WAWANCARA DENGAN BAPAK PROF. DR. K.H. ALI MUSTOFA YACOB, M.A., --- ULAMA, GURU BESAR UIN/IIQ JAKARTA, IMAM BESAR MASJID ISTIQLAL JAKARTA, RAIS SYURIAH PBNU BIDANG FATWA, WAKIL KETUA KOMISI FATWA MUI PUSAT.
--- HARI/TGL : JUM’AT/ 25 JUNI 2010
JAM : 13:00 – 14:00 WIB
TEMPAT : KANTOR IMAM BESAR MASJID ISTIQLAL, JAKARTA
---
P : Mohon dijelaskan mengenai fatwa haram acara Infotainment televisi sebagaimana dinyatakan oleh PBNU?
AMY : Sebetulnya yang penting itu televisi atau infotainment tidak memvisualkan hal hal yang diharamkan untuk dilihat, sudah selesai itu. Kalau itu sudah dilakukan ya sudah selesai, tidak masalah. Jadi yang diberitakan bukan hal-hal yg diharamkan. Contoh yang diharamkan itu yang memberitakan kejelekan orang, yang divisualkan bukan hal-hal yang diharamkan untuk dilihat. Aurat, diperlihatkan, itu haram. Selama tidak ada itu, insyaallah nggak ada masalah. Tadi itu kan contoh saja.
P : Menurut Prof. apakah benar disitu telah terjadi pergeseran nilai terutama nilai budaya. Kalau dulu kan semua tabu, tetapi sekarang kan malah jadi ajang promosi.
AMY : Jadi kalau menurut saya bukan pergeseran tapi digeserkan, dengan sengaja. Karena yang namanya rating itu adalah rekayasa, itu AC Nielsen ya sekarang AGB Nielsen. Ya itu memang dibobrokkan umat bangsa Indonesia. Setiap tayangan- tayangan yang bagus secara moral dan akhlak, itu tidak akan diberi rating tinggi, tetapi yang akan merusak moral, kekerasan, pornografi, diberi rating tinggi. Sementara para sponsor itu yang dikejar itu adalah bisnis, keuntungan, industri itu, maka dia akan menunggu. Begitu rating tinggi maka besok dia akan sponsori lagi.
Jadi sebenarnya secara tidak sadar kita ini telah dibobrokkan, dirusak dengan tayangan-tayangan itu. Jadi sekali lagi bukan pergeseran nilai, tetapi digeserkan oleh industri dan tayangan-tayangan tadi.
P : Jadi mereka merekonstruksi realitas yang ada di masyarakat itu dengan cara pandang mereka sendiri, menurut Prof. bagaimana?
AMY : Ya memang, mereka itu tujuannya kan tidak ada yang namanya, ini kalau bicara lebih jauh, maka Mazhab Kapitalis itu kan nggak ada berurusan dengan yang namanya moral, yang penting adalah bagaimana meraih keuntungan sebanyak- banyaknya. Ya hanya itu tujuannya, jadi apakah urusan moral dan kemanusiaan akan hancur, nggak ada urusan. Yang penting untung banyak, gitu aja.
P : Jadi yang digeserkan itu bukan hanya pelakonnya atau pelakunya saja, tetapi justru masyarakatnya ?
AMY : Nah iya, semuanya begitu, yang ngobong (membakar) kan mereka pembuat acaranya sendiri.
P : Kenyataan bahwa pengaduan-pengaduan ke KPI selama tahun 2009 tentang infotainment itu hanya sedikit. Bagaimana menurut pendapat Prof.?
AMY : Sekarang begini, saya tidak baca bukunya tetapi pernah dengar dari orang, katanya Hitler itu pernah mengatakan, kebohongan itu kalau diucapkan 1000 kali, orang akan percaya kalau itu bukan bohong. Ini contoh, di Indonesia ibu-ibu kalau mau belanja ke pasar, mau beli mentega dikasih merk-nya blue band. Dia protes nggak? Dia nggak akan protes kan? Padahal dia itu dibohongi, sebab blue band itu bukan mentega, tapi mentega tiruan. Yang namanya mentega itu bahannya dari lemak hewani, tapi yang namanya mentega tiruan itu terbuat dari lemak nabati, itu margarine.
