IV VISI KEPEMIMPINAN PROFETIK TRANSFORMATIF AL-MAUN
B. MODEL KEPEMIMPINAN
3. Model Partisipatoris Muhammad
Muhammad SAW adalah tipikal nabi yang memiliki beberapa karak- ter perjuangan sekaligus: yakni menentang ketidakadilan dan penindasan
terhadap kaum papa dalam masyarakat, membangun pola hidup se- derhana sebagai budaya tandingan (counter culture) atas hedonisme dan komsumtivisme, dan hidup bersama orang miskin dan tertindas.
Karakater pertama perjuangan Muhammad dapat digambarkan dalam tiga tahapan. Pertama, menentang ketidakadilan sosial dan penin- dasan adalah spirit awal kelahiran agama-agama, terlebih Islam. Islam oleh karena itu merupakan, meminjam istilah Ali Syariati (1993), “agama protes” (the religion of protest), agama perlawanan. Apa yang diper juang- kan oleh Muhammad sejak periode Makkah hingga Madinah adalah melawan segala bentuk penindasan yang berupa: hegemoni agama pagan dan sindrom politeisme yang mengancam kebebasan beragama masya- rakat Makkah; hegemoni sistem “kapitalisme” masyarakat Makkah yang bersandar pada rente dan bunga yang merampas hak hidup layak bagi masyarakat akar rumput, dan sistem ekonomi monopoli yang meng- alokasi dan mendistribusi harta, kekayaan dan sumber daya di kalangan kelompok elite Makkah; penindasan dan perbudakan yang meraja lela; relasi gender yang mensubordinasi kaum perempuan di bawah ketiak kaum lelaki dalam sistem sosial patriarkhal; serta keterbelakangan dan kebodohan yang melanda sistem kultural masyarakat saat itu.
Kedua, tawaran tentang sistem masyarakat yang berkeadilan, manu- siawi dan berkeadaban. Setelah protes dan kritik atas situasi dan kondisi sosial, ekonomi, budaya dan politik digulirkan dan sistem lama yang me nindas dapat diruntuhkan, Muhammad melanjutkan perjuangan dengan mengajukan suatu proposal tentang “masyarakat utama” (khayr ummah), yang bercirikan antara lain: menghargai harkat dan martabat ke- manusiaan universal (al-amr bi al-ma`ruf, humanisasi), pembebasan dari segala penindasan dan kemungkaran sosial-politik (al-nahy `an al-munkar, liberasi), dan menanamkan semangat ketuhanan yang melandasi semua bentuk perjuangan (iman bi Allah, transendensi).
Ketiga, partisipasi dalam aksi dan praksis perjuangan melawan penindasan dan ketidakadilan sosial. Muhammad adalah tipi kal seorang intelektual organik, meminjam Gramsci, yang menerapkan bios theoritikos, yakni memadukan antara kemampuan berwacana dengan praksis pembebasan dan revolusi. Ia turut serta dan bahkan memimpin, menye- mangati, dan memotivasi aksi-aksi perjuangan meruntuhkan rezim despotik, totalitarian, dan zalim, dan membangun sistem alternatif yang
menjunjung tinggi keadilan menuju tatanan masyarakat egaliter dan tanpa diskriminasi.
Masyarakat egaliter diperjuangkan oleh Muhammad adalah antitesis dari sistem kapitalisme Makkah dan Madinah. Perjuangan menuju masya-
rakat egaliter dalam pandangan Hassan Hanafi atau masyarakat tauhidi
dalam istilah Asghar Ali Engineer (1994) adalah kehidupan masya rakat yang menempatkan semua anggotanya pada posisi setara. Tidak ada superior dan inferior, penindas, dan tertindas (Anam, 2008: 209).
