ANALISIS KOMPARASI MUATAN RADIKALISME, TOLERANSI DAN DEMOKRASI DALAM BUKU TEKS PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI) SMA
A. Analisis Komparasi Muatan Radikalisme, Toleransi Dan Demokrasi Dalam Buku Teks Pendidikan Agama Islam SMA Terbitan Kementerian Pendidikan Dan
3. Buku Teks Pendidikan Agama Islam Terbitan Yudistira Tabel 4.3
Komparasi teks-teks bermuatan radikalisme dalam buku teks PAI SMA kelas X, XI dan XII terbitan Yudistira:
Radikalisme Toleransi dan Demokrasi
“Dalam kehidupan beragama, tasawuf yang sudah muncul pada zaman kejayaan Islam mulai mengambil bentuk tarikat yang telah pula melahirkan bentuk-bentuk praktis mistik yang aneh-aneh dan menyimpang dari Al-Qur-an dan Hadits. (Kelas XI)
“……… …penekanan demokrasi dalam ajaran Islam adalah musyawarah dalam mengambil keputusan atas suatu masalah (persoalan). Pada saat pelaksanaan musyawarah, pasti akan
muncul berbagai
pendapat………perbeda an pendapat yang tajam dan sulit dipecahkan, hendaknya tidak dilanjutkan dengan berselisih
pendapat yang akan menimbulkan perpecahan………”
“Orang musyrik adalah najis dan haram masuk masjidil haram.” (Kelas XI)
“……….Diskriminasi merupakan perbuatan tercela yang harus dihapuskan……….. “ (Kelas XI)
Menyebut nama Nabi, Syekh atau Malaikat sebagai perantara dalam doa juga dikatakan sebagai syirik. (Kelas XI)
“Allah tidak pernah memerintahkan manusia untuk saling bermusuhan, saling
membunuh……… Allah memerintahkan manusia
untuk……….., dan
berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama makhluk, khususnya kepada manusia tanpa membedakan jenis kelamin, agama, suku,……….” (Kelas XI)
………Pendapat ulama tidak merupakan sumber. (Kelas XI)
“Menjauhi perbuatan yang dilarang Allah seperti berikut ini:
a. Dengki………. b. Berselisih……… c. Membenci………. d. Bermusuhan……….. e………… f………… g………….. h………….
i. Memaki Tuhan orang lain…………”(Kelas XI)
Menurut Al-Afgani, Umat Islam harus menyatukan barisan dan kekuatannya dalam Satu bentuk Pan-Islamisme. Hal ini menjadi snagat penting untuk menbentengi diri umat Islam dari dominasi penjajahan Barat. Konsep Nasionalisme, yang membuat umat Islam terpecah-pecah dan terkotak-kotak dalam sekian banyak
nation-state,……….
“Ajaran Islam tidak pernah memerintahkan umat manusia untuk saling bermusuhan, membenci terhadap orang yang berbeda pendapat, bahkan manusia diwajibkan untuk menghargai dan melindungi orang-orang yang memohon perlindungan meskipun mereke bukan beeragama Islam………” (Kelas XII) “1. Tidak suka menganggap diri
paling benar dan berusaha bersikap terbuka terhadap keberadaan agama atau keyakinan lain di luar dirinya.
2. Tidak membeda-bedakan orang lain dan bersikap adil meskipun terhadap keluarga dan diri sendiri.
3. Tidak memaksakan kehendak, kepercayaan, atau keyakinan terhadap orang lain apalagi dengan jalan kekerasan.
4. Tidak menjelek-jelekkan Tuhan dan agama lain karena hal tersebut justru akan menimbulkan kebencian dan rasa antipasti terhadap Islam.
