SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Transmigrasi Sebagai Pembentuk Formasi Sosial Kapitalis di Daerah Tujuan (Studi Kasus Komunitas Transmigran di Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan) adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Maret 2006
Sofyan Sjaf
ABSTRAK
SOFYAN SJAF. Transmigrasi Sebagai Pembentuk Formasi Sosial Kapitalis di Daerah Tujuan (Studi Kasus Komunitas Transmigran di Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan). Dibimbing oleh
FREDIAN TONNY dan IVANOVICH AGUSTA.
Program transmigrasi di usianya kurang lebih 50 tahun memberikan catatan tersendiri perihal keberhasilan dan kegagalannya. Disatu sisi, tak dapat dipungkiri bahwa program transmigrasi telah berhasil memberikan akses kepemilikan tanah berbasis keluarga kepada komunitas transmigran yang dulunya sebagian besar sebagai petani gurem dan tunakisma di daerah asalnya. Akan tetapi pada sisi yang lain, perihal kegagalan produksi seringkali kita dengarkan karena mereka – komunitas transmigran– yang ditempatkan pada daerah-daerah yang mempunyai kondisi alam atau lahan marjinal, seperti lahan kering, lahan gambut berawa, dan lain-lain. Perihal yang terakhir cenderung mendorong berlangsungnya penetrasi kapitalisme yang efektif di daerah tujuan transmigrasi.
Penelitian ini mengangkat permasalahan bagaimana berlangsungnya pembentukan formasi sosial yang di dalamnya terdapat moda produksi terdiri dari kekuatan produksi (force of production) dan hubungan produksi (relation of production) pada komunitas transmigran di Wanaraya? Sementara itu tujuan penelitian adalah menjelaskan kondisi infrastruktur yang mempengaruhi pembentukan formasi sosial, perubahan organisasi produksi dan akibat dari perubahan organisasi tersebut sehingga mampu menggerakkan nilai/norma (suprastrukur), dan memahami persoalan atau dampak sosial akibat dari transmigrasi itu sendiri.
Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengambil kasus komunitas transmigran di Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Penelitian dilaksanakan dalam dua tahap, yaitu: (1) tahap pra-penelitian, berupa kunjungan lapangan di mana penelitian dilaksanakan. Pra penelitian dilakukan sebanyak dua kali, masing-masing pada tanggal 28–30 Agustus 2004 dan 17–18 September 2004; dan (2) tahap penelitian lapangan yang dilaksanakan pada bulan April sampai dengan Juni 2005 berlokasi di Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa pembentukan formasi sosial komunitas transmigran di Wanaraya dapat dilihat dari berlangsungnya sejarah komunitas transmigran yang terbagi ke dalam tiga periode, yaitu: (1) periode behuma; (2) periode “pasang” (1978–1983) dan periode “surut” (1984–2005). Masing-masing periode tersebut menunjukkan moda produksi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Adapun moda produksi tersebut dicirikan dengan usaha atau kegiatan produksi yang terdiri dari: moda produksi subsistensi, moda produksi komersil, dan moda produksi kapitalis.
Moda produksi subsistensi dapat dilihat pada usaha produksi behuma komunitas lokal, dimana organisasi produksinya berbasis keluarga inti. Meskipun demikian, hubungan faktor produksi sudah menunjukkan gejala hierarki antara petani penggarap dan pembekal desa sehingga sebagian dari suplus produksi diserap oleh pembekal desa. Adapun produksi komersil tercermin pada usaha
produksi padi-sawah pasang surut komunitas transmigran yang berorientasi nilai guna dan nilai tukar (periode 1978 – 1983). Organisasi produksinya berbasis keluarga inti, namun terdapat tenaga kerja di luar keluarga inti yang diperoleh melalui pertukaran tenaga kerja berdasarkan kepentingan kebutuhan tenaga kerja berbasis tolong menolong. Dengan demikian, struktur hubungan produksinya cenderung egaliter dan sifatnya hubungan produksinya non-eksploitatif karena penyerapan surplus produksi sepenuhnya dilakukan oleh keluarga inti.
