III. KERANGKA TEORI
3.3. Dampak Kebijakan Fiskal
Kebijakan fiskal terdiri atas dua instrumen utama, (1) kebijakan pajak dan (2) pengeluaran pemerintah (Mankiw, 2007; Turnovsky, 1981), tetapi, kebijakan apapun itu dapat secara langsung mempengaruhi komponen-komponen permintaan secara menyeluruh jatuh pada kebijakanini. Soediyono (1985), mendefinisikan kebijakan fiskal adalah bentuk tindakan pemerintah untuk mempengaruhi jalannya perekonomian dengan maksud agar keadaan perekonomian tidak terlalu menyirapang dari keadaan yang diinginkan dengan alat (policy instrument variable) berupa pajak (T), transfer pemerintah (Tr), dan pengeluaran pemerintah (G). Mankiw (2007) mendefinisikan bahwa kebijakan
fiskal sebagai "the government's choice regarding levels of spending and taxation".
Kebijakan fiskal seringkali disebut juga kebijakan anggaran (budgetary policy) yang dilakukan melalui anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Kebijakan fiskal atau anggaran memiliki tiga fungsi yaitu, (1) fungsi alokasi
(allocation junction), (2) fungsi distribusi (distribution function), dan (3) fungsi stabilisasi (stabilization function). Fungsi alokasi berkaitan dengan penyediaan barang sosial (social goods) atau proses penggunaan sumberdaya keseluruhan yang dibagi diantara barang privat (private goods) dan barang sosial (social goods) dan kombinasi barang sosial yang dipilih. Fungsi distribusi berkaitan dengan pembagian pendapatan dan kekayaan yang lebih adil dan merata di masyarakat. Fungsi stabilisasi untuk mempertahankan tingkat pekerjaan yang tinggi (high employment), stabilitas tingkat harga-harga, dan tingkat pertumbuhan ekonomi yang sesuai, yang berpengaruh pada neraca perdagangan dan pembayaran. Instrumen kebijakan fiskal adalah variabel belanja pemerintah (G) atau pajak (T). Bersama-sama dengan variabel konsumsi masyarakat (C), investasi swasta (I) dan netekspor (X-M) merupakan komponen yang mempengaruhi output (Y) dalam keseimbangan makro:
Y=C + I+G + (X-M) ... (3.15)
3.3.1. Dampak Kebijakan Fiskal pada Jalur Keynesian
Dalil Keynes selama masa kekacauan ekonomi, kebijakan moneter seperti menurunkanbunga ternyata tidak efektif. Permintaan secara agregat bisa meningkat dengan cepat hanya dengan pengukuran kebijakan fiskal (Romer, 2006). Berdasarkan model makroekonomi Keynes, kas pemerintah merupakan bagian yang sangat penting untuk mengontrol permintaan agregat. Jika ekonomi berada di bawah tingkat full employment, permintaan agregat bisa ditingkatkan dengan meningkatkan pengeluaran pemerintah dan/atau dengan mengurangi tingkat pajak. Menurut Keynes, pemerintah memiliki peranan penting untuk mempromosikan permintaan agregat terhadap pemenuhan tingkat full employment.
Masalah paling inti pada kebanyakan negara yang ekonominya sedang berkembang adalah tingginya pengangguran dan tingkat inflasi, dan defisit neraca
berjalan atau external imbalance. Untuk mengatasi masalah-masalahtersebut, pertumbuhan ekonomi yang tinggi sangatlah dibutuhkan, tapi kebijakan perluasan untuk meningkatkan pertumbuhan memiliki kelemahan terkait dengan ketidakseimbangan antara tingginya pertumbuhan permintaan dan kapasitas persediaan dalam ekonomi. Ini akan berdampak pada neraca eksternal yang merupakan sebuah peningkatan impor dan penurunan ekspor, sebagaimana permintaan yang berlebihan akan menghasilkan inflasi yang tinggi. Sebagaimana akibat dari situasi ini, ekonomi bisa saja kehilangan dayasaingnya yang pada akhirnya memperburuk external imbalance. Walaupun hal tersebut dapatdicapai untuk meningkatkan employment level tetapi hal tersebut bermasalah dalam hal memperburuk neraca berjalan dan neraca pembayaran (BOP).
