IV VISI KEPEMIMPINAN PROFETIK TRANSFORMATIF AL-MAUN
B. MODEL KEPEMIMPINAN
2. Model Pendidikan Kritis Musa: Exodus
Musa adalah seorang nabi yang sangat masyhur karena upaya-upaya persuasifnya yang tak kenal lelah berhadapan dengan kekuatan kemaruk kuasa yang direpresentasikan oleh tokoh Fir`aun. Ketangguhannya me me- ngaruhi dan menentang totalitarianisme, otoritarianisme dan despotisme politik Fir`aun tidak diragukan. Meskipun memiliki keterbatasan dalam hal mengartikulasikan pemikiran-pemikirannya secara argumentatif dan sistematis dalam bahasa lisan, ia tipikal pemimpin yang memiliki kebe- ranian pasang badan untuk membela dan melindungi rakyatnya yang bosan ditindas selama berpuluh bahkan beratus tahun. Sebagai manusia biasa, ada batas kesabaran yang sudah tidak bisa ditolerir oleh Musa akan kebebalan dan kejumudan kuasa Fir`aun. Pada akhirnya, Musa harus memilih untuk “eksodus”, keluar memisahkan diri dan melakukan gerakan separatisme dari kekuatan politik Fir`aun. Ia bersama-sama rakyatnya yang menderita karena kebijakan-kebijakan politik penguasa dan setia kepada kebenaran, memilih pengasingan sebagai sebuah per- la wanan akhir ketika sudah tidak ada jalan lain untuk kompromi. Musa dan umatnya eksodus dari Mesir, negara yang dalam persepsi Musa dan umatnya adalah negara tiran, negara penuh ketidakadilan, dan pe- nguasanya zalim.
Eksodus adalah sebuah paradigma revolusi politik dalam sejarah. Ia merupakan aksi perjuangan pembebasan rakyat dari perbudakan dan penindasan sang penguasa tiranik. Eksodus secara eksplisit menggagas bahwa hak untuk berkuasa bukan hanya milik mereka yang kuat, namun
kekuasaan juga harus dapat ditegakkan oleh kaum mustadh`afin. Eksodus
adalah doktrin politik radikal yang bersandar pada perjanjian Tuhan dan rakyat Musa di mana Tuhan akan memenuhi janji-Nya dan menolak tirani karena merupakan pelanggaran atas perjanjian itu.
Musa dan eksodus melampaui dari sekadar doktrin politik radikal. Lebih dari itu adalah gerakan menentang negara yang tidak bermutu, karena kepatuhan kepada negara semacam itu sama dengan memuja paganisme politik yang menghamba pada status quo. Kebebasan nurani dan pembangkangan sipil pada negara pagan, hukum dan kebijakan pe- merintahan yang tidak adil terhadap rakyat miskin dan tertindas adalah pesan utama dari pendidikan politik eksodus. Jadi, eksodus adalah para digma dan gerakan perlawanan terhadap pemerintahan opresif, di
mana para pembela kaum mustadh`afin revolusioner sepanjang sejarah
mem peroleh ilham dari paradigma ini. Eksodus segera berujung pada perlawanan terhadap negara tiran, aksi perlawanan yang menyandarkan diri pada penolakan Taurat atas tiranik Fir`aun klasik maupun kontem- porer.
Kepemimpinan eksodus model Musa ini memperoleh sig nifikansi-
nya dalam konteks neoliberalisme kontemporer. Era neoliberal di tandai dengan disingkirkannya “kontrak sosial” peran proteksi dan subsidi negara terhadap rakyat, serta di lucutinya kekuasaan negara dalam memenuhi hak rakyat demi terwujudnya persaingan bebas. Kepemim- pinan semacam Musa ini dapat direpresentasikan oleh kekuatan- kekuatan lembaga swadaya masyarakat. Mereka harus menunjukkan ke berpihakan untuk memilih jalan sebagai bagian dari gerakan sosial baru dalam rangka transformasi sosial menuju masyarakat demokrasi ke rakyatan. Yaitu suatu tatanan relasi sosial ekonomi dan politik yang bersendikan pada keadilan sosial dan kedaulatan rakyat. Dan bukan
sebaliknya, yakni mereka mengidentifikasikan diri sebagai “civil society”
atau masyarakat sipil dalam konteks “demokratisasi” melalui sistem relasi politik dan ekonomi model neoliberalisme. Bila pilihan terakhir yang diambil berarti LSM telah menjadi bagian dari pendukung atau
komprador bagi kebijakan neo-liberalism, sementara jika pilihan per- tama yang diambil bermakna memiliki kehendak serta cita-cita untuk tetap menjadi pejuang hak asasi manusia dan kedaulatan rakyat.
