• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dibutuhkan Orang Lain

Dalam dokumen DINAMIKA DUKUNGAN KELUARGA PADA PEMIMPIN (Halaman 165-183)

Hasil PenelitianBAB IV

C. Hasil Penelitian

4) Dibutuhkan Orang Lain

Berdasarakan hasil wawancara dengan narasumber dan

signiicant others dapat diketahui bahwa Sofa mendapatkan dukungan dari adanya perasaan bahwa ia dibutuhkan oleh orang lain. Perasaan dibutuhkan oleh orang lain dipe-roleh dari rekan kerja, mahasiswa maupun organisasi. Sebagai kaprodi perempuan, seringkali mahasiswa datang kepada Sofa baik untuk urusan akademik maupun urusan personal. Pribadi Sofa yang memang cenderung keibuan, lembut dan sabar membuat mahasiswa berani datang kepada Sofa untuk sekedar curhat. Seperti curhat masalah keluarga, pacar, ibu kos, bahkan meminjam uang.

“Kalau mahasiswa ya ada 5­10 orang itu kan, curhat tentang skripsi, tentang dosennya, curhat tentang pacar­ nya, tentang ibu kos, tentang macam­macam orang­ tuanya cerai, wah macam­macam.” (N2.S/W2.502-506)

“Mahasiswa yang datang ke prodi tuh sesinya sesi curhat tuh banyak.” (SO4.F/W1.846-847)

Selain mahasiswa, rekan kerja terkadang juga datang kepadanya hanya untuk curhat, koreksi atau meminta per-timbangan atas suatu hal terkait dengan masalah pribadi.

“Juga itu Bu Ajeng itu yang sering minta koreksi atau curhat apa, kalau yang lain ya saya kira sudah pada gede­gede semua.” (N2.S/W2.546-547)

Sementara itu, di lingkungan tempat tinggal, sebagai pimpinan di ‘Aisyiyah, Sofa sering diminta untuk meninjau TK ABA yang ada di daerah sekitar rumahnya. Interaksi antara Sofa dan tetangga relatif kurang intens karena di lingkungan Sofa terkesan sepi. Sofa mengatakan jika ia hanya sering berinteraksi dengan tetangga-tetangganya me-lalui media sosial (WA) dan hanya saat kegiatan-kegiatan tertentu saja bisa benar-benar bertemu. Oleh karena sama-sama sibuk dengan pekerjaan masing-masing.

“Kalau disini paling main­main aja sih disini ada TK Aba main aja nggak struktur ya sama di WA. hehehe ngerti perkembangannya aja.”(N2.S/W2.331-334) Ketika pengangkatan Sofa sebagai pemimpin re-daksi majalah Suara ‘Aisyiyah serta BPH PUTM, pada ke dua nya sebenarnya hendak mengundurkan diri karena prioritas Sofa adalah prodi. Namun, karena keduanya pula Sofa diminta untuk tetap bertahan seiring dengan adanya dukungan dari suami serta rekan dekat Sofa. Pada akhirnya Sofa bersedia menjalankan peran-peran tersebut. Di Suara ‘Aisyiyah bahkan banyak Ibu-Ibu yang berharap kepada Sofa untuk mengelola majalah tersebut. Meskipun Sofa sudah mengatakan sejak awal bahwa ia hanya bisa mengalokasikan waktu dan tenaga sekian untuk Majalah SA dan ternyata hal tersebut masih tetap diterima sehingga Sofa merasa dihargai. Begitu pula di BPH PUTM. Sebagian besar anggota BPH PUTM adalah orang-orang yang secara usai sudah tidak muda lagi. Kehadiran Sofa menjadi salah satu dari mereka diharapkan menjadi bentuk kaderisasi.

“Intinya saya merasa dihargai aja. Kalau dengan Ibu­Ibu ‘Aisyiah saya merasa Ibu­Ibu ‘Aisyiyah itu banyak sekali berharap majunya Suara ‘Aisiyah kepada saya. Nah itu saya yang sedih karena saya hanya bisa memberikan tenaga dan pikiran dan waktu yang sangat terbatas.”(N2.S/W2.423-429)

“Jangan mundur Bu tapi dilihat aja posisi kita, se­ benarnya posisi kita ini memberikan e..hanya sebagai kader, ketika kan orang­orang semua bph itu sudah tua­ tua sekali. Mereka nanti fungsinya sudah menurun, kita yang diminta maju. Jadi sampaikan aja ke Pak Fahmi bahwa hanya bisa sampai segini.”(N2.S/W2.219-226) 5) Dukungan Orang Terdekat

Berkaitan dengan aspek kedekatan, Sofa memiliki relasi yang sangat dekat terutama dengan keluarga sendiri serta dengan rekan kerja yang sudah dianggap sebagai kakak ataupun rekan kerja paling dekat karena sama-sama menjabat di dua tempat yang sama. Kedekatan yang di-maksud ini dirasakan Sofa supaya ia merasa aman dan nyaman dalam menjalankan peran.

