• Tidak ada hasil yang ditemukan

DASAR HUKUM

Dalam dokumen Administrasi-Pajak (Halaman 72-86)

PENGUSAHA KENA PAJAK

DASAR HUKUM

Pengertian Umum NPWP dan NPPKP

Dalam perpajakan yang menganut self assessment system setiap Wajib Pajak dipercaya untuk melaksanakan kewajiban perpajakannya yaitu menghitung, membayar, atau menyetor, dan melapor sendiri tanpa menunggu adanya surat ketetapan pajak (Pasal 12 ayat (1) KUP). Manakala kewajiban perpajakan tersebut timbul secara insidentil, misalnya timbulnya penghasilan karena penjualan harta tidak bergerak berupa tanah dan atau bangunan sebagai hasil warisan mungkin tidak begitu bermasalah dalam pengadministrasiannya, namun apabila kewajiban perpajakan tersebut merupakan kewajiban rutin yang harus dijalankan maka perlu wadah di dalam pengadministrasiannya.

Pengertian wadah tersebut adalah Subyek Pajak yang pada dirinya timbul obyek pajak dimaksud yang harus diadministrasikan. Apabila menggunakan nama maka akan timbul masalah yaitu berapa ratus atau ribu orang yang namanya sama, oleh karena itu satu-satunya cara pencatatan Subyek Pajak adalah dengan menggunakan nomor yang disebut sebagai Nomor Pokok Wajib Pajak. Apabila sistem kependudukan nasional telah memiliki sistem penomoran penduduk yang baku yang tidak mungkin dua orang memiliki nomor yang sama, dapat saja administrasi Nomor Pokok Wajib Pajak tidak diperlukan lagi.

Pasal 1 angka 5 KUP menyebutkan bahwa Nomor Pokok Wajib Pajak adalah nomor yang diberikan kepada Wajib Pajak sebagai sarana dalam administrasi perpajakan yang dipergunakan sebagai tanda pengenal diri atau identitas Wajib Pajak dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan. Dari pengertian sebagaimana dikandung dalam ketentuan dimaksud maka dapat dikatakan bahwa fungsi dari Nomor Pokok Wajib Pajak adalah:

a. Tanda Pengenal diri atau identity card;

b. Menjaga ketertiban administrasi dalam pembayaran pajak; c. Sarana pengawasan dalam administrasi pajak;

d. Nomor yang harus dicantumkan dalam dokumen perusahaan.

Jadi seseorang atau badan pada saat diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak bukanlah berarti bahwa mulai saat itu dia menjadi Wajib Pajak. Dalam hal ini tidak ada hubungan secara langsung antara pemberian NPWP dengan timbulnya kewajiban perpajakan Masalah kapan seseorang atau badan menjadi Wajib Pajak adalah kapan saat timbulnya obyek pajak pada subyek pajak, bukan kapan saat pemberian NPWP atau pada saat pendaftaran dilakukan. Dapat saja terjadi suatu Subyek Pajak dalam dirinya telah melekat obyek pajak, namun oleh karena suatu sebab mereka tidak mendaftarkan diri untuk diberikan NPWP dan keadaan ini berlangsung berlarut-larut, dan keadaan yang demikian ini juga tidak diketahui oleh kantor Direktorat Jenderal Pajak. Kondisi seperti ini bukan berarti kewajiban perpajakan subyek pajak selama belum terdaftar tersebut menjadi hilang. Kewajiban perpajakan tidak hangus dan kewajiban membayar pajak tetap harus dilaksanakan sampai dengan masa daluwarsa pajak yang terutang tiba.

Pengertian Nomor Pokok Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak sendiri di dalam pengertian umum peraturan perundang-undangan KUP tidak dijelaskan, namun dalam ketentuan Pasal 1 angka 4 KUP dikatakan bahwa:

” Pengusaha Kena Pajak Pengusaha yang melakukan penyerahan Barang Kena Pajak dan atau melakukan penyerahan Jasa Kena Pajak yang dikenakan pajak berdasarkan Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai 1984 dan perubahannya, tidak termasuk Pengusaha Kecil yang batasannya ditetapkan dengan Keputusan Menteri Keuangan, kecuali untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.”

