Meningkatnya pertumbuhan pembangunan dan kegiatan manusia di permukaan bumi berakibat perubahan suatu habitat organisme/hewan terutama di daerah perkotaan seperti di Kota Medan. Kunang-kunang yang sudah mulai kehilangan tempat tinggal dan sumber makanannya pada habitatnya. Ruang terbuka hijau seperti taman kota dapat diubah menjadi habitat baru bagi kunang-kunang.
Langkah-langkah yang dapat dilakukan agar taman kota di Kota Medan bisa diubah menjadi habitat baru bagi kunang-kunang untuk mendukung pengbangbiakannya, seperti: a) mematikan lampu-lampu penerangan di taman pada malam hari; b) menanam pohon lebih banyak dan beragam, dan meninggalkan beberapa sampah alam di sekitarnya; c) membangun kolam kecil/parit di taman untuk habitat bagi para kunang-kunang; d) menghindari penggunaan pestisida; e) menggunakan pupuk alami; f) membuat sebuah tempat khusus untuk
rumput-rumput agar tumbuh tinggi; g) menanam pohon pinus karena cepat tumbuh dan menyediakan habitat asli bagi yang baik bagi banyak spesies kunang-kunang.
Keunggulan adanya Habitat Kunang-kunang antara lain: a) menghemat energi penerangan; b) taman dapat dijadikan sebagai objek wisata pada malam hari; c) kunang- kunang mendapatkan habitat baru; d) menjadi taman edukasi bagi anak anak- anak; e) menambah popularitas daerah sebagai salah satu cagar alam buatan bagi kunang-kunang. Sedangkan kelamahan dari taman dijadikan habitat kunang-kunang antara lain: a) dana yang dikeluarkan untuk membangun taman sebagai habitat baru bagi kunang-kunang sangat besar; b)
lingkungan sekitar taman
berkemungkinan besar menjadi kotor, karena kotoran dari kunang kunang itu sendiri.
Mengembangbiakan kunang- kunang untuk memperindah taman- taman di Kota Medan dengan menjadikan taman-taman tersebut sebagai habitat barunya sesuai dengan syarat hidupnya. Sehingga memberikan keasrian, keindahan dan kenyamanan bagi masyarakat Kota Medan dimalam hari dengan keberadaan kunang- kunang yang dapat bercahaya sendiri. Indentitas kota kunang-kunang bagi Kota Medan akan menjadi terwujud.
B. Saran
Dari kesimpulan di atas, yang menjadi saran dalam penelitian ini ialah:
1. Kepada masyarakat dan Pemerintah Kota Medan untuk tetap menjaga keberadaan ruang terbuka hijau sebagai habitat kunang-kunang dan spiesis lainnya
2. Menjadikan ruang terbuka hijau baru seperti taman sebagai habitat baru bagi kunang-kunang untuk memperindah taman-taman tersebut pada malam hari
3. Mengembangbiakan kunang- kunang untuk mengurangi energi pencahayaan di taman-taman kota yang murah, hemat energi dan berwawasan lingkungan
DAFTAR PUSTAKA
Bungin, Burhan. 2008. Metode
Penelitian Kuantitatif.
Jakarta: Kencana.
Joga, Nirwono dan Iwan Ismaun. 2011.
Resolusi (Kota) Hijau.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Nawir, Ani Adiwinata dkk. 2008.
Rehabilitasi Hutan di
Indonesia; akan kemanakah arah setelah lebih dari tiga
dasawarsa. Semarang: SMK
Grafika Desa Putera.
Peraturan Daerah Kota Medan Nomor 13 tahun 2011 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Medan Tahun 2011-2031
Siahaan, N.H.T. 2004. Hukum Lingkungan dan Ekologi
Pembangunan. Jakarta:
Erlangga.
Sukaenab, Momon. 2004. Lebih Dekat
dengan Alam. Jakarta: Setia
Purna Inves.
Utoyo, Bambang. 2004. Geografi:
Membuka Cakrawala
Dunia SMA/MA Program IPS. Jakarta: Setia Purna
Inves. http://id.wikipedia.org/wiki/Kunang- kunang http://surgaserangga.blogspot.com/201 3/06/kunang-kunang- photuris.html http://yusufsila- binatang.blogspot.com/2011/ 07/kunang-kunang.html www.balitbang.pemkomedan.go.id www.pemkomedan.go.id
MENGOPTIMALKAN PENATAAN HUTAN KOTA UNTUK KEMAJUAN BERHIAS DI KOTA MEDAN
Assyfa Putri Nadira
BAB I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang
Kota Medan merupakan ibu kota provinsi Sumatera Utara dengan jumlah penduduk 1.909.700 jiwa dengan luas wilayah 26.500 ha. Dalam menuju kota Medan yang Berhias (Bersih, Hijau, Asri, dan Sehat) maka dinas pertamanan kota Medan lebih memfokuskan pada faktor-faktor ruang terbuka hijau atau taman kota, baik yang berada di tengah-tengah kota, sepanjang jalan, maupun tempat pemakaman.
Tujuan pembangunan pada dasarnya adalah terwujudnya peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun fakta yang kita lihat sekarang ini memperlihatkan kondisi lingkungan yang buruk berupa rusaknya ekosistem di perkotaan. Cita-cita untuk mensejahterakan masyarakat dapat terjadi apabila didukung kebijakan yang mumpuni dan memperhitungkan manfaat keberadaan sumber daya alam. Upaya merevitalisasi ekosistem di perkotaan dapat dilakukan dengan cara pengembangan Hutan Kota.
