III. KERANGKA TEORI
3.2. Teori Pertumbuhan Keynesian
Teori business cycle yang menekankan pentingnya ketidakstabilan permintaan agregat sebagai penyebab terjadinya fluktuasi ekonomimakro adalah teori Keynesian, baik Traditional Keynesian maupun New Keynesian. Teori
Traditional Keynesian, dikembangkan dengan asumsi terdapatnya hambatan
(barriers) pada penyesuaian segera (instantaneous adjustment) dari harga dan upah nominal. Kesulitan penyesuaian ini menyebabkan perubahan dalam permintaan agregat terhadap barang pada tingkat harga tertentu. Perubahan ini selanjutnya berpengaruh terhadap jumlah barang yang dihasilkan. Hal ini akan menyebabkan terjadi gangguan moneter dan berpengaruh pula terhadap permintaan tenaga kerja dan output.
3.2.1. Teori Pertumbuhan Keynesian Tradisional
Model Traditional Keynesian disimpulkan dengan dua kurva output
harga yakni kurva permintaan agregat (AD) dan kurva penavvaran agregat (AS). Kurva AD merupakan gambaran ekonomi dari sisi permintaan. Kurva ini diturunkan dari kurva output-suku bunga yakni kurva IS-LM. Kurva LM menunjukkan hubungan antaraoutput dan suku bunga yang menunjukkan kondisi keseimbangan di pasar uang pada tingkat harga tertentu. Secara sederhana yang dimo ksud dengan uang adalah high-powered money-currency dan reserves yang dikeluarkan oleh pemerintah. Permintaan untuk keseimbangan uang rill (real money balance) merupakan fungsi menurun (decreasing function) dari suku bunga nominal.Hal ini disebabkan karena high powered money tidak membayar suku bunga nominal, sebagai biaya opportunity dari memilikinya.Selanjutnya volume transaksi akan semakin besar dengan semakin besarnya output. Adapun permintaan untuk keseimbangan uang riil merupakan fungsi meningkat
(increasing) dari output. Hal ini dapat dituliskan pada persamaan (3.5) adalah: M/P=L(i,Y),L <0,Ly>0 ... (3.5) Turunan pertama terhadap Y dari pers. (3.5) menghasilkan:
, 0 i y LM L L y i ... (3.6)
dimana Li dan Ly adalah turunan parsial dari L(*) dan LM y i merupakan y i sepanjang kurva LM. Peningkatan elastisitas permintaan uang terhadap pendapatan(income elasticity of money demand) dan penurunan elastisitas suku bunga (interest elasticity) dalam nilai absolut menyebabkan kurva LM lebih tinggi
(steeper). Secara implisit, model IS-LM memperlakukan seluruh asset kecuali uang, bersubstitusi sempurna (Romer, 2006).
Kurva IS menuniukkan hubungan output-sukubunga. Pengeluaran riil berhubungan positif dengan pendapatan riil dan pengeluaran pemerintah. Sebaliknya berhubungan negatif dengan suku bunga nil dan pajak.
E = E(Y, i–7 re,G, T)
G<El. <1 , E. n,<O,EG>0, Ey. <0... (3.7) dimana Л2adalah ekspektasi inflasi, G adalah pengeluaran pemerintah, dan T adalah pajak. Pengaruh negatif dari suku bunga terhadap rencana pengeluaran bekerja melalui keputusan investasi perusahaan can keputusan pembelian konsumen terhadap barang. Rencana pengeluaran diasumsikan meningkat lebih kecil dari pendapatan, sehingga jika 0 <E <1, maka besarnya nilai E adalah:
E = C ( Y–T ) + 1 ( i– Л2
) + G ... (3.8) dimana C adalah konsumsi dan I adalah investasi. Asumsi bahwa suku bunga riil mempengaruhi konsumsi dan pendapatan mempengaruhi investasi tidak realistik. Jika Ricardian equivalence dipegang, maka pajak tidak berpengaruh terhadap permintaan. Hal ini secara umum menjadi dasar memhuat asumsi bahwa pendapatan dan pajak mempunyai pengaruh yang sama dan berlawanan terhadap pengeluaran (Romer, 2006).
