JAKARTA/GURU BESAR TETAP UIN JAKARTA/KETUA KOMISI PENGKAJIAN & PENGEMBANGAN MUI PUSAT
---
HARI : SABTU
TGL : 03 JULI 2010 JAM : 09:00 – 10:00 WIB
TEMPAT : KANTOR DIREKTUR PROGRAM PASCA-SARJANA IIQ JAKARTA, JL. CIPUTAT RAYA, TANGGERANG SELATAN
---
P : Menurut Prof. apakah benar bahwa acara infotainment di televisi itu telah menyebabkan terjadinya pergeseran nilai budaya dan juga etika komunikasi di masyarakat ataupun pada para pelakonnya ? Bagaimana pendapat Prof. dari sudut pandang agama?
PROF. HTY : Ya bisa saja sih terjadi pergeseran nilai itu, karena aturannya kan aib orang itu harusnya disembunyikan, tapi ini kan malah diungkapkan, orang tadinya nggak tahu malah jadi tahu semua. Kalau yang baik-baik kan bagus, bisa menjadi pelajaran juga bagi penonton, orang bisa tiru. Tapi kalau yang jelek ngapain? Kan nggak boleh ditiru. Jadi misalnya menyebut aib orang, apalagi orangnya nggak ada, biar ada orangnya juga kan nggak boleh ditebarkan kemana-mana.
Dalam hadits juga disebutkan: “Barangsiapa menutup keaiban atau malu orang lain, maka Allah akan menutupi juga aib orang itu di dunia dan akhirat”. Jadi yang seperti itu namanyaghibah, atau menyebutkan keaiban orang, itu tidak boleh. “Menyebut keaiban orang lain dimana kalau dia
dengar itu dia nggak senang”. Kok malah diungkapkan ke ruang publik, kan bikin orang jadi malu.
Tapi kenapa menyebabkan seperti itu, perlu penelitian sosial yang mendalam mengenai perilaku mereka itu. Kalau dari segi hukumnya itu perlu dikaji. Tapi mereka membuat tayangan seperti itu mungkin karena biar laku, karena dianggap tayangannya menarik. Tapi kan itu bagi orang yang senang saja, sedang bagi yang tidak senang kan tidak mau itu tayangan buka-buka terus aib-aib orang.
Dari sudut pandang moral dan etika juga nggak bagus, apalagi dari segi agama. Secara moralitas itu kan nggak bagus, tidak mendidik.
P : Kalau dari sisi masyarakat kita Prof, apakah karena masyarakat sudah jenuh sehingga sepertinya dapat menerima saja atau bahkan cenderung senang menontonnya?
PROF.HYT : Ya mungkin saja, tapi kan karena disajikan terus di TV, dan mereka saling bersaing, ya masyarakat kan tinggal nonton saja, perhatian orang ke TV swasta sangat luar biasa.
Sebenarnya kita kan punya budaya malu, tapi kok seperti sudah tidak ada lagi rasa malu itu. Kalau kita perhatikan sebenarnya budaya kita ini kan berlandaskan ajaran agama, dimana kalau menurut ajaran agama menggunjingkan aib orang itu tidak boleh. Baik Al Qur’an maupun hadits menyatakan: Jangan kamu menggunjing aib orang, Kan dilarang itu, dalam Surat Al Hujuraat (ayat 12), juga dalam hadits.
Kalau mempromosikan yang baik-baik kan bagus, tapi kalau yang jelek- jeleknya kan malu orang karenanya.
P : Jadi kalau menurut Prof, tanda-tanda apakah terjadinya pergeseran nilai seperti itu?
PROF.HYT : Saya rasa karena era keterbukaan seperti sekarang ini maka orang tak peduli lagi apakah terhadap pimpinan atau atasan. Sekarang ini orang tak peduli, biar pimpinan dilabrak juga melalui tayangan atau pemberitaan di media. Jadi, ehm.. baik etika, moral, semua terpengaruh. Anak-anak juga terpengaruh oleh perilaku orang ataupun perilaku media. Penghargaan antara murid dengan guru, antara yang muda dengan yang tua, sudah tidak jelas lagi.
