• Tidak ada hasil yang ditemukan

BALDAH THAYYIBAH: MEREVITALISASI PERAN KOMPLEMENTER NEGARA

PENDIDIKAN AL-MAUN: PENYADARAN DAN POLITIK

A. BALDAH THAYYIBAH: MEREVITALISASI PERAN KOMPLEMENTER NEGARA

Globalisme telah menentang asumsi-asumsi demokrasi ber kaitan dengan negara dan kewargaan. Di bawah globalisme negara-negara di- arah kan untuk mengurangi tuntutan-tuntutan internal. Sebagai gantinya negara-negara harus memaksimalkan ekspor, membebaskan arus kapital dan menganugerahkan hak-hak bagi perusahaan-perusahaan trans- nasional sebagaimana mereka memperlakukan perusahaan-perusahaan nasional. Negara-negara dikerangkeng oleh prinsip-prinsip neo-liberal dengan program penyesuaian struktural di wilayah Selatan, dan oleh ke- sepakatan-kesepakatan internasional (seperti NAFTA), dan institusi- institusi internasional (seperti WTO) di wilayah Utara (Clarkson, 1999). Globalisme neo-liberal merupakan tanggapan atas prasyarat-pra syarat yang diperlukan bagi globalisasi, sehingga konsep globalisasi kurang

memiliki definisi dan teori yang tepat bukanlah suatu yang mengejutkan.

Istilah ini kali pertama digunakan secara konsisten bukan oleh para akademisi, namun oleh para Banker Amerika pada 1978. Sejak itu istilah ini masuk ke dalam leksikon akademik dan menjadi bahan perdebatan hingga kini.

Kewaspadaan perlu ditingkatkan atas skenario sistemik glo balisme neo-liberal dalam rangka melucuti peran dan fungsi negara dalam me- negakkan sistem ekonomi berkeadilan dan berkeadaban. Beberapa hal yang patut diwaspadai adalah menyangkut upaya-upaya globalisme neo- liberal yang menjerumuskan setiap ne gara di dunia ini agar: membuka

selebar-lebarnya pasar modal dan finansial; menghilangkan pembatasan- pembatasan atas per dagangan luar negari; memotong semaksimal mungkin belanja-belanja untuk kepentingan publik; menyeimbangkan anggaran negara dan mengurangi atau memotong beban pajak pe- rusahaan-perusahaan besar; memberlakukan deregulasi atas dunia bisnis; mendorong sebesar-besar dan sekuat-sekuatnya investasi asing; serta menjual perusahaan-perusahaan milik negara (BUMN) dan meng aman-

kan jalan monopoli perusahaan-perusahaan swasta di bawah per lin- dung an hukum (Williamson, 1993).

Memerhatikan semua problem yang dihadapi oleh negara-negara yang berada di bawah ketiak globalisme neo-liberal ini, negara-negara perlu disadarkan untuk kembali ke jalan penegakkan kembali sturktur politik berkeadilan yang lahir dan bangkit dari mobilisasi dan solidaritas negara-negara dalam konteks dunia yang lebih luas. Negara-negara dapat merajut jejaring transnasional dalam bingkai gerakan-gerakan sosial baru yang mengekspresikan ke pen tingan-kepentingan sosial baru dan mengubah skala inter vensi politik dalam rangka mengembalikan per- juangan mereka untuk keadilan sosial yang dimapankan secara politik. Dari sini keadilan sosial bukan semata menjadi kepentingan suatu negara semata, bahkan lebih dari itu merupakan titik temu bersama menuju ke- adilan sosial global yang telah menjadi slogan dan moto gerakan-gerakan sosial transnasional dalam politik dunia di mana keputusan-keputusan politik bukan hanya menjadi tanggung jawab negara-bangsa.

Memerhatikan persoalan di atas, maka pendidikan politik bagi negara bertujuan menyadarkan negara akan otoritas dan tanggung jawab- nya untuk intervensi dalam menegakkan keadilan sosial, menghentikan eksploitasi dan memantapkan kesejahteraan masyarakat secara luas. Di samping secara resmi pemerintah atau negara berusaha meningkat- kan produksi dan distribusi kekayaan dan pendapatan pada tingkat yang lebih luas, pemerintah juga tidak diperkenankan membiarkan warga negaranya untuk menjadikan standar hidup atau tingkat konsumsi yang tinggi sebagai tujuan utama dalam kehidupan ini. Beberapa peran negara yang harus dibangkitkan kembali melalui pendidikan penyadaran adalah sebagai berikut.

