• Tidak ada hasil yang ditemukan

Latar Belakang

Dalam dokumen DINAMIKA DUKUNGAN KELUARGA PADA PEMIMPIN (Halaman 21-34)

Keluarga merupakan unit sosial kecil dan penting dalam bangu nan sosial masyarakat. Keberadaan keluarga telah ada sejak dahulu dan akan berlangsung sepanjang zaman (Lestari, 2014). Se-cara sederhana anggota keluarga terdiri dari suami, istri, dan anak. Masing-masing memiliki peran dan saling bergantung satu dengan yang lain untuk dapat menjalankan peran tersebut. Dalam men-jalankan peran, anggota keluarga harus saling mendukung supaya tercipta keluarga yang tangguh, harmonis dan seimbang.

Keluarga dan perkawinan adalah sumber dukungan sosial yang paling penting. Oleh sebab itu, dukungan keluarga akan memenuhi ke butuhan rasa aman dan nyaman, perlindungan, sekaligus ke-butuhan penghargaan. Dukungan keluarga merupakan bantuan yang diberikan oleh anggota keluarga, baik berupa barang, jasa, infor masi, nasehat, dan sebagainya sehingga membuat penerima duku ngan merasa disayangi dan dihargai (Taylor, 1995).

Menurut Johnson dan Johnson (1991, dalam Adicondro dan Purnamasari, 2011) dukungan sosial berasal dari orang-orang

BAB I

Pendahuluan

Pendahuluan

BAB I

BAB I

penting yang dekat (signiicant others) bagi individu yang mem-butuhkan bantuan, misalnya di dalam keluarga seorang individu memperoleh dukungan dari pasangan dan anak. Pasangan hidup merupakan pribadi yang dipandang paling banyak memberikan dukungan dalam menghadapi masalah (Wills, dalam Ogden, 2004). Senada dengan apa yang diungkapkan oleh Soeharto (2012) bah wa sumber dukungan sosial adalah orang-orang yang berada di se kitar dan kehadirannya sangat berarti bagi parempuan dan laki-laki yang berkarir/ bekerja.

Hasil penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa dukungan yag diberikan oleh suami kepada istri yang berkarir dapat mening katkan niai positif pekerjaan-keluarga, membuat istri dapat bekerja lebih optimal, menurunkan burnout, serta dari segi kesehatan dapat membantu mengatasi stres. Dengan demikian, dukungan yang berasal dari suami sangat penting artinya bagi istri (Voydanof, 2004). Selain itu, Johnson dan Johnson (1991) menyatakan manfaat-manfaat dukungan sosial yakni dukungan sosial dihubungkan dengan pekerjaan akan meningkatkan produktivitas, meningkatkan kese jahteraan psikologis dan penyesuaian diri dengan memberikan rasa memiliki, membantu memerjelas identitas diri, menambah harga diri serta mengurangi stres, meningkatkan dan memelihara kesehatan isik serta pengelolaan terhadap stres dan tekanan.

Lebih lanjut lagi, Taylor (2000) mengungkapkan bahwa untuk menghadapi peristiwa-peristiwa yang menekan, individu mem-butuhkan dukungan sosial. Individu yang memiliki dukungan sosial yang tinggi dapat mengatasi stres dengan lebih berhasil dibandingkan dengan individu yang kurang memperoleh dukungan sosial. Dalam pe nelitian-penelitian lain dinyatakan bahwa dukungan sosial sangat di butuhkan dalam menciptakan kondisi psikologis yang nyaman serta mendukung keberhasilan dalam menjalankan peran.

Laporan penelitian Anggriana, dkk (2014) tentang dukungan sosial keluarga bahwa ketika individu mendapatkan prestasi dalam pe kerjaannya, keluarga akan memberikan dukungan dan peng-hargaan guna peningkatan prestasi yang lebih baik. Sebalik nya, ke tika menghadapi kondisi yang menekan, individu akan men-dapat kan kepedulian, empati, dan perhatian dari anggota keluarga. Dengan demikian, dalam hal ini dukungan sosial keluarga dibutuh-kan individu dalam segala situasi, baik saat mendapatdibutuh-kan prestasi mau pun dalam kondisi yang menekan.