Padahal budaya kita kan saling menghormati, antara yang muda dan yang tua. Saya kira semua agama juga mengajarkan hal yang sama kan, saling menghormati, yang tua menyayangi yang muda, yang muda menghormati yang tua, kayaknya kok sudah hilang ya. Tata krama sudah diabaikan.
P : Apakah pengaruh kemajuan teknologi ?
PROF.HYT : Iya memang karena pengaruh kemajuan teknologi dan globalisasi. Tapi kan tidak selamanya jelek, kan banyak juga hal-hal baiknya, seperti informasi- informasi yang pantas, jadi mestinya disaring.
Setidaknya para pelaku bisnisnya ikut memikirkan bagaimana dampaknya nanti. Bagi generasi muda atau generasi selanjutnya tentu akan berpengaruh dampak negatifnya, moralitasnya menurun, tidak lagi menghormati orang yang lebih tua, atau bahkan orang tuanya sendiri, terhadap orang tuanya menentang kalau dianggap nggak sesuai dengan keinginannya.
P : Apakah seperti tayangan infotainment itu cerminan dari kondisi masyarakat kita saat ini ?
PROF.HYT : Ya bisa saja, karena itu pengaruh dari kebebasan tadi. Kalau pada masa orde baru kan masih ada matas-batasnya, ada rambu-rambunya. Walaupun orang bilang bahwa banyak kekurangannya, kan memang nggak ada yang sempurna kan? Tapi kan tentunya banyak baiknya, walaupun ada
kekurangannya. Tapi setelah reformasi, sepertinya nggak ada lagi batas- batasnya.
Sedangkan kemajuan yang sekarang ini ada positif dan ada negatifnya. Keterbukaan itu bagus, tapi kan tidak harus semuanya itu dibuka, apalagi ke ruang publik.
P : Memang kan kemajuan itu bisa ditinjau dari segi moral dan material. Menurut Prof, cukup berimbang nggak?
PROF.HYT : Kalau soal itu relatif ya, tapi yang jelas banyak segi negatifnya. Seperti infotainment juga kan harusnya disaring juga, artinya berita-berita atau peristiwa-peristiwa yang tidak mendidik ya jangan ditayangkan, tapi kalau bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat luas, bisa diteladani ya baik untuk ditayangkan.
Orang tentunya akan terkesan dan ingin meniru yang baik-baik tadi, tapi kalau hal-hal yang jelek apalagi yang menyakiti hati orang, ya orang juga seharusnya tidak menirunya. Tapi kan, kita nggak tahu juga akhlak anak- anak sekarang karena pengaruh teknologi modern ya.
Sebetulnya banyak hal-hal yang baik yang dapat membawa dampak positif yang bisa di informasikan kepada khalayak, misalnya tentang tokoh-tokoh masyarakat, atau mahasiswa, yang di ceritakan tentang sejarahnya atau perjuangannya sehingga dapat memotivasi warga masyarakat.
Tapi ini memang menceritakan tentang seseorang, tapi yang diberitakan tentang aib-aibnya, tentang hal-hal negatifnya, tentang percekcokan suami isteri yang awalnya cuma sedikit saja cekcoknya, tapi kemudian diungkap- ungkap sehingga menjadi berita besar. Orang cekcok ditanya-tanya, didorong-dorong, katanya mau cerai ya?
Kok malah seperti itu yang dicari, kok malah digiring orang itu untuk melakukan seperti apa yang dikehendaki media. Ada juga pertanyaan:
katanya mau ke pengadilan? Apakah jadi mau cerai? Nah akhirnya masing- masing pihak kan jaga gengsi kan? Pihak yang satu menyatakan begini, pihak yang satunya lagi menyatakan begitu. Mestinya orang berusaha untuk memperbaiki hubungan yang mungkin akan retak, tapi ini malah disyuting hal-hal yang menggiring untuk jadi bercerai. Nah itu yang nggak bagus. Kok malah kejelekan-kejelekan keluarga, anaknya, bapaknya, ibunya, mertuanya, semuanya ikut diangkat ke layar TV. Malah diadu domba antara mereka itu. Nah karena sudah diketahui oleh banyak orang melalui TV maka masing-masing kan jaga gengsinya kan? Tapi kalau masih diam-diam saja tanpa dipublikasikan, maka mungkin masih bisa diperbaiki kan?
