• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sederhana Menyelamatkan dari Konsumtivisme dan Hedonisme

PENDIDIKAN AL-MAUN: PENYADARAN DAN POLITIK

C. KELUARGA SAKINAH: MENGGERAKKAN KEPEDU LI AN DARI LINGKUP TERKECIL

1. Sederhana Menyelamatkan dari Konsumtivisme dan Hedonisme

Globalisme dalam kehidupan kontemporer telah membawa manu- sia kepada ideologi komfortismus, pandangan dunia liberal yang memuja kesenangan hidup dan kepuasan (satisfaction). Ba nyak orang di berbagai belahan dunia kini memuja kepentingan dengan kenikmatan-kenikmat- an sesaat yang dapat ditawarkan oleh kehidupan ini dalam pengertian

barang-barang material dan kesenangan fisik. “Komfortismus”, memin-

jam istilah Sombart, adalah mentalitas kaum borjuis yang gila akan uang, gelimang harta dan kemaruk dunia. Agar kenikmatan dan uang yang mereka miliki tetap berada dalam kenyamanan, maka mereka membu- tuhkan kesejahteraan. Sayangnya, atas nama kesejahteraan ini segala jalan cenderung ditempuh, tujuan menghalakan segala cara.

Dalam situasi zaman di mana kesenangan menjadi tujuan hidup, pola hidup sederhana dan sahaja memperoleh tantangan sekaligus peluang. Di satu sisi, individu dan keluarga ditantang kesabarannya meng hadapi pergaulan hidup yang serba heboh dan wah, tanpa larut dan terjerumus di dalamnya. Di sisi lain, pola hidup sederhana dan sahaja menawarkan kepada manusia gaya hidup sembada, prasaja, suatu sikap dan perilaku moderat di antara ekstrem kemewahan dan kemelaratan, merasa serba cukup di antara berlebihan dan serba kekurangan.

Di sinilah relevansinya upaya untuk menyadarkan keluarga, se bagai unit terkecil masyarakat dan bangsa, untuk menanamkan dan mem- bangun pola hidup dan konsumsi sederhana sebagai sebuah pertahanan sekaligus perlawanan terhadap materialisme dan hedonisme yang selalu dihadirkan oleh globalisme neo-liberal dalam hampir semua aspek kehi- dupan, dari ranah publik hingga ruang privat.

Konsumsi adalah tindakan membelanjakan, memanfaatkan harta atau kekayaan untuk suatu tujuan. Membelanjakan kekayaan secara sem- brono dapat menimbulkan kerusakan, baik pada diri sendiri maupun orang lain. Karena itu, konsumsi perlu dilakukan secara benar dan pro- porsional.

Untuk memahami konsumsi yang benar dan proporsional, beberapa spektrum perlu diperhatikan di sini. Pertama, konsumsi dengan sasaran

pembelanjaan harta baik bagi diri pemilik harta dan kelompok lain se- perti ibu bapak, sanak kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan ibnu sabil. Kedua, konsumsi dalam arti pemberian seorang suami kepada isteri dalam bentuk mahar. Ketiga, konsumsi sebagai pemberian atau belanja untuk kepentingan kemaslahatan bersama. Jadi konsumsi ialah suatu tindakan membelanjakan harta/kekayaan untuk kepentingan diri sendiri, untuk keperluan orang lain dan untuk kebutuhan atau kemaslahatan sosial. Konsumsi yang benar dan proporsional merupakan kebaktian dan kebajikan yang berwujud harta, benda atau uang seperti zakat, sedekah, dan berbagai nafkah wajib, yang berfungsi untuk berbagi kesejahte raan dengan semua manusia, menyucikan harta dari kemungkinan subhat, dan asas untuk membangun kehidupan masyarakat yang kokoh. Konsumsi semacam ini diyakini sebagai mekanisme untuk menegakkan bangunan sosial dan dapat me niupkan semangat persatuan dan kohesi sosial dalam masyarakat manusia serta mampu mempersatukan kekuatan-kekuatan yang terpecah-belah.

