MEWUJUDKAN KEMANDIRIAN PETANI PADI Diah Puspaningrum1*, Ati Kusmiati2,Indah Ibanah3
HASIL DAN PEMBAHASAN Peran Koperasi Putra Mandiri
2) Collective responsibility
Memiliki tanggungjawab kolektif (collective responsibility) yaitu adanya pengembangan kerjasama dan kemitraan antar warga masyarakat dalam mengatasi permasalahan dan memenuhi kebutuhan hidupnya dan pengembangan jaringan sosial untuk mengakses berbagai peluang. Hal tersebut terjadi karena KSU Putra Mandiri sudah berkembang dengan pesat dan sudah memiliki berbagai mitra kerja. Salah satunya yaitu bermitra dengan Bulog. KSU Putra Mandiri bekerjasama dengan Bulog untuk menampung hasil padi petani yang kemudian oleh KSU Putra Mandiri diolah yang nantinya disetorkan ke Bulog. Hal ini sesuai dengan pernyataan Bapak Sampurno selaku ketua Gapoktan Ketan Mas
“harganya juga lumayan karena ketua koperasi putra mandiri itu kan kerjasama dengan bulog jadi masuknya ke bulog, lah itu yang gapoktan masuknya juga dengan saya ke bulog jadi menampung hasil produksi petani di beli dengan harga diatas harga pokok” (Sampurno, 9/8/2018)
3) Sustainable
Memiliki kemampuan berpikir dan bertindak secara berkelanjutan (sustainable) yaitu menjaga kualitas lingkungan sistemik dan memelihara pelayanan dan sumberdaya secara berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Sesuai dengan prinsip yang diterapkan oleh koperasi pada umumnya, KSU Putra Mandiri juga menerapkan sistem yang demikian untuk anggotanya, yaitu dari anggota dan kembali ke anggota. Maksud dari hal tersebut yaitu KSU Putra Mandiri didirikan untuk kesejahteraan anggota dimana hasil yang diperoleh KSU Putra Mandiri ini juga untuk anggotanya. Fokus utama dari KSU Putra Mandiri adalah terkait permodalan usahatani petani, setelah itu terkait penjualan hasil usahatani petani. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Bapak Slamet selaku Pengawas KSU Putra Mandiri:
“untuk permodalan pertanian …….untuk apa lagi?” (Slamet, 27/12/2018)
Hal yang senada juga disampaikan oleh Bapak Didik selaku Anggota Kelompok tani Budi Margo Mulyo II
“sebagai penyedia dana untuk kebutuhan, kebutuhan petani misalnya untuk usahatani misalnya contohnya ketika bulan 10/11 menyewa tanah kita pinjam disini, kita pinjam di koperasi nanti bulan setelah panen padi kita kembalikan, kita kan dapat untung yang 2 musim, jagung jagung itu untungnya petani” (Didik, 26/12/2018)
Berdasarkan pernyataan diatas diketahui KSU Putra Mandiri yaitu sebagai penyedia dana untuk kebutuhan petani. Penyedia dana dalam hal ini yaitu terkait permodalan usahatani dan juga dana untuk penjualan hasil usahatani petani. Petani yang membutuhkan dana usahatani yang lebih besar seperti dana untuk menyewa lahan akan melakukan peminjaman modal ke KSU Putra Mandiri. KSU Putra Mandiri berharap melalui kegiatan simpan pinjam tersebut, petani lebih mudah dalam memperoleh permodalan, dan disamping itu juga KSU Putra Mandiri berharap ketika petani melakukan kegiatan peminjaman modal, tidak ada yang dirugikan antar kedua belah pihak yang meminjam karena kesalahan dari satu pihak. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang disampaikan oleh Bapak Slamet selaku Pengawas KSU Putra Mandiri
“harapan kita kepada petani yaa? hati hatilah untuk mengelola keuangan, karena sehat tidaknya itu ketergantungan kepada petani karena jantung jantung hatinya koperasi terkait yang pinjam, Kalau pinjam itu sehat maka koperasi kita itu sehat, saran saya kepada petani nek megawe yo
megaweo (kerja ya kerja red.)sesuai dengan ukuran pikiran dan tenaga,
kalau tenaganya kuatnya cuma setengah hektar itu aja tidak usah melambung tinggi, kalau petani itu sehat maka kita akan sehat. saya pesan dulu nek budale penak balik e penak, nanti setelah penak kita
merasakan enaknya juga itu looh (kalau berangkatnya enak yan
kembalinya enak supaya kita bisa merasakan enaknya.red) ....” (Slamet, 27/12/2018)
Berdasarkan pernyataan diatas diketahui KSU Putra Mandiri berharap akan kesehatan keuangan yang dikelola petani. Hal tersebut karena mitra kerja utama KSU Putra Mandiri adalah petani. KSU Putra Mandiri berharap petani lebih berhati-hati dalam mengelola keungannya karena pengalaman dari sebelumnya. Umumnya petani dalam mengelola keuangan masih belum baik. Berdasarkan pemaparan diatas secara garis besar dapat digambarkan dibawah ini:
Gambar. Peran KSU Putra Mandiri Terhadap Kemandirian Petani Padi
Pendekatan dan strategi dalam pemberdayaan masyarakat (Karsidi, 2001) menuju kemandirian petani dan nelayan kecil, dapat ditempuh diantaranya dengan upaya
Peran KSU Putra Mandiri
Lembaga Permodalan
Lembaga
Pemasaran KemandirianPetani Padi
Personal self capacity collective responsibility sustainable Jasa Transportasi
114 pengembangan kesadaran pelaku ekonomi. Karena peristiwa ekonomi juga merupakan peristiwa politik atau lebih dikenal dengan politik ekonomi, maka tindakan yang hanya berorientasi memberikan bantuan teknis jelas tidak memadai. Pemberdayaan yang diperlukan adalah tindakan berbasis pada kesadaran masyarakat untuk membebaskan diri dari belenggu kekuatan ekonomi dan politik yang menghambat proses demokratisasi ekonomi.
