• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGAWASAN PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN PS. 25

Dalam dokumen Administrasi-Pajak (Halaman 195-200)

PENGAWASAN PEMBAYARAN MASA

PENGAWASAN PEMBAYARAN PAJAK PENGHASILAN PS. 25

Pengertian

Di dalam pengaturan PPh Pasal 25 maka terminologi yang paling pas untuk pembayaran PPh Pasal 25 adalah pembayaran “kredit pajak,” artinya bahwa negara melalui undang-undang pajak mengambil kredit (utang) terlebih dahulu dari Wajib Pajak sebelum jumlah penghasilan dari usaha dan pajak penghasilan itu sendiri diketahui pada akhir Tahun Buku saat terjadi penutupan

buku-buku yang diselenggarakannya, sekalipun bunyi ketentuan yang ada yaitu dalam Pasal 25 PPh adalah angsuran pajak. Terminologi angsuran pajak sebagaimana dimaksud dalam ketentuan tersebut sebenarnya kurang pas, sebab pengertian angsuran menyiratkan bahwa telah terjadi utang pajak dan pembayarannya dilakukan dengan angsuran (sebagaimana dimaksud Pasal 9 ayat (4) KUP), padahal dalam Tahun Berjalan tersebut khususnya bagi Wajib Pajak yang menjalankan usaha utang pajak diketahui, karena besarnya penghasilan belum diketahui. Penghasilan neto dalam Tahun Pajak baru diketahui besarnya setelah adanya tutup buku di akhir Tahun Buku.

Dengan demikian pelaksanaan Tata Usaha Pengawasan Pembayaran Masa ini berlaku sama untuk Wajib Pajak orang pribadi maupun badan sekalipun unit kerja yang menanganinya adalah berbeda.

Penentuan Besarnya Pembayaran PPh Pasal 25

Tidak sebagaimana dijelaskan dalam pengertian umum Pengawasan Pembayaran Masa sebagai penjelasan di awal, maka Pengawasan Pembayaran Masa PPh Pasal 25 ada tambahan tugas selain yang diuraikan dalam Pengertian Umum, yaitu “menentukan besarnya Kredit Pajak” yang harus dibayar setiap bulannya. Oleh karena itu sebelum tindakan pengawasan tersebut dilakukan maka Wajib Pajak maupun pejabat pengawasan pada tata usaha pajak haruslah tahu besarnya pembayaran masa yang harus dilakukan atau diawasi. Sebagai prinsip dalam menentukan besarnya pembayaran masa adalah bahwa besarnya pajak yang harus dibayar untuk tahun ini (melalui pembayaran PPh masa) sementara adalah sama dengan Pajak Penghasilan Tahun yang lalu.

Pola berpikir Undang-Undang adalah bahwa setiap rumah tangga usaha selalu berharap dan berusaha keadaan tahun ini akan lebih baik dari tahun yang lalu. Oleh karena itu untuk sementara undang-undang mewajibkan Wajib Pajak untuk membayar PPh Pasal 25 sama dengan Pajak Penghasilan tahun lalu sebagai kredit pajak kepada negara dan dibayar 12 (dua belas) kali setiap bulan dengan jumlah yang sama, sehingga tidak memberatkan Wajib Pajak. Karena mekanisme pelaksanaan undang-undang pajak ada lembaga pemotongan atau pemungutan pajak sebagai pelaksanaan asas convinience of payment (membayar pajak tepat pada waktu pada saat timbulnya penghasilan) maka segala pemotongan dan atau pemungutan pajak yang terjadi dikurangkan terlebih dahulu dari besarnya Pajak Penghasilan tahun lalu yang terutang sebelum dibagi dengan angka bulan dua belas [Pasal 25 ayat (1) huruf a dan huruf b PPh]. Pengertian Pajak Penghasilan yang terutang Tahun Pajak lalu adalah dapat dari: 1. Surat Pemberitahuan Pajak Penghasilan yang disampaikan Wajib Pajak

2. Pembayaran yang harus dilaksanakan bulan Desember Tahun Pajak lalu apabila Surat Pemberitahuan belum disampaikan (bersifat sementara)-[Pasal 25 ayat (2) PPh], atau juga dapat dari

3. Surat Ketetapan Pajak yang diterbitkan dalam Tahun Pajak yang bersangkutan untuk Tahun Pajak yang lalu [Pasal 25 ayat (4) PPh].