Dukungan yang berasal dari suami/ pasangan sangat berkaitan dengan kesuksesan peran ganda istri. Penelitian yang dilakukan oleh Jones dan Jones (1980 dalam Rini, 2000) menyatakan bahwa sikap suami merupakan faktor yang penting dalam menentukan keber hasilan dual­career marriage. Suami yang merasa terancam, tersaingi dan cemburu dengan status bekerja istrinya tidak dapat bersikap toleran terhadap realitas istri yang bekerja. Namun, ada pula suami yang tidak memermasalahkan istri yang bekerja, selama sang istri tetap dapat memenuhi dan melayani kebutuhan suami. Disamping itu, terdapat pula suami yang justru mendukung karir istrinya, dan ikut bekerjasama dalam mengurusi pekerjaan rumah tangga. Hal tersebut dapat membuat istri lebih merasakan kepuasan dalam hidup, keluarga dan karirnya. Faktor personal seperti duku-ngan suami, strategi koping, minat, motivasi, usia, jenis kelamin, pen didikan , dan pengalaman kerja berpengaruh terhadap istri dalam mengejar karir yang diinginkan.

Dewasa ini, kiprah perempuan untuk tampil dalam ranah publik semakin terlihat dan diperhitungkan. Peran perempuan dalam pembangunan kini telah mengalami pembaharuan. Di bidang pen didi kan misalnya, perempuan telah mengalami peningkatan akses pen didikan yang setara dengan laki-laki. Posisi-posisi penting

baik di pemerintahan maupun non pemerintahan cukup banyak dijalankan oleh perempuan (Nimrah & Sakaria, 2015). Adanya ke-inginan untuk lebih meningkatkan kualitas hidup kaum perempuan telah mampu meningkatkan tingkat partisipasi mereka di dunia pendidikan.

Beberapa negara maju seperti Eropa dan Amerika, tingkat par-tisipasi perempuan di dunia pendidikan lebih tinggi dibandingkan laki-laki. Di Indonesia sendiri, berdasarkan data dari Unicef dalam “Lembar Fakta Pendidikan untuk Anak Perempuan di Indonesia” disebutkan bahwa di tingkat sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP) rasio untuk anak perempuan sedikit lebih tinggi (62, 4%) daripada untuk anak laki-laki (60, 9%). Demikian juga dengan perbedaan jumlah anak laki-laki dan perempuan yang meneruskan pendidikan ke tingkat selanjutnya, yaitu dari SLTP ke sekolah me-nengah umum (SMU) sedikit lebih besar. Walaupun tetap tidak signiikan yaitu 73% untuk anak laki-laki dan 69% untuk anak perempuan. Dari data tersebut, dapat dikatakan bahwa tingkat partisipasi antara perempuan dan laki-laki dalam bidang pendidikan dasar-menengah sudah cukup seimbang, meskipun pembicaraan tentang pendidikan dan perempuan masih merupakan paradoxical.

Dalam bidang politik, aspirasi perempuan juga telah mendapat tempat walaupun belum semua aspek terwakili. Upaya airmative action untuk mendorong keterwakilan perempuan dalam politik terus disuarakan, seperti pada pelaksanaan pemilu 2009, peraturan perundang-undangan telah mengatur kuota 30% perempuan bagi partai politik (parpol) dalam menempatkan calon anggota legis-latifnya. Undang-undang Nomor 10 tahun 2008 tentang Pemilu Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (pemilu legislatif ) serta UU Nomor 2 tahun 2008 tentang Partai Politik, memberikan

mandat kepada parpol untuk memenuhi kuota 30% bagi perempuan dalam politik, terutama di lembaga perwakilan rakyat. Meskipun dalam prakteknya, kebijakan airmasi tersebut belum membuahkan hasil yang memuaskan.

Permasalahan utama yang dihadapi perempuan dimulai saat dia memutuskan untuk terjun ke dunia politik. Masuknya perem-puan ke dalam sebuah tradisi atau budaya politik yang telah lama ter konstruksi secara patriarki adalah faktor utama yang menjadi ham batan bagi perempuan secara nyata untuk berkipah total di dunia politik (Pambudi, 2012). Sebagaimana yang diungkapkan oleh Meutya Viada Haid, Wakil Ketua Komisi 1 DPR RI, Dapil Sumut 1 bahwa terdapat dua macam masalah perempuan berpolitik yakni masalah yang berasal dari dalam dan luar. Masalah pertama, dalam lingkup internal yang menjadi penghambat perempuan ber-politik yakni kondisi sosial ekonomi seorang perempuan, kurang-nya sumber keuangan, terbataskurang-nya akses pendidikan, profesi, serta beban ganda tugas rumah tangga dan kewajiban tugas kantor. Masalah yang kedua, yaitu kurangnya kepercayaan diri perem-puan akan kemamperem-puannya sendiri, sehingga ketika maju dalam arena politik perempuan justru minder terhadap laki-laki. Semen-tara itu, masalah eskternal yang menghambat perempuan ialah nilai tradisional yang masih berlaku di beberapa masyarakat, serta ke-bijakan internal partai yang belum sepenuhnya percaya dan ber-komitmen dalam rangka keterwakilan perempuan (Koran Sindo, Maret 2017).