Dari pengertian ketentuan tersebut secara administrasi maka ada dua macam bentuk Pengusahan Kena Pajak yaitu:

a. Pengusaha yang secara yuridis otomatis sebagai Pengusaha Kena Pajak, yaitu Pengusaha non Pengusaha Kecil; dan

b. Pengusaha yang menjadi Pengusaha Kena Pajak karena pilihannya, yaitu Pengusaha Kecil yang memilih menjadi Pengusaha Kena Pajak.

Pengusaha sebagaimana tersebut butir a adalah pengusaha yang terutang Pajak Pertambahan Nilai, sekalipun belum dikukuhkan (diberi Nomor Pokok Pengusaha Kena Pajak) serta belum dapat melakukan mekanisme pemungutan pajak sebagai pajak keluarannya dan demikian pula terhadap pajak yang telah dipungut pun dari perolehan barang kena pajak dan/atau jasa kena pajak tidak dapat dilakukan pengkreditan. Sedangkan pengusaha sebagaimana tersebut butir b kewajiban Pajak Pertambahan Nilai baru timbul apabila dia memilih menjadi Pengusaha Kena Pajak dan telah dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Disinilah perbedaan antara Pajak Penghasilan dan Pajak Pertambahan Nilai bagi mereka yang belum terdaftar dan belum dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.

Dalam Pajak Penghasilan kewajiban perpajakan timbul sejak suatu subyek pajak pada dirinya melekat obyek pajak, sedangkan pada Pajak Pertambahan Nilai utang pajak timbul sejak terjadinya penyerahan barang kena pajak atau jasa kena pajak oleh pengusaha sebagaimana dimaksud dalam UU PPN, namun kewajiban perpajakan timbul setelah pengusaha sebagaimana dimaksud dalam UU PPN 1984 tersebut dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Lantas bagaimana menagih Pajak Pertambahan Nilai dari semasa belum terdaftar dan dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak? Dalam kasus yang demikian ini manakala pihak fiskus mengetahui bahwa seorang Pengusaha sebagaimana dimaksud pengusaha menurut UU PPN dan dirinya tidak atau belum terdaftar maka besarnya pajak yang terutang ditagih melalui Surat Tagihan Pajak dengan perhitungan 2 % (dua persen) dari dasar pengenaan pajak-Pasal 14 ayat (4) KUP.

Ketentuan Yang Mengatur

Pendaftaran dalam rangka pelaksanaan self assessment system

Bagaimana self assessment system mengatur kewajiban pendaftaran adalah sebagaimana diatur dalam ketentuan Pasal 2 ayat (1) KUP dan Pasal 2 ayat (2) KUP. Dalam ketentuan Pasal 2 ayat (1) KUP dikatakan bahwa:

” Setiap Wajib Pajak wajib mendaftarkan diri pada Kantor Pelayanan Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Wajib Pajak dan kepadanya diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak”.

“Setiap Wajib Pajak sebagai Pengusaha yang dikenakan Pajak Pertambahan Nilai sebagaimana dimaksud dalam undang-undang PPN dan perubahannya, wajib melaporkan usahanya pada Kantor Direktorat Jenderal Pajak yang wilayah kerjanya meliputi tempat tinggal atau tempat kedudukan Pengusaha dan tempat kegiatan usaha dilakukan untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak”.

Jadi tidak hanya kewajiban menghitung, memperhitungkan, membayar atau menyetor serta melapor, namun setiap Wajib Pajak pun oleh undang-undang diwajibkan untuk melakukan pendaftaran diri, demikian pula bagi pengusaha sebagaimana dimaksud dalam UU PPN juga wajib melaporkan usahanya untuk dikukuhkan menjadi Pengusaha Kena Pajak.