KESIMPULAN
Peran KSU Putra Mandiri terhadap petani padi di Desa Pontang Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember adalah sebagai lembaga permodalan, pemasaran dan penyedia jasa transportasi. Sedangkan wujud kemandirian petani padi dengan adanya KSU Putra Mandiri adalah: 1) personal self capacity; 2) collective responsibility, dan 3) sustainability. Sedangkan pendekatan dan strategi untuk meningkatkan kemandirian adalah dengan upaya pengembangan kesadaran pelaku ekonomi.
UCAPAN TERIMAKASIH
Penelitian ini terselenggara dari dana Kelompok Riset (Keris Penyuluhan Pembangunan Pertanian) Sesuai SPK antara Peneliti dengan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Jember No.115 /UN25.3.1/LT/2019 Tanggal 13 Mei 2019. Serta ucapan terimakasih kepada KSU Putra Mandiri Desa Pontang Kecamatan Ambulu Kabupaten Jember.
REFERENSI
Adina, Anggi Presti. 2012. Analisis Kualitas Kelembagaan dan Persepsi Anggota Terhadap Peran Gapoktan Studi Kasus Gapoktan desa Banyuroto Kabupaten Magelang. Skripsi. Bogor: Fakultas Ekonomi dan Manajemen Institut Pertanian Bogor.
Agusta, Ivanovich Fujiartanto. 2014. Indeks Kemandirian Desa Metode, Hasil, dan Alokasi Program Pembangunan. Jakarta: Kerjasama antara Departemen Sains Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Fakultas Ekologi Manusia IPB dengan Yayasan Obor Indonesia.
Bungin, Burhan. 2003. Analisis Data Penelitian Kualitatif Pemahaman Filosofis dan Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Djaelani. A.R. 2013. Teknik Pengumpulan Data dalam Penelitian Kualitatif. Ilmiah Pawiyatan. 10 (1): 82-92
Djohan, Djabaruddin dan Krisnamurthi, Bayu. 2000. Membangun Koperasi Pertanian Berbasis Anggota. Jakarta: LSP2I bekerjasama dengan INKOPDIT dan YAPPIKA
Ferdiansyah., I. R. purnima. 2011. Pengaruh Role Ambiguity, Role Conflict, dan Role Overload Terhadap Burnout. Sains Manajemen & Akuntansi,(2):1-17.
Horton, Paul B., C. L. Hunt. 1987. sociologi Edisi keenam. Jakarta:Erlangga. Nasir, Moh. 2002. Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.
Mardikanto, Totok., P. Soebiato. 2015. Pemberdayaan Masyarakat Dalam Perspektif Kebijakan Publik. Bandung:Alfabeta.
Miles, Matthew B. dan A. Michael Huberman. 1992. Analisis Data Kualitatif. Jakarta: UI Press
Narwoko, J Dwi., B. Suyanto. 2004. Sosiologi Teks Pengantar dan Terapan. Jakarta:Kencana. Karsidi, Ravik. 2002. Pemberdayaan Masyarakat Petani dan Nelayan Kecil. Pernah
disampaikan dalam Semiloka Pemberdayaan Masyarakat di Jawa Tengah dalam rangka Pelaksanan Otoda, Badan Pemberdayaan Masyarakat Jateng, di Semarang 4-6 Juni 2002
Soetriono dan Anik Suwandari. 2016. Pengantar Ilmu Pertanian Agraris Agribisnis Industri. Malang: Intimedia.