Dalam kaitannya dengan budaya, penelitian yang telah dilaku kan oleh Eagly & Carli (2003), menemukan empat faktor umum yang menjelaskan pergeseran ke arah perempuan pemimpin yang lebih banyak. Empat faktor tersebut adalah realitas bahwa perem puan telah berubah, peran kepemimpinan telah berubah,

praktek organisasi telah berubah, serta budaya yang telah berubah. Perubahan dalam konteks budaya ini dapat terlihat misalnya dalam pesan simbolik yang sering ditampilkan dengan penunjukan perem puan untuk posisi kepemimpinan penting. Suatu tanda keberangkatan dari praktek-praktek masa lalu ke arah komitmen untuk perubahan yang progresif (Nimrah & Sakaria, 2015).

Sementara itu, dalam konteks Indonesia, meskipun faktor-faktor tersebut senyatanya sudah terbukti, tetapi budaya patriarki masih sangat kental, walau tak kentara. Dengan budaya patriarki ter sebut telah membuat kesempatan perempuan terbatasi. Misalnya dalam perpolitikan di Indonesia saat ini yang mana sudah banyak perempuan yang berpartisipasi, namun hasilnya tidak begitu me-muaskan. Demikian juga dominasi laki-laki pada organisasi, tempat kerja, dan sebagainya. Meski telah memiliki basis legal yang menjamin hak dan kesempatan bagi laki-laki dan perempuan, akan tetapi masih banyak kendala budaya dan struktural yang mem-buat perempuan masih menghadapi kesulitan, khususnya terkait parti sipasinya dalam pengambilan keputusan dan kekuasaan (Hermawati, 2007).

Dalam budaya dan norma yang sudah sejak lama terkonstruksi secara patriarki, normalnya pemimpin adalah jabatan seorang laki-laki. Laki-laki menjadi simbol kepemimpinan sejak dahulu, sedangkan perempuan selalu dikaitkan dengan keindahan, kelem-butan, bahkan mungkin kelemahan. Perempuan jauh dari karakter-karakter ideal seorang pemimpin yang masih sangat maskulin centris. Pendapat bahwa perempuan itu tidak berikir secara logika, meng gandalkan naluri dan irasionalitas, menjadikan perempuan jarang ditempatkan di posisi penting. Pandangan yang sering di-sebut-sebut sebagai “kodrat wanita” ini bahkan menjadi sebuah konstruksi sosial (Fakih, 1996).

Namun demikian, pencapaian perempuan dalam usaha mening katkan partisipasinya di ranah publik perlu untuk di-apresiasi. Dengan semakin banyaknya perempuan yang muncul sebagai pemimpin, baik dalam organisasi non-proit maupun proit oriented, pemimpin perempuan adalah sosok-sosok yang ikut andil dalam pembebasan terhadap kaumnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa pemimpin dalam suatu organisasi sangatlah diperlukan. Peran pemimpin bukan hanya menjadi tonggak berjalannya organisasi, namun juga bertindak sebagai pemersatu anggota maupun karyawan yang dinaunginya (Nugroho & Setiawati, 2012).

Dalam perkembangannya, kepemimpinan perempuan me-rupa kan bentuk emansipasi yang sudah sejak dasawarsa ini didengungkan. Atribut natural perempuan yang suka untuk merawat, sensitif, empati, intuitif, bekerjasama, dan mengakomodasi ter kadang menjadikan proses-proses administratif dalam organisasi men jadi efektif (Growe, 1999). Media massa pun semakin banyak memberitakan kemunculan era baru kepemimpinan. Bussiness week

misalnya, pernah menerbitkan artikel yang menyatakan bahwa perempuan memiliki “Right Stuf” dalam kepemimpinan. Senada dengan apa yang disampaikan oleh Siti Zuhro, pengamat politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dalam merespon pening katan perolehan suara calon pemimpin daerah perempuan pada Pilkada 2015 yang lalu bahwa hal tersebut terjadi karena pe-milih memiliki ekspektasi yang tinggi. Masyarakat mengharapkan sebuah sifat pemimpin yang keibuan dan memiliki hati nurani (Republika.co.id, 2015).