Dari ketentuan tersebut dimuka maka dapat disimpulkan bahwa:

a. Timbulnya Wajib Pajak adalah mendahului timbulnya NPWP, artinya pengertian Wajib Pajak timbul sejak adanya subyek pajak yang padanya melekat obyek pajak, bukan pada saat mendaftarkan diri untuk diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak, atau dengan kata lain ketentuan Pasal 12 ayat (1) KUP yaitu kewajiban bagi setiap Wajib Pajak untuk membayar pajak tanpa menunggu adanya surat ketetapan pajak tidak terikat akan adanya Nomor Pokok Wajib Pajak atau tidak;

b. Pengertian Wajib Pajak disini adalah Wajib Pajak menurut ketentuan hukum formal, yakni termasuk para Bendahara Pemerintah, artinya yang wajib mendaftarkan diri tidak hanya Wajib Pajak sebagaimana tersebut dalam butir (a) dimuka, akan tetapi juga mereka yang menurut ketentuan formal perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan sekalipun mereka sebenarnya adalah bukan Wajib Pajak menurut ketentuan material perpajakan. Sebagai contoh adalah pemotong atau pemungut pajak tertentu dan para Bendahara dari instansi pemerintah atau BUMN/D. Landasan berpikir dari pembuat undang-undang adalah asas “convenience of payment” artinya pemungutan pajak agar dilakukan tepat waktunya yaitu sedekat mungkin dengan timbulnya obyek pajak. Pengertian Bendahara disini adalah kewajiban perpajakan yang melekat kepada jabatan seorang Pegawai Negeri Sipil bukan orangnya secara pribadi, sehingga sekalipun yang bersangkutan telah dipindahkan ke tempat lain atau diganti dengan orang lain maka Nomor Pokok Wajib Pajaknya tidak perlu dihapuskan, tetapi dapat diteruskan kepada pejabat penggantinya. Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak Bendahara hanya dapat dilakukan manakala kebendaharawanan pada unit kerja dimaksud telah habis.

c. Bahwa kewajiban mendaftarkan diri yang dibebankan kepada Wajib Pajak menimbulkan kewajiban sebaliknya yaitu untuk melayani pendaftaran dengan diterbitkannya Nomor Pokok Wajib Pajak.

d. Ada Wajib Pajak yang mengajukan permohonan pendaftaran sekaligus melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP; atau

e. Ada yang mengajukan permohonan pendaftaran NPWP saja; atau

f. Ada yang melaporkan usahanya untuk dikukuhkan sebagai PKP sedangkan NPWP nya telah lama di miliki.

Pembahasan ketentuan

Dari kedua ketentuan sebagaimana dimaksud dimuka maka ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan yakni:

Asas Tempat Pendaftaran dan Pelaporan Usaha adalah:

a. Asas domisili atau tempat tinggal untuk Wajib Pajak orang pribadi; b. Asas tempat kedudukan untuk Wajib Pajak badan; atau

c. Asas tempat tinggal, tempat kedudukan atau tempat kegiatan dilakukan untuk Pengusaha Kena Pajak;

d. Serta bagi Wajib Pajak orang pribadi yang menjalankan usaha dibeberapa tempat maka masing-masing usaha harus mendaftarkan diri di kantor Direktorat Jenderal Pajak dimana usaha tersebut dilakukan, dan oleh kantor Direktorat Jenderal Pajak diluar domisili Wajib Pajak maka pengakuan pemberian NPWP adalah sebagai cabang.

Menyimpang dari asas sebagaimana disebut dimuka adalah untuk Wajib Pajak tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (3) Direktur Jenderal Pajak mengatur pendaftaran untuk:

a. Perusahaan Negara dan Daerah yang kerkedudukan di Jakarta di Kantor Pelayanan Pajak Badan Usaha Milik Negara;

b. PMA kecuali yang berada di kawasan berikat Pulau Batam dan Bintan ke KPP PMA;

c. Perusahaan Go Publik ke KPP Masuk Bursa;

d. Cabang-cabang dari perusahaan sebagaimana tersebut diatas di KPP masing-masing cabang terletak.