Bercermin pada tiga langkah yang diperjuangkan oleh Muhammad, maka kemiskinan dan pemiskinan struktural membu tuh kan kepedulian dan intervensi kepemimpinan partisipatoris-profetis. Seorang pemim pin adalah ia yang memiliki kepekaan dan kritisisme atas situasi dan kondisi sosial-politik yang karut marut dan centang perenang di bawah dominasi rezim neo-liberalisme dan penguasa kacung. Karena itu, ia harus memiliki cukup bekal teori kritik sosial yang akan membantunya men cermati setiap bentuk dominasi, hegemoni dan penindasan dan konstruk sosial- politiknya. Kacamata teori kritik sosial membawanya pada kesadaran akan perlunya wawasan berujung pada gerakan; wacana menuju praksis sehingga ia menjadi pemimpin yang dekat dan lekat dengan massa akar rumput yang paling rentan atas ketidakadilan.
Pemimpin partisipatoris-profetis memiliki visi yang jelas tentang arah dan masa depan negara dan masyarakatnya. Di sini perlu memiliki rumusan atau teori normatif sosial yang menjadi blue print pembangun- an dan pengembangan masyarakat, bangsa dan negaranya. Dengan visi ini proses perubahan sosial-politik memiliki tahapan-tahapan sistematis dalam rangka mewujudkan cita-cita sosial bersama semua warga masya- rakat dan negara, tanpa diombang-ambingkan oleh kekuatan-kekuatan ekonomi dan politik yang imperialistik.
Tidak kalah pentingnya adalah bahwa seorang pemimpin partisi- patoris-profetis adalah orang yang mampu bergerak pada basis massa untuk melakukan perubahan, reformasi atau bahkan revolusi sosial- politik guna menegakkan masyarakat utama yang dicita-citakan bersama. Di sini ia terlibat dan proaktif menggalang kekuatan dalam kerangka per- juangan dan praksis sosial merekonstruksi sistem peradaban baik pada level personalitas, politik, ekonomi, sosial dan politik.
Semua gerak perjuangan sebagaimana dikemukakan di atas me ru- pakan gambaran bagaimana paradigma profetik (Iqbal, 1985; Kunto- wijoyo, 1995) dioperasionalisasikan dalam suatu sinergisme antara wacana dan aksi, diskusi dan praksis menuju masyarakat utama, masya- rakat madani yang berkeadilan dan berkeadaban.
Model Kepemimpinan Partisipatoris-Profetis
Di samping spirit dan perjuangan profetisme, Muhammad adalah cermin sosok pemimpin yang sadar akan ancaman gaya hidup masya- rakat Makkah yang bergelimang kemewahan, kesenangan dan nafsu konsumtivisme tanpa batas. Berhadap-ha dap an dengan masyarakat hedo nistik dan permisif semacam itu, ia mempelopori gaya hidup alter natif yang rasional dan sehat, yaitu pola hidup sederhana dan ber- sahaja. Gaya hidup sederhana (qawwam, tawassuth) ini ditanamkan dan ditegakkan sebagai budaya tandingan (counter culture) atas hedonisme dan komsumtivisme masyarakat pada zamannya.
Gambaran hedonisme dan komsumtivisme di muka sangat mudah dijumpai dalam konteks kehidupan kontemporer dan globalisasi. Kehi- dupan kontemporer telah membawa manusia kepada ideologi komfor- tismus, pandangan dunia liberal yang memuja kesenangan hidup dan kepuasan (satisfaction). Banyak orang di berbagai belahan dunia kini
memuja kepentingan dengan “kenikmatan-kenikmatan sesaat yang dapat ditawarkan oleh kehidupan ini” dalam pengertian barang-barang
material dan kesenangan fisik. “Komfortismus”, meminjam istilah
Sombart, adalah mentalitas kaum borjuis yang gila akan uang, gelimang harta dan kemaruk dunia. Agar kenikmatan dan uang yang mereka miliki tetap berada dalam kenyamanan, maka mereka membutuhkan ke sejahteraan. Sayangnya, atas nama kesejahteraan ini segala cara cen- derung ditempuh, tujuan menghalakan segala cara.