5. Menunjukkan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam dengan tidak mengintimidasi kelompok yang minoritas atau beragama lain.” (Kelas XII)
“Ada pepatah mengatakan, “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Memang betul pepatah ini, tidak sedikit negara di belahan bumi yang seharusnya makmur dan dami, tetapi kini sedang diancam krisis kekerasan, perpecahan, atau perang antarkepentingan dan hawa nafsu. Ketidakdilan dan ketidakrukunan telah membuat sulit terjalinnya persatuan negeri tersebut…………..” (Kelas XII)
“Perbedaan paham atau aliran di kalangan umat Islam dunia ternyata sangat banyak. Apabila hal itu diwarnai oleh toleransi, maka yang terjadi adalah kemajuan dan kehidupan yang damai. Akan tetapi, apabila perbedaan itu dipertentangkan atau diperselisihkan, maka yang terjadi adalah kemunduran.” (Kelas XII)
Dari tabel di atas, maka dapat disimpulkan bahwa teks bermuatan radikalisme paling banyak ditemukan dalam buku kelas XI sedangkan muatan toleransi dan demokrasi paling banyak ditemukan pada buku teks kelas XII. Adapun nilai-nilai radikalisme dalam buku PAI SMA terbitan Yudistira yaitu:
1. Suka menyalahkan praktek ibadah kelompok yang berbeda. Hal tersebut terlihat dari pernyataan berikut ini:
“Dalam kehidupan beragama, tasawuf yang sudah muncul pada zaman kejayaan Islam mulai mengambil bentuk tarikat yang telah pula melahirkan bentuk-bentuk praktis mistik yang aneh-aneh dan menyimpang dari Al-Qur-an dan Hadits.” (kelas XI)
2. Memiliki stigma negatif terhadap pemeluk agama lain. Hal tersebut terlihat dari pernyataan berikut ini:
Orang musyrik adalah najis dan haram masuk masjidil haram. (kelas XI)
Secara eksplisit pernyataan di atas, mengandung stigma negatif kepada orang musyrik. Konsep musyrik yang masih dalam perdebatan melahirkan stigma negatif kepada non Islam termasuk umat Islam yang berbeda aliran ataupun mazhab.
3. Mengusung ajaran Wahabi. Hal tersebut dapat dilihat dari pernyatakaan berikut ini:
Menyebut nama Nabi, Syekh atau Malaikat sebagai perantara dalam doa juga dikatakan sebagai syirik. (Kelas XI)
4. Menolak fatwa ulama sebagai sumber hukum Islam. Hal tersebut tercermin dari pernyataan berikut ini:
………Pendapat ulama tidak merupakan sumber. (Kelas XI) 5. Stigma negatif pada barat dan menolak nasionalisme. hal tersebut tercermin dari
pernyataan berikut ini:
Menurut Al-Afgani, Umat Islam harus menyatukan barisan dan kekuatannya dalam Satu bentuk Pan-Islamisme. Hal ini menjadi snagat penting untuk menbentengi diri umat Islam dari dominasi penjajahan Barat. Konsep Nasionalisme, yang membuat umat Islam terpecah-pecah dan terkotak-kotak dalam sekian banyak nation-state,………. (Kelas XII)
Sementara itu, nilai-nilai toleransi dan demokrasi dalam buku teks PAI SMA yaitu:
1. Menekankan prinsip musyawarah mufakat. Hal tersebut tercermin dari pernyataan berikut ini:
“………penekanan demokrasi dalam ajaran Islam adalah musyawarah dalam mengambil keputusan atas suatu masalah (persoalan). Pada saat pelaksanaan musyawarah, pasti akan muncul berbagai pendapat………perbedaan pendapat yang tajam dan sulit dipecahkan, hendaknya tidak dilanjutkan dengan berselisih pendapat yang akan menimbulkan perpecahan………”
2. Melarang diskriminasi. Hal tersebut dapat dilihat pada pernyataan di bawah ini:
“……….Diskriminasi merupakan perbuatan tercela yang harus dihapuskan………..“(Kelas XI)
3. Larangan saling bermusuhan. Hal tersebut tercermin dari dua pernyataan berikut:
“Allah tidak pernah memerintahkan manusia untuk saling bermusuhan, saling membunuh………Allah memerintahkan manusia untuk……….., dan berlomba-lomba berbuat baik kepada sesama makhluk, khususnya kepada manusia tanpa membedakan jenis kelamin, agama, suku,……….” (Kelas XI)
“Ajaran Islam tidak pernah memerintahkan umat manusia untuk saling bermusuhan, membenci terhadap orang yang berbeda pendapat, bahkan manusia diwajibkan untuk menghargai dan melindungi orang-orang yang
memohon perlindungan meskipun mereke bukan beeragama Islam………“(kelas XII)
4. Melarang perbuatan dengki, permusuhan dan menghina Tuhan pemeluk agama lain. Hal tersebut tergambar dari teks berikut ini:
Menjauhi perbuatan yang dilarang Allah seperti berikut ini: “a. Dengki……….