Suami merupakan orang yang paling dekat dengan Sofa. Mereka selalu terhubung dan saling berkirim kabar mengenai aktivitas yang sedang masing-masing kerjakan. Suami sering berkirim foto kepada Sofa, sementara Sofa lebih sering hanya mendeskripsikan aktivitasnya melalui tulisan. Keterhubungan dalam komunikasi dilakukan oleh Sofa agar ia merasa aman dan nyaman dalam menjalankan peran di luar rumah.

“Gini ya kita harus selalu komunikasi ya, sedang apa ini, udah sarapan belum, gitu aja yang kecil­kecil, kalau

sama anak saya udah sholat belum semuanya ada di grup jadi memang semakin tahu aktivitas yang dilakukan.”

(N2.S/W2.449-454)

Selain suami, anak-anak juga sering bercerita kepada Sofa atau Sofa sendiri yang memancing anaknya untuk bercerita. Saat sedang ada kesempatan berkumpul bersama di rumah, suami tidak ke luar kota, kegiatan keluarga diisi dengan diskusi. Apabila bertepatan dengan hari libur/

weekend Sofa sekeluarga jalan-jalan. Hampir setiap momen jalan-jalan Sofa selalu mengajak anak, tidak hanya berdua dengan suami kemudian anak ditinggal, kecuali memang murni urusan penelitian ke luar kota/ luar negeri maka mau tidak mau anak-anak harus ditinggal.

“Iya, kalau nggak dipancing, dipancing tadi ngapain, makan apa, temannya gimana, kalau.. apa..” (N2.S/ W2.465-466)

“Jalan­jalan tapi anaknya diajak. Kan kadang ada sih Ibunya sibuk, anaknya tinggal..anaknya tinggal. Selalu dibawa, yang kecil tuh selalu dibawa, mungkin Avra dulu waktu kecil juga ikut dibawa karena sekarang udah besar.”(SO3.U/W1.321-326)

Kedekatan Sofa dengan suami dan anak-naknya juga tampak di facebook Sofa. Sofa dan keluarga sering berfoto bersama dengan mengenakan baju yang kompak atau bahkan semuanya sama. Selanjutnya, Sofa juga memiliki kedekatan dengan orang-orang tertentu di kantor. Se-perti yang sudah diketahui oleh rekan kerja yang lain bahwasannya Sofa dan Bu Inayah kakak-adikan.

“Iya...he’e paling lebih kayak adik­kakak gitu sama Bu Inayah gitu, terus dia jadi kalau ada masalah sama Bu Inayah masalah cuma masalah sepele­sepele gitu dia, aku dicuekin sama Bu Inayah, yaudah Bu diemin dulu, haa kan cuma sepele kayak anak kecil deh (ketawa).”(SO4.F/ W1.1221-1234).

“Ya paling cuma itu tadi tapi ya nggak ini sih nggak lama, sehari dua hari udah. Nggak apa­apa kayak kita sama teman, karena udah dekat juga kan mungkin. hehehe Bu Inayah bilang, itu adekku itu.”(SO4.F/ W1.1312-1318)

Selain dengan Bu Inayah, Sofa juga dekat dengan Pak Ustadzi karena sama-sama di BPH PUTM. Pak Ustadzi juga menjadi pihak yang memberi pertimbangan saat Sofa hendak ragu-ragu dan ada keinginan mengundurkan diri dari BPH PUTM.