Selain itu, moda produksi komersil dicerminkan dengan usahatani lainnya (seperti sayuran, kacang tanah, dan usaha ternak sapi) dan usaha selain pertanian. Organisasi produksinya sudah melibatkan keluarga luas (kerabat terdekat) dan di luar keluarga inti sehingga menunjukkan struktur hubungan produksi pseudo -hierarki (transportasi klotok) dan hierarki yang cenderung eksploitasi (usaha produksi sayuran dan kacang tanah, usaha ternak sapi, dan usaha bengkel elektronik/sepeda motor). Surplus produksi diserap oleh keluarga inti sebagai pemilik usaha. Sedangkan moda produksi kapitalis hadir pada periode “surut” (1984–2005).
Moda produksi pada periode “surut” ini tercermin pada usaha produksi membatang dan padi-sawah pasang surut. Modal (kapital) adalah alat produksi utama dari kedua usaha produksi tersebut untuk membayar upah/sewa tenaga kerja yang terlibat dalam usaha produksi tersebut. Untuk usaha produksi membatang organisasi produksinya perusahaan skala kecil yang tidak berbadan hukum dan dipimpin seorang bos batang, sedangkan organisasi produksi padi-sawah pasang surut merujuk usaha keluarga yang bertindak sebagai petani pemilik modal yang mengupah tenaga kerja sekaligus sebagai pengusaha penyedia teknologi usaha produksi tersebut (pupuk, kapur, dan traktor tangan). Dengan demikian, struktur hubungan produksi adalah struktur hierarki antara pemilik modal dan pekerja (petani upahan) yang memberikan kontribusi terhadap melemahnya basis ikatan tolong menolong antar sesama komunitas transmgiran.
Tampilnya moda produksi kapitalis yang dominan terhadap dua moda produksi lainnya di komunitas transmigran Wanaraya mempertegas transmigrasi sebagai pembentuk formasi sosial kapitalis di daerah tujuan. Ini diawali dari tergesernya sistem produksi behuma ekstensif yang identik dengan kegiatan produksi komunitas lokal dan sekaligus mensubsidi lahan kepada komunitas transmigran dengan sistem produksi sawah pasang surut yang intesif. Kondisi ini, kemudian mendorong terjadinya jurang metabolik (metabolic gap) yang melanggengkan penetrasi kapitalisme dengan watak kapitalismenya di Wanaraya melalui berbagai usaha produksi. Selain itu, dominasi moda produksi kapitalis dapat pula dilihat dari produksi subsistensi yang dilakukan oleh komunitas lokal telah mensubsidi lahan produksi kepada komunitas transmigran untuk melakukan usahatani sawah pasang surut intensif yang berorientasi nilai guna (use-value) dan nilai tukar (exchange-value). Selanjutnya produksi padi-sawah pasang surut mensubsidi pemenuhan kebutuhan pangan baik untuk pelaku produksi komersil selain pertanian maupun pelaku produksi kapitalis itu sendiri.
TRANSMIGRASI SEBAGAI PEMBENTUK FORMASI SOSIAL KAPITALIS DI DAERAH TUJUAN
(Studi Kasus Komunitas Transmigran di Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan)
SOFYAN SJAF
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Sosiologi Pedesaan
SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR 2006
Judul Tesis : Transmigrasi Sebagai Pembentuk Formasi Sosial Kapitalis di Daerah Tujuan (Studi Kasus Komunitas Transmigran di Kecamatan Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan)
Nama : Sofyan Sjaf NIM : A152030061
Disetujui Komisi Pembimbing
Ir. Fredian Tonny, MS. Ir. Ivanovich Agusta, M. Si.
Ketua Anggota
Diketahui
Ketua Program Studi Dekan Sekolah Pascasarjana Sosiologi Pedesaan
Dr. Ir. M.T. Felix Sitorus, MS. Prof. Dr. Ir. Syafrida Manuwoto, M. Sc.
Dipersembahkan kepada Kedua orang yang mendidik dan membesarkanku: ayah Drs. H. Sjafiuddin Daud (almarhum) dan ibu Hj. Nurpati
PRAKATA
Alhamdulillahirobbil’alamiin !
