Apakah ini salah satu penyebab rendahnya penyampaian Surat Pemberitahuan?
3. Kepastian atau kepastian hukum,
artinya administrasi pajak adalah administrasi hukum (legal administration) haruslah mengabdi kepada adanya kepastian hukum, sehingga Wajib Pajak merasa puas dan kondisi yang demikian ini akan meningkatkan motivasi Wajib Pajak, sebagai contoh adalah pemberian bukti tanda terima dan penjelasan atau informasi haruslah berpegang kepada adanya kepastian hukum. Jadi jangan sampai Surat Bukti Tanda Terima telah diberikan namun Wajib Pajak di telpon atau disurati agar
surat yang disampaikan ke KPP dilengkapi karena secara formal belum lengkap;
4. Efisien,
artinya pelaksanaan tata usaha harus dilaksanakan dan dibatasi dengan hal-hal yang berkaitan langsung dalam pencapaian tujuan. Pengulangan permintaan kelengkapan sebagaimana disebutkan butir 3 selain mengurangi pengertian kepastian hukum juga suatu bentuk tata usaha yang tidak efisien. Atau misalnya petugas dalam menerima surat-surat masuk menanyakan hal-hal lain yang sebenarnya bukan tujuan dari kedatangan Wajib Pajak dalam menyampaikan surat masuk;
5. Ekonomis,
artinya sejalan dengan salah satu asas pemungutan pajak yaitu harus dilakukan dengan ekonomis, sebab pada dasarnya yang membayar biaya tata usaha pajak adalah Wajib Pajak;
6. Berkeadilan,
artinya pelaksanaan tata usaha pelayanan yang bersifat umum dan merata.
7. Tepat waktu,
artinya penyelesaian tata usaha dan pelaksanaan pelayanan dilaksanakan dengan tepat waktu dan tidak bertele-tele, yaitu waktu yang pantas dan wajar untuk penyelesaian;
Pada dasarnya pelaksaaan tata usaha dalam administrasi pajak menganut sistem “ban berjalan”, artinya produk dari suatu unit kerja akan dimanfaatkan atau menjadi bahan baku pada unit kerja yang lain, oleh karena itu keakuratan dari produk kerja awal adalah sangat penting, sehingga tidak terjadi atau dapat dihindari adanya produk yang cacat dan arus dokumen yang tersumbat. Misalnya adalah “alamat Wajib Pajak” apabila pencatatan alamat ini dari awal telah salah maka kesalahan ini akan dibawa terus sampai dengan tingkat pekerjaan terakhir yakni Penagihan Pajak.
Dengan demikian terlihat bahwa dalam administrasi pajak terjadi saling ketergantungan atau interdependensi dari masing-masing unit kerja dan apabila pengertian interdependensi ini terbina dengan baik maka akan menimbulkan rasa tanggung jawab yang tinggi dari masing-masing pelaku administrasi Namun sebaliknya, apabila tidak terbina dengan baik akan menimbulkan rintangan bahkan kerusakan terhadap jalannya ban berjalan administrasi pajak serta proses pelayanan, pengawasan, dan pembinaan yang pada akhirnya menimbulkan kebuntuan dalam sistem manajemen.
Dalam suatu rangkaian pekerjaan yang menganut sistem ban berjalan diperlukan suatu sistem pengawasan yang prima disetiap lini, serta jalinan kerjasama yang baik sehingga dapat tercipta suatu pengawasan intern (build in control) secara otomatis dari masing-masing unit kerja.
RANGKUMAN
1. Memberikan definisi dari pengertian administrasi adalah sebagai suatu kemustahilan karena administrasi itu sendiri memiliki tampilan yang beraneka ragam, kadang-kadang tampilan administrasi dapat dalam bentuk Badan, Instansi, Lembaga, Institusi pemerintahan dan lain sebagainya; 2. Pada dasarnya administrasi ada dan dibutuhkan sebagaimana kehidupan
manusia itu sendiri dengan masyarakat dan budayanya dalam upaya mencari kesejahteraan hidup yang makin baik serta berkeadilan;
3. Tujuan administrasi adalah untuk mencapai keberhasilan segala urusan yang diamanahkan kepada sekelompok orang;
4. Administrasi pajak adalah administrasi hukum, artinya administrasi agar tujuan hukum tersebut dapat dicapai dengan baik, wajar dan tidak satu pihakpun yang akan merasa dirugikan, sedangkan tujuan dari hukum itu sendiri adalah “keadilan”;
5. Administrasi termasuk pula administrasi pajak hanya dapat timbul dan dikembangkan dalam kondisi manusia pelaku administrasi yang modern yaitu manusia pelaku administrasi yang demokratis, berpikir rasional dan penuh dengan kewajaran, tidak ego serta profesional;
6. Administrasi pajak memerlukan persyaratan antara lain adalah transparan, sederhana, menjamin adanya kepastian hukum, efisien, ekonomis, berkeadilan serta penyelesaian tepat waktu.
LATIHAN
1. Jelaskan mengapa sampai dengan sekarang ini tidak dapat memberikan definis dari administrasi!
2. Mengapa kebanyakan orang menyamakan pengertian administrasi dengan tata usaha?
3. Sebutkan beberapa tampilan dari administrasi yang saudara ketahui! 4. Jelaskan secara singkat apa yang dimaksud dengan administrasi pajak! 5. Jelaskan beberapa ciri dan bentuk administrasi pajak yang saudara ketahui!