Kaum komfortis memercayai hidup nikmat bertumpu pada kelim- pahan materi, gelimang kesenangan, konsumsi tingkat ting gi. Mereka menyebutnya dengan 3F (food, fun, and fashion): makan minum enak, ke- senangan dan hiburan yang glamor, dan model pakaian serta asesoris yang ngetrend. Pada tingkat tertentu dan dalam jangka pendek, mungkin semua ini dapat menghapus dahaga manusia. Namun semua itu secara hakiki tidak menjawab problem ultima manusia akan kebahagiaan dan keselarasan hidup. Materi, kesenangan dan konsumsi hanya meng- hilangkan rasa takut manusia akan lapar dan haus—sebagai ekstrem lain yang serba kekurangan—tapi sejatinya baru menyelesaikan masalah-
masalah permukaan dan fisiologis.
Dalam situasi zaman di mana kesenangan menjadi tujuan hidup, pola hidup sederhana dan sahaja memperoleh tantangan sekaligus pe- luang. Di satu sisi, seseorang ditantang kesabarannya menghadapi pergaulan hidup yang serba heboh dan wah, tanpa larut dan terjerumus di dalamnya. Di sisi lain, pola hidup sederhana dan sahaja menawarkan kepada manusia gaya hidup sembada, prasaja, suatu sikap dan perilaku moderat di antara ekstrem kemewahan dan kemelaratan, merasa serba cukup di antara berlebihan dan minimalis, kerendahan hati antara ke- angkuhan dan rendah diri, asketisme antara riya (pamer) dan sum`ah (selalu ingin dipuji).
Karena itu, pemimpin adalah manusia terpilih dengan kepribadian sederhana dan bersahaja. Secara individu, ia sendiri merupakan teladan dan model bagi budaya tandingan di hadapan gaya hidup hedonistik dan komsumtif. Secara leadership, ia paham bahwa secara fundamental kon- sumsi yang benar terletak pada cara atau pendekatan dalam meme nuhi kebutuhan dan keinginan manusia. Kepemimpinannya tidak meng hen- daki dan mengakui pola konsumsi yang murni materialistik. Semakin
tinggi manusia menaiki tangga peradaban, konsumsi lebih dibayang- bayangi oleh keinginan-keinginan psikologis. Selera dan gaya hidup snobbish memainkan peran yang sangat dominan dalam menentukan bentuk-bentuk lahiriah konkret dari keinginan-keinginan psiko logis ter- sebut (Mannan, 1980: 79). Peradaban modern telah meng hancurkan “ke sederhanaan”; peradaban materialistik mewarnai kesenangan yang terus membuat keinginan-keinginan manusia menjadi sangat bervariasi dan kesejahteraan hampir hanya diukur dari berbagai karakter keingin- an yang diupayakan untuk dicapai melalui sarana-sarana tertentu.
Tentu saja cara pandang tentang kehidupan dan kemajuan se- macam ini harus menjadi sasaran tembak kepemimpinan parti sipatoris. Kepemimpinan partisipatoris berusaha mereduksi kebu tuh an material manusia yang berlebihan (eksesif) dengan maksud untuk menekankan pembangunan energi spiritual manusia dalam pencarian duniawi. Per- tumbuhan batiniah lebih dari sekadar ekspansi lahiriah merupakan ideal tertinggi manusia dalam hidup ini. Kemajuan tidak semata diukur dari standar hidup yang tinggi yang berimplikasi pada perluasan keinginan secara tanpa batas. Karena hal ini akan meningkatkan ketidakpuasan ter- hadap apa yang sudah dicapai, dan akibatnya adalah eksploitasi atas hak- hak kaum miskin dan termiskinkan demi kepuasan diri mereka sendiri.