Akhirnya penulisan tesis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada Program Studi Sosiologi Pedesaan, Sekolah Pascasarjana IPB selesai juga. Banyak pihak yang telah memberi kontribusi penyelesaian studi ini sehingga dalam prakata ini penulis merasa sangat perlu memberi ucapan terima kasih. Pertama kali ucapan terimakasih yang setulusanya penulis sampaikan kepada Komisi Pembimbing yaitu Ir. Fredian Tonny, MS. (sebagai ketua) dan Ir. Ivanovich Agusta, M. Si. (sebagai anggota) atas bimbingan mereka kepada penulis selama proses pengerjaan tesis ini. Penulis sadari bahwa mereka berdua dengan caranya masing-masing telah mengajarkan penulis untuk belajar konsisten dan tertib dalam menggunakan paradigma atau teori dalam ilmu-ilmu sosial.
Ucapan terimakasih dan penghargaan setulusnya kemudian penulis sampaikan kepada kedua orang yang telah mendidik dan membesarkan penulis yaitu ayah Drs. H. Sjafiuddin Daud (almarhum) dan Ibu Hj. Nurpati. Lebih sekedar itu, mereka berdua secara tidak langsung telah menanamkan prinsip-prinsip memahami makna hidup ini dalam diri penulis. Khusus kepada ayah Drs. H. Sjafiuddin Daud (almarhum), penulis selalu berdoa semoga Allah SWT memberikan maqom tertinggi sesuai dengan kesabaran dan keikhlasan sewaktu hidup yang almarhum contohkan kepada penulis.
Penulis juga ucapkan terimakasih kepada Dr. Ir. MT. Felix Sitorus, MS. sebagai Ketua Program Studi Sosiologi Pedesaan, Sekolah Pascasarjana IPB yang telah memberikan kesempatan kepada penulis menjadi mahasiswa pada program studi yang dipimpinnya. Penulis sadari bahwa kesempatan belajar yang beliau berikan telah mengantarkan penulis menemukan minat studi yang terpendam dalam diri penulis selama ini. Kepada seluruh staf pengajar pada Program Studi Sosiologi Pedesaan IPB, penulis ucapkan terimakasih atas ilmu yang diberikan kepada penulis baik di dalam maupun di luar berlangsungnya perkuliahan. Tak lupa kepada Dr. Sajogyo, penulis menaruh rasa hormat dan simpatik yang dengan caranya sendiri menunjukkan kepada “generasi cucu” (termasuk penulis) sosok guru sejati yang sudah jarang ditemukan di republik ini.
Penulis juga menyampaikan terimakasih kepada Rektor Universitas Muhammadiyah Kendari atas kesempatan belajar yang diberikan, dan kepada Pimpinan Sekolah Pascasarjana IPB yang telah memungkinkan penulis memperoleh dukungan dana BPPS dari Departemen Pendidikan Nasional selama kurang lebih satu setengah tahun. Ucapan yang sama juga penulis sampaikan kepada Dr. Muladno sebagai guru sekaligus sahabat dengan caranya sendiri telah mengupayakan bantuan dana kepada penulis pada tahun-tahun pertama penulis menempuh pendidikan S2. Penulis sadari ketika berinteraksi dengan beliau banyak hal yang penulis pelajari terutama bagaimana menjadi seorang intelektual praksis dan bersahaja dengan kapasitas ilmu yang dimilikinya. Demikian pun dengan Ir. Hj. Maskamian Andjam, MM., penulis ucapkan terimakasih atas bantuan dana kepada penulis selama melaksanakan penelitian di Kalimantan Selatan.
Kepada informan dan responden penulis di Wanaraya dengan tidak menyebut satu per satu, ucapan terimakasih penulis sampaikan atas informasi dan data yang diberikan sesuai kebutuhan penelitian. Tak lupa ucapan terimakasih kepada Bapak Panji beserta keluarga yang telah berkenaan meminjamkan satu kamar di rumahnya sebagai tempat penulis untuk menyelesaikan catatan lapangan dan beristirahat disaat merasa lelah.