Jika semua output yang dihasilkan perusahaan dibeli oleh konsumen, maka pengeluaran aktual sama dengan output ekonomi Y sehingga dalam keadaan ekuilibrium, rencana dan pengeluaran aktual harus sama, keadaan ini dapat dituliskan :
E = Y ... (3.9) dengan memasukkan persamaan (3.8) ke dalam persamaan (3.9) dihasilkan :
Y = E(Y,i—Л2
Peningkatan suku bunga akan menggeser kurva rencana pengeluaran ke
bawah kari enaena E menurun dalarn (i-Л2), sehinggapengurangan ti ngkat pendapatan pada rencana dan pengeluaran aktual adalah sama.
Turunan pertama dari persamaan (3.10) adalah:
Y IS E E y i 1 2 1 ... (3.11)
Persamaan di atas menunjukkan bahwa kurva IS lebih landai jika E12, atau Ey lebih besar. Semakin besar pergeseran garis rencana pengeluaran ke bawah, semakin besar outputturun. Dengan cara yang sama, semakin tinggi garis rencana pengeluaran, semakin besar outputturun dalam merespon pergeseran ke bawah garis rencana pengeluaran untuk mencapai titik dimana rencana dan pengeluaran aktual mencapai keseimbangan dan semakin besar turunnya output.Pengaruh yang terakhir ini dikenal dengan sebutan multiplier. Karena nilai E bergantung pada nilai Y, maka penurunan Y mernbutuhkan keseimbangan baru dari E dan Y yang lebih besar dari jumlah turunnya F pada Y tetap.
Perpotongan antara kurva IS dan LM menunjukkan nilai i dan Y pada konc'isi keseimbangan di pasar uang. Aktual maupun rencana pengeluaran adalah sama untuk ti ngkat P,Лe, G dan T tetap. Peningkatan harga mengurangipenawaran keseimbangan uang riil (real money balance). Pada tingkat pendapatan tetap, semakin tinggi harga, semakin tinggi pula suku bunga yang dibutuhkan agar tercapai keseimbangan di pasar uang. Kurva LM selanjutnya bergeser ke atas sehingga mengakibatkan i meningkat dan Y turun. Tingkat output pada titik perpotongan kurva IS dan LM merupakan fungsi menurun dari tingkat harga. Hal ini ditunjukkan oleh kurva permintaan agregat. Slope kurva AD adalah turunan pertama dari persamaan(3.7) dan persamaan (3.11) : " 2 AD AD i P Y Lr P Li P M ... (3.12) AD AD y AD P i E P Y E P Y e 1 ... (3.13) y i i y AD L E L E P M y i e ] / ) 1 [( / 2 ... (3.14)
Dari persamaan di atas dapat dilihat secara nyata (unambiguous) berarah negatif. Hal ini selanjutnya akan menentukan kemiringan (slope) kurva AD. Ada beberapa kelemahan teori business cycle yang dikemukakan oleh Traditional Keynesian yakni: (1) asumsi harga dan upah tetap, (2) tidak ada perbedaan analisis jangka pendek (short-run) dan jangka panjang (long-run), dan (3)mengabaikan uang sebagai sunIber ketidakstabilan permintaan agregat (Hall,1990).
3.2.2. Teori Pertumbuhan Keynesian Baru
Dalam teori New Keynesian (NK) beberapa kelemahan teori Traditional Keynesian telah disempumakan. NK telah memasukkan teori klasik (supply side)
dan teori-teori monetarist dalam teorinya. Guncangan pada sisi penawaran menurut teori NK juga merupakan penyebab fluktuasi yang panting. Guncangan dari sisi penawaran menyebabkan perusahaan menggeser kurva biaya marginal. Pergeseran ini mengakibatkan terjadinya perubahan kurva penawaran agregat jangka pendek dan jangka panjang pada arah yang sama.
