MANTAN KETUA LKBN ANTARA
---
HARI : JUM’AT
TANGGAL : 02 JULI 2010 JAM : 16:30 – 18:30 WIB
TEMPAT : GEDUNG PUSAT BAHASA KEMENDIKNAS,
RAWAMANGUN, JAKARTA.
---
P : Penelitian saya adalah mengenai acara infotainment di televisi. Fokusnya pada asumsi terjadinya pergeseran nilai budaya, dimana hal-hal yang bersifat privasi malah dibuka ke ruang publik untuk promosi pribadi. Bagaimana pandangan Bapak mengenai itu khususnya dari sudut pandang budayawan?
MS : Bicara tentang pergeseran nilai budaya itu agak mendalam, tidak bisa hanya dilihat di tempat infotainment itu saja. Infotainment itu hanya korban atau lebih ke efek. Jadi infotainment adalah bagian, mungkin ada yang lain lagi. Bagian dari efek perubahan-perubahan tata nilai. Perubahan tata nilai, perubahan worldview, kemudian sikap terhadap hidup. Nah sikap terhadap hidup itu nanti berhubungan dengan etika. Kalau sikap kita begini maka terhadap etika cuek, misalnya. Kalau sikap kita begini maka kepada etika kita patuh. Jadi tiga hal itu saya anggap penting.
Pergeseran worldview kita lihat tata nilai, tata nilai adalah bagian yang sangat abstrak. Lalu nilai itu membentuk worldview. Karena hubungan diantara ketiganya dialektik, tidak hanya satu arah, misalnya nilai menentukan worldview saja, tidak. Tapi worldview juga menentukan nilai. Jadi hubungannya berkebalikan, dialektis. Nah dari dua hal itu kemudian agak jelas, membentuk suatu sikap, kira-kira demikian. Meskipun itu tidak sepenuhnya benar karena sikap dibentuk oleh hal-hal yang lain juga.
Jadi worldview, tata nilai melahirkan sebuah sikap. Meskipun dengan catatan lagi sikap itu bisa juga dilahirkan oleh kondisi struktural. Karena worldviewdan nilaithat something thattidak hadir dalam tatanan nilai-nilai, tidak nampak dalam tatanan nilai-nilai. Struktur hubungan juga bisa melahirkan sikap, sikap dalam perspektif yang sama atau berbeda.
Nah, tiga hal ini telah berubah. Tata nilai berubah,worldviewberubah, lalu sikap juga berubah. Sikap kita atau sikap terhadap hidup, karena berubah maka kemudian lahirlah tatanan-tatanan dalam dunia media. Satu diantaranya muncullah infotainment, atau entertainment yang membawa info. Sebutan infotainment itu sendiri tidak begitu bagus. Kalau entertainment juga ada infonya kok.
Nah, lalu pada apa “infotainment” itu diletakkan, diatas landasan apa infotainment itu diletakkan. Landasannya bukan info, bukan membuat kita terinspirasi, bukan mengajak kita merenungkan hidup secara mendasar yang agak dalam. Terhadap hidup ini kita sedikit menarik jarak.
Materi itu sangat penting, tapi tidak ada informasinya. Infotainment tidak jelek ya, tapi ini hanya dagang. Nah karena hanya karena media menampilkan kemewahan seperti itu, mestinya bisalah dimuati bahan-bahan atau muatan-muatan lainnya. Kalau hanya untuk dagang tok itu alangkah muspronya (sia-sia). Ruang yang besar tapi tidak ada gunanya apa-apa, ibaratnya tidak digunakan secara semestinya.
Nah ruang infotainment itu andaikata sesekali diisi pesan-pesan atau keputusan moral, atau keputusan politik, jangan itu-itu melulu. Jadi kalau yang ditampilkan itu murah, genit, dan busuk, bolehlah ditampilkan, tapi marilah diberi porsi.
Nah itu kebijakan redaksional, mau empat kali seminggu, tiga kali syukur, dua kali alhamdulillah, sekali yafine. Lainnya kita jejali masyarakat kita ini, kita agak paksa, kita tidak tunduk pada selera. Karena selera itu bisa dibimbing, selera itu seperti renang, renang seperti kapasitas kita, kapasitas itu terbatas, kapasitas ituin totalsebagai bangsa.