Tapi dia kenapa nggak protes? Karena dia sudah diterangkan terus, bahwa blue band – mentega, blue band – mentega, sehingga kebohongan menjadi tidak bohong. Itu contoh seperti itu, makanya kejelekan itu kalau diberitakan terus atau ditayangkan terus lama-lama seperti bukan jelek lagi, menjadi sesuatu hal yang wajar.
Kalau masyarakat sendiri dia gak punya agama, maka dia gak punya patokan, barometernya itu apa, parameternya baik buruk itu mana?. Kalau masyarakat, dulu jaman tahun 50an, di kampung jangankan bergandengan tangan, berjalan bersama saja, sekampung bisa geger. Sekarang, kalau ada anak perempuan gak punya temen laki-laki atau anak laki-laki gak punya gandengan perempuan, dianggap itu anak impoten, nggak laku nggak normal. Itu bergeser kan. Mengapa bergeser? Itu karena masyarakat gak punya parameter mana yang benar dan mana yang tidak, yang punya hanya agama.
Nah ini, diakui atau tidak diakui, nilai-nilai agama itu tergerus, tergusur. Karena apa? karena gencarnya arus informasi tadi. Seperti tadi saya sampaikan, bohong itu kalau diucapkan 1000 kali orang jadi percaya. Kemudian, kejelekan kalau ditayangkan terus orang jadi menganggap itu bukan kejelekan, tapi hal yang wajar sesuai dengan perkembangan jaman. Tapi ini memang ada pelaku intelektualnya, jadi digeserkan, kalau bergeser itu kan alami, tapi kalau digeserkan tentunya ada motifnya.
P : Jadi industri media itu seperti sistem kapitalisme baru? AMY : Iya, ya itu kapitalisme.
P : Kemudian posisi etika dengan hukum, apa itu hukum formal atau hukum agama, bagaimana?
AMY : Ya akhirnya yang berlaku itu yang dominan ya hukum pasar akhirnya. Mana yang menguntungkan itu yang dipakai. Jadi kadang-kadang moral itu sudah dikesampingkan. Tapi tetap saja ini menjadi sesuatu yang terjadi di media. Yang tidak berbuat gila sama sekali itu juga ada, tetapi tetap saja yang berlaku hukum pasar. Yang menguntungkan itu yang laku, bukan mana yang baik.
Sekarang coba kita lihat, penceramah-penceramah agama, itu rata-rata yang kualitas ilmiahnya belepotan. Mengapa demikian? Sebab industri akan mencari mana yang dimaui pasar, yg bisa membangun popularitas, bukan mana yang kualitasnya, ilmiahnya bagus. Alasannya selalu apa? Wah anu pak, beliau itu sibuk sekali. Semuanya pasar, ya itu hukum kapitalis tadi.
P : Ya itu apakah secara sadar atau tidak sadar , baik masyarakatnya atau pemerintah terbawa arus. Lalu langkah apa yang harusnya dilakukan baik oleh pemerintah atau masyarakat itu sendiri Prof?
AMY : Ya mungkin yang pertama masyarakatnya dulu, kalau pemerintah itu adalah hasil daripada apa yang ada di masyarakat. Karena masyarakat ada lebih dulu baru ada pemerintah. Indonesia kan ada orang Indonesia dulu baru ada negara Indonesia kan? Bukan negara dulu baru ada rakyat.
Maka yang namanya pemerintah itu adalah sebuah cermin atau sebuah refleksi dari apa yang terjadi dalam masyarakat. Kalau masyarakatnya bagus pemerintah akan bagus, kalau masyarakatnya jelek pemerintahnya akan jelek. Tidak mungkin akan nada money politic kalau masyarakatnya memang bagus. Makanya masyarakat itu harus menyadari harus bagus dulu. Nah yang bimbing masyarakat itu siapa, ya para agamawan, rohaniawan, itu yang punya peran penting.
P : Kalau bicara tentang pendidikan, terutama pendidikan agama di Indonesia ini kan sepertinya terabaikan?