Beberapa persyaratan berkenaan dengan pembelanjaan harta atau kekayaan dalam arti untuk memenuhi kebutuhan atau ke pen tingan orang lain adalah sebagai berikut: Pertama, sesuatu yang dibelanjakan adalah kelebihan dari kebutuhan si pemilik. Kedua, sebaiknya yang di- beri kan adalah sesuatu yang disukainya. Tidak memberikan sesuatu yang dibenci baik pemberi maupun penerimanya. Ketiga, pemberian dan belanja merupakan hasil dari usaha yang baik (thayyibah). Artinya, kon- sumsi dan pemberian hendaknya dengan harta yang masih bagus dan layak dikonsumsi, segar, bukan yang sudah basi. Berinfak dengan cara dan barang halal saja belum cukup. Karena itu perlu diikuti dengan karakter thayyibah, yakni menyangkut usaha yang tidak akan mengancam kelanjut an (sustainability) sumber daya alam bagi masa depan. Keempat, nafkah yang diberikan kepada orang lain hendaknya dilakukan dengan cara yang baik, yakni tidak menyebut-nyebutkannya apalagi di muka umum yang bisa menyebabkan riya, sehingga tidak membuat si penerima merasa sakit hati atau malu karenanya. Kelima, membelanjakan harta/kekeayaan hen dak nya sesuai dengan kemampuan si pemilik harta dan dengan cara demikian ia dapat menghindarkan diri dari kehancuran.

Tampak bahwa secara fundamental konsumsi yang benar terletak pada cara atau pendekatan dalam memenuhi kebutuhan dan ke inginan

manusia. Konsumsi yang proporsional tidak menghendaki dan meng- akui pola konsumsi yang murni materialistik. Semakin tinggi manusia me naiki tangga peradaban, konsumsi lebih dibayang-bayangi oleh keinginan-keinginan psikologis. Selera dan gaya hidup snobbish (berge- limang kemewahan), dorongan untuk pamer, semua faktor psikologis ini memainkan peran yang sangat dominan dalam menentukan bentuk- bentuk lahiriah konkret dari keinginan-keinginan psikologis tersebut (Mannan, 1980). Peradaban modern telah menghancurkan “kese der- hanaan”; peradaban materialistik mewarnai kesenangan yang terus mem- buat keinginan-keinginan manusia menjadi sangat bervariasi dan kese- jahteraan hampir hanya diukur dari berbagai karakter keinginan yang diupayakan untuk dicapai melalui sarana-sarana tertentu.

Tentu saja cara pandang tentang kehidupan dan kemajuan se- macam ini berseberangan dengan nilai-nilai etis. Nilai-nilai etis berusaha mereduksi kebutuhan material manusia yang berlebihan (eksesif) dengan maksud untuk menekankan energi spiritual manusia dalam pencarian duniawi. Pertumbuhan batiniah lebih dari sekadar ekspansi lahiriah merupakan ideal tertinggi manusia dalam hidup ini. Kemajuan tidak se- mata diukur dari standar hidup yang tinggi yang berimplikasi pada per- luasan keinginan secara tanpa batas. Karena hal ini akan meningkatkan ketidakpuasan terhadap apa yang sudah dicapai. Kepuasan bukan se- mata tingkat konsumsi tertinggi sebagaimana diyakini materialisme.

Setiap individu diberikan kebebasan memilih untuk mengon- sumsi segala sesuatu yang menyenangkan dan disukai, sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan dan perbedaan temperamental mereka. Namun konsumsi yang “proporsional” ialah sikap tengah-tengah antara asketis- me yang sembunyi dari kesenangan dunia di satu sisi, dan materialisme yang membenamkan manusia dalam kesenangan inderawi dan hedonis- me kehidupan di sisi lain.

Setidaknya ada dua karakteristik yang menjadi keistimewaan atau keunikan dalam sistem konsumsi yang benar dan proporsional antara lain: Pertama, tidak ada perbedaan antara pengeluaran atau pemanfaatan spiritual dan duniawi. Membelanjakan harta untuk memenuhi ke butuh- an para janda, anak terlantar dan fakir miskin, sama baiknya dengan mem- belanjakan untuk diri sendiri, anak-anak, keluarga dan orang tua. Berhaji ke Mekkah sama nilainya dengan dengan kebaikan seseorang yang pergi

ke kantor atau melakukan pekerjaan dan hal lain untuk mem per oleh penghidupan baik melalui kerja kasar maupun halus. Kedua, konsumsi tidak terbatas pada kebutuhan-kebutuhan hidup atau ke butuhan akan

efisiensi tetapi juga sekaligus kesenangan yang diper kenankan.