Beberapa prinsip lain yang dipakai untuk menentukan besarnya Pem-bayaran Masa adalah:

a. Untuk Wajib Pajak yang baru terdaftar besarnya pembayaran masa ditentukan berdasarkan actual peredaran dalam bulan yang bersangkutan. Penghasilan neto dicari dengan mengalikan jumlah peredaran dengan Norma Penghitungan Penghasilan Neto untuk Wajib Pajak orang pribadi yang tidak menyelenggarakan pembukuan, atau dari hasil perhitungan Laba Rugi untuk bulan yang bersangkutan bagi Wajib Pajak badan atau orang pribadi yang menyelenggarakan pembukuan, kecuali apabila Wajib Pajak tersebut pada saat pendaftaran NPWP sekaligus menyampaikan Surat Pemberitahuan PPh Tahun Pajak untuk tahun-tahun yang lalu dan melaporkan penghasilan serta Pajak Penghasilan yang terutang Pasal 25 ayat (7) PPh];

b. Untuk usaha perbankan besarnya pembayaran PPh Pasal 25 dilakukan pada setiap triwulan yang didasarkan kepada Laporan Laba/Rugi Triwulan yang lalu, adapun cara perhitungannya besarnya pembayaran masa ditentukan dengan penghasilan neto dari Triwulan yang lalu [Pasal 25 ayat (7) PPh] dengan cara disetahunkan dahulu, baru dikalikan dengan tarif pajak dan kemudian dihitung besarnya PPh Pasal 25 untuk satu bulannya (satu per dua belas) atau satu triwulannya (satu per empat);

c. Untuk Wajib Pajak BUMN/D didasarkan kepada Laba/Rugi dari Rencana Kerja Dan Pendapatan Tahunan yang disusun pada setiap awal Tahun Buku [Pasal 25 ayat (7) PPh];

d. Bagi Wajib Pajak yang sudah lama terdaftar (terdaftar mulai tahun yang lalu) ditentukan dari besarnya Pajak Penghasilan Tahun yang lalu. Cara menentukannya adalah seperduabelas (1/12) dari Pajak Penghasilan Tahun lalu setelah dikurangi dengan kredit pajak yang berupa pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga. Pengertian Pajak Penghasilan Tahun yang lalu adalah dapat diambil dari Surat Pemberitahuan, apabila belum ada surat ketetapan atau dari besarnya Surat Ketetapan Pajak dua Tahun terakhir. Dalam kasus Wajib Pajak yang sudah lama terdaftar maka ada kemungkinan timbul kasus-kasus tertentu di dalam perhitungan Penghasilan Neto [Pasal 25 ayat (6) huruf a PPh] yaitu antara lain:

• Dalam perhitungan penghasilan neto dalam Surat Pemberitahuan terjadi kasus kompensasi kerugian dari tahun-tahun yang lalu. Dan kompensasi ini kemungkinan menjadi habis di Tahun Pajak dimana penyampaian Surat Pemberitahuan dilakukan atau mungkin masih ada sisa kerugian untuk dikompensasikan ke Tahun Pajak berikutnya;

• Ada kemungkinan kegiatan usaha dalam Tahun Pajak dimana Pembayaran Masa yang harus dilaksanakan mengalami penurunan usaha, kerugian atau keadaan force majeur dalam usahanya;

