Hasil PenelitianBAB IV
C. Hasil Penelitian
6. Dinamika Dukungan Keluarga pada Dian a. Sebelum menjadi Ketua Umum Organisasi
Dian adalah seorang perempuan yang menjabat se-bagai kepala sekolah di SMP Muhammadiyah 2 Depok, Sleman, sebelum pada akhirnya ditetapkan sebagai ketua umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA). Dian sudah menjabat sebagai kepala sekolah sejak tahun 2015 setelah sebelumnya Dian menjadi wakil kepala sekolah bagian kurikulum di SMP Muhamamadiyah 3 Depok,
Sleman dan sebagai guru BK. Dalam dunia organisasi, se belum hijrah ke NA, Dian aktif di Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PP IPM) sebagai Ketua Bidang Kader. Namun, pada Konpinwil di Mataram, Dian mengundurkan diri dari jabatan sebagai ketua bidang kader, selain karena Dian baru saja menikah. Sejak itu, Dian mulai aktif di PP NA sebagai anggota bidang kader, kemudian pada periode kepemimpinan selanjutnya Dian ditunjuk sebagai sekretaris PP NA sembari mengemban tugas sebagai wakil kepala sekolah bagian kurikulum. Seiring berjalannya waktu, Dian kemudian diangkat men-jadi kepala sekolah disamping menjabat sebagai sekretaris PP NA.
“Periodenya Mbak Norma, Mbak Dian kan jadi kepala sekolah. Nah, mulai dari kepala sekolah itu mungkin ya akhirnya menjadi banyak perkembangan yang sangat pesat pada diri Mbak Dian. Saya sih melihat itu, sehingga karakter kepemimpinannya terus model pengem bangan jaringannya terus apa ya e..manajemen organisasinya jadi lebih baik lagi.” (SO6.A/W1.74-85)
“Masuk pertama saya ketua kader PP IPM terus e di PP IPM itu 2 tahun. Jadi tahun 2008 2010. Itu kan setelah 2010 saya di PPNA, nah antara 2010/2012 itu saya memang agak longgar karena anggota, tapi sempat dikasih amanah ketua OC tanwir di Jogja, itu nah terus e…agak longgar. Nah, disitu saya maksimal membangun sekolah ya. Baru pas sekretaris PPNA ini saya juga kuliah, juga di wakil kepala sekolah bagian kurikulum ya bisa e kenyataannya ya.” (N3.D/W3.587-597)
Dian menikah pada tahun 2009, jauh sebelum diangkat menjadi ketua umum PP NA. Dian sama sekali tidak memiliki keinginan, perasaan dan pikiran untuk men jadi ketua umum. Sebelum menjadi ketua organisasi, Dian mengakui bahwa tanggung jawab yang diembannya lebih ringan dari pada sekarang menjabat sebagai ketua umum. Dian bisa fokus untuk mengembangkan sekolah. Demikian juga alokasi waktu lebih banyak, sehingga Dian bisa sering berada di sekolah.
“Saya tidak punya perasaan apapun sebelum menjadi ketua. Karena tidak pernah memiliki keinginan, men jadi ketua. Bahkan terpikirkan saja tidak.”(N3.D/ W3.1125-1128)
Begitu juga dengan partisipasi Dian dengan masya-rakat di lingkungan rumahnya. Dian bisa aktif di kegiatan masyarakat seperti arisan dan dasawisma. Dian juga sering juga dimintai tolong oleh masyarakat. Selain itu, porsi waktu kerja Dian yang lebih ringan membuatnya sering berada di rumah dan mengurusi suami.
“Dan masyarakat pun juga sama ya Mbak kalau saya pikir. Kalau saya sebagai warga salah satu arisan atau dasawisma pun juga saya harus menempatkan diri. Disitu saya bukan pemimpin. Tetapi kalau diminta bantuan atau apa ya lakukan.”(N3.D/W1.27-32) b. Setelah menjadi Ketua Umum Organisasi
Dian ditetapkan sebagai ketua umum Pimpinan Pusat Nasyiatul ‘Aisyiyah (PP NA) berdasarkan hasil mukta-mar NA ke XIII pada tahun 2016 yang berlangsung di sportorium Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Dari
9 formatur calon ketua umum PPNA, akhirnya meng-hasilkan Dian sebagai formatur terpilih. Di awal menjabat sebagai ketua umum, Dian merasa down dan stres. Dian mengatakan bahwasannya banyak orang yang meremehkan dan tidak setuju dengan terpilihnya Dian karena ada calon lain yang terlihat lebih siap. Sampai ada upaya mengorek kekurangan Dian dan keluarga. Hal tersebut membuat Dian merasa tertekan dan ingin mundur, bahkan berat badan Dian turun sekitar 1-2 kg.