Lebih dalam lagi, Rahmadita (2013) menyampaikan bahwa-sannya banyak perempuan tercatat mempunyai kemajuan yang signiikan yang dicapainya melalui pelaksanaan tugas-tugas dan tang gung jawab sehar-hari secara berkualitas. Dalam arti bahwa

perempuan melakukan aktivitas bukan hanya mengisi waktu seng-gang, melainkan betul-betul ikhtiar untuk meraih prestasi dengan memperlihatkan kemampuan dan aktivitas secara memadai. Partisipasi perempuan saat ini bukan sekedar menuntut persamaan hak, tetapi juga menyatakan fungsinya mempunyai arti dalam pem-bangunan masyarakat Indonesia.

Partisipasi perempuan menyangkut dua hal yakni peran tradisi dan peran transisi. Peran tradisi atau domestik terkait dengan peran perempuan sebagai istri, ibu, pengelola rumah tangga, dan sebagainya. Sementara itu, peran transisi perempuan menyangkut perannya sebagai pemimpin organisasi, sebagai tenaga kerja, anggota masyarakat, dan manusia pembangunan (Rahmadita, 2013). Kepe-mimpinan yang berorientasi pada pengembangan karir harus dapat menyeimbangkan antara aktivitasnya dalam rumah tangga dan tanggung jawab pemimpin perempuan dalam organisasi/ lembaga yang dipimpinnya (Djafri, 2014). Bagaimanapun perempuan yang berkarir sebenarnya menghadapi situasi yang rumit. Mereka berada diantara dua posisi yang saling beririsan yakni kepentingan keluarga dan kepentingan berkarya. Oleh sebab itu, perempuan pemimpin seringkali berhadapan dengan situasi yang dilematis.

Situasi yang dilematis tersebut tidak jarang berakibat terjadinya konlik peran dalam keluarga. Konlik merupakan suatu keadaan yang didalamnya terdapat ketidakcocokan maksud antara nilai-nilai atau tujuan-tujuan, berpacu menuju tujuan dengan cara yang kurang sejalan, sehingga yang satu berhasil sementara yang lain tidak (Robbin, 2001). Dalam laporan penelitiannya, Djafri (2014) menyampaikan bahwasannya efek negatif dari ibu rumah tang ga yang terlalu sibuk di luar rumah, berdampak pada efektivitas inte-raksi suami-istri, dan anak dalam lingkungan keluarga. Akibatnya rumah tangga mengalami keretakan bahkan berujung pada

per-ceraian.

Selain itu, dalam penelitian lain yang dilakukan oleh Nugroho & Setiawati (2012) terhadap tiga orang lurah perempuan di Yogya-karta masih ditemukan ketidakadilan gender baik dalam bentuk marginalisasi, subordinasi, strereotipe, kekerasan maupun beban ganda. Salah satu subjek dalam penelitian tersebut menuturkan bahwa posisinya sebagai seorang lurah sempat dikeluhkan oleh suami nya dikarenakan kurangnya waktu untuk bersama dengan keluarga. Hal ini mengindikasikan bahwa posisi perempuan sebagai pe mimpin di sebuah organisasi dikaitkan dengan posisinya dalam keluarga sangat rentan terjadi permasalahan.

Sebagaimana hasil temuan peneliti dalam pre­eliminary research

yang telah dilakukan pada Dian (nama samaran), yang merupakan ketua umum organisasi otonom sekaligus kepala sekolah salah satu sekolah menengah pertama di Yogyakarta.

Jika perempuan diberikan ruang bebas, itu saya setuju. Cuma terkadang kita tetap harus punya koridornya. Jangan sampai terlalu kebablasan terus mengabaikan rumah tangga yang di rumah, nah itu akan bahaya juga. Saya sendiri kadang dengan suami sering, ya bukan sering ya..berbeda pendapat gitu, ya karena saya terbiasa di sekolah mungkin memimpin, terus di organisasi saya memimpin, kadang kan kita pingin memimpin juga. Nah, itu yang harus kita rem. Saya kadang agak over juga, tapi ya bisa di....untungnya suami saya lebih suka langsung menyampaikan.” (N3.D/W1.68-89)