AMY : Bukan cuma pendidikan agama. Di Indonesia itu pendidikan yang ada itu adalah pendidikan formalisme, artinya yang dikejar formalitas intelektual, bukan kecerdasan intelektual secara formal, bukan kecerdasan spiritual, dan tidak menggabungkan dua-duanya. Makanya akhirnya yang lahir apa? Nah yang lahir ya intelektual-intelektual maling itu, sebab tidak dibarengi dengan spiritual. Waktu saya sekolah di SR atau SD, yang namanya budi pekerti itu pelajaran yang paling nomer 1000, dan tidak diuji, yang penting dapat nilai lima lulus. Padahal moral itu penting sekali, bobroknya negara itu gara-gara moral. Apa sebabnya kebobrokan- kebobrokan itu, semuanya ya karena moral. Contoh sedikit, dulu di Kampung Utan, Jalan Kertamukti, dulu ada selokan, parit itu milik agraria, aturannya tidak boleh ada bangunan di atasnya, tapi nyatanya oknum-oknum agraria dibayar 2-3 juta, orang-orang bisa membangun kios, warung-warung itu, akhirnya sampah yang ada dibawahnya nggak bisa dikeruk, maka akibatnya terjadilah banjir. Apa penyebab banjir? sebabnya karena moral. Rusaknya negara itu ya sebabnya moral. Nah terutama moral masyarakatnya juga.
Jadi, yang harus dibenahi itu pendidikan. Harus mengintegrasikan antara pendidikan atau kecerdasan intelektual dengan kecerdasan moral (spiritual). Keduanya harus menyatu. Kalau tidak akan lahir orang-orang pinter tapi dia jadi maling-maling terus itu. Seperti saat orde baru, yang dikejar hanya intelektual saja tapi moral terabaikan. Memang itulah konsep kapitalis itu seperti itu. Kalau kita mau perbaiki itu outputnya 30 tahun yang akan datang baru bisa dirasakan, itu kalau kita perbaiki sekarang. Kalau tidak? Akan lebih parah. 20 – 30 tahun lagi nggak tahu seperti apa jadinya kalau tidak ada perbaikan.
P : Jadi kalau kita lihat sebetulnya sekarang ini seperti kondisi simulacrum, sesuatu yg semu, kemajuan danpost moderntapi semu, bukan realitas yang sebenarnya? AMY : Ya memang seperti itu, bukan hanya sekedar semu, tapi kemajuan yang justru
menghancurkan kemanusiaan itu sendiri.
P : Kalau harapan Prof. terhadap acara infotainment?
AMY : Harusnya ada kontrol dan kontrol itu harus efektif betul. Saya tidak tahu sekarang apakah Undang-Undang itu efektif atau tidak. Kalau mungkin Undang-Undang itu dikeluarkan secara tepat, mungkin keadaan bisa lebih bagus daripada keadaan yang sekarang. Kontrol itu sendiri termasuk masyarakat yang nonton juga nggak ada yang nggubris kok.
Dulu MUI selalu memberikan masukan pada kepolisian,tapi polisi bilang : kami tidak bisa menindak karena tidak ada Undang-Undang tentang pornografi. Sekarang udah ada Undang-Undangnya, tapi dilaksanakan tidak? kembali lagi kepada moral manusianya. Baik aparatnya maupun masyarakatnya. Makanya pembangunan moral itu sangat sulit. Dulu Bung Karno mengatakan pembangunan moral itu mutlak untuk pembangunan bangsa,nation and character building. Tapi dianggap retorika saja. Kalau tidak, hancur bangsa ini. Ada sebuah syair dari sufie: bangsa akan bertahan selama dia masih punya moral, jika moral pergi maka bangsa akan hancur.
P : Jadi kalau kita lihat dalam acara itu banyak terjadi pelanggaran-pelanggaran, baik etika, budaya, logika, dsb.?
AMY : Ya, jadi ketika manusia misalnya, sudah tidak bisa dikontrol oleh alat-alat kontrol yang duniawi, polisi, aparat, maka satu-satunya kontrol yang paling efektif adalah dari Allah. Tapi kalau manusia sudah tidak bisa dikontrol oleh Allah, dia sudah merasa tidak dikontrol oleh Allah, ya sudah hancur. Sudah tidak ada artinya semua.
P : Kalau menurut Prof. bagaimana? Mereka kan dikendalikan oleh pasar, juga terutama para pelakonnya, para pesohornya, yang dikejar selain ekonomi kan popularitas.
AMY : Ya itulah karena mereka mazhabnya kapitalis, maka yang menjadi hukum adalah hukum pasar tadi. Menurut etika Islam, atau standar agama Islam, selama tidak melanggar hal-hal yang di haramkan ya boleh-boleh saja kita mencari untung. Tapi kalau sudah melabrak yang diharamkan ya nggak boleh.