Secara khusus saya berterimakasih kepada Dr. Endriatmo Soetarto, atas kesediaan dan komitmennya sebagai dosen penguji luar komisi pada saat penulis menjalani ujian sidang untuk meraih gelar Magister Sains. Juga terimakasih penulis sampaikan kepada kanda Hasbullah Syaf, SP., M. Si. yang dengan caranya sendiri telah membantu penulis dan Ir. La Ode Safuan, MP., Dr. Ir. Takdir Saili, M. Si., teman-teman HIWACANA SULTRA (khususnya Nur Arafah, SP., M. Si., Bahdat, S. Si., M. Si., Bahar, S. Pi., Rsudin, S. Pt., Muhammad Syahdan, S. Pi., M. Si., Laode Muh. Yasin, S. Pi., dan lain-lain), serta teman-teman sepermainan dan seperjuangan di Kendari (Syamsul Anam Ilahi, SE., Andi Ikhwan, S. Sos., M. Si., Ali Sahri, SP., dan Farid Sabara, A. Md.) yang terus menanyakan dan mengingatkan penulis untuk segera menyelesaikan pendidikan S2 sehingga dapat memikirkan “agenda hidup” ke depan yang tak kalah pentingnya.
Tak lupa penulis mengucapkan terimakasih atas segala dukungan dan bantuan langsung maupun tidak langsung kepada seluruh keluarga di Kendari (Om Umar beserta keluarga, Mamanya Darma beserta keluarga, Mamanya Inung beserta kedua keponakanku (Inung dan Ko’o), Kak Erna, Kak Mukti, dan Adik Aisyah yang selalu memberi senyum dan setia menemani Mama Aji sepeninggal almarhum ayah). Begitupun penulis ucapkan terimakasih atas kebersamaan dan dukungannya selama ini kepada teman-teman kuliah di Program Studi Sosiologi Pedesaan IPB (Heru Purwandari, Kalbi R., Rokhani, Purnomo, Taya Toru, Pardamaean, Jeter, Jean, Rita, Agustina, dan Witrianto).
Akhirnya, kepada teman-teman penulis yang tak dapat disebutkan satu per satu, penulis ucapkan terima kasih atas masukan, saran, dan kritikannya saat bersama penulis. Banyak hal berarti yang telah mereka berikan kepada penulis, tetapi secara khusus penulis sebutkan di sini yaitu Ir. Budi Baik Siregar, M. Si., Mohammad Shohibuddin, M. Si., dan Ir. Laksmi Savitri, M. Si., ketiganya teman dan sahabat di Sajogyo Inside (sa!ns) yang banyak memberikan waktu dan perhatiannya kepada penulis serta bersama-sama membangun sa!ns sebagai gerakan ideologis, Muhammad Ruslan, S. Pi. sebagai sahabat sekaligus teman diskusi berbagai tema mulai dari politik, religi, sastra sampai dengan tema-tema yang bersifat pribadi. Kemudian kepada pegiat sa!ns, khususnya Yuni, Astrid, Handa, Dini, Lili, Mastin, Feny, Lutfi, dan Dian, serta adik-adik HMI Cabang Bogor, khusunya Musahidin, La Ode Rusyamin, Rukmiati, Topik, Wandi, Fatur, dan Umi Wahyuni, penulis ucapkan terima kasih atas perhatian, komitmen, kebersamaan dan pencerahan dalam melakukan aktivitas yang produktif untuk perubahan ke arah yang lebih baik.
RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di kota Kendari pada tanggal 3 Oktober 1978 dari ayah Drs. H. Sjafiuddin Daud (almarhum) dan ibu Hj. Nurpati. Penulis anak ketiga dari tiga bersaudara. Pendidikan sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, penulis selesaikan di kota kelahiran.
Pada tahun 1996, penulis mendapat kesempatan melanjutkan pendidikan Sarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB) melalui Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) pada Program Studi Teknologi Hasil Ternak (THT), Jurusan Ilmu Produksi Ternak (IPT), Fakultas Peternakan IPB dan menamatkannya pada tahun 2000. Pada tahun 2003, penulis diterima untuk melanjutkan studi pada Program Studi Sosiologi Pedesaan, Sekolah Pascasarjana IPB dengan bantuan Beasiswa Program Pascasarjana (BPPS) selama satu tahun enam bulan yang diperoleh dari Departemen Pendidikan Nasional, Republik Indonesia.