Dari semua penjelasan tersebut maka jelas bahwa pekerjaan tata usaha perpajakan pada unit kerja yang menangani PPh orang pribadi dan badan adalah tidak sekedar catat mencatat belaka, akan tetapi lebih dari itu yakni juga menentukan besarnya pembayaran masa dan penerbitan Surat Tagihan Pajak, dan pekerjaan ini hanya dapat dilakukan oleh pejabat yang mengetahui peraturan perundang-undangan perpajakan. Contoh kasus, bahwa ada pejabat Kasubsi Pengawasan Pembayaran Masa (atau mungkin bahkan Kepala Seksinya) yang tidak dapat membaca Laporan Keuangan Triwulanan Bank, sehingga sebagai akibatnya atas Bank tersebut diterbitkan Surat Tagihan Pajak Pasal 14 ayat (1) huruf a KUP karena dianggap membayar PPh Masa kurang dari yang seharusnya, suatu hal yang sebenarnya cukup memalukan. Dalam kasus yang demikian ini sebaiknya apabila diketahui secara dini segera dibetulkan secara jabatan melalui kuasa Pasal 16 KUP dengan tidak perlu meminta, menunggu apalagi menyuruh Wajib Pajak untuk mengajukan Surat Permohonan Pembetulan.

PPh Pasal 25 Wajib Pajak Baru

Wajib Pajak baru, dengan sendirinya belum dapat ditentukan besarnya pembayaran PPh Pasal 25 berdasarkan besarnya Pajak Penghasilan Tahun Pajak yang lalu, kecuali apabila Wajib Pajak tersebut telah lama menjadi Wajib Pajak dan berikut dengan pemberian NPWP kepadanya diberikan blangko Surat Pemberitahuan yang kemudian diisi dan disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak. Dalam kasus Wajib Pajak baru yang tidak menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan yang lalu tata cara penentuan besarnya pembayaran PPh Pasal 25 Wajib Pajak baru dilakukan sebagai berikut:

Tn. Supangat sebagai Wajib Pajak yang baru terdaftar per Juni 2004 yang tahun sebelumnya belum menjalankan usaha, dari pencatatan usaha yang dilaksanakan bulan dimaksud jumlah peredaran Rp.100.000.000,-

NPPN (misalnya 15 %), maka Penghasilan Neto Rp. 15.000.000,-

(catatan :Penghasilan Neto ini juga dapat diperoleh dengan perhitungan pembukuan apabila Wajib Pajak menyelenggarakan pembukuan).

Penghasilan Neto tersebut disetahunkan, maka menjadi = Rp 180.000.000,- Penghasilan Tidak Kena Pajak (misalnya k/1) = Rp 5.760.000,- Penghasilan Kena Pajak satu tahun = Rp 174.240.000,- Pajak Penghasilan Terutang:

25 juta pertama 5 % = Rp 1.250.000,- 25 juta yanmg kedua 10 % = Rp 2.500.000,- 50 juta ketiga 15% = Rp 7.500.000,- Rp.74.240.000 sisanya 25 % = Rp 18.460.000,-

Rp 29.710.000,- Jadi PPh Pasal 25 bulan Juni 2004 adalah :

1/12 x Rp.29.710.000, - = Rp 2.475.833,- Jumlah tersebut dibayar paling lambat tanggal 15 Juli 2004 dan pembayaran tersebut dilaporkan paling lambat tanggal 20 Juli 2004, dan penjelasan tata cara perhitungan ini harus diberikan kepada Wajib Pajak oleh pejabat yang bertugas sebagai Information Desk di Tempat Pelayanan Terpadu, dan diberikan bersamaan dengan penyerahan NPWP dan atau NPPKP.

