IV VISI KEPEMIMPINAN PROFETIK TRANSFORMATIF AL-MAUN
B. MODEL KEPEMIMPINAN
1. Model Advokasi Politik Harun
Harun adalah seorang nabi yang hidup sezaman Nabi Musa dan Fir`aun. Ia ditugaskan untuk mendampingi dan membantu Musa untuk menghadapi konstelasi kuasa Fir`aun yang tiran dan menindas, serta memiskinkan rakyatnya. Karena Musa adalah seorang nabi yang gagap dan tidak cakap bicara, Harun adalah juru bicara yang piawai. Tugasnya adalah menyampaikan petisi, argumentasi, dan resistensi sistemik untuk mendelegitimasi kuasa Fir`aun yang hampir tanpa batas. Kepiawaian dalam menyam paikan pandangan-pandangan dalam bentuk tertulis mau- pun lisan ia tujukan untuk memengaruhi keputusan-keputusan politik penguasa guna kepentingan rakyat banyak. Oleh karena itu, Harun mengambil peranan penting dalam suatu proses memengaruhi regulasi negara untuk kepentingan ekonomi, sosial dan politik rakyatnya. Harun adalah sosok pemimpin sipil yang menekankan perjuangannya pada perlunya pemberdayaan dan perlindungan hukum bagi kaum miskin. Rupanya Harun sadar bahwa kemiskinan dan penderitaan rakyat ber- hubungan dengan posisi rakyat miskin dalam perlindungan hukum dari negara.
Dalam wacana dan gerakan pembangunan kontemporer, fokus pada perlindungan dan pemberdayaan hukum bagi masyarakat miskin memi- liki kaitan erat dengan upaya-upaya pengurangan bahkan penghapusan
kemiskinan. Dalam rangka memperingati Hari HAM pada 10 Desember 2007, para pakar independen HAM PBB mengeluarkan suatu pernyataan bahwa “dari perspektif HAM, kemiskinan dapat dijelaskan sebagai penolakan atas hak-hak asasi seseorang atas serangkaian kapabilitas yang berhak mereka terima dan kembangkan, dan bahwa kemiskinan meru- pakan tanggung jawab negara di mana pelanggaran atas hak-hak sipil, kultural, ekonomi, sosial, dan politik berinteraksi dan secara timbal balik saling memperkuat satu sama lain. Pendekatan ini berasumsi bahwa dengan memperbaiki posisi legal dan status kaum miskin, dalam hal akses kepada pemberdayaan dan perlindungan hukum atas hak milik mereka, sekaligus perbaikan jaminan keamanan atas lingkungan hidup mereka, peluang untuk keluar dari kemiskinan mereka menjadi sangat ditekankan.
Hubungan antara posisi legal dan kesenjangan sosial telah lama diakui oleh sosiologi hukum. Hubungan ini memiliki dua dimensi: per- lindungan hukum dan jaminan keamanan untuk akses terhadap sumber daya, termasuk pengetahuan dan akses menunju lembaga-lembaga yang sering memberikan keistimewaan kepada orang-orang berpengaruh
dan kaya. Pada saat yang sama, kejahatan, konflik dan ketidaknyamanan
hukum lebih tersebar di wilayah-wilayah di mana warga hidup dalam kemiskinan dengan sedikit jaminan sumber daya yang aman dan per- lindungan hukum yang tidak memadai. Pendeknya, posisi legal dan keamanan pada umumnya merupakan bias sosial yang tidak meng- untung kan bagi kaum miskin.
Beberapa tahun terakhir impak posisi legal — akses kepada lem-
baga-lembaga hukum, sumber daya manusia dan sumber daya finansial
mengalami kemajuan — telah menjadi satu bidang minat dalam inter- vensi pembangunan. Salah satu wujudnya adalah terbentuknya Komisi Tingkat Tinggi untuk Pemberdayaan Hukum bagi Kaum Miskin pada tahun 2005. Komisi ini mengemukakan asumsi dan keyakinan bahwa perang melawan kemiskinan hanya dapat dimenangkan dan tujuan- tujuan pembangunan mil lenium (MDGs) hanya dapat dicapai jika peme- rintah berhasil mengembalikan pengakuan legal atas aset-aset dan lembaga-lembaga rakyat miskin dan menemokratisasi aturan hukum.
Fakta menunjukkan, sebagaimana juga dikemukakan pada bab terdahulu, bahwa kebanyakan rakyat miskin dunia hidup dalam sektor
informal dan sektor ekonomi yang tidak diakui hukum, tanpa akses manfaat dan perlindungan tatanan hukum. Rakyat miskin kekurangan dalam hal perlindungan hukum efektif dan pengakuan atas aset-aset dan transaksi mereka. Mereka juga kurang memperoleh perlindungan jaminan hukum atau akses pada pemerataan kesejahteraan dan lembaga- lembaga yang menyediakan jaminan sosial.
