• Tidak ada hasil yang ditemukan

Matriks Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE)

Dalam dokumen SEMINAR NASIONAL PENGEMBANGAN AGRIBISNIS 2019 (Halaman 169-174)

PENGEMBANGAN KAWASAN AGROPOLITAN BERBASIS TANAMAN PANGAN DI KABUPATEN TABANAN, PROVINSI BALI

METODE PENELITIAN Lokasi Penelitian

C. Matriks Matriks Internal Factor Evaluation (IFE) dan Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE)

Tahapan ini menganalisis IFE dan EFE dalam bentuk matriks. Faktor-faktor strategis yang terdapat di dalam matriks merupakan hasil identifikasi kekuatan dan kelemahan serta peluang dan ancaman pada bagian sebelumnya. Pada tahap ini dilakukan proses pembobotan dan pemberian peringkat (rating) untuk masing-masing faktor, sehingga dapat dilakukan evaluasi pengaruh faktor-faktor strategis terhadap upaya pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Tabanan.

Tabel 2. Matriks EFE Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Tabanan No Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor

Kekuatan (Strength)

1 Posisi/letak Kabupaten Tabanan yang strategis, yaitu dekat dengan pusat Kota Denpasar

0.10 2.74 0.27

2 Ketersediaan sumber daya alam, yang

cocok untuk budidaya pertanian 0.30 2.56 0.77 3 Prioritas pembangunan sektor

pertanian 0.10 1.52 0.15

4 Adanya kelembagaan subak yang

masih eksis 0.10 1.89 0.19

5 Tingginya motivasi petani untuk

berusahatani 0.10 2.34 0.23

6 Pertanian masih menjadi objek

primadona bagi sektor pariwisata 0.04 2.08 0.08 7 Filosofi Tri Hita Karana. 0.10 2.38 0.24 8 Kebijakan pemerintah daerah yang

mendukung pengembangan kawasan agropolitan.

0.16 2.16 0.35

Total 1.00 2.28

Kelemahan (Weakness)

1 Infrastruktur dan saprodi pertanian

belum maksimal. 0.20 1.84 0.37

2 Terjadinya alih fungsi lahan pertanian. 0.25 2.42 0.61 3 Masih minimnya penggunaan

teknologi tepat guna yang berkelanjutan.

0.15 1.25 0.19

4 Peran kelembagaan permodalan

kurang maksimal. 0.20 2.24 0.45

5 Rendahnya minat petani untuk

mengikuti asuransi pertanian. 0.20 2.15 0.43

Total 1.00 2.05

Matriks IFE menganalisis faktor-faktor strategis internal berupa kekuatan dan kelemahan. Berdasarkan analisis matriks IFE pada Tabel 2 diperoleh total skor untuk faktor strategis internal sebesar 4,33. Skor ini menunjukkan bahwa pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Tabanan memiliki kondisi internal yang kuat (skor diatas rata-rata 2,5). Hasil analisis menunjukkan Kabupaten Tabanan sebenarnya dapat memanfaatkan kekuatan yang dimiliki untuk mengatasi kelemahannya. Secara terpisah, faktor-faktor yang menjadi kekuatan mempunyai skor yang lebih tinggi (2,28) dibandingkan dengan faktor-faktor yang menjadi kelemahan (2,05). Ketersediaan sumber daya alam yang cocok untuk budidaya pertanian (0,77), kebijakan pemerintah daerah yang mendukung pengembangan kawasan agropolitan (0,35) dan filosofi Tri Hita Karana (0,24) merupakan kekuatan yang menjadi modal dasar untuk pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Tabanan. Dari sisi kelemahan, terjadinya alih fungsi lahan (0,61), peran kelembagaan permodalan kurang maksimal (0,45) dan rendahnya minat petani untuk mengikuti asuransi pertanian (0,43) menjadi hambatan dalam pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Tabanan. Tabel 3. Matriks EFE Pengembangan Kawasan Agropolitan di Kabupaten Tabanan

No Faktor Strategi Internal Bobot Rating Skor Peluang (Opportunities)