b. Berselisih……… c. Membenci………. d. Bermusuhan………..
i. Memaki Tuhan orang lain…………” (Kelas XI)
5. Tidak menganggap diri paling benar, tidak berlaku diskriminatif, tidak egois, tidak menjelek-jelekkan tuhan dan agama lain. Hal tersebut tergambar dari pernyataan berikut ini:
1. Tidak suka menganggap diri paling benar dan berusaha bersikap terbuka terhadap keberadaan agama atau keyakinan lain di luar dirinya.
2. Tidak membeda-bedakan orang lain dan bersikap adil meskipun terhadap keluarga dan diri sendiri.
3. Tidak memaksakan kehendak, kepercayaan, atau keyakinan terhadap orang lain apalagi dengan jalan kekerasan.
4. Tidak menjelek-jelekkan Tuhan dan agama lain karena hal tersebut justru akan menimbulkan kebencian dan rasa antipasti terhadap Islam.
5. Menunjukkan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam dengan tidak mengintimidasi kelompok yang minoritas atau beragama lain. (Kelas XII) 6. Mengutamakan persatuan. Hal tersebut secara ekpslisit terlihat dari pernyataan
berikut ini:
“Ada pepatah mengatakan, “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh.” Memang betul pepatah ini, tidak sedikit negara di belahan bumi yang seharusnya makmur dan dami, tetapi kini sedang diancam krisis kekerasan, perpecahan, atau perang antarkepentingan dan hawa nafsu. Ketidakdilan dan ketidakrukunan telah membuat sulit terjalinnya persatuan negeri tersebut…………..” (Kelas XII)
7. Menerima perbedaan. Hal tersebut secara eksplisit terlihat dari teks di bawah ini:
“Perbedaan paham atau aliran di kalangan umat Islam dunia ternyata sangat banyak. Apabila hal itu diwarnai oleh toleransi, maka yang terjadi adalah kemajuan dan kehidupan yang damai. Akan tetapi, apabila perbedaan itu dipertentangkan atau diperselisihkan, maka yang terjadi adalah kemunduran.” (kelas XII)
Dari pemaparan di atas, maka dapat disimpulkan pula bahwa materi-materi toleransi dan demokrasi dalam buku PAI SMA Yudistira sesungguhnya cukup banyak, akan tetapi materi-materi yang mengandung indikator radikalisme juga cukup banyak. Hal ini disebabkan karena penyajian materi pembelajaran pendidikan agama Islam dalam buku terbitan Yudistira lebih bersifat ekslusif, dikotomis dan parsial, padahal seharusnya pembelajaran pendidikan agama Islam lebih bersifat inklusif, integralistik dan holistik agar dapat mencerminkan visi dan misi pendidikan agama Islam.
Berdasarkan tabel di atas, maka dapat diambil dua kesimpulan bahwa:
Pertama, muatan toleransi dan demokrasi dalam buku PAI tingkat SMA sebenarnya lebih banyak di banding muatan radikalisme. Kedua, nilai-nilai radikalisme paling banyak ditemukan dalam buku teks PAI terbitan Kementerian pendidikan dan kebudayaan, dilanjutkan oleh buku PAI terbitan Yudistira dan terakhir yaitu buku PAI terbitan Erlangga.
Fakta bahwa muatan radikalisme paling banyak ditemukan dalam buku terbitan Kementerian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia, Tentunya sangat mengejutkan karena bagaimana mungkin buku terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia lebih banyak memuat radikalisme di bandingkan Erlangga dan Yudistira. Bukankah buku terbitan Kementerian pendidikan dan kebudayaan merupakan buku rujukan bagi penerbit lainnya. Sehingga buku terbitan Kementerian pendidikan dan kebudayaan harusnya lebih baik dan lebih bisa mengakomodir perbedaan yang ada dalam bangsa Indonesia.