Uraian tersebut memberikan gambaran bahwa keseimbangan peran yang dijalankan oleh perempuan sangat penting. Adanya per-bedaan pendapat harus dapat diatasi dengan tepat. Menjadi sosok pemimpin di organisasi tidak serta merta menempatkan perempuan menjadi pemimpin rumah tangga. Sementara itu, hasil pre­elimi­

nary research dengan narasumber yang lain yakni Sofa (nama samaran), ketua program studi di salah satu universitas negeri di Yogya karta serta pemimpin redaksi majalah, yang menyatakan bah-wa pengorbanan suami dan anak-anak menjadi keharusan untuk memahami peran narasumber.

“Kalau keluarga yang sekarang e dengan suami dan anak­anak ya mesti pengorbanan mereka yang e apa namanya jadi suatu keharusan, suatu syarat. Kalau misalkan mereka memang e tidak memahami untuk menyisihkan waktu, e Ibu saya me­ mang eksis gitu ya disini..disini..disini ya nggak akan jalan semuanya sih”.(N2.S/W1.107-118)

Di sisi lain, tuntutan pekerjaan suami yang mengharuskannya sering pergi ke luar kota membuat narasumber harus pandai-pandai memanajemen waktu, tenaga dan pikiran untuk bertanggungjawab di dua hal yakni urusan kantor dan urusan rumah. Keduanya dapat berjalan dengan syarat harus ada yang dikorbankan.

“Terus perasaannya gimana ya saya harus bertanggung jawab di dua hal karena yang di Magelang itu tidak bisa diwakilkan karena itu harus kaprodinya. Selama ini saya yang betul­betul pegang berkas akreditasi sehingga tidak bisa diwakilkan. Semua disini (rumah) juga pernah diwakilkan, nggak terbukti, lepas. Jadinya harus jalan dua­duanya solusinya ya harus menge­ luarkan uang”.(N2.S/W2.53-62)

Lebih lanjut disebutkan narasumber bahwa pengorbanan adalah hal yang harus dilakukan dalam manajemen kepemimpinan perempuan.

Jadinya apa manajemen kepemimpinan perempuan ya harus kayak gitu, Mbak. Gimana, mungkin nggak akan sama dengan yang lain tapi harus ada yang dikorbankan, gitu.” (N2.S/ W2.361-365)

Menurut narasumber selanjutnya yang merupakan lurah salah satu desa di Kota Yogyakarta menyatakan bahwa ia menyadari bahwa perannya tidak hanya sebagai pemimpin di masyarakat, tetapi juga sebagai ibu rumah tangga. Selain itu, kedudukan narasumber sebagai lurah juga tidak membuat narasumber menjadi sosok yang main perintah dengan suami.

“Saya pribadi menyadari bahwa fungsi saya itu selain sebagai lurah juga saya menempatkan diri tetap sebagai istri gitu. Jadi kalau di rumah itu saya nggak main perintah, nggak ini dan saya memang membatasi betul kegiatan saya kepada masya­ rakat, kegiatan saya di kantor tidak menganggu kegiatan di rumah.”(N1.W/W1.216-224)

Ditambah lagi dengan pekerjaan suami yang menuntutnya sering pergi ke luar kota bahkan luar negeri, sehingga membuat narasumber harus leksibel dalam membagi waktu antara pekerjaan dan anak-anak. Kenyataan bahwa narasumber tidak bisa full time

me ngurus anak-anak, membuat narasumber sudah memberikan pondasi-pondasi tanggung jawab kepada mereka.

“Saya leksibel aja kalau emang anak­anak bisa diajak ke kantor karena ada tempatnya kan, nah saya ajak ke kantor gitu, dan saya berusaha memberikan pengertian pada anak­anak bahwa bundanya ini sekarang tuh tugasnya tuh begini, begini, begini.”

(N1.W/W1.946-957)

“Dan sejak kecil memang saya sudah memberikan pondasi­ pondasi tangung jawab kepada mereka. Bahwa e karena saya tidak bisa full time dengan mereka, mereka harus bisa ber­ tanggung jawab untuk diri mereka sendiri.” (N1.W/W1.961-965)

Lebih lanjut lagi, kepemimpinan tidak hanya diukur kemam-puan dan karya yang dimiliki oleh pemimpin saja. Kepemimpinan

juga melibatkan dukungan dari keluarga, dukungan organisasi di mana individu berkarya, serta dukungan dari masyarakat. Sebagai-mana yang dinyatakan oleh Dian bahwa kepemimpinan semata-mata merupakan dukungan yang berasal dari berbagai pihak. Mulai dari lingkungan keluarga, lingkungan kerja, serta lingkungan sosial masyarakat. Suseno & Sugiyanto (2010) menyatakan bahwa duku-ngan sosial adalah suatu bentuk hubuduku-ngan interpersonal deduku-ngan orang-orang yang ada di sekitar, di dalamnya terdapat pemberian bantuan berupa empati yang diberikan melalui proses komunikasi dan kontak sosial.