“Nek saya dulu kan sempat takut, ya nggak takut ya, stres ya atau mundur saja atau apa gitu, itu seminggu awal setelah terpilih itu berat badan saya langsung turun sekilo kalau nggak salah, 12 Kg.” (N3.D/W3.772-775)
Dalam kondisi tersebut Dian tidak sendirian. Menu-rut nya, ada banyak yang mendukung sebagaimana banyak yang menghujat. Teman-teman Dian memberikan pe-ngua tan serta mulai memantapkan kembali apa yang sudah ia putuskan. Dian kemudian teringat jiak ia sama sekali tidak pernah meminta jabatan tersebut, tidak pernah terpikirkan, apalagi diungkapkan kepada orang lain. Hingga pada akhirnya Dian pasrah bahwa amanah sebagai ketua umum adalah sesuatu yang sudah diatur oleh Allah SWT. Dian yakin apabila dalam perjalanannya nanti Allah pasti akan membantu, karena Dian tidak pernah meminta jabatan tersebut.
“Nah setelah itu saya terus teringat, saya itu nggak minta amanah ini kok, saya nggak pernah berupaya untuk menjadi ketua NA, saya nggak pernah ngomong dengan siapapun untuk jadi ketua NA. Saya juga tidak pernah
terbersit dalam pikiran saya untuk jadi ketua NA. Berat kan ketua NA, jadi ngapain saya..yang lain kampanye saya mengurus kesibukan e… kesekretariatan yang harus saya tunaikan. Itu jadi saya, yasudah ini Allah yang mengatur, ini Allah yang mengatur berarti Allah yang ikut campur, itu begitu juga disini.” (N3.D/W3.775-788)
Selain pasrah kepada Allah SWT, Dian juga berikhtiar mencari penguatan dengan mendatangi para mantan ketua umum PP NA dan juga tokoh-tokoh persyarikatan yang Dian dekat kepadanya. Penguatan yang pertama kali Dian merasa bingung itu justru bukan dari suaminya. Dian berdiskusi dengan ketua umum terdahulu serta bersila-turrahim kepada tokoh persyarikatan. Selain itu, fakta bahwa Dian hidup bertetangga dengan para kepala sekolah yang juga aktif di struktural persyarikatan membuat Dian sering sharing dengan mereka.
“Penguatan yang pertama kali saat itu saat saya bingung itu, itu bukan suami saya malahan. Tapi Mbak Norma, Bu Abidah dulu pernah menjadi ketua ahh gitu lah. Nah itu ya saya sering anu aja konsultasi dengan mereka, sering kumpul saya ajak kumpul kalau udah bingung itu, Mbak mbok saya ditemani disini atau kalau nggak, Mbak saya pingin ketemu. Terus penguatanpenguatan yang lain ya saya silaturrahim Mbak, gitu selain dengan bertiga ini saya silaturrahim ke Pak, ya kalau yang dulu saya lakukan itu ke Pak Dahlan Rais, terus ke Pak Agung yang saya kirakira dekat ya.” (N3.D/W3.812-829) Seiring berjalannya waktu, Dian mulai bisa menye-suaikan dengan peran sebagai ketua umum organisasi. Meskipun di awal-awal menjabat juga terdengar
kasak-kusuk di sekolah mengenai peran tersebut. Ada yang kemudian membicarakan Dian dengan mengatakan kali mat yang bernada ketidaksukaan yakni “kok ndobel ndobel” (menjabat ganda) dalam menjabat. Dian menjadi sering pergi ke luar kota sehingga mau tidak mau sekolah beserta urusannya harus ditinggalkan terlebih dahulu. Pada akhrinya Dian bisa meyakinakan para dewan guru mengenai perannya sebagai ketua organisasi yang bersing-gungan dengan peran sebagai kepala sekolah. Bahwa ketugasan Dian di persyarikatan sebagai ketua organisasi pimpinan NA justru bisa mengangkat nama sekolah.