Jika di telusuri lebih jauh faktor penyebab buku PAI terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia lebih banyak memuat radikalisme dibanding buku terbitan Erlangga dan Yudistira, maka penulis berasumsi bahwa bisa jadi pendistribusian buku ke sekolah-sekolah yang terlalu cepat tanpa proses seleksi dan editing buku yang matang. Penulis buku untuk tiap tingkatanpun berbeda sehingga pesan yang ingin disampaikan dalam buku juga sedikit berbeda mengikuti ideolog penulisnya. Perbedaan penerbit yang memiliki latar belakang paham keagamaan yang berbeda. Perbedaan kurikulum, perbedaan zaman, waktu dan rezim yang berkuasa juga menjadi salah satu faktor penentu perbedaan muatan buku PAI terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Erlangga dan Yudistira.
Pemerintah harus lebih kritis dan teliti sebelum menerbitkan buku teks PAI. Pemerintah harus memastikan isi buku teks PAI bersendikan Islam rahmatan lil `alamin dan menguatkan nilai-nilai kebangsaan yang menghargai perbedaan, kebebasan, persatuan, dan mengokohkan keadilan. Tujuannya ialah untuk memastikan bahwa bahan ajar tersebut bukan saja berkontribusi kepada pembentukan moral masyarakat tapi juga warga negara yang baik. (PPIM, 2016) Di samping itu, pemerintah juga harus memberikan perhatian penuh terhadap guru. Karena sadar atau tidak, sebenarnya penyebaran paham radikal dan intoleran bukan hanya melalui buku ajar sekolah akan tetapi melalui proses pengajaran di kelas dalam artian melalui guru. Apabila seorang guru mempunyai paradigma pemahaman keberagamaan yang eksklusif dan radikal maka dia akan cenderung mengajarkan dan mengimplementasikan nilai-nilai keberagamaan tersebut terhadap siswa di sekolah. Namun sebaliknya, jika guru mempunyai paradigma pemahaman keberagamaan yang inklusif dan moderat maka Dia akan memiliki kecenderungan mengajarkan dan mengimplementasikan nilai-nilai keberagamaan tersebut terhadap siswa di sekolah. (Yaqin, 2005: 61)
Guru mempunyai peran penting dalam pendidikan agama karena dia merupakan salah satu target dari strategi pendidikan. berikut peran guru dalam menanamkan nilai-nilai keberagamaan yang inklusif dan moderat yaitu:
1. Seorang guru harus mampu untuk bersikap demokratis dalam artian segala tingkah lakunya, baik sikap maupun perkataannya tidak diskriminatif. Ketika guru agama menjelaskan tentang konflik agama yang melibatkan kaum Muslim dengan Kristen, maka dia harus mempu bersikap tidak memihak terhadap salah
satu kelompok yang terlibat dalam pertikaian. Meskipun agama yang dianutnya sama dengan salah satu kelompok yang terlibat di dalamnya. Karena apabila seorang guru memihak terhadap salah satu kelompok agama yang terlibat dalam perang tersebut, tentunya analisa dan penjelasannya akan menjadi sangat subyektif.
2. Guru seharusnya mempunyai kepedulian yang tinggi terhadap kejadian-kejadian tertentu yang ada hubungannya dengan konflik agama. Contohnya ketika terjadi pengrusakan dan pembakaran tempat ibadah serta pengusiran kaum Ahmadiyah, maka guru harus mampu menjelaskan kasus tersebut dengan menggunakan paradigma pemahaman keberagamaan yang inklusif tanpa sedikitpun mengurangi eksistensi agama. Seorang guru harus mampu menjelaskan bahwa inti ajaran agama adalah menciptakan kedamaian dan kesejahteraan seluruh umat manusia. pengrusakan, pembakaran, pengeboman dan segala bentuk kekerasan adalah sesuatu yang dilarang agama karena kekerasan hanya akan menimbulkan masalah baru. Dialog dan musyawarah adalah cara-cara penyelesaian segala bentuk masalah yang sangat dianjurkan oleh agama. (Yaqin, 2005: 61-62)
B. Analisis Komparasi Riset Buku Teks PAI