1 Adanya pasar terbuka untuk domestik

dan luar. 0.20 2.68 0.54

2 Adanya kemitraan dengan pihak

swasta. 0.30 2.24 0.67

3 Ketersediaan kredit usaha tani. 0.20 1.55 0.31 4 Sistem perekonomian digital

(e-commerce). 0.30 2.32 0.70

Total 1.00 2.22

Ancaman (Threath)

1 Masih terdapatnya kepemilikan lahan yang dikuasai oleh pihak luar (di luar orang lokal).

0.20 1.56 0.31

2 Adanya kompetitor produk pangan

yang berasal dari luar Bali. 0.35 1.18 0.41 3 Ketidakpastian iklim. 0.45 1.32 0.59

Total 1.00 1.31

Sumber: Hasil Analisis, 2019

Hasil analisis EFE pada Tabel 3 menunjukkan bahwa sistem perekonomian digital/e-commerce (0,70) merupakan peluang terbesar untuk pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Tabanan. E-commerce (Electronic Commerce) didefinisikan sebagai aktivitas penggunaan teknologi informasi dan komunikasi pengolahan digital dalam melakukan transaksi bisnis untuk menciptakan, mengubah, dan mendefenisikan kembali hubungan antara penjual dan pembeli. E-commerce dapat juga diartikan sebagai aktivitas transaksi jual-beli barang, servis atau transmisi dana atau data dengan menggunakan elektronik yang terhubung dengan internet. Transaksi e-commerce ini bukan lagi hal baru di tanah air, bahkan perkembangannya terbilang sangat pesat. Sedangkan faktor yang mengancam perkembangan agropolitan di kabupaten ini adalah adanya ketidakpastian iklim (0,59). Sub sektor tanaman pangan merupakan sektor yang paling rentan terhadap perubahan iklim karena tanaman pangan umumnya merupakan tanaman semusim yang relatif sensitif

negatif perubahan iklim terhadap sumberdaya lahan dan air, infrastruktur pertanian (irigasi) hingga sistem produksi melalui faktor produktivitas, luas tanam dan panen.

Tabel 4. Matriks SWOT Pengembangan Agropolitan di Kabupaten Tabanan Strength/Kekuatan

(S) Weakness/Kelemahan(W)

1. Posisi/letak

Kabupaten Tabanan yang strategis, yaitu dekat dengan pusat Kota Denpasar

2. Ketersediaan sumber daya alam, yang cocok untuk budidaya pertanian

3. Prioritas

pembangunan sektor pertanian

4. Adanya kelembagaan subak yang masih eksis

5. Tingginya motivasi petani untuk berusahatani 6. Pertanian masih menjadi objek primadona bagi sektor pariwisata

7. Filosofi Tri Hita Karana

8. Kebijakan pemerintah daerah yang mendukung pengembangan kawasan agropolitan

1. Infrastruktur dan saprodi pertanian belum maksimal

2. Terjadinya alih fungsi lahan pertanian

3. Masih minimnya penggunaan teknologi tepat guna yang berkelanjutan 4. Peran kelembagaan permodalan kurang maksimal 5. Rendahnya minat petani untuk mengikuti asuransi pertanian

Opportunities/

Peluang (O) Strategi S-O Strategi W-O

1. Adanya pasar terbuka untuk dalam dan luar

2. Adanya

kemitraan dengan pihak swasta

3. Ketersediaan kredit usaha tani 4. Sistem

perekonomian digital (e-commerce)

1. Mengoptimalkan posisi geografis dan ketersediaan sumberdaya alam (penggunaan pupuk organik, benih lokal, pengaturan irigasi) dengan didukung oleh ketersediaan kredit usaha tani (S1, S2, O3) 2. Membuat perencanaan prioritas sektor pertanian melalui kemitraan dengan pihak swasta dan sistem e-commerce (S3, O2, O4)

1. Mengoptimalkan koperasi tani melalui kredit usaha tani untuk menguatkan permodalan petani (W4, O3)

Threats/Ancaman (T) Strategi S-T Strategi W-T 1. Masih

terdapatnya kepemilikan lahan yang dikuasai oleh pihak luar (di luar orang

1. Membuat aturan yang membatasi kepemilikan lahan pertanian oleh pihak luar (S8, T1)

1. Mengintensifkan teknologi tepat guna yang adaptif dan berkelanjutan untuk mengantisipasi

lokal)

2. Adanya

kompetitor produk pangan yang berasal dari luar Bali

3. Ketidakpastian iklim.

perubahan iklim (W3, T3)

Sumber: Hasil analisis (2019)

Berdasarkan analisis matriks SWOT, strategi yang diusulkan dalam pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Tabanan adalah:

1. Mengoptimalkan posisi geografis dan ketersediaan sumberdaya alam (penggunaan pupuk organik, benih lokal, pengaturan irigasi) dengan didukung oleh ketersediaan kredit usaha tani (S1, S2, O3).