Penulis bekerja sebagai dosen di Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Kendari (UMK). Selama mengikuti program Magister Sains (S2), penulis aktif sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (PB ISPI), Tim Sinkronisasi Rancangan Undang-Undang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Tim Evaluasi Pembangunan Peternakan, Wakil Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI), staf Ketua Forum Mahasiswa Pascasarjana (WACANA) IPB, Sekretaris Umum Himpunan Mahasiswa Pascasarjana (HIWACANA) Sulawesi Tenggara, dan pegiat di Yayasan Sajogyo Inti Utama.
Selain itu, penulis memberikan materi perkuliahan Peraturan Perundangan dan Hukum Agraria di Fakultas Peternakan IPB. Penulis menjadi editor buku berjudul “Dari Kandang Memandang Dunia” yang ditulis Dr. Muladno dengan kata pengantar Emha Ainun Nadjib dan memprakarsai dilakukannya Diskusi Seri Peternakan (DisNak) sebagai bahan masukan untuk Rencana Strategis Pembangunan Peternakan pemerintahan SBY-JK yang diselenggarakan oleh PB ISPI.
DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL... xiii
DAFTAR GAMBAR... xiv
DAFTAR LAMPIRAN... xv PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Rumusan Masalah ... 6 Tujuan ... 8 Kegunaan ... 8 TINJAUAN PUSTAKA ... 9 Pendekatan Teoritis... 9
Formasi Sosial (Social Formation)... 9
Moda Produksi (Mode of Production)... 14
Perubahan Sosial dalam Dimensi Teknologi dan Eknonomi... 18
Komunitas Transmigran... 23
Kerangka Pemikiran... 27
METODE PENELITIAN... 30
Lokasi dan Waktu Penelitian ... 31
Teknik Pengumpulan Data ... 33
Teknik Analisis Data ... 35
SEJARAH KOMUNITAS TRANSMIGRAN WANARAYA... 37
Periode Behuma... 39
Periode “Pasang” (1978 – 1983)... 43
Periode “Surut” (1984 – 2005)... 52
Ikhtisar... 68
MODA PRODUKSI SUBSISTEN... 72
Artikulasi Usaha Produksi Behuma...... 74
Artikulasi Kegiatan Produksi Membatang... 76
Ikhtisar... 78
MODA PRODUKSI KOMERSIL... 79
Artikulasi Usahatani Sawah Pasang Surut... 80
Artikulasi Usahatani Sayuran dan Kacang Tanah... 86
Artikulasi Usaha Ternak Sapi...... 88
Ikhtisar... 97
MODA PRODUKSI KAPITALIS... 99
Artikulasi Usaha Produksi Membatang.... 101
Artikulasi Usahatani Sawah Pasang Surut... 104
Ikhtisar... 109
TRANSMIGRASI DAN FORMASI SOSIAL KAPITALIS... 111
Transmigrasi: “Sesat Pikir” yang Menciptakan Jurang Metabolik... 114
Formasi Sosial Kapitalis di Daerah Tujuan: Dominasi Peran
Kelas Kapitalis Pinggiran... 121
Ikhtisar... 126
KESIMPULAN DAN IMPLENTASI KEBIJAKAN... 129
Simpulan... 129
Implementasi Kebijakan... 135
DAFTAR PUSTAKA... 138
DAFTAR TABEL
Halaman
1 Artikulasi Moda Produksi Menurut Khan... 15
2 Perbandingan Konsep Komunitas ala Marxis dan Selain Marxis... 26
3 Fokus Desa yang Diamati Sehubungan dengan Pertanyaan Penelitian... 32
4 Fokus Pengamatan dan Teknik Pengumpulan Data... 34
5 Ciri-ciri Periode Behuma (sebelum tahun 1978)... 42
6 Penggunaan Alat Produksi Disetiap Tahap Usahatani Sawah Pasang Surut Produksi... 47
7 Ciri-ciri Periode “Pasang” Komunitas Transmigran
(1978–1985)... 51
8 Perbandingan Luas Wilayah Desa Berdasarkan Penduduk Lokal, Transmigran, dan Lokal dan Transmigran... 53
9 Waktu Tanam dan Produktivitas Beberapa Jenis Komoditas Pertanian di Wanaraya... 59