Asas timbulnya Wajib Pajak

Dari ketentuan Pasal 2 ayat (1) tersebut menyiratkan bahwa timbulnya Wajib Pajak adalah mendahului dari timbulnya pendaftaran diri untuk

diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak. Dari tinjauan hukum adiministrasi maka setiap pemberian NPWP haruslah disertai dengan pemberian formulir Surat

Pemberitahuan Tahunan dan/atau formulir Surat Setoran Pajak, agar supaya

Wajib Pajak dapat segera melaksanakan kewajiban perpajakannya. Surat Pemberitahuan Tahunan yang disampaikan oleh Wajib Pajak tersebut sementara dianggap benar selama tidak ada data pada kantor Direktorat Jenderal Pajak dan akan menjadi tetap apabila jangka waktu sepuluh tahun telah lewat. Namun apabila ada data yang menyimpang dari Surat Pemberitahuan Wajib Pajak, maka dapat dilakukan pemeriksaan yang hasilnya dapat berupa koreksi Surat Pemberitahuan biasa (terbitnya SKPKB Pasal 13 ayat (1) KUP), atau Pembetulan Surat Pemberitahuan dengan pengungkapan ketidakbenaran atas Surat Pemberitahuan yang telah di sampaikan [Pasal 8 ayat (3) KUP] atau bahkan sampai ke pelaksanaan penyidikan tindak pidana baik pidana pelanggaran (Pasal 38 KUP) maupun pidana kejahatan (Pasal 39 KUP).

Suatu pertanyaan timbul mengapa formulir Surat Pemberitahuan dan formulir Surat Setoran Pajak harus diberikan? Jawabannya adalah bahwa Wajib Pajak yang baru terdaftar sangat dimungkinkan dia belum memahami ketentuan peraturan perundang-undangan pajak; dan

a. paling tidak untuk Wajib Pajak orang pribadi yang menyelenggarakan pembukuan atau Wajib Pajak badan (khususnya bentuk Perseroan Terbatas) berikut penyampaian Surat Pemberitahuan tersebut dapat melampirkan ”Neraca Pendirian” dan/atau ”Neraca Pra Operasi”. Neraca Pra Operasi ini penting sebab hal yang sangat sulit dilakukan dapat melakukan pemeriksaan dengan baik terhadap Laporan Keuangan (Neraca dan Laba-Rugi) pada tahun pertama jalannya perusahaan yang dilampirkan dalam Surat Pemberitahuan Wajib Pajak apabila data tentang Necara Pra Operasinya saja tidak ada;

b. Mencoba untuk menghindarkan diri Wajib Pajak dari tindakan penyidikan tindak pidana manakala diketahui data obyek perpajakan sebelum Wajib Pajak melakukan pendaftaran diri dan diberikan NPWP. Secara logika akal sehat adalah wajar apabila Wajib Pajak yang terlambat mendaftarkan diri tersebut diberitahukan secara tidak langsung (dengan memberikan formulir SPT Tahunan dan SSP) sebagaimana cara melaksanakan kewajiban perpajakan dalam suatu sistem self assessment.

Pendaftaran Wajib Pajak bentuk Perseroan Terbatas

Khusus dalam rangka pendaftaran dan pemberian NPWP dari badan bentuk Perseroan Terbatas, maka kantor Direktorat Jenderal Pajak harus melaksanakan ketentuan UU Nomor 1 Tahun 1995 tentang ”Perseroan

Terbatas”, yaitu bahwa bentuk Perseroan Terbatas adalah bentuk asosiasi modal. Oleh karena itu di dalam pendaftaran harus disyaratkan selain akte

pendirian Perseroan, juga Neraca Pendirian dan sekaligus kopi bukti setoran Modal. Dengan pencatatan yang demikian maka akan diketahui nama-nama semua pemegang saham serta dewan direksi dan dewan komisaris perusahaan yang secara langsung mereka adalah para Penanggung Pajak sejalan dengan pengertian Pasal 32 KUP.