Terakhir namun tak kalah pentingnya, kepemimpinan partisipatoris menghendaki hidup bersama orang miskin dan tertindas. Individu mau- pun kelompok terorganisir yang mengadopsi model ini perlu menun- jukkan kemampuan ing madyo mangun karsa. Yaitu kapabilitas bergelut di tengah-tengah masyarakat miskin dan membangkitkan karsa untuk me mahami dan menyadari ke miskinan mereka serta kehendak untuk mengangkat harkat dan martabat mereka sendiri. Melalui pergulatan dari dalam dan bersama mereka, program-program pengentasan kemiskin- an dilahirkan dari rahim pergumulan dengan suara-suara mereka yang terpinggirkan oleh pembangunan. Program pengentasan kemiskinan tidak bisa muncul dari balik meja, sebagaimana cara pandang Negara selama ini (seeing like state).
Pergumulan partisipatoris ini menunjukkan kemauan individu dan kelompok pembela orang miskin untuk secara proaktif menum- buhkan kesadaran mengapa mereka miskin. Selama ini upaya-upaya pe- ngen tasan kemiskinan jarang memulai dari tahapan krusial ini. Orang
miskin jarang dikondisikan untuk bernalar (reasoning) tentang sebab- sebab mereka miskin dan termiskinkan. Yang mereka ketahui hanyalah bantuan langsung telas (habis) dan program-program karitatif yang me- racuni mental mereka, bahkan mental mereka yang tidak tergolong dalam kelompok miskin. Program pengentasan kemiskinan lebih banyak didekati dari atas dan melalui pendekatan kemiskinan absolut. Orang- orang miskin belum diberikan kesempatan seluas-luasnya untuk men-
definisikan kemiskinan di kalangan mereka sendiri. Dengan cara ini
mereka tahu apa penyebab sesungguhnya dari kemiskinan mereka dan bagaimana cara keluar dari jerat kemiskinan itu dengan usaha mereka sendiri, dan sedikit arahan dan bantuan pihak ketiga.
Membangun karsa adalah tahap berikutnya. Sadar akan kemis kinan belum cukup, upaya ini perlu dilanjutkan dengan memancing kemauan, kehendak, dan kesanggupan mewujudkan kehendak dalam bentuk tin- dakan nyata. Yaitu tindakan yang menggerakan orang miskin untuk bangkit dari keterpurukan dan deprivasi yang selama ini membelenggu mereka. Bila karsa ini dapat muncul, inilah keberhasilan kepemimpinan partisipatoris. Hal semacam ini diilustrasikan oleh Nabi Muhammad dalam sabdanya, bahwa kedekatan antara dirinya dengan orang-orang miskin sebagaimana jari kelingking dan jari manis. Artinya, sabda ini meng gambarkan bahwa pemimpin partisipatoris memiliki kedekatan dan kelekatan dengan orang-orang miskin di mana mereka bergelut ber- sama, memahami bersama, hingga akhirnya berjuang bersama untuk menjaga dan meningkatkan harkat dan martabat kemanusiaan mereka. 4. Model Propaganda Ibrahim: Penghancuran Berhala Ideologi
Globalisme
Ibrahim adalah tipikal nabi yang dikenal dalam tiga tradisi agama- agama besar dunia—Yahudi, Kristen, dan Islam. Ia adalah nenek moyang bagi tiga agama tersebut. Ibrahim hidup sezaman dengan Namrud, se- orang raja tiran yang tak kenal belas kasih. Kuasanya diabadikan dan dikokohkan melalui agama pagan dengan simbol berhala raksasa yang bertengger megah seolah ingin menyampaikan pesan angkuh akan cakar- nya yang mencengkeram. Ibrahim seorang diri dengan penuh keberanian tidak menghantam langsung kesombongan kuasa dan ideologi Namrud yang meng hegemoni dan mendominasi. Ia sadar bahwa kekuatannya
belum sebanding dengan Namrud. Karenanya, ia memilih untuk mela - kukan propaganda sistemik dengan menghancurkan “berhala raksasa” yang menjadi kiblat kuasa Namrud dan semua rakyatnya yang meng- hamba kepadanya. Dengan liukan kapak Ibrahim, berhala raksasa simbol kekuasaan hegemonik Namrud dapat diruntuhkan, dan Namrud merasa terancam karena hegemoninya dirongrong protes dan pro pa- ganda Ibrahim. Globalisme di zaman kontemporer analog dengan “berhala raksasa”. Kekuatannya yang luar biasa menghendaki perla- wanan Ibrahimian.
