• Tidak ada hasil yang ditemukan

– Daeng Muhammad Feisal

Dalam dokumen Buku Menjadi Pelajar Berkemajuan (Halaman 69-76)

Peristiwa “Future Shock”(Kejutan Masa Depan) memberikan informasi pada kita akan adanya akselerasi (percepatan) perubahan

social dan tehnologi yang semakin sulit dihadapi baik oleh individu maupun organisasi. Kita harus kreatif dan proaktif menyesuaikan

diri tidak hanya kepada perubahan-perubahan, tetapi juga terhadap akselerasi tersebut.

Alvin Tofler

10

Ketua PP IPM bidang Hubungan Luar Negeri dan Antar-Lembaga (HUBLA) periode 2012-2014

Pada awal tulisan ini, saya akan mengutarakan beberapa poin ‘kajian’ yang akan akan saya bahas pada tulisan ini. Yang pertama adalah terkait Rekonstruksi Gerakan IPM yang sampai saat ini ada 2 paradigma, yaitu 3T dan GPK (Gerakan Pelajar Kreatif) ditambah arah strategi gerakan yaitu GPK (Gerakan Pelajar Kreatif) dan Gerakan Pelajar Berkemajuan. Lalu poin kedua adalah terkait tema esai, yaitu Membumikan Gerakan Ilmu untuk Pelajar Berkemajuan, akan saya bahas secara lateral. Lalu poin terakhir saya akan meramunya menjadi rangkaian

‘racikan’ yang saya sebut sebagai ‘embrio solutif’ Gerakan IPM di masa yang akan datang, yaitu penjabaran dari judul esai ini sendiri, “Pelajar Berkemajuan; Pelajar yang Melek Teknologi dan Informasi”.

Seluruh aspek kehidupan mengalami akselerasi (percepatan) dan kompresi (pemadatan); Zaman ini bisa disebut saman serba-berkecukupan dan zaman serba- berkelebihan. Meminjam istilah Yasraf Amir Piliang, Guru Besar FSRD ITB yang menaruh perhatan pada Cultural Studies dan Posmodernisme, dunia ini adalah dunia yang dilipat, dalam artan saat ini kita mengalami perubahan yang drastis, anggap saja terhitung semenjak sejarah dimulai (zaman nirleka/pra-sejarah berakhir setelah ditemukannya tulisan), bahkan sekalipun kita hitung semenjak zaman revolusi industri atau zaman revolusi Indonesia sekalipun.

Ambil contoh dalam aspek transportasi, perjalanan dari tanah air menuju tanah suci (Arab Saudi) sekarang bisa ditempuh hanya dalam hitungan jam menggunakan pesawat terbang, zaman nenek-buyut kita dulu membutuh- kan perjalanan rata-rata 1 bulan perjalanan laut meng- gunakan kapal. Atau kita ambil contoh, dulu kita membutuhkan waktu yang sangat lama ketka berkores- pondensi antarpimpinan organisasi (termasuk di IPM), mengirim surat menggunakan perangko paling cepat 3 hari kalau dalam satu kota, kalau sekarang? Kita bisa berkorespondensi menggunakan fasilitas surel (surat elektronik/e-mail), hitungan detk sudah terkirim walau berbeda benua sekalipun.

Pada paragraf di atas saya mengemukakan fakta yang telah kita alami (selaku manusia dan selaku anggota IPM) bahwa zaman ini sudah sangat maju, dikarenakan teknologi berkembang pesat. Adanya moda transportasi massal yang makin sini makin cepat waktu tempuhnya, penggunaan telepon (tele, jauh) dan handphone yang meniadakan jarak dalam menyampaikan informasi secara

real time, juga dengan keberadaannya internet dengan berbagai lini-topiknya sepertinya surel, instant messaging dan media sosial. Idealnya IPM sekarang tdak hanya sebagai konsumen dari dari produk teknologi-peradaban zaman sekarang, tapi harus ‘menguasai’-nya. Gerakan Ikatan Pelajar Muhammadiyah?

Jika kita membuka kembali lembaran sejarah Ikatan Pelajar Muhammadiyah, kita acap kali mengernyit- kan dahi ketka mendengar dan membaca istlah-istilah aneh tentang gerakan IPM, bukan karena bobotnya saja yang dirasa sangat ‘berat’, bahkan jika ditinjau dari aspek sejarah IPM, wajarlah IPM memiliki paradigma gerakan, falsafah gerakan dan arah strategi gerakan yang (senantasa) mengalami perubahan-penyempurnaan dari masa ke masa. Bahasa kerennya, IPM mengalami proses rekonstruksi gerakan yang berkepanjangan, sehingga ada muncul kategorisasi masa IPM, yang, katanya sekarang (tahun 2013––IPM periode Muktamar 18 Palembang)

dikategorikan “Masa Anomali” (masa yang tdak jelas;

aneh) oleh Masmulyadi, alumni PP IPM periode 2008- 2010.