Pertama, sadarkan bahwa negara adalah pemilik dan produsen. Kepemilikan publik/kolektif meliputi berbagai hal yang dimiliki oleh dua atau lebih orang, atau oleh organisasi atau asosiasi, komunitas atau masyarakat. Bila kepemilikan ini diorganisir dalam suatu bentuk tatanan sosial yang lebih besar, lahirlah apa yang disebut sebagai kepemilikan negara. Negara merupakan pemegang mandat kepemilikan publik atas segala yang menguasai hajat hidup orang banyak. Semua ini tentu saja harus dimanfaatkan untuk kepentingan dan kebutuhan-kebutuhan sosial secara luas.

Penguasaan negara atas hajat hidup warga negaranya jelas meliputi sumber daya alam dan lingkungan. Penguasaan atas sumber daya alam dan lingkungan merupakan hak semua ang gota masyarakat secara parti- sipatif. Sumber daya alam bebas dan lingkungan ini berupa barang- barang yang tersedia di lautan maupun daratan dan udara, seperti sumber mata air, ruang angkasa, sumber daya laut, hutan dan barang tambang di perut bumi, dan lain-lain. Karena itu tanggung jawab penge lolaan- nya merupakan amanah kolektif. Tanggung jawab semacam ini hanya dapat dikelola melalui manajemen ekonomi di bawah kendali negara baik se bagai pemilik maupun produsen yang akan memproses kekayaan sumber daya alam dan lingkungan itu sekaligus pembagiannya bagi ke- butuhan publik.

Sejalan dengan prinsip fundamental kepemilikan, semua sumber daya, kekayaan alam dan lingkungan adalah kepemilikan komunal masya- rakat dengan hak-hak yang sama atas semua penduduk untuk meng- ambil manfaat darinya. Kekayaan itu dapat secara langsung ditangani oleh negara dan atau melalui sarana-sarana publik seperti kompani, ko- perasi, atau asosiasi-asosiasi kolektif lainnya. Negara dapat juga memajak para pengguna atau retribusi dari keuntungan bagi penggunaan sumber daya lingkungan. Ini dapat dilakukan atas dasar prinsip keadilan — beban sesuai dengan keuntungan dan sebaliknya. Negara juga dapat mem berikan hak-hak pribadi atas sumber daya alam seperti tanah dalam kepentingan publik yang lebih besar dan untuk meningkatkan produksi pertanian, seperti menghidupkan atau membudidayakan tanah yang tidak produktif dan merampas hak milik pribadi atas tanah untuk diberikan kepada mereka yang tidak memiliki tanah dan siap untuk memproduksinya. Negara dapat pula membuat batasan-batasan pe- man faatan, waktu penggunaan, dan hukuman bagi penyalahgunaan. Nabi Muhammad misalnya, sebagai pemimpin pada zamannya telah me- na sionalisasi sumber daya alam dan lingkungan — seperti hutan, air dan rumput — sehingga memberikan akses untuk seluruh masyarakat (Majah, tth.: vol. 2, 826).

Dengan kata lain, masyarakat dinyatakan sebagai pemilik apa yang sekarang biasa disebut sebagai manfaat publik (public utilities), yang man- datnya diserahkan kepada negara. Islam menguatkan prinsip kepemilik- an negara atas sumber daya bumi dan dapat membatalkan kepemilikan

individu atasnya menjadi milik negara (Zaman, 1982: 86). Islam juga me- negakkan hukum dan aturan main untuk mencegah pelanggaran batas kepemilikan pribadi dan penggunaan kekayaan publik seperti padang rumput. Ia juga menegakkan hak-hak dan aturan penggunaan dan distribusi air untuk pertanian sekaligus hak-hak untuk meminum air dan sumber mata air, penguasaan tanah dan hutan.

Dengan demikian, dapat dimengerti bahwa semua yang berkaitan dengan kebutuhan hidup semua penduduk dan warga negara harus ber ada di bawah kendali negara baik kepemilikan maupun pengelolaan produksinya atas nama mandat kepemilikan publik. Demikian pula perusahaan-perusahaan yang mengelola produksi sumber daya alam dan lingkungan milik bersama itu harus dikuasai oleh negara demi kese- jahteraan sebesar-besarnya bagi semua penduduk. Prinsip ini berbeda dengan apa yang diyakini oleh Prinsip Libertarian dan Liberalisme Klasik. Libertarianisme dan Liberalisme Klasik bersandar pada kepentingan diri (self-interest). Karenanya dua prinsip ini menghendaki privatisasi terhadap

seluruh sumber daya tanpa kecuali atas nama efisiensi dan distribusi yang

adil. Peran pemerintah yang ekstensif dalam kepemilikan dapat ber arti pelanggaran atas hak-hak dan kepemilikan individu.