Globalisme dan pemiskinan ibarat dua sisi dari mata uang yang sama. Pemiskinan merupakan konsekuensi logis dari kesesatan alamiah globalisme yang cenderung mencerminkan imposisi uni lateral tatanan dunia. Secara implisit diakui bahwa globalisme ber upaya melakukan hegemoni dan dominasi atas proses globalisasi namun gagal untuk mengendalikannya apalagi menyempurnakan kecurangan dan kekeliruan tatanan yang penuh kesenjangan dan ketimpangan tersebut.
Kini masyarakat dunia menyaksikan suatu tantangan besar di mana ideologi neo-liberalisme melakukan upaya-upaya sistematis untuk membajak globalisasi menjadi globalisme. Sementara orang-orang yang phobia dengan globalisasi dalam banyak hal meman dang globali sasi sebagai tipu muslihat kapitalisme dan mengundang kembali nya kebijakan- kebijakan proteksionis dan berpusat pada negara di masa lalu. Sebagian lain memilih menjadi pasukan pembela globalisasi untuk mentransformasi berbagai persoalan dewasa ini. Seperti halnya para penganjur sosialis pada masa industrialisasi, kritik yang lebih cair terhadap kondisi globalisasi adalah tidak tertuju kepada globalisasi atau perdagangan itu sendiri, tetapi kepada globalisme yang berhasil melahirkan banyak pecundang daripada pemenang, banyak dampak destruktif daripada konstruktif.
Karena itu, protes dan perlawanan atas globalisme adalah dengan memfokuskan sasaran bidik kepada ideologi neo-liberalisme yang ber- main di belakang globalisasi. Ideologi ini menyerupai berhala kontem- porer yang bertanggung jawab di balik manipulasi globalisasi menjadi globalisme, yang banyak menjalankan upaya untuk mempolitisasi proses-
proses ekonomi yang kini dimistifikasi sebagai fakta dan nasib. Peng-
hancuran berhala ideologi dominan-hegemonik ini telah dan sedang dilakukan oleh kelompok-kelompok penentang terhadap konsensus
Washigton (1990an), sebagaimana tertangkap dalam slogan ATTAC yang berbunyi “Dunia ini bukan untuk diperjual belikan!”, dan slogan “Dunia lain adalah mungkin”. Slogan ini mengandung pesan utama agar globalisasi ditransformasi dari dalam dan dari bawah demi terciptanya tatanan dunia yang berkeadilan bagi semua. Aksi-aksi protes mereka me- luas ke wilayah politik dan karenanya menyentuh ruang lingkup ke- wargaan, dan melampaui negara-bangsa.
