• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. PENUTUP 1.3 Kesimpulan

BAB I PENDAHULUAN a Latar Belakang Masalah

Perkembangan jaman saat ini menuntut kota-kota di Indonesia untuk terus berbenah, memperbaiki berbagai sisi di setiap sudut kota demi terwujudnya kesejahteraan bagi masyarakat. Pembangunan perkotaan yang terus menerus dilaksanakan terkadang mengabaikan unsur-unsur keasrian lingkungan, terlihat dari meningkatnya polutan di daerah perkotaan, berkurangnya ruang terbuka hijau, dan berbagai permasalahan lainnya.

Segala jenis pembangunan pada dasarnya memiliki sisi positif dan negatif, oleh karena itu kita harus mengimbangi sisi negatif dari pembangunan dengan mengubah pola pembangunan negatif menjadi positif. Salah satu cara mengubah efek negatif dari pembangunan menjadi positif antara lain adalah dengan menyediakan lahan-lahan hijau disetiap kegiatan pembangunan perkotaan.

Pembangunan perkantoran, perumahan, pergudangan, maupun bangunan high-rise merupakan prioritas utama kota-kota di Indonesia saat ini, hampir setiap tahun pemerintah memberikan izin pembangunan kepada developer-

developer untuk melakukan

pembangunan ini. Namun hal ini tidak diiringi dengan reboisasi atau penghijauan di daerah sekitar wilayah pembangunan, banyak pohon yang

ditebang demi kepentingan

pembangunan namun tidak ditanam kembali setelah bangunan tersebut selesai. Hal ini merupakan salah satu contoh yang menyebabkan semakin banyak lahan hijau yang hilang di daerah perkotaan.

Beberapa kota di dunia dan Indonesia saat ini sudah memulai pembangunan perkotaan yang berasas penghijauan, seperti contoh kota Surabaya yang mampu menyediakan cukup banyak lahan baru untuk penghijauan saat dipimpin oleh ibu Risma. Izin pendirian bangunan diberikan saat developer menyatakan mampu menyediakan lahan hijau di proyek tersebut.

Sejalan dengan Surabaya, Kota Medan saat ini sedang melaksanakan gerakan Medan BERHIAS yaitu gerakan yang diarahkan untuk membenahi lahan hijau di sekitar kota Medan. Gerakan ini merupakan sinergi yang harus dijalankan oleh pemerintah dan masyarakat untuk mendapatkan hasil maksimal. Namun dalam pelaksanaannya masih terdapat banyak

kendala, antara lain kurangnya

komunikasi pemerintah dan

masyarakat.

Selain itu masyarakat masih belum memiliki banyak ilmu mengenai penanganan tanaman hias maupun tanaman penghijauan dalam pembuatan lahan hijau, oleh karena itu sering kita melihat pembuatan lahan hijau yang sembarangan dan berujung menjadi lahan hijau yang tidak teratur.

Hal lain yang menjadi kendala dalam menjalankan gerakan ini antara lain adalah semakin sedikitnya lahan kosong yang bisa kita ubah menjadi lahan penghijauan, rata-rata lahan di kota Medan sekitar telah berubah menjadi hamparan semen dan beton. Walaupun sebenarnya masyarakat tetap bisa membangun lahan penghijauan di atas tanah semen maupun lantai beton dengan teknik tertentu.

Beberapa masalah lain juga muncul saat gerakan Medan BERHIAS hendak dijalankan oleh masyarakat metropolitan seperti kita ini, tidak adanya waktu untuk mengurus tanaman-tanaman membuat masyarakat berpikir-pikir terlebih dahulu jikalau hendak memiliki lahan penghijauan. Pada dasarnya lahan penghijauan dapat mengalami kerusakan jikalau tidak ditangani dengan benar.

Jikalau kita bertanya kepada masyarakat sekitar kota Medan, tentunya mereka sendiri menginginkan adanya lahan penghijauan di sekitar rumahnya. Namun kendala-kendala seperti diataslah yang menghambat

semua keinginan tersebut dikabulkan. Dengan beberapa inovasi dan manajemen yang pas, kita semua dapat mengatasi masalah-masalah diatas. Pokok-pokok masalah yang jelas terlihat diatas adalah keinginan masyarakat kota untuk memiliki lahan penghijauan namun tidak memiliki keterampilan serta waktu dalam mengurus lahan tersebut.

Berdasarkan uraian diatas dan mengingat akan kesesuaian tema pada lomba karya tulis ilmiah se-Kota Medan dalam rangka peringatan Hari

Teknologi Nasional yang

diselenggarakan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kota Medan yaitu “Inovasi Medan BERHIAS (Bersih, Hijau, Asri dan Sehat” maka penulis

tertarik untuk memecahkan

permasalahan masyarakat perkotaan untuk menjalankan gerakan Medan BERHIAS dalam bentuk Karya Tulis Ilmiah dengan judul “TABUNGAN BERHIAS, Konsep Hijau Sejahtera dalam Hubungan Timbal Balik Pemko Medan dengan Masyarakat sekitar”.

b. Rumusan Masalah

Untuk dapat mengarahkan dan memudahkan dalam melakukan pembahasan yang lebih sistematis, penulis mencoba merumuskan masalah yang akan dibahas dalam penulisan karya tulis ilmiah ini. Adapun rumusan masalahnya yaitu:

1. Permasalahan apa sajakah yang menghambat berjalannya gerakan Medan BERHIAS ?

2. Apakah masyarakat kota Medan menginginkan adanya lahan terbuka Hijau ?

3. Bagaimana caranya untuk

mengimbangi pembangunan

Gedung dan Hunian dengan lahan terbuka Hijau di Kota Medan ? 4. Apakah diperlukan sinergi antara

masyarakat dan pemerintah Kota Medan sebagai penggagas gerakan Medan BERHIAS ?