“Di awal memang agak ini ya temanteman guru itu juga mungkin ya mungkin dilihat dari bahasa tubuh mereka bahasa wajah mereka itu ya kadangkadang merasa kok malah ndoblendoble gitu tapi Bu Dian berhasil membuktikan lah bahwa itu berhasil dijalan kan dengan baik kedua hal walaupun di tahun per tama kemarin sebagai ketua PPNA beliau banyak keluar.”(SO7.S/W1.172-181)
Dian mengakui bahwa setelah menjabat sebagai ketua organisasi tanggung jawabnya semakin besar dan double. Dian menyadari bahwa posisinya sebagai public igure
men jadi trendsetter yang dipandang oleh banyak mata, sehingga segala yang keluar dari mulut Dian dan semua yang dilakukan memiliki efek yang besar. Jika apa yang dikatakan dan dilakukan oleh Dian adalah hal yang positif, maka banyak orang yang mencotoh. Sebaliknya, apabila ada yang salah dengan apa yang dikatakan dan dilakukan maka banyak pula orang yang mencerca.
“Cuman tanggung jawabnya lebih besar apa yang kita omongkan kan berefek, apa yang kita lakukan juga berefek. Banyak yang mencontoh kalau baik, kalau tidak baik banyak yang..apa mencerca ya.” (N3.D/W2.154-158)
Sebagai ketua umum organisasi bersayap besar, Dian sering pergi ke luar kota untuk menghadiri undangan-undangan struktural organisasi yang ada di bawah PP NA, bertemu dengan tokoh penting, melakukan dampingan terhadap pihak-pihak yang menjadi keberpihakan organi-sasi, serta kegiatan tentatif lainnya. Hal ini dapat terlihat dari jadwal yang tulis Dian di kalender sekolah. Dian dibantu oleh staf administrasi sekolah dalam mencatat agenda apa saja yang dilakukannya selama satu minggu.
“Selanjutnya selama beberapa kali saat peneliti me ngecek ke Bu Lis mengenai jadwal narasumber juga, narasumber sedang ada kegiatan di luar. Mulai dari rapat ke dinas, kepentingan organisasi, atau ke luar kota. Jadwal narasumber terpampang di kalender staf adminis trasi. Disana tertulis agenda narasumber selama seminggu dan yang di update selama seminggu sekali pula.”(N3.D/OB-2.97-105)
Di sisi lain Dian memiliki 2 kantor yaitu kantor PP NA dan kantor Dian di sekolah sebagai kepala sekolah. Hal tersebut menurut Dian harus maksimal di kedua tem-pat, karena Dian tidak ingin terjadi kecemburuan pada salah satunya. Dengan adanya 2 kantor tersebut Dian mengibaratkan seperti memiliki dua orang anak. Jika salah satunya ada kegiatan maka yang satu juga harus ada.
“Jadi memiliki 2 kantor itu kan seperti memiliki 2 anak ya, kalau disini ada kegiatan disini nggak …meri. Disini ada kegiatan, disini nggak meri.”(N3.D/W2.134-138) Untuk menyeimbangkan alokasi waktu, Dian me-miliki agenda rutin tersendiri yaitu setiap hari rabu Dian rapat di kantor PPNA Yogyakarta, sehingga hari rabu jadwal Dian sama sekali tidak bisa diganggu. Sementara itu, pada hari selasa dan Jum’at Dian ngantor di kantor PPNA, meskipun hanya sebentar. pergi ke Jakarta setiap dua minggu sekali untuk rapat dan menyelesaikan agenda yang lain. Meskipun pada kenyataannya Dian justru sering pergi ke Jakarta. Selain hari-hari tersebut, Dian juga tidak selalu berada di sekolah. Seringkali Dian mendapatkan tugas untuk mengikuti suatu agenda di luar kota selama beberapa hari, baik yang terkait dengan perannya sebagai ketua organisasi maupun sebagai kepala sekolah.