“Saya juga hampir mundur aja gimana ya gitu? Per­ timbangan­pertimbangan, teman­teman disini juga kayak Pak Ustadzi, itu kan yang paling dekat sekarang ini Pak Ustadzi kan di Muhammadiyah, sama­sama BPH PUTM.”(N2.S/W2.209-214)

6) Dukungan Pemberian Penilaian

Berdasarkan hasil wawancara dengan Sofa dan signi­ icant others diketahui bahwa Sofa mendapatkan dukungan berupa pemberian penilaian dari rekan-rekan di kantor melalui kontribusi yang selama ini sudah dilakukan oleh Sofa sebagai kaprodi. Menurut sekretaris prodi, Sofa dinilai bahwa ia berhasil meningkatkan tim building prodi, yang sebelumnya sempat terjadi ketidakharmonisan hubu-ngan. Oleh staf administrasi Sofa dinilai jika ia tertib

administrasi serta tepat waktu jika diminta untuk meleng-kapi berkas-berkas tertentu. Oleh atasan Sofa dinilai bahwa Sofa adalah orang yang cenderung well­prepared

sehingga Sofa akan benar-benar mempersipakan segala sesuatu yang dikerjakannya supaya berjalan dengan baik dan lancar. Selain itu, dalam kepemimpinannya, Sofa selalu mengutamakan musyawarah. Jika terdapat hal yang akan berakhir dengan keputusan, Sofa selalu melontarkan ke pada rekan kerjanya, Sofa mendengarkan pendapat-pendapat dari mereka kemudian baru membuat keputusan.

“Kalau saya untuk dari tahun 2015/2016 itu target saya kemarin itu tim building, jadi karena semua dosen­ dosen disini menjabat, sibuk bagaimana caranya biar sebagai tim itu kuat. Akhirnya saya membuat acara­ acara itu, dosennya semuanya ikut jadi alhamdulillah selama ini orang menilai sama saya, Pak Masrur mem beri penilaian, terus Pak Damami itu memberi penilaian, bahwa prestasi saya untuk periode ini adalah meningkatkan tim building. Sebelum saya ini sempat e..jalan sendiri­sendiri gitu. Itu tim building itu yang saya dengar dari beliau, Pak Masrur yang sekarang jadi sekprodi. Terus yang saya dengar mungkin ini baru terkorek ya, nah Bu Sulami sebagai staf saya, jurusan yang diatas dengan yang diatur beliau itu, itu apa namanya tertib administrasi.” (N2.S/W2.590-609)

“Bu Inayah juga pernah mengatakan, saya tuh orangnya apa namanya well prepared kalau kata Bu Inayah selaku atasan saya, wakil dekan, kamu orangnya well prepared. Terus Pak Damami bisa membangun tim building, Pak Damami dan Pak Masrur itu. Kalau Pak Masrur kemarin bilangnya, e…tim building pertama, kedua

selalu mengutamakan musyawarah, kata Pak Masrur lho.”(N2.S/W2.629-638)

Selain adanya pemberian penilaian yang diberikan oleh rekan-rekan kepada Sofa, dalam hal kontribusi Sofa bagi prodi yang merupakan bagian dari prestasi Sofa yakni Sofa pernah mengundang orang-orang yang dikenal Sofa di Jepang dari University of Tokyo untuk mengisi kuliah umum prodi yang terkait dengan keberagamaan orang-orang Jepang. Selain itu, latar belakang narasumber yang dekat dengan dunia jurnalistik dan media membuat Sofa lebih banyak menaruh perhatian pada isu-isu keberagamaan yang ada di media. Hal ini ditunjukkan dengan adanya kuliah umum yang berhasil menghadirkan direktur Voice of America (VOA) Indonesia berkat jaringan Sofa.

“Jadi setelah itu baru 2016 ini dia juga ikut kontribusi ikut penelitian yang pernah didanai LP2M di Jepang terus e di prodi ada kegiatan kuliah umum gimana kalau dia manggil orang­orang yang dia kenal di Jepang itu untuk ngisi di prodi gitu.”(SO4.F/W1.1060-1064)

“Ya karena kemarin itu banyak gambaran­gambaran dari VOA Indonesia, nah dia manggil itu direktur VOA Indonesia karena dia juga kenal sama orangnya Pak France, dipanggil kesini suruh ngisi. Jadi kita ngelaku­ kannya dengan skype dengan beliau di Amerika itu berkat koneksinya Bu Sofa juga kalau nggak mungkin kita nggak kenal itu.”(SO4.F/W1.1081-1087)

7) Dukungan yang Bermakna

Berkaitan dengan dukungan bermakna yang datang dari suami yakni Sofa merasa senang karena suami masih menga lokasikan waktu ditengah sama-sama sibuk bekerja

dan sama-sama padat, tetapi suami masih memikirkan waktu untuk berdua dengan Sofa dan saling memberi sup-port. Apalagi ketika Sofa menyadari bahwa suami sedang sibuk, namun suami tetap menyempatkan hadir ke acara Sofa.