Selain guncangan dari sisi penawaran, ketidakstabilan moneter dan pengaruh guncangan terhadap permintaan uang dalam model NK juga dipandang sebagai sumber fluktuasi ekonomi makro yang penting. Sama seperti model monetarist, NK juga percaya pada Natural Rate Hypothesis.
Dalam Natural Rate Hypothesis pertumbuhan output jangka panjang ditentukan oleh faktor-faktor riil yakni teknologi, pertumbuhan penawaran tenaga kerja, tingkat investasi, dan pengaturan kelembagaan. Dalam jangka pendek, yang mempengaruhi output dan tenaga kerja adalah perubahan permintaan agregat. Perubahan ini terjadi karena adanya salah ekspektasi pelaku ekonomi terhadap harga-harga.
Dalam teori NK harga input dan output diasumsikan fleksibel dalam jangka panjang namun kurang fleksibel dalam jangka pendek. Ketidakfleksibelan yang disebut rigiditas ini menyebabkan fluktuasi variabel riil dalam jangka pendek rigiditas harga terjadi karena adanya insentif swasta, seperti biaya menu dan harga mark-up. Yang dimaksud dengan biaya menu adalah biaya tetap yang terjadi karena adanya penyesuaian terhadap harga nominal. Adanya penyesuaian ini menyebabkan terhambatnya harga-harga untuk benar-benar fleksibel dalam jangka pendek. Akibat tidak fleksibelnya harga output dalam jangka pendek,
guncangan positif terhadap permintaan agregat misalnya guncangan moneter, dapat menyebabkan harga output meningkat lebih rendah dibandingkan dengan perubahan dalam permintaan agregat. Hal ini selanjutnya akan menyebabkan terjadinya fluktuasi ekonomi.
Mankiw (2007) berpendapat bahwa business cycle merupakan hasil dari kegagalan pasar dalam skala besar. Kegagalan ini terjadi karena adanya rigiditas dalam pasar barang dan jasa. Menurut NK, upah nominal juga rigid dalam jangka pendek karena adanya kontrak upah. Ketika terjadi peningkatan harga output,
sementara upah nominal tetap (rigid) akan menyebabkan upah rill turun. Hal ini menyebabkan perusahaan mempekerjakan lebih banyak tenaga kerja untuk memproduksi output yang lebih besar. Karena itu guncangan terhadap permintaan agregat, termasuk permintaan agregat nominal dapat menyebabkan fluktuasi variabel riil dalam jangka pendek.
Romer (2006) menyimpulkan terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku siklikal dari sisi penerimaan maupun dari sisi biaya. Dari sisi penerimaan faktor yang mempengaruhi perilaku siklikal antara lain dampak dari luasnya pasar (thick market effects), informasi yang tidak sempuma, dan pasar modal yang tidak sempuma. Ketiga hal ini menjadi penghambat perusahaan untuk menaikkan harga ketika terjadi resesi. Dan sisi biaya, faktor yang me mpengar uhi perilaku siklikal adalah eksternalitas l uasnya pasar(thick market externalities), ekonomi aglomerasi, dan tidak sempumanya pasar modal. Semua faktor ini akan menyebabkan biaya menjadi lebih tinggi selama resesi.
Model NK menggunakan asumsi pasar tidak sempurna, yakni adanya hambatan (barriers) saat terjadinya penyesuaian harga dan upah. Dalam struktur pasar yang tidak sempurna, misalnya pasar monopolistik, sifat alamiah MC muncul dalam business cycle ketika terjadi fase ekspansi. Perubahan output akibat kemajuan teknologi akan menyebabkan perubahan MC. Hal ini menyebabkan harus dilakukan penyesuaian.
Asumsi ketidaksempumaan kompetisi yang secara eksplisit dimasukkan di dalam model menyebabkan timbulnya berbagai kemungkinan guncangan dari sisi permintaan. Di samping guncangan teknologi, guncangan terhadap pertumbuhan moneter, guncangan pada permintaan agregat, guncangan
pengeluaran pemerintah den mark-up, guncangan jumlah differensiasi barang yang diproduksikan di pasar juga digunakan di dalam model dalam berbagai studi
NK (Siregar, 2002).
