• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

C. Gambar Hasil Penelitian

Gambar 1.3 Tanaman Ubi Kayu dengan Pupuk cair organik alternatif (hasil)

Gambar 1.4 Hasil Pupuk dengan Air seni

Gambar 1.5 Hasil pada tanaman Melati Thailand dengan pupuk cair organik alternatif

D. Pembahasan

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan selama ini dengan meneliti

proses pertumbuhan yang

menggunakan pupuk cair alternatif organik dapat di peroleh analisis dan pembahasan bahwasanya dapat ditarik pernyataan, pupuk cair alternatif organik memiliki tingkat pertumbuhan yang sangat menunjukkan kualitasnya dibandingkan air seni atau urin yang difermentasi atau disimpan selama 20 hari. Bahwa, setelah di teliti dengan

pengumpulan data yang valid pupuk cair alternatif organik memiliki unsur hara esensial baik secara makro maupun mikro yang dibutuhkan oleh tanaman. Sebab jika tanaman memiliki kekurangan unsur hara ia akan menunjukkan gejala-gejala sakit yang disebut defisiensi.Pembahasan ini

membutuhkan 2 Tahap

percobaan.Adapun tahap tersebut yaitu tahappercobaan dengan singkong atau ubi kayu dan tahap percobaan pada bunga melati Thailand.

1. Tahap Percobaan pada Ubi Kayu (singkong)

Ketela pohon, ubi kayu, atau singkong (Manihot utilissima)

adalah perdu tahunan tropika dan

subtropika dari suku

Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Pada percobaan dengan menggunakan pupuk alternatif organik, pada tahap awal dilakukan penghitungan secara rinci mengenai ukuran batang dan jumlah helai daun agar dapat dibandingkan dengan percobaan ubi kayu yang disiram dengan air seni atau urine. Pada hari pertama tidak terjadi perubahan yang sangat signifikan diantara keduanya dan jelas belum ada efek dan pengaruh berat dari kedua larutan tersebut. Pohon ubi kayu dengan pupuk alternatif organik memiliki tinggi awal 9,5 cm dengan jumlah helai daun 12.

Sedangkan pada ubi kayu yang disiram air seni memiliki tinggi awal 13 cm dan 9 helai daun pada awal. Namun, pada hari ke-3 percobaan telah timbul tanda-tanda perubahan secara fisik dari kedua sampel tersebut. Ubi kayu dengan pupuk alternatif bertambah dari jumlah helai daun 12 menjadi 14 dengan tinggi 10 cm dari 9,5 cm. Sedangkan pada ubi kayu dengan air seni memiliki tinggi 13 cm dari 13 cm dan jumlah helai daun 10 dari 9 helai. Dapat ditarik kesimpulan sederhana bahwa pada ubi dengan pupuk cair bertambah 0,5 cm tinggi batang sedangkan air seni tetap. Pada helai daunnya ubi dengan pupuk cair alternatif bertambah 2 helai daun sedangkan air seni hanya 1 helai pada hari ke- 3.

Pada hari selanjutnya tepatnya pada hari ke-6 perubahan terus terjadi dan sangat signifikan terutama pada ubi kayu dengan pupuk alternatif. Di hari ke-6 ini ubi dengan pupuk alternatif memiliki tinggi batang 13 cm dari sebelumnya 10 cm dan jumlah helai daun 15 dari sebelumnya 14 helai. Dibandingkan dengan ubi kayu yang disiram air seni memiliki tinggi 14 cm dari 13 cm sebelumnya dan jumlah helai daun 11 helai dari sebelumnya 10 helai daun. Pada hari selanjutnya hari ke-9 perubahan terjadi pada ubi dengan pupuk cair alternatif yaitu dengan ukuran batang 13 cm dari

13 cm dan jumlah helai 15 dari 14 helai daun dan ubi dengan air seni ukuran batang 14 cm dari 14 cm atau tetap serta jumlah helai daun 11 helai dari 11 helai daun. Dari beberapa hari percobaan telah terdapat perbandingan ukuran batang antara ubi dengan pupuk alternatif dan ubi dengan air seni selama pertumbuhan yaitu 3:1 dan perbandingan jumlah helai daun 3:2. Perubahan ini akan terus terjadi melihat kandungan yang terdapat pada pupuk cair alternatif lebih tinggi dan sangat berbeda jauh dengan air seni. Setelah

dilakukannya proses

homogenisasian dan fermentasi kandungan unsur hara pada pupuk cair organik alternatif terus bertambah. Disebabkan pada air seni hanya mengandung 0,1 gram Fosfor (P) dan pottasium 0,2 gram serta nitrogen, jika hanya mengandalkan unsur hara yang tidak terlalu berpengaruh pada tumbuhan ini akan terus habis pada

tanah, karena tanaman

memerlukan unsur hara yang lebih. Melihat sebuah situs yang menyatakan bahwa ada seorang masyarakat di pulau jawa yang setiap harinya mengumpulkan air seni siswanya untuk dijadikan pupuk dan di simpan selama 20 hari. Hal ini tidak koevalen,

mengapa?. Karena telah

disebutkan setiap harinya

tumbuhan atau tanaman

lebih, jika lebih akan menjadi makanan cadangan di dalam tanah atau akar. Akan tetapi jika menggunakan pupuk cair organik alternatif tanaman akan mendapatka unsur hara yang kompleks baik meliputi unsur makronya sepertri N, P, K, Mg serta Mikro lainnya. Selain itu dalam air bekas cucian beras mengandung bakteri pelindung patogen-patogen yang membuat penyakit pada tanaman yaitu

Pseudomonas fluorescens.