Saat ini kita menyaksikan bangkitnya gerakan perlawanan rakyat di mana-mana atau awal kebangkitan gerakan sosial secara global. Di bawah inspirasi kepemimpinan model Musa, saatnya kini dengan bahasa dan gerakan yang lebih tegas dan lugas, LSM dan kekuatan-kekuatan masyarakat sipil untuk tampil sebagai gerakan sosial baru. Gerakan se- perti ini mencoba meningkatkan kesadaran kritis masyarakat melalui pendidikan populer dan penelitian partisipatoris, di samping melakukan transformasi terhadap organi sasi mereka, yaitu dari organisasi masyarakat sipil menjadi gerakan sosial melawan globalisasi. Gerakan membela hak- hak kaum miskin yang didukung serikat petani, LSM, organisasi hak asasi manusia, juga akademisi, pada dasarnya adalah Gerakan Sosial Baru (GSB) yang timbul sebagai respon terhadap neo-liberalisme.
Ada dua hal yang harus dikerjakan oleh LSM dan masyarakat sipil dalam menjawab globalsiasi neo-liberal ini. Pertama, perebutan arena ke- daulatan ekonomi dan budaya di tingkat lokal dapat dijadikan sebagai pilihan alternatif strategi gerakan LSM di masa mendatang. Artinya, proses perjuangan untuk menghentikan globalisasi neo-liberalisme harus bertahan di tingkat lokal karena kedaulatan ekonomi rakyat justru dapat dipertahankan pada ting kat desa. Oleh karena itu pendidikan dan pe- ngem bangan parlemen desa (Badan Perwakilan Desa) yang memihak rakyat dan yang secara sadar bersikap kritis terhadap ancaman neo- liberalisme perlu dikembangkan.
Kedua, usaha terbesar dan tersulit dalam membumikan kepe mim- pinan model Musa bagi LSM dan masyarakat sipil adalah melakukan pendidikan kritis secara menyeluruh dan komprehensif sehingga ter- jadi gerakan “counter discourse” (perlawanan ideologi dan budaya ter- hadap neo-liberalisme) dan “hegemony” atas do mi nasi wacana neo- liberal. Tantangan berat bagi munculnya gerak an semacam ini untuk mendukung tumbuhnya gerakan lokalisasi kedaulatan ekonomi dan politik rakyat adalah masuknya indoktrinasi ideologis dan hegemoni kultural dari dominasi kebijakan neo-liberal dan globalisasi terhadap media massa dan kebijakan negara. Banyak pengajar di perguruan tinggi Indonesia malah “mengamini” neo-liberal di ruang-ruang kuliah. Sekali
lagi gerakan “counter hegemony” (wacana tandingan terhadap wacana neo-liberalisme) harus disusun sebagai bagian dari strategi gerakan sosial dalam merespon globalisasi. Salah satu strategi taktis “counter
hegemony” adalah mendekonstruksi dan mendemistifikasi mitos-mitos
neo-liberal, seperti mitos dan wacana mengenai masyarakat sipil, mitos produk makanan genetis hasil GMO, mitos hak paten dan hak kekaya- an intelektual, dan privatisasi (Fakih, 2003: 10-11).
Dua gerakan di atas tentu saja harus didukung oleh transformasi revolusioner terhadap masyarakat neo-liberalis. Kita bisa belajar hal ini dari
Gramsci dan Habermas. Menurutnya, belajar dari pengalaman konflik
antara kelas kapitalis dan kelas pekerja di Eropa sesudah Perang Dunia I (1914-1918), Gramsci memandang bahwa realitas sosio-ekonomi itu
sebagai proses yang dinamis penuh konflik di mana kepentingan-ke-
pentingan ekonomi yang kuat mencoba mengintervensi masyarakat politik (negara)—yang menjadi tujuan permanen perjuangan partai- partai dan gerakan-gerakan politik—dan juga masyarakat madani. Dalam pemahaman Gramsci, masyarakat madani adalah asosiasi, kelompok dan gerakan publik non-pemerintah yang menyatakan dan merepresen- tasikan urusan-urusan dan hak-hak rakyat, menghadapi invasi kepen- tingan ekonomi dan politik tersebut (Ana, 1994: 7).