Arditi (2004) melukiskan gerakan anti globalisme dalam bentuk aksi radikal yang bersifat langsung menyerang kota-kota tempat ter- seleng garanya pertemuan-pertemuan WTO seperti Seattle, Prague, Gothenburg and Genoa. Aksi radikal ini seringkali me la ku kan perusak- an atas restoran-restoran McDonald seperti terjadi di Perancis yang di pimpin oleh Jose Bove dan protes-protes terhadap penggunaan ma-
kanan-makanan yang dimodifikasi secara genetik. Citra gerakan anti-
globalisme ini sangat menonjol karena sebagian disebabkan politik berbasis jalanan yang cenderung lebih menarik dan berharga di mata media dan pers. Mereka juga seringkali membuat ketakutan luar biasa di kalangan pe merintahan, para pemimpin bisnis, dan agen-agen multilateral yang ter biasa dengan logika komite pakar daripada mobilisasi massa. Itulah mengapa sebagian beranggapan bahwa banyak kelompok aktivis kurang memiliki arah politik yang strategis. Hal demikian benar, namun tidak sepenuhnya, karena gerakan mereka merentang dari gerakan phobia glo balisasi yang kaku hingga mereka yang masih memiliki agenda yang lebih jelas untuk mentransformasi globalisme. Contoh dari gerakan ter- akhir adalah mereka yang ber partisipasi dalam Forum Sosial Dunia di Porto Alegre yang berhasil mengumpulkan hampir 60.000 peserta ketika diluncurkan pada November 2002 di Florence, di samping beberapa bentuk prakarsa lainnya. Organisasi-organisasi pelopor yang berasosiasi dengan aksi radikal langsung ini termasuk the Ruckus Society, Global Exchange, dan sebuah kelompok anarkis seperti the Black Bloc. Kita juga dapat menyebut dimensi perlawanan yang bersifat “glokal”, seperti dukungan internasional untuk perjuangan lokal melawan perusahaan- perusahaan yang memprivatisasi kebutuhan publik di banyak Negara Dunia Ketiga. Di sini kita dapat berpikir tentang kampanye solidaritas untuk the Bolivian Water Wars pada tahun 2000 yang menentang Bechtel Corporation yang disubsidi oleh pemerintah di Cochabamba,
atau solidaritas untuk the Soweto Electricity Crisis Committee untuk melawan semakin meningkatnya fasilitas-fasilitas Negara yang diprivatisasi di Afrika Selatan.
Para pendukung aksi radikal langsung, baik dengan kekerasan atau anti-kekerasan dalam mengungkapkan perlawanan mereka atas tatanan tertentu, dapat diserupakan dengan “kelas-kelas yang berbahaya” yang dikenal dalam wacana konservatif abad 19. Kebanyakan gerakan dan protes ini memiliki sayap radikal. Kaum Luddite misalnya, melakukan negosiasi atau kompromi di dalam sistem, dan mempropagandakan pe- rusakan mesin-mesin yang telah mengeksploitasi masyarakat dan sumber daya alam oleh kapitalisme awal, dan menawarkan alternatifnya. Mereka memang gagal, namun gerakan mereka telah membuktikan kepada para saudagar kapas dan para politisi tentang kerakusan luar biasa dari sistem kapitalisme. Gerakan-gerakan sosial baru barangkali kurang begitu merusak kepemilikan pribadi, meskipun demikian kita tidak bisa meng abaikan aksi-aksi perusakan mereka. Gerakan protes anti nuklir di Jerman selama dekade 70an dan taktik gerilya Greenpeace adalah suatu contoh yang tepat. Kita boleh tidak setuju atau setuju atas gerakan mereka, yang seringkali diiringi dengan protes dan slogan daripada dengan proposal strategis, namun mereka memainkan peran penting. Mereka menyediakan momentum awal bagi perlawanan atas globalisme dan bagi globalisasi perlawanan dan karenanya berjasa memberi kon- tribusi bagi kemungkinan adanya fase politik di mana transformasi besar kedua terjadi. Sebagai mana pandangan Wallach (2000: 32) bahwa kadang-kadang aksi radikal langsung membantu untuk menohok ke- angkuhan birokrasi internasional. Para pakar multilateral juga sering menolak memberikan pemikiran yang serius yang disumbangkan kepada kelompok-kelompok advokasi. Meskipun demikian, kapasi tas mereka melakukan hentakan secara de facto merupakan kekuatan veto yang ber- peran sebagai alat tawar menawar dalam rangka membantu para aktivis menghambat laju globalisme yang destruktif dan eksploitatif.