Pengertian ”wajib mendaftarkan diri”

Bahwa ”kewajiban” mendaftarkan diri sebagaimana yang diberikan oleh undang-undang kepada Wajib Pajak menurut pengertian hukum administrasi menimbulkan ”kewajiban” sebaliknya kepada pemungut pajak yaitu aparatur pajak untuk melaksanakan pelayanan pendaftaran dengan baik sebagaimana ketentuan peraturan perundang-undangan menghendaki. Tindakan pelayanan pendaftaran yang tidak baik atau pelayanan yang dilakukan dengan cara mengada-ada selain merupakan suatu bentuk kelalaian jabatan juga merupakan suatu pelanggaran hukum. Pajak adalah menganut paham material, bukan paham formal artinya tidak pernah memasalahkan dari mana penghasilan diterima atau diperoleh, apakah dari tindak susila maupun tindak asusila yang penting ada penghasilan maka bayarlah pajak, sehingga dalam pendaftaran tidak perlu kiranya diminta Surat Keterangan Lurah yang menunjukkan tempat usaha dilakukan, karena hanya akan memberatkan Wajib Pajak, apalagi apabila usahanya baru dirintis. Hal yang demikian ini agar menjadi pemahaman hukum bagi setiap petugas di lapangan bahwa dirinya adalah pelaksana hukum yang harus menjalankan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Perubahan data Wajib Pajak

Bahwa asas pendaftaran diri sebagaimana dimaksud dalam butit 1.1. tersebut dimuka dengan sendirinya adalah tidak tetap, karena ada kemungkinan perubahan karena mutasi Wajib Pajak atau perubahan kondisi Wajib Pajak, misalnya karena:

a. Wajib Pajak pindah tempat tinggal, yang meliputi keadaan-keadaan pindah tempat tinggal tetapi tetap dalam satu Kantor Pelayanan Pajak, pindah tempat tinggal ke Kantor Pelayanan Pajak lain atau karena pemecahan Kantor Pelayanan Pajak;

b. Permohonan Perubahan nama Wajib Pajak atau adanya pemberitahuan Wajib Pajak orang pribadi telah meninggal dunia, atau Wajib Pajak wanita yang melangsungkan perkawinan;

c. Permohonan penghapusan Nomor Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak karena pindah usaha;

d. Dan kemungkinan-kemungkinan lain.

Tata Cara Perubahan Data Wajib Pajak

Perubahan data Wajib Pajak sebagaimana tersebut dimuka dapat dilakukan sebagai berikut:

Pindah Domisili dan pindah KPP

Kasus kepindahan sebagaimana dimaksud dimuka yakni kepindahan alamat atau domisili tetapi masih berada dalam satu KPP, atau perubahan alamat atau nama, atau perubahan kegiatan usaha, maka pelaksanaan pindah ini (dinyatakan dalam prosedur kerja melalui formulir KP.PDIP.4.1.–00) dan untuk seterusnya pekerjaan sama dengan pekerjaan pada waktu pengajuan pendaftaran, atau dapat saja kepindahan alamat tetapi masih tetap dalam satu Kantor Pelayanan Pajak tersebut dilaporkan melalui pengisian Surat Pemberitahuan Tahunan.

Dalam kepindahan tersebut merupakan pindah domisili dan juga pindah KPP, maka ini dapat ditempuh dengan cara:

• Berdasarkan permohonan Wajib Pajak diterbitkan Surat Pindah (KP.PDIP.4.1.-00), yang diberikan kepada Wajib Pajak paling lama pada hari kerja berikutnya setelah surat pernyataan pindah diterima, guna diserahkan ke Kantor Pelayanan Pajak yang baru.