Pertentangan antara keseimbangan eksternal dan internal mengharuskan sebuah kebijakan fiskal yang efektif dan memiliki dampak negatif yang minim. Menurut sejarah, negara-negara berkembang mengandalkan perluasan kebijakan fiskal untuk mencapai sebuah pertumbuhan ekonomi. Model Fleming-Mundell (M-F) dari model IS-LM standar yang menggunakan pendekatan Keynesians dapat menjelaskan fenomena historis tersebut.
Asumsi yang digunakan dalam Model Fleming-Mundell bahwa Model Neraca Pembayaran (BOP) adalah: (1) nilai upah danharga tetap, (2) permintaan agregat berhubungan dengan pengeluaran pemerintah secarapositif (G) dan output asing (Yf), dan nilai tukar (e) secara negatif berhubungan dengan tingkatsuku bunga domestik (rd), (3) permintaan uang adalah fungsi negatif dari tingkat suku bungadunia (r*) dan fungsi positif tingkat pendapatan domestik, (4) persediaan uang secara negatif dipengaruhi oleh perbedaan tingkat nilai tukar (e) dan nilai tukar yang telah ditentukan (e*),(5) nilai dagang ditentukan oleh tingkat output domestik (Yd) dan tingkat output asing (Yf),dan (6) neraca model ditentukan oleh perbedaan di antara tingkat suku bunga asing dan domestik (Husain dan Chowdhury, 2001).
Tingkat arus modal ditentukan oleh perbedaan tingkat sensifitas suku bunga antara rdan r*, yang memiliki peranan penting dalam model M-F. Asumsi model M-F ini dimana tingkat suku bunga domestik (r) ditentukan oleh tingkat suku bunga dunia (r*), sehingga secara matematis ditulis r = r*. Adapun
keseimbangan makro perekonomian terbuka sebagaimana persamaan (3.15) sebagai keseimbangan di pasar barang:
Y=C + I+G + (X-M) ... (3.16) dimana: Xa dalah ekspor, dan M menunjukkan impor.
Variabel konsumsi (C) tergantung pada disposable income (Y-T), investasi dipengaruhi secara negatif oleh suku bunga dunia (r*), pengeluaran pemerintah dipengaruhi secara negatif oleh defisit pada neraca pembayarannya (D), dan ekspor netto (NX) dipengaruhi oleh nilai tukar (e). Sehingga persamaan (3.29) dapat ditulis seperti pada persamaan (3.16) sebagai persamaan pasar barang atau fungsi IS.
Y = C(Y-T) + I(r*) + G(D) + NX(e) ... (3.17) Adapun keseimbangan di pasar uang dapat dijelaskan bahwa permintaan uang riil dipengaruhi secara negatif oleh tingkat suku bunga, dalam hal ini telah disamakan dengan tingkat suku bunga dunia (r*), dan secara positif oleh pendapatan. Secara matematis dinyatakan:
M/P=L(r*,Y)... (3.18) Keseimbangan pasar barang, pasar uang dan BOP menurut model Mundell-Fleming, dapat dijelaskan melalui dua persamaan berikut:
Y = C(Y-T) + I(r*) + G(D) + NX(e) ... (3.19)
M/P = L(r*Y) ... (3.20) Variabel eksogen meliputi kebijakan fiskal (G dan T), kebijakan moneter (M), tingkat harga (P) dan suku bunga (r*). Variabel endogen meliputi pendapatan (Y) dan nilai tukar (e). Secara grafis, pengaruh kebijakan fiskal pada jalur Keynesian diuraikan sebagai berikut:
3.3.1.1. Kebijakan Fiskal pada Perekonomian Tertutup
Pandangan Keynesian menjelaskan bahwa kebijakan fiskal diyakini paling efektif dalam mengatasi pengangguran dan meningkatkan output. Keyakinan tersebut didasarkan pada besarnya efek multiplier kebijakan fiskal terhadap perubahan output dan sensitivitas permintaan uang terhadap perubahan suku bunga, dimana perubahan suku bunga akan menimbulkan perubahan yang besar pada permintaan uang untuk spekulasi. Hal ini merupakan implikasi dari posisi
kurva LM yang cenderung landai. Dari sisi suplai, Keynesian juga mengasumsikan bahwa kurva AS adalah horizontal atau cenderung landai.