P : Yang terkait dengan ghibah dan namimah (adu domba) itu bagaimana Prof? AMY : Tetap tidak boleh. Jadi ghibah, adu domba, pembunuhan karakter itu masalah-
masalah yang tidak boleh, itu dosanya berat sekali. Termasuk yang nonton akhirnya ikut menghakimi, padahal itu belum tentu benar, itu bisa rekayasa saja. Ya karena pasar itu tadi.
P : Baik Prof., sudah banyak yang saya peroleh dari Prof. Terima kasih saya ucapkan atas perhatian dan kesediaan Prof. membantu saya dalam penelitian ini.
---bw---
Catatan Peneliti:
~ Wawancara berlangsung cukup formal, bertempat di Ruang Kerja Imam Besar Masjid Istiqlal di lantai bawah Masjid Istiqlal.
~ Informan baru selesai mengimami Sholat Jumat di Masjid Istiqlal Jakarta;
~ Informan adalah Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta, Rais Syuriah PBNU Bidang Fatwa, Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI Pusat, Dosen IIQ/PTIQ Ciputat, Pengasuh Pondok Pesantren Pisangan, Ciputat.
~ Sebelum tiba giliran peneliti mewawancarai informan, telah ada satu orang tamu yang akan menghadap beliau. Ketika wawancara sedang berlangsung juga sudah ada
beberapa tamu yang akan menghadap atau mewawancara beliau, diantaranya wartawan dari Majalah Gatra.
~ Meskipun waktunya sangat terbatas karena kesibukan beliau, Informan sangat antusias membahas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar topik penelitian. ~ Informan juga sangat responsif membalas permintaan peneliti untuk wawancara
LAMPIRAN 9
WAWANCARA DENGAN BAPAK PROF. DR. K.H. ALI MUSTOFA YACOB, M.A., --- ULAMA, GURU BESAR UIN/IIQ JAKARTA, IMAM BESAR MASJID ISTIQLAL JAKARTA, RAIS SYURIAH PBNU BIDANG FATWA, WAKIL KETUA KOMISI FATWA MUI PUSAT.
--- HARI/TGL : JUM’AT/ 25 JUNI 2010
JAM : 13:00 – 14:00 WIB
TEMPAT : KANTOR IMAM BESAR MASJID ISTIQLAL, JAKARTA
---
P : Mohon dijelaskan mengenai fatwa haram acara Infotainment televisi sebagaimana dinyatakan oleh PBNU?
AMY : Sebetulnya yang penting itu televisi atau infotainment tidak memvisualkan hal hal yang diharamkan untuk dilihat, sudah selesai itu. Kalau itu sudah dilakukan ya sudah selesai, tidak masalah. Jadi yang diberitakan bukan hal-hal yg diharamkan. Contoh yang diharamkan itu yang memberitakan kejelekan orang, yang divisualkan bukan hal-hal yang diharamkan untuk dilihat. Aurat, diperlihatkan, itu haram. Selama tidak ada itu, insyaallah nggak ada masalah. Tadi itu kan contoh saja.
P : Menurut Prof. apakah benar disitu telah terjadi pergeseran nilai terutama nilai budaya. Kalau dulu kan semua tabu, tetapi sekarang kan malah jadi ajang promosi.
AMY : Jadi kalau menurut saya bukan pergeseran tapi digeserkan, dengan sengaja. Karena yang namanya rating itu adalah rekayasa, itu AC Nielsen ya sekarang AGB Nielsen. Ya itu memang dibobrokkan umat bangsa Indonesia. Setiap tayangan- tayangan yang bagus secara moral dan akhlak, itu tidak akan diberi rating tinggi, tetapi yang akan merusak moral, kekerasan, pornografi, diberi rating tinggi. Sementara para sponsor itu yang dikejar itu adalah bisnis, keuntungan, industri itu, maka dia akan menunggu. Begitu rating tinggi maka besok dia akan sponsori lagi. Jadi sebenarnya secara tidak sadar kita ini telah dibobrokkan, dirusak dengan
tayangan-tayangan itu. Jadi sekali lagi bukan pergeseran nilai, tetapi digeserkan oleh industri dan tayangan-tayangan tadi.