Kita tahu bahwa di IPM ada istilah paradigma gerakan, falsafah gerakan , dan arah strategi gerakan (dan sebagainya), yang pada masa-masa tertentu muncul istilah keren seperti 3T (Tertib Ibadah, Tertib Belajar dan Tertib Organisasi), GKT (Gerakan Krits Transformatf) dan GPK (Gerakan Pelajar Kreatif) dan sampai sekarang muncul wacana Gerakan Pelajar Berkemajuan. Saya ingin mengistilahkan beberapa istilah di atas sebagai “Bahasa(n)

Tinggi IPM” agar mempermudah penyebutan. Bukan dalam arti saya tidak paham, tapi istilah-istilah tersebut memang terasa tinggi––melangit, toh basis massa terbesar IPM adalah pelajar SMP-SMA yang notabene tidak semua

paham dan mau paham terkait defnisi, alur, dan penjabar- an tentang bahasa tinggi IPM itu.

Saya menarik kesimpulan bahwa kenapa bahasa tinggi IPM ini terus mengalami rekonstruksi dari masa ke masa, karena para penggagas, para pemikirnya tidak (atau belum) ber-role-play sebagai pelajar dan remaja, mereka malah secara sporadis memaksakan pengetahuan (yang terkontaminasi oleh gaya ayahanda-Muhammadiyah dan dunia ke-mahasiswa-annya) serta pengalaman mereka sebagai orang yang berumur. Dan rekonstruksi gerakan keniscayaan, karena waktu dan zaman pun berubah.

Membumikan Gerakan Ilmu untuk Pelajar Berkemajuan

Berangkat dari tema besar Muktamar IPM ke-18 di Palembang, saya (sedikit) setuju terkait diksinya. Menggunakan istilah ‘membumikan’ lalu ‘gerakan ilmu’

dan ‘pelajar berkemajuan’. Ada 3 frase yang menjadi poin of interest bagi saya pribadi. Membumikan, berarti menyederhanakan-membuat mudah segala hal yang berkaitan dengan gerakan IPM kita. Bisa juga berarti mengedepankan take easy dan take acton (langsung aplikasi/melaksanakan) dibanding berlarut-larut dalam tataran ide dan konsep. Gerakan ilmu, frase yang ini sudah tidak asing bagi anggota dan pimpinan di IPM. Ilmu merupakan hal fundamental yang mendasari

berdirinya IPM, hal ini dibuktikan oleh semboyan IPM Al-

Qur’an surat Al-Qalam ayat 1 dan logo IPM yang memiliki makna filosof pengejawantahan ilmu.

Lalu ada frase bawahan (kata) ‘gerakan’ yang memiliki kesan dan makna setelah membumikan (menyederhanakan-mengaplikasikan) kita harus senanti- asa bergerak-berproses-tidak diam dalam artian konsisten- istqamah dalam ber-IPM.

Penggunaan diksi ‘Pelajar Berkemajuan’ menurut

saya terkesan latah, dan menyadur istilah yang digunakan pada buku Muhammadiyah Progresif: Manifesto Pemikiran Kaum Muda yang ditulis oleh JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) pada tahun 2007 silam. Berkema- juan, menurut saya merupakan penyederhanaan bahasa dari progresif. Sebenarnya tdak masalah jika orientasinya benar ke arah kemajuan-lebih baik, yaitu dengan memberi- kan penekanan pada pengembangan ilmu pengetahuan, diskursus keadilan, keterbukaan, sikap toleransi, dan pelajar yang berintegritas. Dan semoga tidak dimaksudkan progresif dalam artian berpikir dan bertindak secara liberal tanpa arahan.

Secara lateral sebenarnya bisa kita bangun satu konsepsi bahwa istilah berkemajuan itu mewakili sifat kreatif pada GPK, sifat Krits dan Tranformatif (berubah- membuat perubah-an) pada GKT dan mengakomodasi sifat tertb di ibadah, belajar, organisasi pada 3T. Sehingga

terciptalah silogisme gerakan yang premi-preminya terdiri dari bahasa tinggi IPM sebelumnya.

Pelajar yang Melek Teknologi dan Informasi

Tema ini, saya buat tidak semata-mata karena sekarang (tahun 2013) sedang happening-trending yang namanya arus informasi yang ditandai perkembangan pesat internet. Bermunculan berbagai macam gadget, ratusan sosial media (seperti facebook, twitter) dan aplikasi

mobile yang makin memudahkan kehidupan manusia. Tapi, saya berangkat dari maksud dan tujuan IPM itu sendiri. Pelajar yang Melek Teknologi dan Informasi berarti menandakan berakhlak-mulia (melek-sadar), terampil (teknis, teknologi, menyelesaikan/membantu pekerjaan manusia) dan berilmu (memiliki dan menguasai informasi).

Sehingga sebenarnya Pelajar yang Melek Teknologi dan Informasi itu sangat koheren dengan terwujudnya pelajar (Muslim) yang berakhlak mulia, berilmu dan terampil.

Pada bagian akhir ini saya menawarkan solusi/ alternatif dan rangkuman dari rangkaian tulisan esai ini di atas, yang semoga menjadi ‘embrio solutf’ bagi gerakan

IPM kita. Saya menyebutnya sebagai ‘embrio’ karena ini

masih ada di tataran konsep/ideal di benak dan pikiran saya. Sehingga belum tentu bisa terlahir menjadi produk

dan aksi nyata yang diadopsi oleh semua kalangan anggota dan pimpinan IPM di seluruh lapisan.

Pelajar yang Melek Teknologi dan Informasi

Dalam dokumen Buku Menjadi Pelajar Berkemajuan (Halaman 69-76)