Kedua, Intervensi negara berlaku juga dalam mengatur redis tribusi kekayaan dan pendapatan. Kebijakan terhadap distribusi banyak mem- bantu untuk memperkenalkan basis distribusi yang lebih luas atas pendapatan dan kekayaan dan melarang terjadinya akumulasi dan kon- sentrasi kekayaan pada sekelompok kecil orang yang sudah kaya. Perlu dipastikan agar dalam proses distribusi tidak satu pun dari faktor-faktor produksi ditekan pembagiannya dan mengeksploitasi faktor lainnya. Sumber daya termasuk tanah, pekerja dan modal sama-sama berharga. Karenanya pemilik tanah, pekerja dan pemilik modal harus berbagi ber- sama dalam hasil-hasil produksi. Di samping itu, ditegaskan agar sebagian dari hasil produksi itu diberikan kepada mereka yang tidak dapat mem- berikan kontribusi dalam produksi karena alasan-alasan seperti cacat

sosial, fisik dan ekonomi. Ini sekali lagi menguatkan prinsip bahwa se-

seorang dapat memperoleh balasan tanpa sepenuhnya memandang kon- tribusi aktualnya.

Untuk menjangkau tujuan yang pertama, pelarangan atas sejumlah teknik-teknik perdagangan yang eksploitatif dan tidak adil adalah ke-

harusan. Sementara itu, tujuan kedua dicapai oleh inisiatif negara atau penguasa melalui penarikan pajak termasuk di dalamnya adalah zakat

dan infak di samping juga kedermawanan, filantropi dan sejenisnya.

Dalam kerangka amar ma`ruf nahy munkar, pengumpulan dan distri- busi zakat berada di tangan otoritas penguasa pusat melalui agen-agen yang dipercaya untuk memenuhi tujuan ini. Karena itu, tanggung jawab negara untuk membangkitkan kembali dan melibatkan sistem zakat dan sistem lainnya yang serupa agar keuntungan-keuntungan zakat dapat di- realisasikan secara penuh.

Distribusi kekayaan dan pendapatan didukung institusi-in stitusi yang membawa pada distribusi kekayaan yang lebih luas. Konsep bayt al-mal sebagai amanah di tangan penguasa untuk memenuhi kebutuhan- kebutuhan publik yang lebih baik. Infak mengikat semua manusia untuk berbagi kekayaan dengan kerabat dan lingkungan mereka. Larangan atas riba membuat alternatif-alternatif investasi menjadi mungkin karena pengembalian modal tidak dibebani dengan bunga. Bila ukuran-ukuran distribusi tersebut dapat menyampingkan berbagai akumulasi kekayaan dan penimbunan secara luas, hukum warisan yang wajib sifatnya dapat memperkecil kesenjangan relatif. Sementara ukuran-ukuran pertama ber sifat regular meskipun merupakan teknik distribusi yang berjangka pendek, ukuran yang terakhir merupakan proses jangka panjang dan dapat melahirkan pembagian akumulasi kekayaan secara substansial. Inilah suatu proses redistribusi melalui mana para pembagi kekayaan warisan harus memulai perjuangan ekonomi mereka dan membuktikan kapabilitas kewirausahaan mereka. Seorang wirausahawan yang benar- benar mampu dapat melampaui pewarisnya sedangkan orang yang tidak mampu dapat kehilangan sumber daya yang sudah dimilikinya. Jadi, keistimewaan menjadi orang kaya tidak dimonopoli oleh sedikit keluarga yang beruntung selamanya.