Kapasitas itu tidak sama, ada yang SD, taruhlah rata-rata itu baru SMA dari level pendidikan. Mari kalau bicara SMA, itu baru SMA formil, SMA formil itu sudah cukup tinggi. Tetapiqua,quatata nilai,quatata hidup,qua perenungan, SMA itu rendah sekali. Apalagi SMA yang acak-acakan begitu. Rata-rata itu hanyalah untuk membuat kita punya cita rasa hidup, membuat kita punya selera hidup, untuk membuat kita memandang suatu pandangan tertentu, pelan-pelan kita bawa. Kalau sekali-sekali kita turutilah selera rendah, selera umum, selera terlalu umum yang infotainment sekarang ini, berikanlah dua kali seminggu, atau bahkan tiga kali seminggu. Relatif murah, lalu ada satu kali dalam seminggu. Kalau empat itu masih ada dualah,
Tetapi kenapa tidak satu kali infotainment itu membicarakan sastra, infotainment kenapa tidak bicarakan rohani, tapi juga bukan rohani dalam arti kitab-kitab. Rohani dalam pengertian sikap hidup dan cara menata sikap dan cara hidup. Baik dalam benak maupun cara yang terrefleksikan, tidak harus kyai, tidak harus pastur. Sikap rohani isinya mungkin pedagang, bisa dosen yang wawasannya reaktif dan kritis terhadap dunia pendidikan, masukkan di rohani itu. Rohani bisa isinya estetika, betul-betul estetika. Seorang anak yang kelihatannya ugal-ugalan tapi menulis puisi dengan sikap pemberontakannya, puisi-puisi yang isinya berontak-berontak, cerpen- cerpen yang menohok keadaan yang men-nonsence-kan semua yang ada ini dengan satu sikap yang tegar, rohani.
Kalau kita mempunyai dua saja atau dua hari dari rentang waktu yang satu minggu. Hiruk pikuk dengan nonsence, dengan big nonsence, diisi dengan rohani dengan spiritualitas. Nah inilah bagi saya cara membimbing dengan tidak merendahkan orang meskipun kita berada di tempat yang tinggi. Cara kita sama-sama belajar menaik dan sama-sama membimbing.
Nah ruang itu adalah fasilitas yang siapapaun pengaturnya adalah fasilitator. Tabligh, ladies and gentlemen, this is the thing that we are going to learn. Jadi tidak akan mengajarkan orang tapi orang sendiri yang menentukan
sikap. Jangan dong cita rasa kita tidak pernah bergeser dari tahun tujuhpuluhan, cita rasa Dono, Indro, Kasino. Cita rasa murahan.
Inilah beranda kita, beranda Republik Indonesia. Tata nilai kita, mau memetik tata nilai dari pojok sebelah sana berupa tata nilai daun-daun, silahkan anda memetik tata nilai, silahkan anda memetik sikap, silahkan anda memetik spiritualitas dalam beranda yang disajikan, hanya dua kali dalam seminggu.
Mohon maaf, hanya dua kali dalam satu minggu yang begitu panjang dan ketika berbicara tentang ini anda pasti tidak akan nonton, tidak akan senang karena memang inilah keadaan kita. Tapi tetap kita adakan. Berapa lama? Tergantung, sebab yang namanya selera publik itu bisa pelan-pelan ditingkatkan.
Insyaallah kalau saya pengelola televisi, saya akan fokus kepada ini, komitmen saya kepada ini, pada budaya, pada semangat membangun bersama-sama perkembangan kebudayaan yang makin lama makin menuju terhadap kualitas yang memberi manusia harapan dan martabatnya yang optimal. Kalau itulah yang tercapai, jadi harkat dan martabatnya tidak hanya agama, silahkan, tetapi harkat dan martabatnya juga ditentukan oleh cara pandang terhadap kesenian, harkat dan martabatnya juga ditentukan oleh cara pandang kebersihan sikap dan jiwa dalam hidup, sehingga birokrasi berubah pelan-pelan, birokrasi bersih dari korupsi dan sebagainya.