“Ya senang ya maksudnya ada alokasi waktu ditengah­ tengah sama­sama bekerja sama­sama padat, tapi tetap bisa memikirkan waktu berdua, memberikan support.”

(N2.S/W2.103-106)

“Walaupun sesibuk apapun dia diluangkan waktu untuk datang acara keluarga di kampus ya. Pada teman­teman saya semua akrab suami saya.”(N2.S/W1.436-441) d. Alasan Pemberian Dukungan

Kebebasan Sofa dalam menjalankan berbagai peran di luar rumah tidak terlepas dari dukungan keluarga, teru-tama suami. Jika suami tidak memberikan izin, maka kiprah istri di luar rumah tidak akan pernah terwujud. Oleh sebab itu, alasan munculnya dukungan dari suami juga perlu diketahui selain mengetahui tentang bentuk-bentuk dukungan apa saja yang diberikan oleh suami mau-pun keluarga kepada istri.

Sofa mendapatkan dukungan dari suami untuk men-jalankan berbagai peran publik didasari atas empat alasan. Pertama adalah sudah adanya komitmen antara narasumber dan suami sejak sebelum menikah mengenai peran masing-masing. Narasumber dan suami sudah khatam berdiskusi tentang peran perempuan di rumah.

“Jadi waktu kami mau menikah itu kami menyamakan banyak persepsi, banyak hal, bagaimana tentang peran perempuan di rumah,kita udah diskusi habis itu.”

(N2.S/W2.724-727)

Alasan yang kedua yakni persepsi Sofa bahwa suaminya sadar jika setiap orang berhak untuk mengembangkan potensi nya, dan sepanjang apa yang dilakukan oleh Sofa ber manfaat, suami senang. Selama ini tidak ada kendala-kendala yang dirasakan oleh Sofa dalam menjalankan perannya di luar rumah.

“Karena dia kan tahu bahwa manusia itu harus me­ ngem bangkan potensinya dan sepanjang yang saya laku kan bermanfaat jadi dia senang gitu. Nggak ada kendala­kendala gitu saya.” (N2.S/W2.761-764) Menurut Sofa, suami cenderung menyukai perempuan yang aktif dan energik. Suami Sofa adalah orang yang sangat sosial, mengerti tentang perjuangan karena latar bela kang Ibu mertua Sofa yang juga aktif di ‘Aisyiyah.

“Dia memang suka perempuan aktif dia suka, perempuan aktif, energik itu dia suka. Jadi apa namanya lagi pula dia orang yang sangat sosial ngerti perjuangan, karena ibunya juga ‘Aisyiyah.”(N2.S/W2.719-722)

Latar belakang suami yang juga memiliki pengalaman aktif di LSM Rifka Annisa, suami Sofa adalah laki-laki pertama di LSM tersebut. Selain itu, tesis suami juga tidak jauh-jauh dari perempuan serta pernah menjabat sebagai sekretaris PWS UGM. Berangkat dari latar belakang ter-sebut, suami menjadi sadar gender. Sofa bahkan mengakui jika ia semakin mantap menikah dengan suaminya karena

suami sadar gender, satu garis perjuangan karena sama-sama berlatar belakang keluarga Muhammadiyah, serta seluruh keluarga suami juga pendidik. Sofa bersyukur dengan kondisi tersebut. Hal yang paling disyukuri oleh Sofa yakni karena suami berangkat dari LSM Rifka Annisa. Oleh karena itu, tidak ada halangan berarti bagi Sofa untuk berkembang sepanjang apa yang dilakukan Sofa memiliki tujuan yang jelas.