Di sini jelas dibutuhkan suatu advokasi politik hukum bagi orang- orang miskin dalam kerangka pengurangan dan pengentasan kemiskin- an melalui penguatan posisi legal mereka. Advokasi politik hukum yang dimaksud merujuk kepada program-program reformasi sektor keadilan yang secara eksplisit bertujuan untuk memengaruhi regulasi negara melalui reformasi tata kelola dalam reformasi keadilan dan sektor- sektor aturan-aturan perundang-undangan dan hukum. Jadi reformasi hukum merupakan bagian dari agenda pemberantasan kemiskinan dan kemiskinan ekstrem (sebagai marjinalisasi sosial dan deprivasi keamanan jaminan-jaminan mendasar). Kemiskinan mengimplikasikan kombinasi berbagai ketidakamanan atas jaminan kebutuhan-kebutuhan dasar. Memang sulit menunjukkan secara khsusus bentuk kemiskinan ekstrem karena lebih sering tidak tampak, namun nyata di mana individu atau komunitas tidak diberdayakan untuk menjalankan seluruh hak-hak asasi, hak-hak sipil, budaya, ekonomi, politik, dan sosial mereka. Di samping itu, berbagai ketiadaan jaminan atas pemenuhan hak-hak tersebut sering kali bersifat jangka panjang, kadang-kadang mencakup beberapa generasi, dan situasi ini berkontribusi pada jatuhnya kemiskinan ke dalam kemiskinan ekstrem. Individu dan komunitas tertekan kemung- kinan dan peluang mereka dalam menjalankan tanggung jawab dasar dan kebutuhan akan keamanan mereka untuk menikmati hak-hak fundamental. Kondisi global dan sistemik berdampak pada martabat kemanusiaan dan berpengaruh pada seluruh hak-hak asasi mereka. Kondisi ini juga memberangus peluang bagi mereka untuk hidup mem- peroleh kembali hak-hak dasar dan peluang untuk merencanakan masa depan mereka.
Pemberdayaan atas fungsi-fungsi sosial hukum menghendaki per-
lindungan hukum dan jaminan kebutuhan fisik dasar yang lebih baik,
sekaligus jaminan keamanan atas kekayaan dan aset-aset produksi. Semua
Perlindungan hukum efektif dan aturan hukum bukan hanya mem- bantu, bahkan merupakan suatu kebutuhan yang harus ada bagi setiap warga miskin (dan juga seluruh warga) untuk memperoleh manfaat dan keuntungan dari sumber daya dan kekayaan material. Meminjam istilah Amartya Sen, perlindungan hukum mencakup kapabilitas warga untuk berfungsi sebagai agen sosial dan agen produksi, dan menawarkan garansi kelembagaan bagi agensi sosial dan produksi. Ia memberi pe- luang kepada warga untuk memutar roda bisnis tanpa campur tangan yang tidak perlu. Ia juga membantu para buruh/pekerja mengorganisir diri mereka demi melindungi kepentingan dan pekerjaan mereka sendiri, atau melindungi mereka dari campur tangan patron yang tidak berhak dan para pemilik tanah dan modal yang berkuasa. Lingkungan sosial yang aman penting bagi pasar-pasar untuk beroperasi, agar para produsen dapat menjual produk mereka. Ketakutan dan bahaya hilangnya sarana- sarana dasar produksi — misalnya akses yang aman secara hukum atas tanah memberikan sedikit kebebasan bagi warga untuk berinvestasi untuk memanfaatkan dan menghasilkan sesuatu dari tanah tersebut. Kurang- nya rasa aman dalam bekerja membuat mereka menjadi lebih buruk dalam situasi siklus ekonomi yang makin menurun, dan mungkin dapat menjadi bencana bagi mereka yang sudah hidup pada tingkat subsistens.
Bukti-bukti sejarah mencatat pentingnya dan dampak dari hukum dan perlindungan hukum. Pertumbuhan negara kesejah teraan modern secara fundamental, seperti model Norwegia, meng gambarkan per- luasan secara bertahap pemberian hak-hak yang aman secara hukum dalam jejaring hukum yang kompleks, yang melindungi hak-hak buruh dan jaminan pekerjaan, jaminan sosial bagi mereka yang membutuhkan pertolongan, perlindungan hukum bagi pensiunan, akses fasilitas ke- sehatan bagi yang sakit, dan perlindungan khusus bagi kelompok-ke- lompok tertentu yang butuh bantuan (Andreassen, 2007).