“Saya punya hari khusus rapat NA, hari rabu itu sudah tidak bisa diganggu gugat. itu ada hari selasa dan jum’at itu mesti saya ngantor. Ya walaupun hanya sebentar, terus kalau di Jakarta 2 minggu sekali gitu. Ya..2 minggu sekali mengikuti rapat ya dan juga menyelesaikan yang lain tapi pada teorinya e pada kenyataannya biasanya malah sering ke Jakarta. Nah, ya nanti kalau ke Jakarta ya harus di kantor.” (N3.D/W3.49-64)
Tidak menutup kemungkinan juga tiba-tiba Dian memiliki agenda ke luar negeri. Sebagaimana yang terlihat beberapa waktu lalu Dian pergi ke Jepang mengikuti acara pertukaran budaya yang diselenggarakan oleh pemerintah negara tersebut yakni program Jenesys.
“Harihari ini narasumber terlihat sedang berada di Jepang dalam rangka mengikuti program Jenesys sebagaimana yang terlihat dalam hashtag pada caption yang dicantumkan narasumber dalam foto yang di upload.”(N3.D/OB-4.12-17)
Belum lagi apabila ada urusan-urusan yang bersifat mendadak misalnya diminta untuk ke dinas pendidikan, bertemu dikdasmen, dan Dian menaruh prioritas apabila tiba-tiba mendapat undangan dari presiden/ menteri/ ketua umum organisasi lain. Jika dari ketiga pihak tersebut yang mengundang Dian, maka segala agenda di luar ketiganya ditinggalkan oleh Dian.
“Nah, kecuali misalkan Pak presiden yang ngundang atau menteri atau mungkin ketua umumketua umum ya itu harus kita prioritaskan, pasti. Walaupun di sekolah ini ada acara apapun tetap saya tinggalkan karena tugas itu tidak bisa diwakilkan, gitu.” (N3.D/W3.65-70) Diakui oleh suami Dian bahwa menjadi ketua umum organisasi membuat Dian menjadi semakin sibuk. Selain menjalankan peran sebagai kepala sekolah dan ketua umum PPNA, Dian juga masih memiliki tanggungjawab untuk mengajar siswa di sekolah. Dikatakan oleh Dian bahwa ia masih tetap mengajar dan memang menjadi hal yang diupayakan oleh Dian karena ia ingin dekat dengan para siswa. Dian ingin mengetahui perkembangan mereka dan juga ingin supaya para siswa juga dekat dengan Dian. Namun demikian, Dian tidak terlalu banyak mengambil jam mengajar. Dian hanya memegang 3 kelas yang kesemua nya adalah kelas 9.
“Iya, tapi kami saling menyesuaikan tentang jadwal masing masing.” (SO8.F/W1.96-97)
“Saya masih, masih, saya tetap masih mengajar dan itu akan saya upayakan, kecuali saya tidak ada di tempat. Nah itu saya ngajar. Saya ngajar 3 kelas, kelas 9 semua. Karena ya saya pingin dekat tetap, pingin dekat dengan anak, saya juga pingin tahu perkembangan mereka, dan saya juga pingin anakanak dekat dengan saya, itu. Jadi saya harus masuk, meskipun ada ya kepala sekolah yang nggak masuk kelas yo ono Mbak, kalau saya tetap harus masuk.”(N3.D/W3.1009-1019)
Setelah menjadi ketua umum organisasi dan tanggung jawab Dian semakin besar, secara otomatis ada lebih banyak waktu, tenaga, dan pikiran yang harus dicurahkan Dian untuk perannya sebagai ketua umum. Dian me-ngata kan bahwa setiap hari dirinya memikirkan NA. Ketika dibenturkan dengan peran sebagai kepala sekolah, mau tidak mau harus ada prioritas yang dipilih oleh Dian. Beberapa waktu lalu, sekolah sedang disibukkan dengan persiapan untuk akreditasi. Dian berupaya untuk maksi-mal dalam mengurusi hal tersebut. Oleh sebab itu, Dian meminta kepada sekretaris eksekutif untuk mengirim semua undangan dan juga MoU ke Yogyakarta, karena secara isik Dian akan stand by di sekolah.