P : Jadi mereka merekonstruksi realitas yang ada di masyarakat itu dengan cara pandang mereka sendiri, menurut Prof. bagaimana?
AMY : Ya memang, mereka itu tujuannya kan tidak ada yang namanya, ini kalau bicara lebih jauh, maka Mazhab Kapitalis itu kan nggak ada berurusan dengan yang namanya moral, yang penting adalah bagaimana meraih keuntungan sebanyak- banyaknya. Ya hanya itu tujuannya, jadi apakah urusan moral dan kemanusiaan akan hancur, nggak ada urusan. Yang penting untung banyak, gitu aja.
P : Jadi yang digeserkan itu bukan hanya pelakonnya atau pelakunya saja, tetapi justru masyarakatnya ?
AMY : Nah iya, semuanya begitu, yang ngobong (membakar) kan mereka pembuat acaranya sendiri.
P : Kenyataan bahwa pengaduan-pengaduan ke KPI selama tahun 2009 tentang infotainment itu hanya sedikit. Bagaimana menurut pendapat Prof.?
AMY : Sekarang begini, saya tidak baca bukunya tetapi pernah dengar dari orang, katanya Hitler itu pernah mengatakan, kebohongan itu kalau diucapkan 1000 kali, orang akan percaya kalau itu bukan bohong. Ini contoh, di Indonesia ibu-ibu kalau mau belanja ke pasar, mau beli mentega dikasih merk-nya blue band. Dia protes nggak? Dia nggak akan protes kan? Padahal dia itu dibohongi, sebab blue band itu bukan mentega, tapi mentega tiruan. Yang namanya mentega itu bahannya dari lemak hewani, tapi yang namanya mentega tiruan itu terbuat dari lemak nabati, itu margarine.
Tapi dia kenapa nggak protes? Karena dia sudah diterangkan terus, bahwa blue band – mentega, blue band – mentega, sehingga kebohongan menjadi tidak bohong. Itu contoh seperti itu, makanya kejelekan itu kalau diberitakan terus atau ditayangkan terus lama-lama seperti bukan jelek lagi, menjadi sesuatu hal yang wajar.
Kalau masyarakat sendiri dia gak punya agama, maka dia gak punya patokan, barometernya itu apa, parameternya baik buruk itu mana?. Kalau masyarakat,
dulu jaman tahun 50an, di kampung jangankan bergandengan tangan, berjalan bersama saja, sekampung bisa geger. Sekarang, kalau ada anak perempuan gak punya temen laki-laki atau anak laki-laki gak punya gandengan perempuan, dianggap itu anak impoten, nggak laku nggak normal. Itu bergeser kan. Mengapa bergeser? Itu karena masyarakat gak punya parameter mana yang benar dan mana yang tidak, yang punya hanya agama.
Nah ini, diakui atau tidak diakui, nilai-nilai agama itu tergerus, tergusur. Karena apa? karena gencarnya arus informasi tadi. Seperti tadi saya sampaikan, bohong itu kalau diucapkan 1000 kali orang jadi percaya. Kemudian, kejelekan kalau ditayangkan terus orang jadi menganggap itu bukan kejelekan, tapi hal yang wajar sesuai dengan perkembangan jaman. Tapi ini memang ada pelaku intelektualnya, jadi digeserkan, kalau bergeser itu kan alami, tapi kalau digeserkan tentunya ada motifnya.
P : Jadi industri media itu seperti sistem kapitalisme baru? AMY : Iya, ya itu kapitalisme.
P : Kemudian posisi etika dengan hukum, apa itu hukum formal atau hukum agama, bagaimana?
AMY : Ya akhirnya yang berlaku itu yang dominan ya hukum pasar akhirnya. Mana yang menguntungkan itu yang dipakai. Jadi kadang-kadang moral itu sudah dikesampingkan. Tapi tetap saja ini menjadi sesuatu yang terjadi di media. Yang tidak berbuat gila sama sekali itu juga ada, tetapi tetap saja yang berlaku hukum pasar. Yang menguntungkan itu yang laku, bukan mana yang baik.
Sekarang coba kita lihat, penceramah-penceramah agama, itu rata-rata yang kualitas ilmiahnya belepotan. Mengapa demikian? Sebab industri akan mencari mana yang dimaui pasar, yg bisa membangun popularitas, bukan mana yang kualitasnya, ilmiahnya bagus. Alasannya selalu apa? Wah anu pak, beliau itu sibuk sekali. Semuanya pasar, ya itu hukum kapitalis tadi.