Pemberdayaan hukum kini merupakan agenda yang penting untuk menjamin kekayaan dan hak milik sebagai sarana produksi, pem- berian hak dan akses pada tanah (sebagai kekayaan/hak milik atau hak penggunaannya). Dua hal di atas dipercaya dapat membantu memper- baiki peluang masyarakat untuk berinvestasi dalam produksi barang yang dapat dipasarkan dan berkontribusi pada pengurangan kemiskinan dalam jangka panjang. Dapat disaksikan bahwa sarana penting bagi
pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan adalah ketersediaan dana untuk investasi, dan jaminan atas kekayaan/hak milik yang diakui secara hukum dapat memberi akses pada modal untuk investasi. Pemberdayaan hukum dan formalisasinya memang problem yang sulit dalam kerangka pengurangan kemiskinan. Formalisasi akses pada hak milik/kekayaan dan aset-aset lainnya sebagai strategi bagi pemberdayaan hukum meng- hadapi tantangan-tantangan praktis kompleks yang harus dihadapi. Yang utama dari semua ini adalah sebab-sebab kemiskinan selain dari kurang nya akses pada hak-hak atas kekayaan dan kepemilikan.
Kemiskinan adalah fenomena yang sangat kompleks. Peng ha- pusannya memerlukan upaya memecahkan berbagai ketiadaan jaminan yang membuat rakyat miskin terus berada pada tingkat terendah, dan karenanya menjadi miskin ekstrem. Secara khusus ada dua hal yang perlu dijawab di sini: ketidakberdayaan hukum erat hubungannya dengan dan sering disebabkan oleh marjinalisasi sosial, sekaligus marjinalisasi politik, dan kurangnya pengaruh dan keterwakilan kepentingan masya- rakat miskin dalam lembaga-lembaga politik. Kedua, masyarakat miskin mempunyai kesulitan-kesulitasn dalam memperoleh kembali dan menjaga kekayaan/hak milik dan aset mereka, ketika mereka mem per- olehnya, karena mereka rentan terhadap “waktu-waktu sulit” dan perlu memperdagangkan aset-aset mereka agar tetap survival atau sebab-sebab lain yang berkaitan dengan kemiskinan. Agar realistik, upaya-upaya inter- nasional dan nasional untuk mempekuat posisi legal masyarakat miskin, dan formalisasi hak-hak kekayaan/kepemilikan dan jaminan atas aset-aset mereka sebagai metode untuk pengurangan kemiskinan membutuhkan analisis dan pemahaman tentang peran kondisi dan konteks sosial, ekonomi, dan politik, untuk melahirkan pemberdayaan hukum. Dalam proses pemberdayaan kaum miskin melalui perlindungan dan jaminan hukum atas hak milik/kekayaan dan aset-aset lain yang lebih baik, karena itu perlu dipahami faktor-faktor yang dapat menjaga keberlangsung- an pem berdayaan hukum secara kelembagaan dan melalui kebebasan untuk mengorganisir dan terlibat dalam aksi kolektif. Hak-hak asasi tanpa struktur kelembagaan, termasuk dukungan oleh gerakan-gerakan sosial organisasi-organisasi kolektif, adalah janji kosong, atau meminjam Thomas Hobbes, “kovenan tanpa pedang hanyalah kata-kata”.
Dengan kata lain, agenda pemberdayaan politik hukum memerlu- kan perhatian tentang fabrik sosial dan relasi-relasi kuasa dalam konteks kemasyarakatan yang ada untuk memahami bagaimana struktur sosial
dan ekonomi, pola-pola konflik dan pemisahan, serta lembaga-lembaga
politik yang merupakan bagian dari produksi kemiskinan, dan karenanya mencerminkan bagaimana kepentingan dan kekuasaan mereprentasi- kan hambatan dalam melakukan perubahan sturktural. Menjamin sumber daya masyarakat dan kebebasan agensi untuk memperluas hak-hak atas kekayaan/kepemilikan dan hak-hak atas aset juga membutuhkan per- hatian pada hak-hak dan lembaga-lembaga terkait agar hak-hak atas ke- kayaan/kepemilikan menjadi realistik dan dapat ditekankan sehingga dapat memenuhi visi pemberdayaan mereka. Dalam konteks inilah sistem internasional dan nasional dalam norma-norma hak-hak asasi me-
nawarkan jaminan kelembagaan signifikan bagi formalisasi hak-hak atas
aset-aset dalam sektor informal.