Birokrasi publik pemerintahan maupun swasta, ada apa yang disebut “public accountability” itu semuanya kebudayaan. Nah, dalam kaitan yang begini, public accountabilityatau akuntabilitas publik itu barang yang tidak ada. Itu satu, yang kedua barang yang juga tidak ada adalah “kiblat”. Kiblat itu hampir tidak ada. Mari kita cek, bagaimana kiblat itu tidak ada. Itu terkait dengan sikap itu tadi, terkait dengan tata nilai. Lha wong televisi itu isinya cuma glundang-glundung hanya perkara menertawakan orang, lelucon- lelucon yang rendah, hanya membahas aib pribadi, sesuatu yang harusnya ditutup rapat.
Nah mohon maaf, saya ingat kembali terhadap perubahan tata nilai dan tata sikap. Perubahan tata nilai yang pertama dalam tataran kampung, karena saya datang dari kampung, yang kedua saya masuk ke wilayah perkotaan. Dari kampung dari orang yang sangat sederhana, masuk ke wilayah perkotaan di kalanganjaya maheyang elit.
Kita memandang sama yang namanya aib, lebih baik mati daripada aib di pasar-pasarkan. Tidak punya uang ya jangan diomongkan, ngisin-isini (memalukan). Lha sekarang itu paha, buah dada, diumbar. Ini tidak cuma melukai tata nilai yang kampung tadi, tidak cuma melukai tata nilai yang orang berusaha menjaganya. Tapi ini melukai tata nilai lainnya lagi yang lebih sensitif, yaitu melukai agama, apapun agamanya, tata nilai yang ada di kampung Jawa, di kampung Bali, kampung mana saja dilukai oleh itu. Golongan aristokrasi, mana aristokrasi etnis yang tidak melarang hal itu. Karena pada dasarnya kita semuanya, semua, semua, berbagi dan menyerap perkara itu kian nyaman. Mungkin dari agama secara langsung, agama kita bangun dalam kehidupan, agama kita terapkan, tapi agama kemudian memberikan pencerahan baru. Hubungan juga dialogis, kebudayaan dengan agama itu.
Nah ini lagi, rasa malu kita sudah tergeser, benar. Bahwa asumsi apakah sudah terjadi pergeseran nilai budaya, saya ingin re-conforming, exactly right, exactly right, bahwa ini telah bergeser. Bergeser tata nilai, bergeser cara kita memandang, tidak hanya nilai, tapivaluedan juga outlook, dalam kebudayaan namanya worldview, yaitu cara pandang terhadap dunia, pandangan kita terhadap dunia sosial, dunia dalam keluarga kita, untuk orang Jawa duniacilik (kecil), jagat cilik, microcosmos, lalu macrocosmos, dan kemudian kepada yang lebih makro lagi.
Dalam tatanan filsafat Jawa, bagaimana orang Jawa memandang ini. Tapi supaya tidak Jawa sentris, kita kemukakan sangat besar kemungkinan pengembangan, yang pasti Sunda bajahamber. Jagat kecil jagat besar, mikrokosmos - makrokosmos, yang penting jadi worldview, social world, tentu saja pandangan terhadap dunia dari mikrokosmos ke makrokosmos, dunia yang tergelar dimana semua orang mengobservasi, semua orang
merasakan dan melihat dan bersaksi, berubah sudah berubah. Nah berubahnya begitu cara pandangnya dan kemudian pada sikap dan tindakan. Dalam tindakan hidup kita menempatkan yang namanya infotainment jangan dilihat lain, jangan diberi kedudukan lain. Tapi kalau kita lihat sepertinya tidak ada tanggung jawab dari pengelolanya, saya geregetan kenapa tidak memfasilitasi publik untuk bersama-sama meningkatkan cita rasa hidup dan kebudayaan kita. Bukan ada orang yang membimbing ya, tapi mari kita fasilitasi perkembangan kebudayaan kita perlahan-lahan, kemudian membangun minat, membangun citarasa hidup. Masa sih sejak tahun tujuh puluh delapan puluhan cita rasa film kita, citarasa estetika, citarasa literer, citarasa tentang ceritanya, citarasa tentang nilai di dalamnya, citarasa tentang ajaran di dalamnya, nol melulu.