Kurva AS Keynesian horizontal atau cenderung landai karena ekonomi berada pada kondisi unemployment tinggi, sehingga perusahaan dapat memperoleh tenaga kerja sebanyak yang diperlukan dengan upah yang berlaku. Dengan kondisi demikian upah diasumsikan tidak berubah. Keynesian juga mengasumsikan informasi tidak sempurna (0<p<l), yang mengakibatkan pekerja tidak melakukan penyesuaian terhadap perubahan harga, sehingga model Keynesian dapat disebut juga sebagai imperfect foresight model. Secara grafis, keseimbangan makro melalui pendekatan Keynesian disajikan pada Gambar 2 (Mankiw, 2007; Sukirno, 2005).
Pada Gambar 4 di bawah ini menjelaskan bahwa kebijakan fiskal dilakukan pada keseimbangan awal (A) dengan tingkat employment pada N1. Pada kondisi tersebut unemployment sangat besar, sehingga pemerintah meningkatkan G (government expenditure) untuk meningkatkan employment. Hal ini menyebabkan kurva IS bergeser ke atas (IS1 ke IS2). Peningkatan G tersebut meningkatkan Y. Peningkatan Y pada tingkat harga tetap P1 dan suku bunga r1akan meningkatkan permintaan uang, sehingga meningkatkan suku bunga sepanjang kurva LM1, menurunkan investasi dan terjadi crowding out effect.
Pada sisi permintaan, dampak lebih lanjut adalah peningkatan output, agregate demand (AD) meningkat (AD1 ke AD2).Memperketat pasar uang, meningkatkan r dan menurunkan investasi. Pada sisi penawaran, peningkatan harga direspons oleh pengusaha dengan meningkatkan permintaan tenaga kerja, sehingga kurva permintaan tenaga kerja bergeser ke atas.
Sumber: Mankiw (2007); Sukirno (2005); Darsono (2008)
Karena asumsi imperfect informations (0<p<l), maka pada saat yang sama, peningkatan permintaan tenaga kerja karena meningkatnya P direspon oleh buruh dengan menaikkan upah ke W2 dan menggeser kurva penawaran tenaga kerja ke kiri, yaitu ke Pe2.g(N), tetapi pergeseran kurva penawaran lebih kecil dari pergeseran kurva permintaan tenaga kerja. Keseimbangan pasar tenaga kerja meningkat dari N1 ke N2. Peningkatan P terus berlangsung sampai ekses demand
dapat dihilangkan, yaitu pada P2Y3. Employment meningkat ke N2 dan upah meningkat ke W2. Upah riil menurun, tetapi jika elastisitas permintaan tenaga kerja pada keseimbangan baru lebih besar dari pada elastisitas pada keseimbangan awal, maka upah riil akan meningkat. Selanjutnya, pada keseimbangan baru (B), output akhir adalah Y3 yang lebih besar dari keseimbangan awal (terjadi growth).
Dampak akhir adalah peningkatan suku bunga (r), penurunan investasi (I), peningkatan upah nominal (W).
3.3.1.2. Kebijakan Fiskal pada Perekonomian Terbuka
Dalam persoalan ekonomi mendasar dari hampir seluruh negara berkembang adalah masalah current account deficit (external imbalance),
tingginya tingkat pengangguran dan inflasi (internal imbalance). Untuk mengatasi masalah unemployment diperlukan tingkat pertumbuhan ekonomi yang cepat. Namun kebijakan ekspansi untuk meningkatkan pertumbuhan seringkali menyebabkandemand tumbuh lebih cepat dibandingkan dengan kapasitas supply. Hal ini berdampak pada masalah external balance, yaitu: (1) meningkatnya impor sementara ekspor turun, sehingga memperlebar external imbalance, dan (2) excess demand menyebabkan inflasi meningkat berpengaruh pada memburuknya keunggulan kompetitif negara di lingkup internasional, dengan demikian semakin memperburuk external imbalance. Oleh karena itu, tujuan meningkatkan
employment justru seringkali berdampak pada memburuknya current account
pada balance of payment (BOP).