• Kartu Nomor Pokok Wajib Pajak dan Surat Keterangan Terdaftar, paling lama pada hari kerja berikutnya dalam surat keterangan pindah beserta persyaratannya secara lengkap disampaikan ke Kantor Pelayanan Pajak yang baru, atau setelah menerima Surat Pindah dari Wajib Pajak yang berasal dari Kantor Pelayanan Pajak lama.

• Kantor Pelayanan Pajak yang lama menerbitkan Surat Pencabutan Pengukuhan setelah diterimanya tembusan Surat pengukuhan Pengusaha Kena Pajak yang diterbitkan oleh Kantor Pelayanan Pajak yang baru.

Tugas KPP Lama

Dalam hal terjadi perpindahan Kantor Pelayanan Pajak, maka pihak KPP lama harus mengirimkan Berkas Wajib Pajak dan/atau berkas Pengusaha Kena Pajak, serta Berkas Data dan Berkas Penagihan apabila kedua berkas ini ada, dengan memberikan uraian tentang:

• Tindakan penagihan yang telah dilakukan. Untuk kasus tunggakan pajak menurut penulis secara administrasi sebaiknya penagihan dilaksanakan di KPP lama karena ada kaitannya dengan nomor ketetapan yang tidak mungkin diubah dan juga Nomor Pokok Wajib Pajak yang tertera dalam Surat ketetapan pajak dan apabila perlu tindakan penagihan agar dipercepat pelaksanaannya berdasarkan kepada ketentuan perundang-undangan. Dengan menyerahkan tunggakan pajak (bukan piutang pajak) ke kantor Pelayanan Pajak yang baru hanya akan membantu Wajib Pajak untuk berusaha menghindarkan diri dari tindakan melunasi utang pajak yang telah menjadi tunggakan. Cara pindah domisili ini dapat saja di jadikan trik bagi Wajib Pajak untuk menghindarkan diri dari penagihan atas tunggakan pajak yang dimilikinya;

• Permohonan pengembalian kelebihan pembayaran pajak, atau surat pengajuan keberatan Wajib Pajak/Pengusaha Kena Pajak yang belum diselesaikan;

• Uraian tentang jenis dan besarnya data pada setiap tahun pajaknya. Catatan:

Terhadap Wajib Pajak yang pindah domisili, sebaiknya segala tunggakan dilakukan penagihan sampai tuntas di Kantor Pelayanan Pajak yang lama sehingga menurut penulis kurang tepat apabila terjadi pemindahan tunggakan pajak. Dasar pertimbangan penulis adalah:

Ø Bahwa Nomor NPWP dan juga Nomor ketetapan dari tunggakan tersebut

adalah menggunakan NPWP dan Nomor ketetapan dari KPP lama, sehingga ada kemungkinan menyulitkan administrasi di KPP yang baru;

Ø Perpindahan tempat terdaftar tersebut bukan mustahil adalah salah satu bentuk

upaya dari Wajib Pajak untuk menghindarkan atau melarikan diri dari tindakan Penagihan Pajak.

Penghapusan NPWP/ Pengukuhan PKP

Wajib Pajak yang dapat dihapuskan

Penghapusan Nomor Pokok Wajib Pajak dilakukan dalam hal:

• Wajib Pajak orang pribadi yang meninggal dunia dan tidak meninggalkan warisan;

Catatan:

sekalipun Wajib Pajak meninggalkan warisan, berdasarkan pengertian hukum maka NPWP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2A ayat (5) PPh, maka yang meninggal dihapuskan, dan diberikan Nomor Pokok Wajib Pajak atas nama

sebagai bentuk personifikasi dari warisan tersebut, dan mulai saat itu timbul perpindahan sifat pajak yaitu pajak subyektif ke pajak obyektif.