Memang dulu didominasi oleh orang-orang yang semata-mata materi. Karena materi saja, maka lalu menyalah-nyalahkan pemerintah. Marilah kita berpikir positif saja, memandang permasalahan as it is seperti apa adanya. Menjadi bahan perenungan yang bisa dijangkau oleh pengelola TV. Bersediakah mereka untuk memberi setidaknya dua kali dalam seminggu, hanya dua kali, suatu ruang yang tidak hanya berbicara tentang aib, tentang orang kawin lagi. Sebagai kontrol sosial boleh misalnya orang kawin lagi dikritik jadi bersifat positiflah. Tapi kalau orang kawin lagi yang diomong tentang hal-hal yang negatifnya ya tidaklah.
Jadi letak atau landasan entertainment itu apa? Masalah seksual tergantung pada cara pandang atau level anutan nilai dan citarasa. Kalau citarasa kita hanya dikuasai oleh hal-hal yang rutin, maka kita hanya di titik duniawi. Meskipun kita sibuk, tetapi mestinya juga diisi titik ukhrowinya. Mungkin kita keliru karena sedang lalai, tapi ya jangan lalai semuanya, masak seluruh bangsa lalai? Lalai semua boleh tapi ya jangan sepanjang masa. Nah kalau lalai semua dan sepanjang masa? Waduh celaka.
P : Menarik yang Bapak sampaikan mengenai citarasa dan memberikan ruang setidaknya dua kali dalam seminggu untuk diisi muatan yang spiritualistis. Namun media kan pada umumnya menganut sistem liberalisme, bagaimana pendapat Bapak?
MS : Ya betul, yang saya sampaikan tadi kan pembicaraan kebudayaan. Pembicaraan kebudayaanpun sudah saya reduksi pada apa yang ideal. Bukan kebudayaan sebagaimana adanya. Kalau kebudayaan sebagaimana adanya mungkin akan lebih apa lagi, ini sudah pada tataran sosial.
Pernah saya tanyakan kepada pengelola TV, bagaimana anda mengelola TV mengawinkan dua hal yang muskil yang harus jadi. Kalau anda tidak bisa maka anda tidak bagus. Yaitu idealisme dan bisnis. Karena dalam bisnis yang tulen, dan menjadi sukses, itu tidak hanya bisnis tapi juga dalam kepemimpinan, kepemimpinan pada umumnya dan kepemimpinan bisnis secara VIP. Bagaimana membawa kemustahilan menjadi barang yang tidak mustahil.
Nah untuk ini idiil lah, tatanan idiil lagi. Ketika orang berkutat di rubrik- rubrik yang begitu banyak dan sifatnya duniawi, berhadapan dengan kemustahilan-kemustahilan. Lha kemustahilan itu, marilah kita sudah tahu mana yang mustahil. Namun dari banyak yang mustahil tadi mesti ada salah satu dari yang banyak itu menjadi tidak mustahil. Ya moga-moga ada. Masak sih yang namanya infotainment tidak pernah membuat info tentang para master. Itu info, itu satu jurusan hanya tentang orang-orang genit, yang ngumbar dada dan paha. Kasih dong, orang yang rupanya jelek, tapi mempunyai mutiara dalam hidupnya, pikirannya ada mutiaranya, hatinya, jiwanya ada mutiaranya. Nah ini salah satu yang mungkin dianggap sebagai sajian buruk bagi komunitas kita sekarang, tapi dibikinkan, dikasih kesempatan.
Ini mungkin membuat kita tidak didengar, tapi life take the risk in the business. Yaitu, celaka duabelas bahwa infotainment yang menyangkut bidang ini selalu tidak dilihat. Namun kalau kita menjual paha, dada, celana dalam, setiap hari dijual laku. Nah ada satu hari yang tidak laku atau tidak dilihat, itulah yang perlu dianalisis oleh peneliti dan menempatkannya dalam suatu perspektif ketelevisian pada umumnya. It is not impossible to bring this into reality.