P : Bagaimana kalau dari sudut budaya kita yang sering dikatakan sebagai budaya luhur warisan nenek moyang? Sekalian juga dari segi pendidikan?
PROF.HYT : Baik menurut agama maupun budaya itu sudah tidak sesuai. Masalahnya sekarang ini orangtua sibuk sendiri-sendiri, sehingga siapa yang akan jaga anak-anaknya atau mengawasi mereka dalam menonton televisi? Siapa bisa mendampingi anak-anak menonton acara TV yang semakin bebas itu? Selain itu sekarang ini anak-anak kecilpun sudah memegang HP atau memakai komputer. Selain pengaruh positif, tentunya banyak juga pengaruh negatifnya, terutama dari konten internet.
Seperti televisi, seharusnya menampilkan acara-acara yang mengandung unsur pendidikan yang baik, apalagi ajaran moral dan akhlak yang di Indonesia ini identik dengan ajaran agama, semua agama. Dari segi tertentu kita beda-beda, tetapi dari segi moral tentunya sama. Kecuali mungkin dari KPI, bagaimana cara mengaturnya. Nah meskipun ada aturan-aturan atau pedoman siaran yang telah dibuat, masalahnya jalan atau tidak?. Sanksi- sanksi diterapkan tidak? Tentunya perlu lebih ditingkatkan lagi peran-peran KPI dan organisasi sejenis lainnya.
Kalau ada pelanggaran-pelanggaran oleh stasiun TV ya harus ditegur, semuanya saja, tidak pandang siapa pemiliknya. Apalagi bagi yang menyebarkan gambar-gambar video mesum, harusnya dituntut atau
mendapatkan hukuman yang setimpal. Kenapa? Karena sekarang ini anak- anakpun sudah bisa melihat itu dari HPnya atau warnet. 17:13 Itu semua perlu dibenahi. Tidak hanya satu pihak, tetapi semuanya. Sistemnya, kerjasama yang baik antara semua pihak yang terkait.
P : Jadi kalau menurut Prof. apa betul ada pergeseran nilai budaya itu ?
PROF.HYT : Ya, ada itu. Kalau dulu tiap orang masih punya malu, tapi sekarang ini kayaknya nggak ada lagi itu rasa malu. Orang dulu kalau dibilang itu orang pacaran. Malu rasanya dikata begitu. Sekarang? Lihat saja, sengaja pegangan, jalan sama-sama, bahkan dia sendiri yang bicara, ngomong sama orang, ungkap melalui media. Jadi seperti itu. Itu saja sudah kelihatan, belum lagi pergaulannya.
P : Jadi pergeserannya itu pada standar norma? Seperti norma sosial, norma agama?
PROF. HYT : Ya betul. Sekarang sudah ditinggalkan semua. Entah apa penyebabnya jadi demikian. Yang pertama, mungkin karena pengaruh globalisasi. Kemudian, karena pengaruh sekarang sudah bebas mimbar. Kadang-kadang belum jelas apakah seseorang itu benar atau salah, sudah dimuat di TV, koran, dan semua media.
Dalam ajaran Islam kan tidak boleh yang namanya ghibah, yang artinya menyebut keaiban orang lain. Bagaimana kalau dia mendengarkan disebut begitu, dan dia marah, sudah jelas itu disebutkan dalam Al Qur’an bahwa dilarang kita itu untuk saling menggunjing. Dikatakan, kalau kita menggunjing saudara kita yang lain itu, itu sama dengan memakan dagingnya.
Bahkan ketika di zaman Rasulullah, karena Rasulullah memang beliau itu ada mukjizat-mukjizatnya, pernah ada seorang perempuan datang kepada Nabi SAW, seperti dalam Kitab Illyaumuddin, mengatakan: Wahai Rasul apakah boleh kami buka puasa? Karena sudah nggak tahan nih. Sakit perut
katanya, nggak akan kuat sampai sore. Sebagai seorang Nabi Rasullullah mendapatkan ilham, kemudian beliau suruh orang perempuan itu untuk muntah, dan keluarlah itu darah dengan daging merah. Kamu walaupun belum buka puasa, sebenarnya kamu telah memakan daging saudaramu. Karena kalian tadi menggunjing berdua tentang keaiban orang lain.