“Suami saya itu orangnya sadar gender Mbak. Dulu dia laki­laki pertama di Rifka Anisa.”(N2.S/W2.715-716)

“Terus yang kedua, tesisnya juga tentang perempuan, sampai sekarang dia masih punya, Sekretaris PSW UGM juga pernah dia.”(N2.S/W2.749-752)

“Dan kebetulan itu yang saya syukuri, menemukan orang yang satu garis perjuangan ya, dia Muhammadiyah kemudian...paham gender itu kan luar biasa ya. Artinya tidak semua orang mendapat anugerah suami suami seperti itu, yang terkungkung dengan itu dengan bias gender itu suami saya ahamdulillah, saya mantepnya juga disitu, dari keluarga Muhammadiyah, ayah ibunya aktivis, e apa namanya cabang Muhammadiyah, terus seluruh keluarganya pendidik, dia anak ke dela­ pan.”(N2.S/W2.727-738)

e. Dinamika Dukungan Keluarga

Dukungan yang diberikan kepada Sofa pada akhirnya membuat Sofa merasa nyaman dalam menjalankan peran-nya di luar rumah sebagai ketua program studi. Menurut Sofa, kenyamanan tersebut dapat meningkatkan spirit kerja bahkan berdampak pada keharmonisan keluarga.

“Jadi tenang ya Mbak ya kan e...itu kan semua pengaruh ke kondisi psikologis sampai dengan hari­hari biasa. Misalnya kalau ada masalah atau salah paham dengan suami itu aja udah seharian low bat gitu, sampai kemu­ dian mungkin ketemu menjelaskan apa yang terjadi dengan kepala dingin persoalan clear yaudah jadi enak lagi di hati. Jadi, kalau misalnya keharmonisan itu ter­ jaga ya otomatis spirit kerja meningkat tapi kalau apa namanya nggak harmonis, keluarganya nggak harmonis saya yakin performa kerja juga akan berkurang.”(N2.S/ W2.86-101)

Sofa memposisikan suami sebagai partner, sehingga Sofa dan suami bekerjasama untuk menjalankan tugas, terutama tugas di rumah tangga. Selain itu, dengan kesi-bukan masing-masing, Sofa menjadi tidak selalu ber-gantung dengan suami. Sofa menjadi sosok wanita yang mandiri dan multitasking.

Sofa merasa bertanggungjawab pada dua hal yakni urusan kantor dan urusan anak di rumah. Menurut Sofa, dalam kepemimpin perempuan harus ada yang dikor ban-kan supaya semua peran dapat berjalan dengan baik.

“Terus perasaannya gimana ya..ya saya harus ber­ tanggung jawab di dua hal karena yang di Magelang itu tidak bisa diwakilkan karena itu harus kaprodinya yang pegang selama ini berkas akreditasi saya betul­ betul tidak bisa diwakilkan. Semua disini juga pernah wakilkan kan nggak terbukti lepas jadinya harus jalan dua­duanya solusinya ya harus mengeluarkan uang untuk itu.” (N2.S/W2.53-62)

Relasi Sofa dan suami dibentengi oleh kunci-kunci untuk merawat keharmonisan keluarga. Kunci-kunci

ter-sebut diajarkan oleh Ibu kandung Sofa sendiri dan menjadi resep turun temurun. Kunci-kunci tersebut adalah “Guci Lengo Kayu Gapuk”. Guci yaitu bahwa setiap pasangan harus lugu dan suci. Lugu artinya tidak ada yang ditutup-tutupi, dengan pasangan harus saling terbuka. Suci yakni tidak boleh memilih untuk melakukan hal-hal yang tidak baik atau menjaga kesucian/ marwah keluarga. Kayu yaitu kalau ada orang yang teko (datang) salah satu harus ngguyu

(tersenyum/tertawa) tidak boleh diam atau langsung komplain. Lengo yaitu kalau ada yang menteleng (marah), salah satu harus lungo (pergi). Serta, Gapuk yaitu apabila pasangan memiliki kelegaan, misalnya prestasi atau hal yang menggembirakan lainnya, maka pasangannya harus

puk (memberi apresiasi) atau saling mensupport.

“Kunci­kunci lah yang sering disampaikan Ibu saya di pengajian­pengajian. Itu selalu…saya lupa suami mengingatkan lalu, hayo pesan dari Ibu jangan lupa ya.. suami saya lupa, saya mengingatkan. Itu kuncinya itu Guci lengo kayu gapuk.” (N2.S/W1.494-500)

f. Permasalahan yang Dihadapi

Berdasarkan hasil wawancara pada Sofa dan signiicant others dapat diketahui bahwa permasalahan yang dihadapi oleh Sofa terbagi atas permasalahan internal, eksternal, afeksi dan kognisi. Sofa mengatakan bahwa tantangan men jadi pemimpin perempuan yang sudah berkeluarga adalah saat dihadapkan pada banyak pilihan. Ada kepen-tingan keluarga, organisasi, dan juga kampus. Maka, Sofa harus bisa mempertimbangkan skala prioritas. Mana bagi-an ybagi-ang apabila tidak diikuti olehnya bisa fatal dbagi-an mbagi-ana yang tidak.