Ketiga, peran campur tangan negara dalam kehidupan per ekonomi- an bisa berbentuk regulasi, baik regulasi terhadap peri laku konsumsi warga negara maupun regulasi pasar. Regulasi pasar dimaksudkan untuk perlindungan konsumen. Pasar adalah kebutuhan publik, di dalamnya terlibat berbagai stakeholder dalam aktivitas ekonomi. Salah satu unsur penting yang perlu mendapat perhatian adalah konsumen. Konsumen sebagai pengguna barang dan jasa perlu dipastikan agar mereka tidak

menjadi objek eksploitasi oleh produsen. Di sini pemerintah berke- pentingan untuk mengondisikan pasar agar berjalan sehat, jauh dari penimbunan (iktinaz, ihtikar), yang bisa menyebabkan inflasi (istighlal), atau praktek dumping (istighraq) yang membuat jatuhnya keseimbangan harga.

Ketersediaan pasar tenaga kerja yang memberi peluang atau ke- sem patan bagi anggota masyarakat merupakan wilayah campur tangan negara lainnya. Salah satu hak individu atas masyarakat atau negaranya adalah kesempatan kerja yang diberikan seluas-luasnya oleh negara. Tugas penguasa di sini adalah menyediakan pekerjaan bagi setiap orang

yang mampu secara fisik dan memiliki keinginan untuk bekerja. Lebih

lanjut, negara harus menyusun suatu program bantuan bagi para pekerja yang mengalami kesulitan dan memberi kuasa pada mereka untuk mela- kukan proses tawar menawar. Dengan kata lain, para pekerja men da- patkan diri mereka terhindar dari pembayaran di bawah standar ke- butuhan hidup minimal.

Departemen yang mengurusi masalah ini dikepalai seorang inspek- tur yang menjalankan fungsi lebih dari sekadar pemerintahan daerah sekarang. Ada banyak instansi di mana pemerintah dapat melakukan intervensi untuk menegakkan aturan-aturan keadilan dan kejujuran. Se- orang inspektur memastikan agar transaksi-transaksi yang melanggar hukum dapat dihindarkan dan ia sendiri mengunjungi pasar-pasar dan menyarankan para pedagang agar melaksanakan prinsip-prinsip moral dalam perdagangan. Intinya, pemerintah berada pada posisi utama dalam rangka mencegah kehancuran kehidupan ekonomi dan mengamankan kepentingan publik secara menyeluruh dan konsumen khususnya dari segala distorsi.

Dengan demikian, peran negara sebagai regulator dalam satu sisi merupakan antitesis terhadap Prinsip Libertarian, yang karena alasan hak-hak absolut atas pembagian dunia yang tidak proporsional, maka ke pemilikan pribadi sangat layak dan pasar bebas dalam kapital dan pe- kerjaan secara moral dikehendaki. Pasar bebas adalah mekanisme bagi alokasi dan distribusi yang adil. Untuk itu, campur tangan negara sebisa mungkin dilucuti. Pada praktiknya, Prinsip Libertarian ini diterapkan oleh neo-liberalisme yang mencoba menghapuskan subsidi umum bagi rakyat banyak dengan dalih pemborosan, sementara pada saat yang sama korporasi multinasional (MNCs) dan transnasional (TNCs) meminta

fasilitas tax holidays. Karena itu, neo-liberalisme mesti menuntut proses deregulasi yang menghalangi terjadinya pasar bebas yang meng- untung kan secara ekonomi bagi sekelompok kecil konglomerat. Suatu paradoks yang bertentangan dengan rasa keadilan sekaligus mengancam kesejahteraan umum.

Peran dan campur tangan negara dalam kehidupan dan tatanan ekonomi penduduknya, dengan demikian, tentu saja diakui. Peran negara dalam kaitan ini harus bersifat komplementer atas peran pasar untuk menjamin alokasi dan distribusi sumber daya yang adil melalui per saingan sempurna dan etis. Karena itu batasan peran negara yang meleng kapi itu adalah untuk menjaga rasa keadilan dan kesejahteraan umum utamanya. Negara harus dan akan campur tangan ketika diktum-diktum keadilan dilanggar dan kesejahteraan umum berada dalam ancaman. Tugas dan tanggung jawab negaralah untuk memaksakan prinsip-prinsip itu melalui sistem pemerintahan yang amanah dan dapat dipertanggung jawabkan. Jadi, negara atau pemerintahan harus memainkan peran positif, peran ber orientasi pada pencapain tujuan dalam aktivitas ekonomi. Ini bukan semacam peran yang akan mengarah pada tegaknya tatanan totali- tarian. Ia lebih merupakan peran komplementer yang dimainkan oleh pe- merintahan melalui internalisasi nilai-nilai keadilan dalam masyarakat, penciptaan lingkungan sosio-ekonomi yang sehat, etisasi pasar, dan pe- ngembangan institusi-institusi yang layak, dan bukan melalui kontrol berlebihan dan melanggar kebebasan individu serta menghilangkan hak- hak kepemilikan.