Konflik antara external dan internal balance mengharuskan ada instrumen kebijakan efektif sesuai dengan apa yang dijadikan target. Instrumen kebijakan akan cocok untuk satu kebijakan tertentu tetapi bisa jadi memiliki dampak yang kurang menguntungkan bagi lainnya, sehingga tidak seluruh instrumen cocok untuk setiap target. Dengan demikian instrumen yang akan digunakan untuk
tujuan tertentu adalah instrumen yang akan memberikan efektivitas maksimum. Secara historis negara-negara berkembang sangat menggantungkan kebijakan ekspansi fiskal dalam upaya mencapai pertumbuhan ekonomi. Model Mundell-Fleming dengan model standard IS-LM melalui pendekatan Keynesian dapat menjelaskan keadaan historis tersebut.
Berdasarkan persamaan (3.19) dan (3.20) maka Model Mundell-Fleming (M-F) diasumsikan dengan memasukkan Balance of Payment/BOP sehingga diperoleh asumsi bahwa; (1) upah nominal dan harga fixed, (2) permintaan agregat berhubungan positif terhadap pengeluaran pemerintah (G), output luar negeri (Yf), dan nilai tukar (e) berhubungan negatif dengan tingkat suku bunga domestik (rd), (3) permintaan uang merupakan fungsi negatif dari tingkat suku bunga dunia (r*) dan fungsi positif terhadap tingkat pendapatan domestik, (4) suplai uang secara negatif dipengaruhi oleh deviasi antara nilai tukar (e) dan target nilai tukar tertentu (e*), dan (5) nilai perdagangan ditentukan oleh tingkat output domestik (Yd) dan tingkat output luar negeri (Yf), serta (6) capital account ditentukan oleh perbedaan tingkat suku bunga domestik dan luar negeri (Husain and Chowdhury, 2001).
Derajad mobilitas kapital yang ditentukan melalui sensiti vitas perbedaan suku bunga (r dan r*) mempunyai peranan penting dalam model Mundell- Fleming (M-F), adapun sebagai berikut:
Y =C(Y -T) + l(r*) + G(D) + NX(e) ... (3.21)
M/P =f(r*,Y) ... (3.22)
BOP =f(Yf,Y, ER, r,r*) ... (3.23) Persamaan (3.23) menunjukkan kurva BOP atau BOP=0 untuk berbagai kombinasi pendapatan domestik (Y) dan tingkat suku bunga domestik (r). Dalam hal ini pengeluaran pemerintah (G), nilai tukar (e) dan pendapatan dari luar negeri (Yf) merupakan variabel shifter positif. Slope BOP menunjukkan derajad mobilitas kapital. Jika kurva BOP vertikal artinya tidak ada mobilitas kapital. Sebaliknya pada waktu mobilitas kapital sempurna, slope cenderung tak hingga/horisontal. Kurva BOP horizontal berimplikasi bahwa ada sedikit perbedaan antara tingkat suku bunga domestik dan asing yang akan mendorong adanya aliran kapital.
Efektivitas kebijakan fiskal dalam perekonomian terbuka pada model MF tergantung dari derajad mobilitas kapital dan kondisi exchange rate. Untuk negara-negara di Asia Timur (termasuk Indonesia), meskipun dalam kondisi perekonomian terbuka, tidak banyak menarik investasi asing, berarti slope BOP sangat curam atau mendekati vertikal, yang menunjukkan terbatasnya mobilitas kapital.
3.3.2. Dampak Pengeluaran Pemerintah
Hubungan antara konsumsi pemerintah dan budget-nya dapat dilihat dengan memperhatikan neraca keuangan sektor publik, yang biasa disebut dengan government’s public sector, maka persamaannya dapat ditulis sebagai berikut:
( ) ... (3.24) dimana T adalah pendapatan pajak, Cg adalah konsumsi pemerintah, Ig adalah investasi pemerintah, Bgp adalah pinjaman pemerintah dari sektor swasta, πH
adalah perubahanpersediaan tingginya kekuatan uang, dan Bgf pinjaman pemerintah dari sektor asing.