Gramsci melakukan identifikasi baru terhadap masyarakat madani,
yaitu bukan sebagai struktur politik dan struktur ekonomi, tetapi sebagai struktur sosial yang bebas dari dua struktur terdahulu (Cohen dan Arato, 1992: 145). Yang penting bagi Gramsci bukanlah membedakan masya rakat madani dari struktur ekonomi dan struktur politik (negara dan masyarakat politik) yang sebetulnya saling membangun super- struktur. Yang penting baginya adalah bagaimana membangun proses di mana kekuatan-kekuatan yang ada dalam masyarakat madani(asosiasi, kelompok, gerakan), pertama, mampu menolak intervensi kepentingan- kepentingan ekonomi dan meneguhkan semampu mungkin otonomi mereka dalam menghadapi upaya pengkooptasian mereka yang dilakukan agen-agen masyarakat politik, dan, kedua, mampu memengaruhi ke- kuatan-kekuatan sosial dari struktur ekonomi dan struktur politik untuk menggerakkan proses sejarah (menjadi motor sejarah) (Ana, 1994: 7). Proses kedua ini mengimplisitkan peran potensial masyarakat madani dalam memberi sumbangan pada transformasi sosial-ekonomi.
Di sisi lain Gramsci memberikan perspektif bagaimana gerakan sosial baru melakukan tugasnya. Menurutnya, dengan memahami bahwa masyarakat madani sebagai struktur sosial, mengimplikasikan dimensi budaya, yaitu perlunya nilai-nilai dan kehidupan budaya dan intelek- tual untuk membangun hegemoni tandingan. Kesadaran akan dimensi budaya dalam konseptualisasi/teoritisasi masyarakat madani ini di- perteguh oleh Talcott Parsons (1902-1979). Dalam analisis Cohen dan Arato (1992: 425), Gramsci dan Parsonslah yang pertama memandang bahwa masyarakat kontemporer direproduksi tidak hanya melalui proses ekonomi dan politik, tetapi juga melalui interaksi antara struktur hukum, asosiasi sosial, institusi komunikasi dan institusi budaya yang masing- masing memiliki tingkat otonomi yang signifikan.
Habermas menawarkan gagasan tentang melawan pengambil- alihan ala kolonial bidang-bidang dalam lifeworld oleh sistem politik dan ekonomi. Masyarakat madanidalam versi Habermas itu merujuk kepada asosiasi sukarela di luar wilayah negara dan ekonomi, mencakup: gereja, asosiasi budaya, akademia, media mandiri, klub olahraga dan hiburan, ke- lompok diskusi, organisasi professional dan bisnis, partai politik, serikat pekerja dan—yang paling penting bagi Habermas—institusi alternatif. Dia memasukkan organisasi bisnis, serikat pekerja, bahkan partai politik, dan di atas semua itu gerakan sosial dalam lifeworld dengan harapan mereka semua dapat menjadi benteng melawan kolonisasi sistem, baik negara maupun ekonomi (Perez-Diaz dalam Hall, 1995: 103).
Jadi, secara konseptual masyarakat madani dalam pandangan Habermas adalah masyarakat sosial juga, seperti Gramsci dan Parsons, yang berbeda dari sistem negara dan ekonomi, otonom dari keduanya, dan atas dasar solidaritas dan dunia maknanya saling berkomunikasi dalam ruang publik untuk melakukan pilihan moral dan aksi komunikatif berhadapan dengan invasi sistem negara dan ekonomi. Dari konsepnya ini, ditawarkan hubungan lain masyarakat madani dan negara, yaitu ma- syarakat madanitidak hanya menjadi pesaing ideologi bagi negara, seperti Gramsci, tapi juga pengritik radikal terhadap negara.