5. Inovasi seperti apakah yang dibutuhkan oleh Pemko Medan dan Masyarakat Kota Medan untuk menjalankan gerakan Medan BERHIAS agar dapat berjalan maksimal ?

6. Apakah Tabungan BERHIAS mampu menjadi jalan keluar untuk memaksimalkan gerakan Medan BERHIAS ?

c. Maksud dan Tujuan Penelitian Adapun maksud dan tujuan penulis melakukan penelitian ini adalah : 1. Untuk mengetahui permasalahan

apa sajakah yang menghambat berjalannya gerakan Medan BERHIAS.

2. Untuk mengetahui apakah

masyarakat kota Medan

menginginkan adanya lahan terbuka Hijau.

3. Untuk mengetahui cara-cara dalam

mengimbangi pembangunan

Gedung dan Hunian dengan lahan terbuka Hijau di Kota Medan.

4. Untuk mengetahui apakah diperlukan sinergi antara masyarakat dan pemerintah Kota Medan sebagai

penggagas gerakan Medan

BERHIAS.

5. Untuk mengetahui Inovasi seperti apakah yang dibutuhkan oleh Pemko Medan dan Masyarakat Kota Medan untuk menjalankan gerakan Medan BERHIAS agar dapat berjalan maksimal.

6. Untuk mengetahui apakah Tabungan BERHIAS mampu menjadi jalan keluar untuk memaksimalkan gerakan Medan BERHIAS.

d. Kerangka Teori 1. Pembangunan

Pembangunan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah suatu proses atau pembuatan dan dapat dianggap sebagai cara membangun yang menghasilkan suatu hasil. Namun masyarakat awam sendiri biasa mendeskripsikan pembangunan adalah proses mendirikan sesuatu yang biasa berkaitan dengan kebutuhan papan.

Arti pembangunan menurut Ginandjar Kartasasmita (1997;5) adalah :

“Suatu proses perubahan kearah yang lebih baik mealui upaya yang dilakukan secara terencana.”

Sedangkan pengertian

Pembangunan menurut Deddy

Supriady Bratakusumah (2004;4) adalah :

“Suatu usaha atau rangkaian usaha pertumbuhan dan perubahan yang berencana dan dilakukan secara sadar

oleh suatu bangsa, negara dan pemerintah, menuju modernitas dalam rangka pembinaan bangsa (nation

building).”

Oleh karena itu secara garis besar dapat kita ambil pengertian pembangunan itu sendiri adalah suatu rencana yang terarah dalam proses membangun hal-hal untuk mencapai hasil yang berkesesuaian.

2. Penghijauan

Penghijauan yang secara ilmiah disebut Reboisasi adalah sebuah tindakan yang bertujuan menumbuhkan kembali tanaman-tanaman di daerah tersebut. Masyarakat dewasa ini pada dasarnya sudah mengetahui arti dari penghijauan, namun dalam prakteknya masih banyak yang salah dalam mewujudkannya.

Sedangkan arti Reboisasi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah:

“Penanaman kembali hutan yang telah ditebang atau digunduli dan yang sudah tandus; penghutanan kembali.”

Oleh karena itu saat ini masyarakat harus diberikan pendidikan mengenai penghijauan agar dalam menerapkan pola penghijauan dilingkungan sekitarnya tidak terjadi kesalahan dan mendapatkan hasil yang maksimal. 3. Tabungan

Tabungan secara awam dikenal oleh masyarakat adalah simpanan, atau sesuatu yang berguna nanti. Biasanya masyarakat hanya mengenal tabungan dalam bentuk finansial atau uang. Saat ini tabungan bukan hanya sekedar

berbentuk uang, banyak juga produk produk jasa yang dapat kita sebut sebagai tabungan.

Pengertian tabungan menurut Thomas Suyatno (2001:71) adalah:

“Simpanan dari pihak ketiga kepada bank yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat-syarat tertentu”.

Saat ini yang harus dikembangkan dalam pola pikir masyarakat Indonesia adalah tabungan bukan hanya sebatas uang, finansial, dan kebutuhan primer pada umumnya. Masih banyak kebutuhan-kebutuhan lain yang harus ditabung agar manusia mendapatkan hasil yang lebih kedepannya.

e. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan dengan metode Ekspos Facto. Metode Ekspos Facto digunakan dengan mencari sebab akibat mengenai masalah utama pada penelitian ini. Setelah penulis mendapatkan penyelesaian pada masalah tersebut maka penulis akan menghadirkannya sebagai hasil akhir dari penelitian ini.

Dalam hal ini penelitian dimulai dengan memahami masalah dan merumuskannya, kemudian penulis mengumpulkan informasi untuk dijadikan bahan pertimbangan akhir yang akan di analisis menjadi penyelesaian atas masalah pada penelitian ini.

2. Objek Penelitian

Objek penelitian adalah pola hidup masyarakat kota Medan dan sistem pengembangan program Medan BERHIAS yang bercampur dengan permasalahan komunikasi serta sinergi antara kedua objek diatas.

3. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis adalah :

-

Teknik observasi, yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung maupun tidak langsung terhadap perkembangan program Medan BERHIAS dan sinerginya dengan masyarakat kota Medan.

-

Teknik Kualitatif, yaitu dengan

mengumpulkan data-data

permasalahan apa saja yang menghambat jalannya program Medan BERHIAS.

4. Teknik Analisa Data Penelitian Analisis data yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode deskriptif yaitu metode yang

mengumpulkan, menyusun,

mengelompokkan, menginterpretasikan dan menganalisa data untuk memberi gambaran dan jawaban yang jelas dan akurat dari perumusan masalah.

BAB II. PEMBAHASAN