Masyarakat kota medan termasuk masyarakat industri, kehidupan perkotaan memacu untuk berkerja keras dan akibatnya kerja keras dalam
pembagunan menuntut waktu luang untuk bersantai, berolaraga, dan menikmati keindahan alam. Kebutuhan masyarakat kota akan lingkungan bersih, indah, dan nyaman serta terbebas dari polusi sangat mendesak.
Hutan kota dapat memberikan kenyamanan dan kenikmatan kepada penduduk kota dan kenikmatan pada
penduduk kota jika dapat
mengembangkan dan membangun hutan kota yang bersetara dengan keanekaragaman jenis dan jumlah yang banyak serta ditata dengan baik. Lingkungan didalam hutan kota lebih nyaman banyak dibandingkan di luar hutan kota.
1.2.Perumusan Masalah
Perumusan masalah dalam penelitian ini yaitu bagaimana mengoptimalkan penataan hutan kota untuk kemajuan berhias di Kota Medan 1.3. Tujuan penelitian
Tujuan penelitian adalah dapat menguraikan fungsi-fungsi hutan kota dan mengoptimalkan penataanya untuk kemajuan berhias di Kota Medan. 1.4. Manfaat penelitian
Manfaat dari penilitian ini adalah agar penulis, pemerintah dan
masyarakat mengetahui pentingnya keberadaan hutan kota sebagai bagian penting dari kehidupan mayarakat perkotaan. Selain itu manfaat penelitian ini diharapkan untuk menjadi landasan dalam pengoptimalan hutan kota sebagai program berhias
1.5. Kajian Pustaka 1.5.1. Defenisi Hutan Kota
Hutan kota merupakan suatu kawasan dalam kota yang didominasi oleh pepohonan yang habitatnya dibiarkan tumbuh secara alami. Pengertian alami disini bukan berarti hutan yang tumbuh menjadi hutan besar atau rimba melainkan tidak terlalu diatur seperti taman. Lokasi hutan kota umumnya di daerah pinggiran. Ini dimungkinkan karena kebutuhan lokasi pemukiman atau perkantoran daerah tersebut tidak terlalu besar. Hutan kota dibuat sebagai daerah penyangga kebutuhan air, lingkungan alami, serta pelindung flora dan fauna di perkotaan.
Gambar 1. Hutan/Taman Kota Beringin Jl. Cik Ditiro
Menurut Fakuara, hutan kota adalah tumbuhan vegetasi berkayu diwilayah perkotaan yang memberikan manfaat lingkungan yang sebesar- besarnya dalam kegunaan proteksi, rekreasi, dan astetika lingkungan. Hal senada juga diungkapkan oleh
Samoedin dan Subandiono mengenai pengertian hutan kota yakni pepohonan yang berdiri sendiri atau berkelompok atau vegetasi berkayu dikawasan perkotaan yang pada dasarnya memberikan dua manfaat pokok pada masyarakat dan lingkungan, yaitu manfaat konservasi dan manfaat estetika. Sedangkan menurut Irwan menggatakan bahwa hutan kota adalah komunitas vegetasi berupa pohon dan asosiasinya yang tumbuh dilahan kota atau sekitar kota baik berbentuk jalur
menyebar atau bergerombol
(menumpuk) dengan strukur
meniru(menyerupai) hutan alam,
membentuk habitat yang
memungkinkan kehidupan bagi satwa dan menimbulkan lingkungan yang sehat, nyaman, serta estetis.
1.5.2. Sejarah Hutan Kota
Sejarah hutan kota telah dimulai sekitar 15.000 tahun yang lalu ketika manusia di timur tengah atau afrika utara memulai kebiasaan hidup mereka secara menetap dengan melakukan kegiatan bercocok tanam disepanjang sungai Tigris, Euphrates, Indus, dan Nil yang subur. Peradabaan manusia terus berlanjut di sepanjag sungai Nil dan sungai Euphrates dan mencapi puncaknya pada 3.000 tahun Sebelum Masehi pada saat dimulainya pembangunan pyramid dan monument- monument lainnya. Pot-pot gantung(the
hanging gardens)di kota Babylon
dipercaya oleh para ahli sebagai awal dari penggunaan tanamaan secara
terencana(the intentional use of urban
vegetation).
Di Indonesia, ornament tanaman pada candi Borobudur yang dibangun oleh Dinasti Syailendra pada abad ke-8 merupakan bentuk sejarah pemanfaatan tanaman. Hutan Kota sebenarnya telah dimulai oleh nenek moyang kita pada saat itu. Mereka telah menanam pepohonan di sekitar kita tempat tinggalnya untuk menopang kehidupan mereka sehari-hari. Penanaman pohon secara lebih teratur dimulai oleh bangsa belanda yang dimulai menjajah bangsa kita ketika memasuki negri ini pada tahun 1602. Bekas-bekas dari kegiatan mereka masih Nampak sampai sekarang dengan masih terpeliharanya pohon-pohon besr dipinggir jalan. Setelah merdeka, penanaman secara berkelompok dilakukan pemerintah pada saat menjadi tuan rumah Games
of the New Emerging forces atau yang
lebih dikenal dengan Ganefo pada tahun 1936. Namun demikian, secara resmi, pembangunan hutan kota dicanangkan oleh pemerintah pada saat menjadi tuan rumah Kongres Kehutanan sedunia yang ke-7 di Jakarta pada tahun 1978. Penanaman pohon oleh peserta kongres di atas lahan 5 hektar dilingkungan gedung Manggala Wanabakti menjadi patok sejarah dicanangkannya pembangunan Hutan Kota.
1.6. Metodologi Penelitian
Metodologi penelitian yang
digunakan yaitu dengan
mengumpulkan data sekunder dari data
kepustakaan. Teknik analisis data secara deskriptif yaitu menjelaskan objek penelitian. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2014 di Kota Medan.
BAB II. PEMBAHASAN