Rotemberg dan Woodford (1995) selanjutnya mengembangkan model multi guncangan dari sisi permintaan terhadap ekonomi. Ada beberapa asumsi yang digunakan dalam modelnya, yakni: (1) ekonomi terdiri dari perusahaan yang berkompetisi secara monopolistik dalam pasar (monopolistic competition in product markets) dan rumahtangga yang hidup tanpa batas (identically infinitely lived households), (2) koefisien teknologi tetap (fixed-coeffocient technology)
untuk input material dan mark-up untuk setiap perusahaan adalah konstan, (3) asumsi pasar yang tidak sempurna yang mempunyai implikasi pentingnya kekuatan pasar (market power), dan (4) asumsi increasing returns, yang kehadirannya dibuat dengan memasukkan input tetap (fixed input) ke dalam fungsi pertambahan nilai (value added function) agregat.
Implikasi dari struktur pasar yang tidak sempurna adalah, hasil alokasi menjadi tidak pareto optimal. Hal ini menyebabkan kondisi ekuilibrium tidak dapat dicapai. Untuk mengatasi masalah ini, Rotemberg dan Woodford (1995) menggunakan karakterisasi ekuilibrium persamaan Euler. Pengaruh mark-up
pada fluktuasi ekonomimakro berasal dan diberlakukannya berbagai tingkat kemampuan substitusi dari berbagai barang yang berbeda. Inovasi yang membawa perbedaan ini bervariasi berdasarkan elastisitas permintaan perusahaan. Variasi ini selanjutnya menyebabkan mark-up berubah sepanjang waktu. Dalam hal tenaga kerja (employment), variasi mark-up berimplikasi pada pergeseran permintaan tenaga kerja. Hal ini menyebabkan guncangan pengeluaran pemerintah dapat mempengaruhi fluktuasi ekonomi makro melalui suplai jumlah jam kerja.
Ada beberapa kritik penting terhadap teori NK, yakni penggunaan agen representatif, yang menyebabkan terjadinya Fallacy of Composition. Fallacy of Composition ini mengakibatkan kebijakan harga yang assimetrik pada tingkat perusahaan, tetapi tidak berimplikasi assimetrik pada level agregat dan sebaliknya (Romer, 2006). Model NK selanjutnya cenderung memiliki kekurangan dalam konsistensi internal. Hal ini mungkin disebabkan karena
model NK sering menolak beberapa dasar ekonomimikro, misalnya aksioma bahwa individual bersifat rasional dan optimis. Menurut Romer (2006), karena teori Keynesian tidak didasari oleh fondasi ekonomi mikro, maka tidak mungkin dilakukan analisis kesejahterean.
Sebagai reaksi kemudian muncul berbagai teori yang coba memberikan landasan ekonomi mikro untuk model Keynesian. Model-model ini disebut sebagai model ekuilibria ganda(models of multiple equilibria), misalnya Diamond (1984) dan Howit (1985) yang mengembangkan Search Theories.Teori ini menganalisis bagaimana rumahtangga dan perusahaan bennteraksi. Teori ini juga menganalisis adanya eksternalitas perdagangan (trading externality) untuk menilai apakah individual disewa atau ingin disewa. Eksternalitas perdagangan adalah interaksi non-harga (non-price interaction) antar agen yang tidak dapat dihilangkan dengan fleksibilitas harga.
Kemudian Woglom (1982), Blanchard Kiyotaki (1986), dan Rowe (1987), marigembangkan model kurvakinked demand (kinked demand curves model).
Model equilibrium ganda lainnya juga telah dikembangkan dengan menggunakan istilah seperti eksternalitas, informasi tidak sempurna, missing markets, non-convexity, moral hazard, kekuatan pasar (market power) dan yang lainnya. Model-model ini menambah khasanah penelitian business cycle dan menunjukkan banyaknya faktor yang dapat menjadi penyebab terjadinya fluktuasi ekonomi agregat.