Kalau dilakukan oleh otoritas dalam komunikasi, tentu akan dianut. Sekarang yang dianut atau dipentingkan itu pokoknya citra, dan pandai dalam urusan duit. Cerdik menipu publik dengan citra. Sehingga yang nampak itu bukanlah ujud manusianya, tetapi hanya gambar. Kita dihadapkan dalam siaran infotainment dan siaran lainnya, hanya pada gambar, imej. Bukan orang, kalau orang itu bisa omongannya sedikit nakal, ada keakraban, tidak jaim (jaga imej) tanpa senyum. Menyanjung negara lain. Itulah pemuja, pengagum citra, pengagum bayangan. Good looking is just good looking, itu cuma kulitnya. Nah itu adalah bagian dari omong kosong pertelevisian, omong kosong media, tapi kita tidak bisa menghindar dari ini.
P : Jadi apa yang dilakukan oleh para artis itu kan jaga imej tadi? Bagaimana para jurnalis infotainment merekonstruksi realitas yang ada di masyarakat ke ruang publik?
MS : Ya, mereka merekonstruksi realitas dengan membuat gambaran baru, membuat citra baru, membuat kehidupan baru, membuat fenomena baru. Nah ini bahasa yang saya pelajari dari orang yang bernama Sukanto SA, beliau penulis, sastrawan, pengarang cerita anak-anak juga. Dan meskipun zaman sudah bergeser tapi saya anggap masih relevan untuk kita. Menurut beliau: Menciptakan kembali atau recreating social life, recreating image, recreating segala macam, adalah membangun dunia baru.
Dunia baru itu sama dengan yang kita pakai dalam cerpen (cerita pendek). Yang dipakai dalam cerpen sama yang dipakai oleh para wartawan untuk ditampilkan kembali dalam ruang kaca yang ada penyiarnya, ada gambarnya. One thing adalah sama sumbernya, inilah sumbernya, kehidupan. Variannya banyak. Dari berbagai macam kehidupan itu ada satu “angle”, yang saya lihat sebagai penulis cerpen, dan akan saya lahirkan dalam dunia baru yang namanya cerpen. Tapi tentu tidak hanya memindahkan ituplek begitu aja, kan jelek. Nggak ada estetika, nggak ada pengunyahan, tidak punya novelty, lalu dengan sendirinya tentu tidak inspiring.
Kalau dari salah satu sudut di pasar ada kegiatan orang berjualan itu saya pindahkan apa adanya ke dalam cerpen, udah dia hanya jadi berita, tidak laku. Pun sebenarnya ketika suatu segmen kehidupan kecil dari kehidupan yang luas dipindah ke layar kaca, juga memerlukan rekreasi. Adarecreating process. Karena dari sanawas created, dipindah ke TV jadibeing recreated. Ini satu dunia yang dicipta menjadi satu dunia yang lain.
Tidak boleh menodai estetika dalam hidup itu yang dibawa ke layar kaca, tidak boleh nilai dasar keagungan hidup dihancurkan di ruang kaca, tidak boleh. Keagungan yang disana harus menjadi keagungan disini. Persoalan! Persoalannya, kalau segmen kehidupan yang kita sorot semata kehidupan pameran dada dan paha, bagaimana mau dipisah? Bisa dengan bikin taram temaram, sekilas saja, mempunyai daya tarik yang tidak begitu jelas orangnya, malah secara estetik membuat orang berdebar.
Nah kalau itu dibawa ke ruang kaca, di bawalah dengan estetika, juga perlu diolah dengan estetika, tidak boleh hanya memindah begitu semata-mata, bisa tidak laku. Ada estetika, harapan kita semua, tanpa menodai itu. Tanpa menodai bahwa yang ditampilkan si A tetap si A disana, tapi si A realistis bukan dipindah menjadi foto. Foto itu terlalu realistis, atau semacam skets. Atau kalau mau dibuat foto itu seluloid-seluloid yang tampak dan tidak tampak, membuatnya dari biasa menjadi lebih bagus. Dari estetika yang telanjang menjadi estetika yang taram temaram.