Sisi kiri dari persamaan (3.24) menunjukkan defisit fiskal sementara di sisi kanan persamaan menunjukkan sumber pendanaan. Jika pemerintah ingin meningkatkan pengeluarannya, maka pendanaan harus dilakuakan dengan meningkatkan pendapatan pajak tanpa mempengaruhi defisit fiskal. Tingkat konsumsi pemerintah ditentukan oleh pendapatannya dan pembiyaan di luar hanya untuk defisit budget. Untuk mengatasi defisit budget, pemerintah harus menginisisasi hal-hal berikut: (a) meminjam dari sektor swasta, (b) money creation, (c) pinjaman luar negeri, (d) pengurangan simpanan devisa, (e) privatisasi, dan (f) akumulasi area. Untuk menutup defisit biasanya pemerinta melakukan dengan kombinasi antara berbagai sumber pendapatan tersebut. Secara alternatif, melihat posisi fiskal pemerintah adalah dengan memperhatikan keseimbangan simpanan-investasi. Secara matematis, hal ini digambarkana pada persamaan (3.25) sebagai persamaan the economy’s saving-investment balance, yang dituliskan sebagai berikut:
dimana T adalah pendapatan pajak, Cg adalah konsumsi pemerintah, Ig adalah investasipemerintah, Sp adalah simpanan swasta, Ip adalah investasi swasta, M adalah import, X adalah ekspor, dan (M-X) adalah defisit neraca berjalan eksternal. Melalui pendekatan ini, maka persamaan (3.25) menunjukkanbahwa defisit fiskal sama dengan total kesenjangan simpanan-investasi dari sektor sektor swastadan defisit neraca berjalan eksternal. Dengan melakukan kombinasi antara persamaan (3.28) dan (3.29) maka diperoleh persamaan berikut ini:
... (3.26) ... (3.27) Dimana Bpf adalah pinjaman dari sektor asing dan swasta. Adapun untuk persamaan (3.26) menyatakan bahwa surplus simpanan sektor swasta sama dengan pinjaman pemerintah ditambah dengan kasnya kemudian dikurangi dengan hutang luar negeri. Berikutnya, persamaan (3.27) menyatakan defisit neraca berjalan eksternal dibiayai oleh pinjaman pemerintah kepada asing dan pinjaman pemerintah kepada sektor swasta. Sumber pinjaman asing adalah simpanan asing. Dengan melakukan substitusi antara persamaan (3.24) dan (3.25) ke dalam persamaan (3.26) untuk mendapatkan persamaan (3.27).
3.3.3. Pengeluaran Pemerintah Untuk Sektoral
Selain klasifikasi anggaran ke dalam belanja rutin dan pengeluaran pembangunan (klasifikasi ekonomi), yang lebih lazim dan dikenal sesuai dengan klasifikasi internasional adalah klasifikasi berdasarkan sektoral. Sampai saat ini, secara sektoral APBN mengklasifikasikan belanja negara ke dalam 20 sektor. Sementara itu, IMF melalui format GFS (Government Finance Statistic) terbaru telah mengembangkan konsep klasifikasi belanja negara. Tujuan konsep tersebut untuk membantu menunjukkan sifat, komposisi dan dampak dari penerimaan, hibah, pengeluaran, pinjaman bersih, pembiayaan dan utang, serta transaksi keuangan pemerintah yang dikelompokkan berdasarkan jenis kegiatannya. Dalam kaitannya dengan belanja negara, di dalam konsep GFS, pengeluaran pemerintah (pusat) diklasifikasikan berdasarkan sifat ekonomi dan berdasarkan fungsi.
Secara ekonomis, pengeluaran dikelompokkan menjadi pengeluaran lancar (rutin) dan pengeluaran modal (pembangunan). Dalam hal ini, pembagian
sektor-sektor ekonomi dititikberatkan pada bagaimana seluruh kegiatan ekonomi dalam suatu negara dapat dibagi menurut bagian-bagiannya, dan sejauhmana pembagian tersebut sesuai dengan struktur ekonomi yang diterapkan di negara yang bersangkutan. Secara fungsional, pengeluaran (dan pinjaman bersih) dikelompokkan sesuai dengan tujuan pokok atau fungsi untuk sektor mana mereka dibentuk, apakah untuk pertahanan, pendidikan, pertanian, dan lain sebagainya.