Qaryah Thayyibah: Membangkitkan Daulat Komunitas/Masyarakat Di samping Negara, komunitas dan masyarakat adalah sasar an gerakan penyadaran dan politik keberpihakan yang dapat di mainkan. Mereka dapat diarahkan menuju basis pengembangan aksi-aksi anti-glo- balisasi ala kapitalisme Barat yang telah berjasa mempermiskin pen- duduk negara-negara di dunia ketiga. Bila negara berada dalam kooptasi rezim globalisasi neo-liberal, komunitas dan masyarakat dapat menjadi alternatif.

Mempertimbangkan konteks di atas, tentu saja mengagas peran mereka sebagai basis pemberdayaan civil society sangat relavan, apalagi bila dikaitkan dengan reformasi politik, ekonomi dan sosial-kultural di negeri

ini yang belum menentu arah dan langkahnya. Gagasan penyadaran politik dan aksi-aksi keberpihakan komunitas/masyarakat dalam ke rangka civil society memperoleh tempat yang layak.

Bila civil society merupakan terjemahan dari visi Islam tentang khayr ummah, yang dulu pernah ditegaskan oleh salah satu kekuatan ter besar civil Islam di Indonesia Muhammadiyah sebagai “masyarakat utama” misalnya, tentu saja ini mencerminkan bahwa gagasan tersebut terikat dengan nilai-nilai keberpihakan kepada mereka yang menjadi korban.

Pertama kali perlu disadarkan kepada kekuatan-kekuatan sipil dalam masyarakat bahwa organisasi dan gerakan mereka sudah pasti bukan merupakan masyarakat politik dan bukan pula pasar atau masyarakat ekonomi. Mereka adalah pelaku dari civil society yang bermain dalam ruang interaksi sosial-kultural di antara politik dan ekonomi. Dalam ruang ini mereka hadir dalam bentuk organisasi sukarela sekaligus gerakan sosial yang bekerja mulai dari tingkat keluarga (usrah), komunitas (qaryah) hingga masyarakat (baldah). Walaupun bekerja di antara ruang politik dan ekonomi, bukan berarti mereka identik dengan seluruh kehidupan sosial di luar administrasi negara dan proses ekonomi dalam pengertian

sempit. Misalnya, menurut definisi ini, organisasi politik, partai politik

dan parlemen, sekaligus organisasi produksi, dan distribusi barang, seperti perusahaan, bentuk-bentuk kerjasama dan kemitraan adalah bukan bagian dari civil society. Mereka tetap memiliki peran politik dan peran ekonomi sebagai pelaku dari civil society itu. Peran itu tidak ber- hubungan langsung dengan kontrol atas kekuatan politik dan ekonomi, namun lebih muncul sebagai kekuatan yang memengaruhi politik dan ekonomi melalui kehidupan asosiasi demokratis dan diskusi di ruang publik kultural. Patut dicatat bahwa civil society tak terelakkan melalui satu cara atau lainnya dapat memberikan kontribusi terhadap ruang politik dan ekonomi.

Dalam aras politik, aktualisasi kekuatan-kekuatan civil society adalah bermain di ruang publik. Ia bisa muncul sebagai bagian dari kekuatan opini publik yang secara terus-menerus mendiskusikan kepentingan- kepentingan publik (maslahah `ammah). Misi aktuali sasi ini adalah meli- puti: Pertama, mendemokratiskan negara. Civil society merupakan aktor di luar negara yang berfungsi sebagai anjing penjaga atau pengawas (watchdog) bagi proses, prosedur dan tujuan penyelenggaraan negara yang

demokratis. Kedua, moderasi, yaitu menegakkan pluralitas dan meng- hargai multikulturalitas dalam kehidupan bersama berbangsa dan ber- negara, serta meme lihara keadaban dalam proses kehidupan bersama. Pluralitas adalah suatu keniscayaan yang tak terelakkan pada tingkat realitas, dan karenanya pada tingkat komunitas dan masyarakat, plu- ralitas itu niscaya pula menjadi manajemen kehidupan bersama. Ketiga, menjaga tegaknya rule of law dalam mengatur kehidupan bersama. Plu- ralitas dan keanekaragaman tanpa aturan yang jelas dan im plemen- tasinya secara adil hanya akan melahirkan anarkisme dan kekerasan.