Kemudian bagaimana memperkenalkan wilayah sakral, kita sebut sakral, guna membawa wilayah sakral, wilayahprivacy, wilayah lain dari nama itu. Kedalam dunia baru yang namanya ruang kaca yang akan ditonton oleh semua umur. Itu mestinya ada estetikanya, cara menampilkannya, menurut saya itu ada. Kalau Amerika tidak memberi kita guide line, thanks God, bahwa Amerika tidak tahu tentang itu, dan kita yang tahu. Amerika tidak hebat.
Estetika itu ialah ordonansi dari kesadaran etik dan kesadaran rohaniah kita. Sekaligus kesadaran sosial. Dikawin-kawinkan menjadi satu dan lahir menjadi kita. Dari dunia sosial dibawa ke dunia kaca memerlukan perenungan, memerlukan penciptaan. Saya tahu bahwa kawan-kawan dari
wartawan tulis menjadi wartawan gambar, itu struggling hard, tapi baru sampai situ doang. Belum menginjak pada esensi yang lebih jauh, itu ada esensinya, baru pada angka satu, padahal ada angka dua, tiga, dst. Lanjutan- lanjutan.
Bagaimana menjadi lebih imajinatif, bagaimana menjadi lebih simbolik, ah, tidak ada simbolik-simbolik di sana semuanya dibikin riil tidak ada ditampilkan dengan simbolik. Saya ngomong begini kelihatannya tanpa ujung pangkal ini sebenarnya punya pangkal tolak filosofi dasar dalam menulis realitas menjadi suatu realitas baru. Tercermin dalam buku-buku yang menangkap pemikiran saya. Semua itu simbol-simbol. Nah apa maknanya dan darimana itu semuanya? Suatu perpindahan dari dunia nyata menjadi dunia imajiner, dunia imajinasi baru itu namanya dunia estetika. Sehingga ada orang yang mengejar-ngejar saya menanyakan siapa yang saya tulis dalam essay di koran anu pada tanggal anu, yang punya sifat galak, dsb. Nah kalau saya nulis dengan telanjang begitu saja kan tidak estetis, maka saya samarkan, menghadirkan dunia baru dari dunia lama. Kerja essay adalah kerja estetika.
Mari kita catat, penampilan suatu infotainment adalah penampilan estetika. Penampilan infotainment adalah penampilan etika. Penampilan infotainment adalah penampilan moralitas. Tapi sebenarnya tidak hanya etika, lebih daripada itu, etika can be anything, many-many things. Tapi kalau sudah morality, tentu morality itu tentu banyak pernak pernik tapi lebih kepada tatanan moral. Kalau dengan tatatan sosial, menyangkut kepentingan pemirsa, sungguh sangat dilupakan, dilupakan, apakah tidak ada aturan di media? Ada aturan kode etik pers. Kode etikis ethic yang tidak punya gigi. Sekarang manusia semakin bebal, manusia itu sudah mengubah diri mereka menjadi orang yang simbolik halus dan lembut menjadi tembok. Nah untuk menyadarkan tembok, mengubah tembok diperlukan kampak untuk menghantam berkali-kali baru roboh.
Saya secarasarkastikmenggambarkannya dansatirik.Tatanan rohaniah kita secara perlahan telah kita ubah karena perubahan teknologi, perubahan budaya, perubahan sosial, perubahan sosial dalam tata nilai. Jadi perubahan
sosial itu tentu menyangkut perubahan tata nilai, perubahan dalam norma- norma, perubahan dalam sikap hidup, perubahan dalam institusi dalam kelembagaan, dan juga perubahan dalam pola-pola peri-kelakuan manusia.
Ada lima unsur semacam itu yang membantu kita memperjelas, membikin fokus, gamblang. Meskipun kita mau bicara seperti Mochtar Lubis: “Jalan tak ada ujung”, tapi tetap ada ujung, ketika mata kita tidak bisa melihat, ujungnya itu ada. Tidak mungkin tidak ada ujung, itu semuanya ada ujungnya, ada batas perspektif pandang mata kita. Nah ini semuanya dihancurkan.
Sekali lagi saya dukung tentang asumsi apakah ada perubahan nilai budaya.