3.3.4. Pengaruh Subsidi Pemerintah
Definisi subsidi merupakan pembayaran dari pemerintrah kepada perusahaan atau rumahtangga untuk mencapai tujuan tertentu yang pada akhirnya memungkinkan mereka untuk memproduksi atau mengkonsumsi produk dalam jumlah yang lebih besar atau dengan harga yang lebih murah. Tujuan utama subsidi adalah untuk menurunkan harga barang atau untuk meningkatkan jumlah output (Spencer dan Amos, 1993). Menurut Suparmoko (2004), bahwa subsidi atau transfer pembayaran adalah kurang lebih merupakan pengeluaran pemerintah yang juga dikenal sebagai pajak negatif dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan dari penerima subsidi atau konsumen menyadari peningkatan pendapatan riil jika mereka mengkonsumsi barang-barang yang disubsidi. Ada dua jenis subsidi pemerintah transfer dalam bentuk tunai dan subsidi. Transfer tunai diberikan kepada konsumen sebagai pendapatan tambahan pendapatan atau jika uang ini diberikan kepada produsen, maka diharapkan harga produk bisa lebih rendah. Subsidi adalah dimana penerima mendapatkan barang tertentu tanpa harus membayarnya (Handoko dan Patriadi, 2005).
Subsidi dalam bentuk pengeluaran pemerintah adalah untuk membantu masyarakat memenuhi kebutuhan dasarnya dengan harga yang terjangkau. Juga, subsidi diberikan kepada produsen untuk memproduksi kebutuhan dasar dalam bentuk barang dengan jumlah yangcukup dan dengan harga yang terjangkau bagi masyarakat. Subsidi ditujukan untuk menstabilkan ekonomi, khususnya stabilitas harga. Subsidi diharapkan menjaga bahan mentah yang adauntuk siap pakai dan harganya terjangkau (Nota Keuangan dan APBN, 2010).
(a)
(b)
Sumber: Nicholson (2002)
Gambar 3. Dampak Subsidi Terhadap Penawaran dan Permintaan D1 0 D Q P Harga Produk S P1 Jumlah Produk 0 Q P1 Q1 P Jumlah Produk D S Q1 Harga Produk S1
Di banyak negara berkembang, subsidi sangatlah penting untuk meningkatkan produktifitas dan kesejahteraan (Norton, 2004). Subsidi adalah cara yang efisien atau transfer pembayaran dari pemerintah kepada masyarakat sebagai bentuk dari redistribusi kesejahteraan. Redistribusi kesejahteraan adalah dasar dari subsidi. Efek dari subsidi pemerintah terhadap penawaran dan permintaan dapat ditunjukkan pada Gambar 3.
Pengaruh elastisitas pada kurva penawaran dan permintaan ditunjukkan pada Gambar 3. Jika kurva permintaan tidak elastis secara sempurna, sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3(a) menunjukkan bahwa subsidi akan menggeser kurva penawaran dari S menjadi S1. Jumlah pada keseimbangan hasilnya sama saja, tetapi harga akan meningkat. Jika permintaan mempunyai elastisitas sempurna, maka kurva penawaran bergeser ke kanan dari S menjadi S1 yang akan meningkatkan output keseimbangan dari Q menjadi Q1 sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 3(b). Berdasarkan Gambar 3(c) bahwa pengaruh subsidi merupakan peningkatan jumlah keseimbangan pada harga yang sama. Artinya, jika kurva penawaran elastis secara sempurna, maka subsidi akan meningkatkan jumlah keseimbangan.
Kebijakan subsidi pemerintah selalu berhubungan dengan barang dan jasa yang memiliki eksternalitas positif. Pada saat pengaruh negatif dari subsidi menciptakan alokasi yang tidak efektif karena konsumen mengkonsumsi barang yang disubsidi secara berlebihan (boros). Di samping itu, hal ini dikarenakan harga lebih rendah dibandingkan opportunity cost-nya, maka ada kemungkinan bagi produsen untuk menjadi tidak efektif dalam menggunakan sumber daya untuk memproduksi barang-barang yang disubsidi (Spencer dan Amos, 1993). Subsidi yang tidak transparan dan tidak ditargetkan dengan baik bisa saja menyebabkan distorsi harga, inefesiensi, dan dinikmati oleh orang-orang yang tidak berhak (Basri, 2002).
(a) (b) (c)
Sumber: Nicholson (2002)
Gambar 4. Pengaruh Subsidi Terhadap Elastisitas Sempurna dan Tidak Sempurna 0 D Q P1 Harga Produk P Jumlah Produk S S1 Q1 0 D Q Harga Produk P Jumlah Produk S S1 Q1 0 D Q P1 Harga Produk P Jumlah Produk S S1