“Kepemimpinan yang dia bisa maksimal dalam berkarya. Dalam artian semua elemen mendukung, semua e apa semua orang atau semua pihak mensupport. Karena kepemimpinan itu ya dukungan. Kepemimpinan itu ya sebenarnya hanya duku ngan.” (N3.D/W1.13-19)

“Ada hal yang berbeda bahwa seorang pemimpin itu dia bisa memimpin karena dia mendapatkan dukungan, bahkan se­ orang perempuan tentunya dia mendapatkan energi positif itu dari keluarganya, gitu”(N3.D/W1.28-32)

Senada dengan apa yang disampaikan oleh narasumber lainnya bahwa keberadaan mereka di panggung publik diketahui oleh keluarga dan atas izin suami. Sebagaimana yang diungkapkan Sofa bahwa suaminya memahami jika manusia itu harus mengembangkan potensinya dan sepanjang yang dilakukan oleh Sofa itu baik maka sepanjang itu pula kesenangan yang dirasakan suami.

“Karena dia kan tahu bahwa manusia itu harus mengembang­ kan potensinya dan sepanjang yang saya lakukan bermanfaat jadi dia senang gitu. Nggak ada kendala­kendala gitu saya, toh dia juga pengalaman.”(N2.S/W2.760-764)

Sementara itu, narasumber lainnya lagi yakni Lintang me-ngung kapkan bahwa meskipun suami enggan menemaninya duduk bersama ketika diundang acara, namun ia tetap ingin menunjukkan kepada masyarakat apabila keberadaannya di support dan hadirnya Lintang atas izin dari suaminya.

“Dan saya membawa beliau di saat acara­acara saya juga tahu bahwa ini nggak bakal turun dari mobil nih cuman saya hanya ingin menunjukkan bahwa e..suami saya itu ada, bahwa e saya disini itu di support, bahwa saya disini itu e..apa namanya atas izin suami saya. Meskipun suami saya tidak ikut tampil ber­ sama saya.” (N1.W/W3.921-924)

Berdasarkan data-data diatas, dukungan yang berasal dari keluarga pada pemimpin perempuan menjadi sangat penting dalam menunjang keberhasilan kepemimpinannya. Menurut Center for Creative Leadership, terdapat enam faktor karakteristik yang dapat membantu memaksimalkan efektivitas kepemimpinan perempuan dalam organisasi salah satunya yakni dukungan dan saran emosional dari orang-orang terdekat seperti keluarga dan teman. Keluarga dan teman sebagai pihak yang terpercaya dan menjadi motivator untuk mencurahkan perasaan secara aman. Terutama keluarga yang merupakan sumber untuk memeroleh dukungan sosial.

Irwanto (2000) menyatakan bahwa keluarga merupakan tempat bercerita dan mengeluarkan keluhan-keluhan apabila individu me ngalami persoalan. Keluarga adalah lingkungan yang selalu memberikan dukungan emosional untuk memberikan penghargaan saat individu mencapai prestasi serta berperan menguatkan indi-vidu dalam menghadapi segala tekanan yang terjadi dalam ke-hidupan sehari-hari (Anggriana, 2014). Hal tersebut diperkuat dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Mangunsong (2009) bahwa dukungan keluarga yaitu suami dan anak merupakan hal

yang paling penting untuk keberhasilan pemimpin perempuan pengusaha, khususnya terkait dengan pengambilan keputusan.

Oleh sebab itu, dukungan sosial yang berasal dari keluarga pada pemimpin perempuan sepatutnya menjadi suatu keniscayaan. Itulah yang kemudian mengilhami peneliti untuk melakukan pe-nelitian lebih lanjut mengenai dinamika dukungan keluarga pada pemimpin perempuan.

Dalam dokumen DINAMIKA DUKUNGAN KELUARGA PADA PEMIMPIN (Halaman 21-34)