• Wanita kawin tidak dengan pemisahan harta dan penghasilan, apabila wanita tersebut sebelumnya telah memiliki NPWP;

Catatan:

Dalam kasus wanita kawin seharusnya undang-undang pajak mengacu kepada ketentuan khusus yang mengatur tentang kedudukan wanita kawin yaitu UU

Perkawinan yang meletakkan kedudukan wanita sederajat dengan kedudukan pria,

bukan lagi mengacu aturan umum yaitu hukum perdata. Oleh karena itu penghapusan NPWP dalam kasus wanita kawin sebagaimana dimaksud dimuka dengan sendirinya tergantung kepada bagaimana wanita tersebut menghendaki, apakah dihapuskan atau apakah ingin tetap memiliki NPWP sendiri, dalam hal ini Direktur Jenderal Pajak sebaiknya tidak bertindak secara sepihak.

• Warisan yang belum terbagi dalam kedudukan sebagai Subyek Pajak sudah selesai dibagi;

• Wajib Pajak badan yang telah dibubarkan secara resmi berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku;

• Bentuk usaha tetap yang karena sesuatu hal kehilangan statusnya sebagai bentuk usaha tetap;

• Wajib Pajak orang pribadi lainnya yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai Wajib Pajak.

Kebijaksanaan Direktur Jenderal Pajak ini sebenarnya kurang benar, sebab NPWP untuk orang pribadi sebenarnya hanya dapat dihapuskan manakala orang tersebut telah meninggal dunia. Jadi apabila orang pribadi tersebut dianggap tidak memenuhi syarat lagi sebagai Wajib Pajak maka tidak perlu dihapuskan, tetapi cukup dicatat sebagai Wajib Pajak yang tidak efektif, sehingga tidak terjadi kemungkinan seseorang dalam hidupnya pernah memiliki beberapa NPWP.

Persyaratan di Dalam Penghapusan NPWP

Penghapusan NPWP terhadap subyek-subyek tersebut dimuka dilakukan dengan beberapa persyaratan yang harus dipenuhi yakni antara lain: • Adanya utang pajak yang telah dilunasi, atau penagihannya telah daluwarsa,

atau dari hasil pemeriksaan/penelitian setempat menyatakan bahwa utang pajak tersebut sudah tidak mungkin ditagih lagi;

• Penghapusan Pengusaha Kena Pajak hanya dapat dilakukan apabila Pengusaha tersebut pindah alamat ke KPP lain, atau bubar atau tidak memenuhi syarat lagi sebagai Pengusaha Kena Pajak;

• Penghapusan NPWP wanita kawin hanya dapat dilakukan apabila suami wanita tersebut telah memiliki NPWP, dan berlaku sejak awal tahun berikutnya dan berkas wanita kawin tersebut dikirimkan ke KPP dimana suaminya terdaftar (apabila suami berdomisili di KPP lain) untuk digabungkan dengan berkas suami;

• Jumlah peredaran bruto Pengusaha Kena Pajak tidak melebihi batas jumlah peredaran untuk Pengusaha Kecil, maka Pengusaha Kena Pajak dapat mengajukan permohonan penghapusan Pengukuhan.

Tata Cara Penghapusan NPWP

Pada dasarnya berdasarkan sistem pendaftaran maka penghapusan NPWP khususnya untuk Wajib Pajak orang pribadi hanya dapat dilakukan manakala subyek pajak nya sendiri telah hapus. Namun dalam pelaksanaan Hukum Pajak masalah penghapusan NPWP dan pencabutan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak diatur melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pajak dilakukan dengan cara mengisi formulir yang ditentukan, yang dilakukan oleh : • Wajib Pajak atau kuasanya dengan melampirkan Surat Kuasa Khusus; • Pejabat Kantor Pelayanan Pajak dalam hal:

o Wajib Pajak orang pribadi meninggal dunia berdasarkan Surat Keterangan Kematian atau fotokopi akte atau fotokopi laporan kematian Wajib Pajak dengan tanpa meninggalkan harta warisan dan tidak mempunyai ahli waris, atau ahli waris tidak dapat ditemukan;

o Wajib Pajak bentuk usaha tetap yang karena sesuatu hal hilang statusnya atau Wajib Pajak lain yang tidak memenuhi syarat lagi sebagai Wajib

Dalam dokumen Administrasi-Pajak (Halaman 72-86)