Nah sekarang bagaimana dengan kita? Karena kita ini bukan Nabi bukan apa, jadi harus kembali ke iman kita. Meskipun tidak kelihatan buktinya seperti zaman Nabi, tapi ayat Al Qur’an kan jelas menyatakan, maukah kalian makan daging bangkai saudaramu?
Nah selain itu juga namimah, atau adu domba. Apa yang kita lihat dalam infotainment itu ada adu dombanya. Dengan alasan-alasan kan, kesana enggak kesini enggak, mungkin benar mungkin tidak. Itulah yang menjadikan adu domba atau namimah tadi. Menjebak orang untuk mengatakan iya, padahal sebenarnya tidak. Ada kalanya yang belum jelas buktinya kan sudah di ungkapkan. Orang sebenarnya tidak boleh berbohong. Dalam Al Qur’an-pun dikatakan: Kalau ada datang kepada kamu orang menyampaikan berita-berita yang tidak baik misalnya, atau tidak jelas, jangan langsung di vonis, tapi klarifikasi dulu kebenarannya. Karena itu kan jadi fitnah. Fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan.
Jadi dalam infotainment itu pertama ada ghibah, kedua ada namimah. Dan itu adalah tanda-tanda munafik, ada kebohongan ke publik.
Tanda-tanda munafik itu ada tiga. Pertama, adalah berbohong. Yang kedua, tidak menyampaikan amanah. Dan ketiga, kalau berjanji dia mungkir janjinya. Misalnya orang berhutang, jika datang orang mau menagih, dibilang besok, datang besoknya, maka dia keluar entah kemana. Itu kan mungkir janji. Lebih berat lagi janji seorang pejabat. Pejabat itu kan disumpah, tetapi banyak yang mungkir tehadap janjinya. Bilang hanya untuk kepentingan negara, ternyata untuk kepentingan pribadi. Berarti kan munafik juga.
Dalam Al Qur’an juga dikatakan, bahwa orang munafik itu tempatnya paling bawah dari api neraka. Awalnya dari acara infotainment, tapi
sekarang semua acara sepetti talkshow, reality show, dan sebagainya itu sampa kepada politik. Sehingga walaupun salah tapi dibela. Nah itu kan namimah itu. Membela yang salah. Dan itu disiarkan kemana-mana.
P : Jadi pantas kalau kita mengkhawatirkan terhadap generasi penerus bangsa, akan jadi apa nantinya?
PROF. HYT : Ya itu yang harusnya dihindari, tapi cara menghindarkannya bagaimana? Artinya harus ada kerjasama dari semua pihak yang terkait. Seperti MUI mengeluarkan fatwa tentang infotainment. Nyatanya meskipun fatwa itu tidak mengikat (secara hukum), tapi kan ada perubahan dalam penayangan infotainment sesudah itu kan? Sementara orang juga sudah bosan dengan acara yang penuh gosip dan membicarakan keaiban orang lain.
Selain itu ada juga politiisasinya, sementara orang sedang membahas kasus Century, atau Markus misalnya, terus muncullah itu dalam infotainment. Sehingga sepertinya mengalihkan perhatian.
P : Jadi seperti dikendalikan oleh yang punya modal dan juga politisi, atau oleh markus?
PROF.HYT : Ya bisa saja mungkin di kasih uang untuk buat acara atau berita seperti itu, baik di televisi atau di media cetak. Walaupun sebenarnya tidak semua orang senang dengan berita-berita gosip, tapi karena orang tidak pro aktif mengkritisinya, maka seolah-olah orang senag menontonnya. Yang dilakukan cuma ngomel-ngomel aja, bahwa itu adalah suatu kemunkaran yang dilakukan dari pagi-pagi sekali sampai larut malam.
Jadi masyarakat tidak senang tetapi tidak melakukan tindakan apa komplain dsb. Yang nyata bertindak itu ya FPI, tapi kan sering anarkis jadinya. Saya ernah tanya sama FPI kenapa kalian itu akhirnya merusak dsb, kenapa nggak dilapor saja ke polisi? Kata mereka, sudah dilaporkan berkali-ali, tapi nggalk nada tindakan. Jadi ya lebih baik kita turun langsung saja.