“Ada undangan yang saya harus datang atau MoU saya minta untuk dikirimkan ke Jogja. Pokoknya 1 sampai 12 saya tidak ingin diganggu. Tolong setiap hari saya memikirkan NA, tapi untuk isik saya akan di sekolah. Karena demi prioritas.” (N3.D/W3.106-111)
Kegiatan Dian yang begitu padat, membuatnya jarang berada di rumah. Begitu pula dengan suami Dian yang juga sering pergi ke luar kota. Dian mengatakan bahwa keberadaannya di rumah dengan berkegiatan di luar rumah adalah 50 : 50 (iftyifty). Oleh sebab itu, Dian tidak selalu bisa mengurus rumah dan meladeni suami sebagaimana yang dahulu ia lakukan sebelum memiliki kesibukan se-perti sekarang. Pada akhirnya tugas-tugas rumah yang tidak bisa dikerjakan oleh Dian bisa dikerjakan oleh suami. Jadi, siapa yang sedang tidak sibuk dia lah yang menger jakan tugas tersebut. Sejak awal menikah Dian dan suami memang sudah berbagi tugas. Seiring dengan kesibukan Dian, suami lah yang mengambil peran dalam mengerjakan tugas di rumah.
“Yaa gimana ya Mbak iftyifty lah Mbak..iftyifty sering, kalau dibilang sering ya ndak juga karena kan suka keluar kota ya jadi iftyifty ya.” (N3.D/W3.181-184)
“Ketika ya…mesti ada lah sejak dari awal pernikahan, e…saya sudah berbagi tugas sekarang lebih beliau e lebih banyak beberapa kali menggantikan tugas domestik yang ada di rumah, begitu juga sebaliknya.” (N3.D/W2.37-40)
Keadaan yang membuat Dian menjadi jarang berada di rumah membuat waktu Dian untuk bersama dengan suami di rumah menjadi berkurang. Meskipun Dian sudah berupaya untuk membagi waktu. Saat berada di sekolah, Dian hanya akan fokus dengan perannya sebagai kepala sekolah, saat bersama NA Dian akan fokus untuk NA. Begitu pula ketika berada di rumah, Dian akan fokus
untuk mengurus rumah dan apa yang ada di rumah. Namun, pada kenyataannya untuk mengaplikasikan itu semua Dian merasa kesulitan.
“Tapi pada kenyataannya memang susah, yang penting pertama tugas utama dimana kita berada itu yang harus dimaksimalkan. Terus yang kedua kita harus punya waktu, membagi waktu dan itu bisa kita atur Mbak, misalkan ya kalau e urusanurusan sekolah itu mungkin pagi ya jamjamnya, pagi gini lha temanteman NA mungkin akan membahas, misalkan kan mesti ada ya setiap itu mesti ada. Nah itu biasanya kan siangsiang. Nah saya akan lebih e…entah jam 12 nah itu mungkin pikiran saya akan e…ya tak bukabuka gimanagimana, kecuali yang urgent ya.” (N3.D/W3.33-46)
Tidak hanya itu saja, Dian juga menjadi jarang untuk pulang ke Wonosari yang merupakan daerah asal dan rumah orangtua Dian. Menurut Dian, untuk me-nye imbangkan semua peran pasti akan ada yang tidak seimbang. Termasuk urusan pulang ke rumah di Wonosari.
“Pulang ke rumah ke Wonosari aja saya jarang.” (N3.D/ W3.867-868)
Setelah menjadi ketua umum ortom milik salah satu organisasi masyarakat terbesar di Indonesia ini, Dian mengatakan bahwa tidak ada perubahan perasaan yang berarti yang dirasakan olehnya. Dian hanya fokus pada tang gung jawab atas peran yang semakin besar. Dian tidak terlalu mempersoalkan jabatan apa yang sekarang sedang diembannya. Hanya saja sering ada banyak orang-orang yang meminta foto bersama dengan Dian dan perasaan Dian biasa saja dengan fenomena tersebut.