Karena itu, civil society dapat memainkan beberapa peran utama antara lain: 1) Mereka berkontribusi menjalankan tugas deliberasi kolektif secara terorganisir, yang melaluinya ia dapat mempertahankan formasi opini publik yang menjadi alat penting untuk mengontrol, mengecek, dan membatasi institusi-institusi publik dan negara/penguasa agar konsisten membela rakyat ke banyakan dan kepentingan-kepentingan publik mereka dari he ge moni dan dominasi negara atau pasar; dan 2) peran kontrak dengan maksud untuk memengaruhi dan menentukan secara tidak langsung arah kebijakan negara guna melindungi kemaslahatan bersama semua warga.

Dalam aras ekonomi, civil society mengaktualisasikan kemampuan - nya dalam membangun kemandirian, menegakkan keadilan dan kesejah- teraan ekonomi kepada masyarakat luas. Mereka memang bukan pasar, namun dapat hadir dengan misi-misi ekonomi antara lain: Pertama, me- rintis, memantapkan serta memelihara keswadayaan bagi dirinya sendiri serta lingkungan sekitar di mana mereka berkiprah. Kedua, menegakkan keadilan bagi masyarakat dan memihak kepada mereka yang dhuafa dan

mustadh`afin. Jelas bahwa kemiskinan dan pemiskinan kontemporer

lebih karena problem dan kebijakan-kebijakan struktural. Karena itu, ma- sya rakat sipil perlu berfungsi lebih tegas sebagai protektor bagi warga masyarakat yang menjadi korban dari globalisme. Ketiga, membantu me- wujudkan kebahagiaan dan kesejahteraan, baik pada tingkat keluarga sakinah, qaryah thayyibah, dan baldah thayyibah.

Untuk memanifestasikan misi tersebut, civil society berperan sebagai:

1) lembaga filantropi yang piawai dalam hal manajemen pengumpulan

donasi dan voluntarisme, dan pemanfaatan atau distribusinya secara transparan dan akuntabel, baik dalam jangka pendek maupun panjang; 2)

bangkit sebagai artikulator dan advokator bagi kepentingan-kepentingan

kaum mustadh`afin yang menjadi korban pemiskinan dan penindasan

struktural, sesuai dengan spirit al-Maun sebagaimana diintrodusir dan dijalankan oleh tokoh-tokoh semacam KHA. Dahlan dan Muhammad Yunus misalnya; dan 3) mereka boleh membangun bisnis yang sehat dan bertanggung jawab secara sosial dan lingkungan, dan bukan untuk tujuan semata-mata kapitalisasi.

Dalam aras kultural, fungsi civil society bermain dalam ruang intelek- tual dan moral, dan menguatkan ideologi dalam rangka membangun hegemoni dan counter-hegemoni. Karena itu misi yang dijalankan oleh civil society dapat meliputi: Pertama, upaya-upaya pencerahan intelek- tual dan pencerahan moral (tanwir al-`uqul wa al-qulub) di tengah-tengah masyarakat dan bangsa yang makin tergerus moralitasnya dan meng- alami degradasi/krisis spiritual. Civil society bertanggung jawab untuk mendedah virus korupsi dan kolusi yang telah meruntuhkan sendi- sendi kehidupan bangsa dan negara, mengamputasi hingga ke akar- akar nya sekaligus menggantinya dengan moralitas baru yang segar dan bercahaya. Kedua, membuat konsensus dalam arti membangun kese- pa haman dengan dan mendukung pilar negara untuk kepentingan- kepentingan semua warga. Ketiga, menciptakan kontestasi dalam bentuk resistensi atau alternatif bagi negara.

Maka beberapa peran kunci dalam aras ini dapat dilakukan antara lain: 1) civil society memerankan diri sebagai agen tajdid dalam bidang pemikiran dan gerakan, dan transendensi (iman billah) yang dapat meng atasi kebuntuan moralitas yang gamang menghadapi tantangan hedonisme dan materialisme tanpa batas; 2) ketika institusi-institusi publik, negara dan atau penguasa berada pada jalan lurus (on the right track), mereka dapat menjadi agen stabilisasi (amar ma`ruf) dan mitra bagi mereka dan mengawalnya agar tetap konsisten; dan 3) pada saat institusi-institusi publik, negara dan atau penguasa gagal menjalankan