10 Karakteristik Produksi Komoditas Pertanian di Wanaraya... 61
11 Ciri-ciri Periode “Surut” Komunitas Transmigran (1986– 2005)... 65
12 Artikulasi Usaha Produksi Behuma... 75
13 Artikulasi Usaha Produksi Membatang... 77
14 Artikulasi Usahatani Sawah Pasang Surut... 85
15 Artikulasi Usahatani Sayuran dan Kacang Tanah... 87
16 Artikulasi Usaha Ternak Sapi... 91
17 Artikulasi Usaha Produksi Transportasi Klotok dan Bengkel Elektronik/Sepeda Motor... 95
18 Artikulasi Usaha Produksi Membatang... 102
19 Jumlah Petani Pemilik dan Penggarap Berdasarkan Desa di Wanaraya, Tahun 2002... 105
20 Jumlah Petani Pemilik Berdasarkan Desa di Wanaraya,
Tahun 2002... 106
21 Artikulasi Usahatani Sawah Pasang Surut... 108
22 Persentasi Penduduk Menurut Golongan Rumah Tangga... 115
23 Perbedaan Sistem Produksi Perladangan dan Sistem Produksi
DAFTAR GAMBAR
Halaman
1 Formasi Sosial Masyarakat... 12
2 Moda Produksi Kapitalis Menurut Marx (Watson 1977)... 17
3 Kerangka Pemikiran Formasi Sosial Komunitas Transmigran... 29
4 Peta Lokasi Penelitian... 31
5 Proses Pembentukan Struktur Sosial Komunitas Transmigran
di Wanaraya... 55
6 Distribusi Tenaga Kerja dalam Keluarga Inti saat Tahap
Menanam pada Usahatani Sawah Pasang Surut... 81
7 Usaha Produksi Ternak Sapi Komunitas Transmigran di Wanaraya... 90
8 Organisasi Produksi Usaha Ternak Sapi Pada Komunitas Transmigran Wanaraya... 93
9 Usaha Produksi Transportasi Klotok Milik Salah Seorang
Anggota Komunitas Transmigran... 94
10 Petani Pemilik-Penggarap dalam Tahap Menanam Pada Usaha Produksi Padi-Sawah Pasang Surut... 107
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Peta Pulau Kalimantan... 143
2 Jumlah Curah Hujan dan Hari Hujan di Wanaraya per Bulan... 144
3 Penduduk Kecamatan Wanaraya pada Tahun-tahun
Tertentu, 1980 – 2004... 144
4 Penduduk Kecamatan Wanaraya Menurut Jenis Pekerjaan,
Tahun 2002... 144
5 Potensi dan Fungsi Lahan Sawah Pasang Surut di Wanaraya... 145
6 Produktivitas Beberapa Komoditas Pertanian di Wanaraya,
Tahun 1999 – 2002... 145
7 Penduduk Kecamatan Wanaraya per Desa pada Tahun-tahun Tertentu, 1980 – 2004... 146
8 Jenis Rumput dan Kandungan Nilai Nutrisi... 147
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Program transmigrasi di usianya kurang lebih lima puluh tahun mem-berikan catatan tersendiri perihal keberhasilan dan kegagalannya. Tak dapat dipungkiri bahwa keberhasilan program transmigrasi karena dapat memberikan akses atas lahan/tanah kepada komunitas transmigran14 yang dulunya sebagian besar tergolong petani gurem dan tunakisma. Meskipun tidak terdapat data dalam angka berapa besarnya jumlah petani gurem dan tunakisma yang mengikuti program transmigrasi, akan tetapi berdasarkan sumber yang terpercaya bahwa pada hakekatnya transmigrasi direkrut diantara petani tanpa lahan, penyewa lahan kecil, buruh tani, dan buruh harian lainnya (Levang 2003:66, MacAndrew dan Rahardjo 1979). Adapun kegagalan program transmigrasi seringkali diidentikan dengan ketidakmampuan lahan berproduksi optimal karena mereka –komunitas transmigran– ditempatkan pada daerah-daerah yang mempunyai kondisi alam yang mempunyai ekologi lahan marjinal, seperti lahan kering, lahan gambut berawa, dan lain-lain.