“Tantangannya kalau ya kita dihadapkan pada pilihan­ pilihan ya. Ada kepentingan­kepentingan keluarga, ada kepentingan­kepentingan organisasi,kepentingan­kepen­ tingan di kampus ini pas bareng semua gitu pas bareng semua ya akhirnya kita harus memilih mana yang kita nggak ikuti dan fatal akibatnya kalau kita nggak ikut mana yang nggak gitu.”(N2.S/W1.309-317)

Permasalahan internal yang dihadapi oleh Sofa yaitu ia tidak diizinkan suami untuk acara di malam hari. Sofa diberi izin untuk melakukan banyak aktivitas, namun tidak boleh sampai malam hari karena malam hari waktu untuk menemani anak-anak belajar di rumah. Meskipun demi kian, pada situasi tertentu yang mengharuskan Sofa keluar acara di malam hari dan di luar kota, Sofa tetap menyempatkan diri untuk pulang setelah acara di waktu tersebut selesai.

“Ya mungkin ceritanya gini, bapak apa tuh kalau saya keluar malam, acara malam itu nggak boleh. Mungkin batasainnya disitu, boleh aktif di..kerja di luar nggak apa­apa, asal jangan pulang malam. Mungkin karena udah malam juga ya untuk anak­anak kan, kalau keluar malam saya susah Mbak, nggak dibolehin.” (SO3.U/ W1.436-444)

Di sisi lain, suami Sofa sering bertugas ke luar kota, sehingga apabila Sofa atau suami tidak di rumah, tidak ada yang mengurus anak. Hal ini juga menjadi tantangan ter-sendiri bagi dirinya. Suami yang sering bertugas ke luar kota, membuat Sofa harus bisa melakukan banyak peran yang biasanya peran tersebut dilakukan oleh suami. Saat suami pergi Sofa harus mengambil alih peran tersebut.

Demikian juga jika Sofa membutuhkan sosok suami untuk mengantar berkegiatan, suami tidak selalu bisa melakukan karena kesibukan yang berbeda. Seperti yang terlihat saat peneliti datang ke rumah Sofa. Saat itu aliran listrik padam dan air PDAM mati, Sofa kemudian berusaha untuk menyalakan genset dan memutar kran air sumur yang sangat keras. Dihadapkan dengn kondisi tersebut, Sofa mau tidak mau harus menyalakan genset maupun memutar kran air sumur yang sangat keras, jika pekerjaan tersebut dilakukan oleh perempuan. Beruntung, Sofa berada diantara orang-orang yang peduli dan mau membantu. Pekerjaan tersebut akhirnya mendapat bantuan dari mahasiswa yang tinggal di rumah serta peneliti.

“Akhirnya narasumber ke tempat genset dan berusaha menyalakan genset. Ada Mbak yang membantu di rumah narasumber membantu menyalakan genset, disusul dengan anak kedua yang beranjak dari belajar­ nya, kemudian peneliti mengikuti ke tempat genset, narasumber berkata kepada peneliti bahwa sebagai perempuan itu harus bisa melakukan apa saja. Ter­ lebih lagi saat suami sedang tidak berada di rumah. Memang pada saat itu, suami narasumber sedang melaku kan penelitin di Pontianak. Menurut penuturan narasumber, suami narasumber sudah menyiapkan segala yang dibutuhkan di rumah tersebut. Seperti ada genset untuk berjaga­jaga saat mati listrik, kran sumur yang tinggal di putar ketika air PDAM mati. Semua hal yang ada di rumah sudah dipersiapkan dengan baik oleh suaminya ketika membangun rumah dulu, karena suami sering pergi ke luar kota. Bahkan ketika itu juga air PDAM mati, akhirnya narasumber berniat menyala kan kran sumur, tapi karena sulit akhirnya

peneliti menawarkan diri untuk membantu dan peneliti

Dalam dokumen DINAMIKA DUKUNGAN KELUARGA PADA PEMIMPIN (Halaman 165-183)