Untuk Penghasilan Tidak Kena Pajak dalam rancangan perubahan Undang-undang Pajak Penghasilan yang diajukan ke DPR akhir Tahun 2005 yang sebelumnya telah didahului dengan SK Direktur Jendral Pajak untuk Wajib Pajak dalam satu tahun adalah Rp 12.000.000,- ditambah status kawin Rp 1.200.000,- ditambah anak yang menjadi tanggungan Rp 1.200.000,- maksimal tiga anak dan wanita yang menjalankan usaha atau pekerjaan yang penghasilannya digabungkan ditambah Rp.12.000.000,- maka dalam kasus soal tersebut untuk Tahun Pajak 2005 menjadi Rp 14.400.000,-

PPh Pasal 25 Wajib Pajak Lama

Dasar penentuan besarnya PPh Pasal 25 pada awal tahun dengan landasan pola berpikir bahwa setiap usaha selalu berharap bahwa penghasilan dalam tahun ini akan berkembang lebih baik dari tahun yang lalu, dengan pertimbangan tersebut maka Pajak melalui lembaga PPh Pasal 25 menentukan pembayaran PPh Pasal 25 (masa atau bulanan) dalam tahun ini adalah sama dengan PPh tahun yang lalu sebagaimana menurut Surat Pemberitahuan yang disampaikan Wajib Pajak. Oleh karena itu perhitungan PPh Pasal 25 pemotongan pajak dan pemungutan pajak bersifat netral, sehingga perhitungan PPh Pasal 25 ayat (1) adalah sebagai berikut:

Dengan pertimbangan bahwa Surat Pemberitahuan memiliki batas akhir penyampaian sampai dengan 30 Maret tahun berikutnya dan itupun masih dapat dilakukan perpanjangan jangka waktu penyampaian Surat Pemberitahuan, sehingga untuk bulan-bulan Januari s.d. Maret atau sampai dengan berakhirnya masa perpanjangan jangka waktu akan terjadi kevakuman aturan pembayaran PPh Pasal 25, oleh karena itu ditimbulkan ketentuan Pasal 25 ayat (2) PPh, yaitu besarnya pembayaran PPh Pasal 25 adalah sama dengan pembayaran PPh Pasal 25 bulan Desember tahun sebelumnya. Apabila Surat Pemberitahuan telah disampaikan dan ternyata perhitungan PPh Pasal 25 berdasarkan Surat pemberitahuan ternyata lebih besar dari yang ditentukan berdasarkan pembayaran bulan Desember lalu maka atas kekurangannya harus dilunasi serta ditambah sanksi administrasi berupa bungan 2% (dua persen) sebulan yang dihitung sejak saat berakhirnya Tahun Pajak sampai dengan saat penyampaian Surat Pemberitahuan.

Karena prinsip dari pembayaran Masa PPh Pasal 25 adalah sama dengan besarnya Pajak Penghasilan tahun yang lalu, maka apabila pada tahun berjalan diterbitkan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar dari tahun-tahun sebelumnya, besarnya pembayaran PPh Pasal 25 dalam tahun ini disesuaikan dengan perhitungan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar tersebut.

Ketentuan ini kadangkala menimbulkan dampak buruk dalam pelaksanaan hukum pajak, yaitu manakala perhitungan pajak dalam rangka penerbitan Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar tersebut dilakukan dengan cara yang tidak sesuai ketentuan;

Apabila ada kompensasi kerugian dalam Surat Pemberitahuan yang disampaikan, maka perhitungan PPh Pasal 25 adalah sebagai berikut:

PT XYZ menyampaikan Surat Pemberitahuan 1771 Tahun Pajak 2004 dengan melaporkan :

Laba atau Penghasilan Tahun 2004 adalah sebesar Rp 300.000.000,- Jumlah kerugian Tahun Pajak yang lalu adalah Rp 400.000.000,- Jumlah kompensasi kerugian (Rp 300.000.000,-) Penghasilan Kena Pajak Tahun 2004 N i h i l Perhitungan pembayaran PPh Pasal 25 Tahun Pajak 2005 adalah sebagai berikut:

Fiksi Penghasilan Tahun 2005 = 2004 yakni sebesar Rp 300.000.000,- Sisa kerugian yang dapat dikompensasikan (Rp 100.000.000,-) Perkiraan Penghasilan Kena Pajak 2005 Rp 200.000.000,- Perkiraan Pajak Penghasilan terutang:

Dalam dokumen Administrasi-Pajak (Halaman 195-200)