P : Ya itu apakah secara sadar atau tidak sadar , baik masyarakatnya atau pemerintah terbawa arus. Lalu langkah apa yang harusnya dilakukan baik oleh pemerintah atau masyarakat itu sendiri Prof?
AMY : Ya mungkin yang pertama masyarakatnya dulu, kalau pemerintah itu adalah hasil daripada apa yang ada di masyarakat. Karena masyarakat ada lebih dulu baru ada pemerintah. Indonesia kan ada orang Indonesia dulu baru ada negara Indonesia kan? Bukan negara dulu baru ada rakyat.
Maka yang namanya pemerintah itu adalah sebuah cermin atau sebuah refleksi dari apa yang terjadi dalam masyarakat. Kalau masyarakatnya bagus pemerintah akan bagus, kalau masyarakatnya jelek pemerintahnya akan jelek. Tidak mungkin akan nada money politic kalau masyarakatnya memang bagus. Makanya masyarakat itu harus menyadari harus bagus dulu. Nah yang bimbing masyarakat itu siapa, ya para agamawan, rohaniawan, itu yang punya peran penting.
P : Kalau bicara tentang pendidikan, terutama pendidikan agama di Indonesia ini kan sepertinya terabaikan?
AMY : Bukan cuma pendidikan agama. Di Indonesia itu pendidikan yang ada itu adalah pendidikan formalisme, artinya yang dikejar formalitas intelektual, bukan kecerdasan intelektual secara formal, bukan kecerdasan spiritual, dan tidak menggabungkan dua-duanya. Makanya akhirnya yang lahir apa? Nah yang lahir ya intelektual-intelektual maling itu, sebab tidak dibarengi dengan spiritual. Waktu saya sekolah di SR atau SD, yang namanya budi pekerti itu pelajaran yang paling nomer 1000, dan tidak diuji, yang penting dapat nilai lima lulus. Padahal moral itu penting sekali, bobroknya negara itu gara-gara moral. Apa sebabnya kebobrokan- kebobrokan itu, semuanya ya karena moral. Contoh sedikit, dulu di Kampung Utan, Jalan Kertamukti, dulu ada selokan, parit itu milik agraria, aturannya tidak boleh ada bangunan di atasnya, tapi nyatanya oknum-oknum agraria dibayar 2-3 juta, orang-orang bisa membangun kios, warung-warung itu, akhirnya sampah yang ada dibawahnya nggak bisa dikeruk, maka akibatnya terjadilah banjir. Apa penyebab banjir? sebabnya karena moral. Rusaknya negara itu ya sebabnya moral. Nah terutama moral masyarakatnya juga.
Jadi, yang harus dibenahi itu pendidikan. Harus mengintegrasikan antara pendidikan atau kecerdasan intelektual dengan kecerdasan moral (spiritual). Keduanya harus menyatu. Kalau tidak akan lahir orang-orang pinter tapi dia jadi maling-maling terus itu. Seperti saat orde baru, yang dikejar hanya intelektual saja tapi moral terabaikan. Memang itulah konsep kapitalis itu seperti itu. Kalau kita
mau perbaiki itu outputnya 30 tahun yang akan datang baru bisa dirasakan, itu kalau kita perbaiki sekarang. Kalau tidak? Akan lebih parah. 20 – 30 tahun lagi nggak tahu seperti apa jadinya kalau tidak ada perbaikan.
P : Jadi kalau kita lihat sebetulnya sekarang ini seperti kondisi simulacrum, sesuatu yg semu, kemajuan danpost moderntapi semu, bukan realitas yang sebenarnya? AMY : Ya memang seperti itu, bukan hanya sekedar semu, tapi kemajuan yang justru
menghancurkan kemanusiaan itu sendiri.
P : Kalau harapan Prof. terhadap acara infotainment?
AMY : Harusnya ada kontrol dan kontrol itu harus efektif betul. Saya tidak tahu sekarang apakah Undang-Undang itu efektif atau tidak. Kalau mungkin Undang-Undang itu dikeluarkan secara tepat, mungkin keadaan bisa lebih bagus daripada keadaan yang sekarang. Kontrol itu sendiri termasuk masyarakat yang nonton juga nggak ada