“Ya saya kok biasa aja ya Mbak. Masih biasa kalau saya tapi ya mungkin bagi saya apa ya Mbak nggak terlalu mempersoalkan itu. Dan ya biasa saja misalkan orang mau minta foto atau apa yaudah biasa. Cuman tanggung jawabnya lebih besar.”(N3.D/W2.149-154) Dalam perspektif Dian, jabatan adalah sebuah amanah. Oleh sebab itu, di tempat mana saja harus dijalankan dengan semaksimal mungkin. Dian menuturkan bahwa ia tidak pernah meminta jabatan sebagai kepala sekolah maupuan ketua umum PPNA sama sekali. Semua terjadi karena Dian diminta dan dipercaya oleh orang-orang bahwa Dian bisa menjalankannya. Dian meyakini betul bahwa semuanya adalah pemberian Allah SWT dan sudah diatur.
“Kalau amanah itu memang harus di jalankan. Di dua tempat itu harus maksimal, kalau urusan di sekolah saya akan ngurusi sekolah. Kalau di sekolah saya akan memikirkan sekolah, kalau di NA saya akan memikirkan NA. Keluarga pun juga begitu.”(N3.D/W3.25-30) c. Dukungan yang Diterima Dian
1) Dukungan Pemberian Bantuan
Dian menerima bantuan dari orang-orang terdekat Dian. Dukungan dalam bentuk bantuan secara langsung dirasakan oleh Dian terutama berasal dari suami. Dian dan suami memiliki kesibukan masing-masing yang berbeda satu sama lain. Tantangan yang dihadapi oleh keduanya saat tidak bisa bertemu adalah dalam hal komunikasi. Antara Dian dan suami harus saling percaya dan pengertian, juga tidak saling mencampuri urusan satu sama lain.
Dian mendapatkan dukungan pemberian bantuan dari suami ketika Dian hendak pergi berkegiatan dan suami sedang tidak ada kesibukan, maka ke kegiatan apa-pun suami pasti mengantarkan Dian. Saat Dian rapat, suami menunggui sambil berkumpul dengan para suami dari teman-teman Dian. Setelah rapat selesai baru suami menjemput Dian kembali. Demikian juga saat Dian hendak pergi ke luar kota, suami mengantar ke bandara apabila sedang longgar.
“Yaa…gitu, terus kalau pas disini juga pasti suami saya mengantarkan gitu kegiatan apapun ya, kalau pas longgar pasti.”(N3.D/W2.91-93)
“Kalau rapat kan kalau jemput mesti ya, bapakbapak yang istrinya rapat kan pada kumpulkumpul. Kita kan sering ya family gathering gitu jadi sudah kenal lah suaminya ini siapasiapa. Nah, suami saya tuh paling cocok dengan Mas Miko, kebetulan sauDiannya juga to jadi, Mas Miko nya Mbak Norma.” (N3.D/W3.236-243)
Ada satu kejadian yang diceritakan oleh orang terdekat Dian bahwa dahulu ketika Dian masih menjabat sebagai sekretaris PP NA di periode sebelumnya, Dian membawa mobil milik PPNA. Kemudian, saat ada kegiatan-kegiatan yang memerlukan mobil tersebut, suami mengantar Dian sekaligus mobil milik organisasi tersebut lalu suami Dian pulang dengan mengendarai sepeda.
“Misalnya ini dek dulu waktu bagian sekretaris itu kan mobil PPNA itu dibawa Mbak Dian nah itu kalau pas mau ada kegiatankegiatan NA, suaminya nganterin mobilnya PPNA tapi katanya tuh dia pulang tuh naik
sepeda gitu, itu. Terus habis itu kalau misalnya ada acara ketemu sama siapa gitu e..suaminya juga nemenin gitu. Terus ngantarin ke banDian gitu.” (SO6.A/W1.815-824)
Saat bertemu dengan tokoh atau pergi ke acara pribadi teman, Dian juga berusaha untuk mengajak suami. Suami Dian pun bersedia untuk ikut ke kegiatan tersebut. Sebagai-mana yang ada di media sosial Dian, disana terlihat foto antara Dian dan suami sedang satu meja makan bersama dengan Pak Din Syamsuddin.
“Terus apa..ya misalkan Pak Din ngajak makan saya ngajak suami.” (N3.D/W3.244-245)
“Ada momenmomen saat narasumber dan suami sedang menghadiri pernikahan, sedang satu meja makan dengan Pak Din Syamsuddin, berfoto bersama dengan pemain utama ilm NAD, narasumber dan suami