Jadi instansi yang terkait atau yang punya kewenanganlah seharusnya yang mengambil tindakan. Tapi kenyataannya kan banyak didiamkan saja. Nah, kalau nantinya sudah sampai puncaknya dan terungkap di media, baru bersuara baru semuanya ribut, tapi sudah terlambat, dan akhirnya saling menyalahkan. Sementara akibatnya sudah mulai dirasakan oleh masyarakat luas.
P : Baik Prof, saya sudah bicara-bicara dengan para pembuat acar infotainment, pafda awalnya memang masih menjunjung kode etik jurnalistik dan mentaati peraturan-peraturan, namun dalam perjalanannya karena ketatnya persaingan, maka terjadilah pelanggaran-pelanggaran terhadap kode etik jurnalistik dan aturan-aturan yang ada. Namun biasanya acara infotainment yang tidak memperhatikan kode etik itu tidak bertahan lama, tapi pengaruhnya terhadap penonton sudah ada.
PROF.HYT : Memang seperti di media cetak itu kan informasi diberitakan sepotong- sepotong, sehingga bisa merubah persepsi orang. Satu dua patah kata atau kalimat yang hilang itu bisa merubah makna. “It is a communication business”.
P : Baik Prof. terima kasih atas kesediaan untuk wawancara ini. Wass.WW.
---bw---- CATATAN PENELITI:
~ Wawancara berlangsung cukup formal, bertempat di Ruang Kerja Direktur Program Pascasarjana IIQ;
~ Informan adalah Direktur Program Pascasarjana Institut Ilmu Al Qur’an, Ciputat - Jakarta, ; Guru Besar UIN Syarief Hidayatullah Jakarta; Ketua Komisi Bidang Pengkajian dan Pengembangan MUI Pusat;
~ Meskipun waktunya sangat terbatas karena kesibukan beliau, Informan sangat antusias membahas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan seputar topik penelitian. ~ Informan juga sangat responsif atas permintaan peneliti untuk wawancara
LAMPIRAN 12
WAWANCARA PENULIS DENGAN BAPAK SLAMET RAHARDJO DJAROT --- SENIMAN, BUDAYAWAN, AKTOR, MANTAN KETUA BP2N, DOSEN IKJ, PRAKTISI DAN PEMERHATI MEDIA, PEMBAWA ACARA (HOST) ACARA MINGGU MALAM BERSAMA SLAMET RAHARDJO DI TVRI, NARASUMBER TALKSHOW, PIMPINAN TEATER POPULER JAKARTA.
--- 1. HARI/TGL. : KAMIS, 24 JUNI 2010
JAM : 17:00 – 18:30 WIB
TEMPAT : STUDIO 5 TVRI JL. GERBANG PEMUDA SENAYAN JAKARTA PUSAT
2. HARI/TGL. : SELASA, 29 JUNI 2010 JAM : 12:00 – 14:00 WIB
TEMPAT : TEATER POPULER, JL. KEBON PALA 1 - TANAH ABANG JAKARTA PUSAT.
---
P : Sebelumnya saya ucapkan terima kasih pak Slamet, atas kesediaannya melayani wawancara ini. Penelitian ini terkait dengan pergeseran nilai budaya dan etika komunikasi yang ada dalam acara infotainment televisi. Nah, seorang seniman, budayawan, praktisi media, juga sebagai pengamat media, apa pendapat pak Slamet mengenai hal yang terkait dengan pergeseran nilai budaya dan etika komunikasi yang dilakukan oleh para pelaku bisnis infotainment baik artisnya, pekerjanya, dsb. .
SRD : Baik, pertama kali pasti saya akan memberikan semacam penegasan tentang arti artis. Sebab artis itu adalah seniman, seniman itu kreator, dia memiliki misi-misi bahwa seni itu liar, seni itu bebas, bahwa seniman itu hanya dibatasi oleh misinya sendiri. Misi seniman adalah memuliakan kemanusiaan. Nah itu agar dijadikan titik tolak di dalam pengertian artis.