2. Membuat perencanaan prioritas sektor pertanian melalui kemitraan dengan sektor swasta dan sistem e-commerce (S3, O2, O4).

3. Mengoptimalkan koperasi tani melalui kredit usaha tani untuk menguatkan permodalan petani (W4, O3).

4. Membuat aturan yang membatasi kepemilikan lahan pertanian oleh pihak luar (S8, T1). 5. Mengintensifkan teknologi tepat guna yang adaptif dan berkelanjutan untuk

mengantisipasi perubahan iklim (W3, T3). SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Kabupaten Tabanan merupakan daerah sentra lumbung padi memiliki potensi sebagai kawasan agropolitan yang berbasis tanaman pangan, terutama untuk tanaman padi, jagung, dan kedelai (LQ>1). Perlulah dilakukan beberapa strategi untuk pengembangan kawasan agropolitan di Kabupaten Tabanan, yaitu mengoptimalkan posisi geografis dan ketersediaan sumberdaya alam (penggunaan pupuk organik, benih lokal, pengaturan irigasi) dengan didukung oleh ketersediaan kredit usaha tani; membuat perencanaan prioritas sektor pertanian melalui kemitraan dengan sektor swasta dan sistem e-commerce ; mengoptimalkan koperasi tani melalui kredit usaha tani untuk menguatkan permodalan petani ; membuat aturan yang membatasi kepemilikan lahan pertanian oleh pihak luar ; dan mengintensifkan teknologi tepat guna yang adaptif dan berkelanjutan untuk mengantisipasi perubahan iklim. Saran

Penelitian ini hanya mengcover Kabupaten Tabanan secara keseluruhan, perlu dilakukan penelitian lebih lanjut untuk mengkaji lebih detail semua potensi yang ada di setiap kecamatan sehingga dapat diketahui lokasi yang cocok untuk dikembangkannya kawasan agropolitan. Tentunya penelitian ini harus dikaji juga secara spasial.

DAFTAR PUSTAKA

[BIG] Badan Informasi Geografi. 2018. Implementasi LP2B (Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan) di Indonesia. Jakarta.

[BPS] Badan Pusat Statistik Provinsi Bali. 2019. Bali Dalam Angka. Denpasar, Bali.

Buang, A, Habibah J, Hamzah, Y.S. Ratnawati. 2011. The Agropolitan Way of Re-empowering the Rural Poor. World Applied Sciences Journal 13 (Special Issue of Human Dimensions of Development): 1-6.

David FR. 2007. Strategic Management. Canada: Prentice Hall International, Inc.

Hoover, Edgar M dan Giarratani. 1985. An Introduction to Regional Economics. Third Edition. New York, USA.

Parnwell, Michael J.G. 2006. Agropolitan and Bottom-up Development. London: Hutchinson. Rangkuti F. 2009. Analisis SWOT: Teknik Membedah Kasus Bisnis. Jakarta: Gramedia. Rustiadi E dan Hadi S. 2006. Kawasan Agropolitan Konsep Pembangunan Desa Kota

Berimbang. Bogor (ID): Crestpent Press P4W-LPPM IPB: 1-31.

Wibowo, Soesilo. 2004. Pengembangan Agropolitan dalam Rangka Mendukung Ekonomi Perdesaan di Indonesia. Makalah Individu. Program Pascasarjana (S3), IPB, Bogor.

HUBUNGAN SOSIAL EKONOMI SUBAK TERHADAP MOBILISASI

Dalam dokumen SEMINAR NASIONAL PENGEMBANGAN AGRIBISNIS 2019 (Halaman 169-174)