Tahun 1978, menjelang berakhirnya Pembangunan Lima Tahun (Pelita) tahap I, Pemerintahan Orde Baru mendatangkan penduduk dari Pulau Jawa secara sengaja maupun tidak sengaja untuk menempati lokasi pemukiman baru di Wanaraya, Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Transmigran dari Pulau Jawa tersebut tidak lain adalah satu dari sekian komunitas transmigran di Indonesia yang menceritakan berlangsungnya pembentukan formasi sosial kapitalis di daerah tujuan. Merujuk teori formasi sosial ala Stzompka (1994) bahwa pembentukan formasi sosial yan terjadi pada komunitas transmigran menunjukkan kontradiksinya pada level tertentu.
Kontradiksi dapat dilihat dari lingkungan sosial eksternal (kondisi alam) yang bersifat turun temurun dengan kekuatan produksi yang tersedia. Studi
14
Komunitas transmigran dalam tulisan ini didefinisikan sebagai penduduk yang sengaja maupun tidak sengaja didatangkan untuk menempati suatu lokasi transmigran dari latar belakang sosial-budaya beragam yang mempunyai organisasi produksi dalam sistem produksi yang relatif beragam dan ditandai dengan hubungan produksi yang tidak setara disebabkan perbedaan struktur sosial.
Heeren15 menunjukkan bahwa kondisi lahan di luar Jawa yang memiliki tingkat kesuburan relatif kurang menyebabkan pilihan penduduk Lampung Tengah untuk melakukan usahatani perladangan berpindah. Masih dimungkinkannya perladangan berpindah oleh penduduk Lampung Tengah dikarenakan kepadatan penduduk yang masih relatif kurang dan kepemilikan tanah yang berbasis marga. Kedata-ngan para transmigran asal BRN16 ke Lampung Tengah sebagai tujuan daerah transmigran menyebabkan terjadinya konflik kepemilikan tanah antara penduduk asli dengan para transmigran tersebut.
Demikianpun studi yang dilakukan Levang17 menunjukkan kondisi alam yang ditandai dengan lahan yang sering digenangi air (ekologi lahan gambut berawa) atau lahan bertekstur histosol18 memberikan pilihan atas alat produksi (teknologi) yang digunakan orang Banjar dalam mengusahakan lahan gambut berawa tersebut. Sebagai misal, varietas padi yang digunakan untuk melakukan usahatani adalah varietas padi yang mempunyai siklus panjang (6–10 bulan) sehingga panen sawah pasang surut hanya dapat dilakukan 1 kali setiap tahunnya yang berbeda dengan panen padi sawah di Pulau Jawa. Demikian pun dengan teknologi pengelolaan lahan yang menggunakan tajak, taju, dan ani-ani.
Aktivitas yang dilakukan orang Banjar tersebut, oleh kaum positivist yang mengidap paham moderniasasi dianggap tidak efisein karena membutuhkan tenaga kerja dan waktu yang panjang sehingga diperlukan teknologi yang lebih intensif. Kehadiran transmigran dengan membawa pengalaman bertani dari daerah asalnya berupa teknik produksi yang intensif –varietas unggul, pemupukan, penyiangan, dan panen dua kali– ternyata mengalami kontradiksi
15
H. J. Heeren: Transmigrasi di Indonesia, Jakarta 1979, hal. 87 – 91. 16
BRN adalah singkatan dari Biro Rekonstruksi Nasional merupakan lembaga pemerintah yang berfungsi mengorganisasi dan memimpin rehabilitasi prajurit-prajurit yang dimobilisasi. Tujuan BRN adalah penciptaan kesempatan kerja bagi berbagai kelompok veteran untuk merintis jalan kembali bagi mereka secara teratur ke kehidupan sosial masyarakat biasa, serta untuk memanfaatkan tenaganya untuk membangun negaranya kembali.
17
Patrice Levang: Ayo ke Tanah Sabrang, Jakarta 2003. 18
Menurut Harjowigeno (1993:251) bahwa jenis tanah histosol terbentuk bila produksi dan