Selanjutnya pada hari ke-12 ubi dengan pupuk alternatif memiliki tinggi 14 cm dari 13 cm sebelumnya dan jumlah helai daun 16 dari 15 helai. Dapat diambil kesimpulan dari data pada grafik diatas bahwa selama melakukan proses penelitian ubi kayu dengan pupuk cair organik alternatif selama 20 hari dimulai dari hari ke-1, ke-3, ke-6, ke-9, ke-12, ke- 15, ke-18, dan ke-20 pada tinggi batang telah bertambah sebanyak 5,5 cm dengan jumlah helai daun bertambah 9 helai. Dibandingkan dengan ubi kayu dengan air seni pertambahan tinggi batang sebanyak 1,5 cm dengan jumlah helai daun bertambah 7 cm. Yang menjadi pokok pandangan ialah Pottasium (K) dalam pupuk cair organik alternatif lebih banyak dan memiliki pengaruh yang baik dari tumbuhan.Selain itu kandungan nitrogen pada pupuk cair alternatif lebih baik dibandingkan air seni

yang menyebabkan warna daun ataupun zat klorofil pada daun lebih sempurna dan warnanya lebih tampak hijau dibandingkan air seni yang warna daunnya hijau kekuning langsatan. Serta tidak adanya gangguan-gangguan patogen pada tumbuhan yang menyebabkan tumbuhan berlubang atau gejala penyakit seperti gugur. 2. Tahap Percobaan pada Bunga

Melati Thailand

Pada percobaan ini, adalah percobaan bantuan terhadap tanaman yang menuju keguguran. Bunga melati Thailand ini adalah sampel dalam proses pembuktian bagaimana pengaruh besarnya pupuk organik alternatif ini terhadap lingkungan dan tanaman yang akan gugur.

Kondisi Pra Subur:

 Tanaman ini memiliki cabang batang yang sangat banyak

 Kondisi daun yang total tidak ada sama sekali

 Warna batang cenderung gelap dan warna pucuk cenderung memudar Kondisi Subur:

 Kondisi daun pada hari kedua mulai tampak dan bermunculan dengan jumlah 19

 Hari selanjutnya, kondisi tanaman terlihat cerah dan jumlah daun kian bertambah

 Cabang semakin banyak dan jumlah daun tidak dapat di hitung

 Kesuburan semakin memuncak tepatnya hari ke-12 atau hari akhir dalam penelitian

Dapat dianalisis dan disimpulkan bahwa pertumbuhan terjadi sangat memuaskan dan memberikan hasil yang baik. Dari pernyataan dan wawancara yang telah dilakukan bahwa pemilik mengatakan bunga melati thailand tersebut tidak kunjung memberikan pertumbuhannya baik dari daun maupun batang, padahal setiap pagi disiram dengan air biasa. Dapat disimpulkan bahwa bunga melati tersebut hanya mengandalkan matahari dan air dalam pertumbuhannya sedangkan dalam pertumbuhan daun, batang, akar harus membutuhkan unsur hara esensial seperti nitrogen untuk pembentukan daun serta zat klorofil, fosfor dalam memperkuat akar serta kalium dalam memperkokoh batang. Dari hasil pengamatan dan penelitian tersebut pupuk cair organik alternatif dapat menyuburkan tanaman melati disebabkan pada pupuk tersebut terdapat gabungan Kalium (K) antara air kelapa dan air seni serta fosfor (P) dan nitrogen serta magnesium (Mg) antara air bekas cucian beras dan air seni. Selain unsur esensial, setelah dilakukan proses fermentasi ketiga larutan yang didasari menjadi pupuk tersebut salah atu diantaranya ialah air bekas cucian beras yang memiliki kandungan berbeda sendiri yaitu air cucian beras merupakan media

alternatif pembawa

bakteriPseudomonas fluorescens.

Bakteri tersebut adalah mikroba yang

berperan dalam pengendalian petogen penyebab penyakit karat dan memicu pertumbuhan tanaman. P. fluorescens sangat berperan dalam pengendalian patogen penyebab penyakit karat dan pemicu pertumbuhan tanaman Bakteri Pseudomonas fluorescens adalah Bakteri P. fluorescens yang mampu mengklon dan beradaptasi dengan baik pada akar tanaman serta mampu untuk mensintesis metabolit yang mampu menghambat pertumbuhan dan aktivitas patogen atau memicu ketahanan sistemik dari tanaman terhadap penyakit tanaman. Sehingga, tanaman bisa lebih cepat tumbuh tanpa adanya patogen-patogen penghancur dan penyebab penyakit, dan tumbuhan akan selalu menyerap makanan yang dibutuhkan tanpa memikirkan gejala penyakit yang ada.

BAB V. PENUTUP