Hasil PenelitianBAB IV
C. Hasil Penelitian
2) Dukungan Emosi
Sebagai seorang yang menjalankan peran ganda, duku ngan emosi dari orang-orang terdekat sangat berarti maknanya bagi seorang individu. Lintang banyak men-dapatkan dukungan emosi dari keluarga. Menurut Lin tang anak-anak dan suami merupakan sandaran saat ia merasa lelah dengan semua aktivitas. Anak-anak merupakan peng-hibur Lintang sedangkan suami adalah pendengar ter baik untuk segala keresahan, kebingungan atas per masalahan yang dialami. Selain itu, anak Lintang juga tidak pernah protes dengan peran di luar rumah yang sering kali membuatnya sibuk. Mereka hanya menanyakan kebe-radaan Lintang yang tidak kunjung pulang ke rumah.
“Yang penting diberi pengertian saja bahwa e ibunya kerja atau ayahnya kerja yang penting di rumah begini begini begini. Ya nggak pernah sih, kenapa kerja terus pulang malam terus nggak pernah. Paling kalau nanya biasa nya iya. Nanya iya paling biasanya WA atau apa tanya jam berapa pulang gitu aja. Nggak pernah komplain selama ini nggak pernah.” (SO1.Y/W1.172-177)
Dukungan emosi yang berasal dari suami dirasakan Lintang dalam bentuk suami memberi penguatan mental. Saat Lintang merasa kesal dalam menjalankan perannya, suami adalah pendengar terbaik. Terkadang Lintang ke-pada suami di dalam mobil marah-marah, berteriak dan mengeluh untuk melampiaskan kekesalan. Pada kondisi tersebut, suami berusaha menenangkan Lintang dengan me ngatakan sabar atau meminta supaya Lintang tidak usah memaksakan segala sesuatu. Setelah curhat dengan suami perasaan Lintang semakin lega.
“Sampai marahmarah gitu di mobil, teriak gini gini gini, udah ya udah lega kitanya meskipun suami juga tidak tidak bisa memberikan solusi. Paling cuma mem beri penguatan apa namanya ya sabar, ya gini gini gini. Ya kita cuma butuh meluapkan ini aja, aku capek gini gini gini, yaudah nggak usah dipaksain gitu. Itu kan se benarnya support mental juga.” (N1.L/W1.1170-1178)
Di kesempatan yang lain, suami sering bertanya hal-hal simpel yang dirasakan oleh Lintang sebagai wujud ke-pedulian suami terhadap dirinya. Saat suami sedang sibuk bekerja namuan ia masih menyempatkan diri untuk meng-hubungi Lintang. Suami menanyakan kondisi Lintang
dan anak-anak, bertanya aktivitas Lintang yang sudah di-lewati pada hari tersebut, ketika hari libur ada kegiatan dengan masyarakat atau tidak, serta memantau bagaimana mengajinya anak-anak, merupakan hal-hal yang mampu membuat Lintang merasa nyaman meskipun menjalankan banyak peran itu pasti melelahkan. Lintang mengakui bahwa ia bukan orang yang cenderung merasa nyaman hanya apabila Lintang diantar kemana-mana oleh suami atau suami harus selalu ada secara isik dengan Lintang. Semangat Lintang terbit kembali saat suami mendengarkan ceritanya, meskipun ia tidak tahu apakah suami paham atau tidak dengan apa yang diceritakan oleh Lintang.
Terkadang, rasa marah dan kesal ketika suami tidak memberi kabar sama sekali kepada Lintang justru berubah menjadi emosi postif. Lintang mampu mengolahnya men-jadi cambuk berkerja sebagai ajang pembuktian bahwa Lintang bisa melakukan sesuatunya sendiri. Walaupun pada akhirnya, Lintang tetap sangat membutuhkan suami. Lintang menghargai profesi suami dan ia tetap merasa nyaman meskipun suami secara isik tidak selalu ada disamping nya. Secara tidak langsung, suami mendidik Lin tang untuk bisa mandiri dalam menjalankan peran sebagai public igure.
“Dia ada seperti dia menanyakan, satu minggu masuk nggak?, liburmasuk nggak?, anakanak gimana?, gitu, ngaji nya gimana?, itu tuh udah bagi saya itu udah, udah wujud kepedulian gitu. Jadi bukan dia yang secara bisa dijabarkan, oh saya pokoknya nyamannya kalau diantar kemanamana gitu, dia harus ada gitu, nah itu nggak..saya nggak, bukan tipe seperti itu.”(N1.L/ W3.283-291)
Suami Lintang merupakan sosok yang bisa menem-patkan diri. Ketika Lintang sedang berperan sebagai lurah, suami memerankan diri sebagai pendamping. Perasaan aman, nyaman dan percaya diri dalam menjalankan peran muncul saat suami ada untuk Lintang. Jika Lintang mem-butuhkan teman untuk bercerita, suami siap menjadi temannya, saat ia butuh untuk meyakinkan diri bahwa diri-nya dapat menjalankan tugas secara mandiri, suami adalah orang pertama yang percaya dengan kemampuannya. Tidak hanya percaya dengan kemampuan Lintang saja, tetapi juga pelindung di saat Lintang tak siap diri untuk meng hadapi konlik yang kadang terjadi di masyarakat.
“Kalau memang saya ada waktu, ada kesempatan, istilah nya selama memerankan perannya sebagai lurah ya saya posisikan saya sebagai pendamping. Apa yang saya dampingi ya saya dampingi, kalau nggak ya udah jalan sendiri.” (SO1.Y/W1.243-248)
“Saya hanya mensupport apa yang kirakira dibutuhkan gitu saja. Kalau emang dia butuh teman cerita ya saya temenin, kalau dia butuh masalah kerjaan terutamanya, butuh ada yang ngantarngantar kemana ya saya antar gitu tapi selama istilahnya kalau dia nyamannyaman saja dan nggak ada ini ya saya istilahnya ya los kan aja lah…percayakan saja dia mampu.” (SO1.Y/W1.196-205)
Selain itu, suami Lintang juga memberikan dukungan afeksi terutama ketika Lintang terlihat lelah ketika sam-pai di rumah. Suami berusaha menanyakan apa yang di-inginkan Lintang, suami juga bertanya apakah Lintang sudah makan atau belum dan semacamnya. Namun
demi-kian, dalam kondisi lelah Lintang terkadang tidak ingin ditanya, sehingga jika Lintang mulai mengomel, suami diam saja. Suami memberi waktu kepada Lintang untuk menanangkan diri supaya kondisi emosinya pulih.
“Misalkan dia kelihatan capek gitu lelah ya paling, kalau di rumah ya paling saya tanya, tadi udah makan belum segala macam terus pinginnya apa gitu kan dan kalau memang kelihatan sudah istilahnya apa ya namanya orang capek itu kadang nggak mau ditanya, kadang mau istirahat, nggak mau ributribut gitu kan yasudah misal mulai ada omongan omelanomelan segala macam men ding cuma diam gitu. Paling saya biarkan tenang, memberikan waktu sendiri untuk memulihkan dirinya sendiri.”(SO1.Y/W1.259-270)
Oleh karena Lintang dan suami sama-sama sibuk, sehingga saat ada waktu bersama betul-betul dimanfaatkan untuk quality time. Dalam kesempatan tersebut Lintang dan suami saling memberi dukungan dalam menjalankan perannya masing-masing atau hanya sekedar mengobrol santai menikmati kebersamaan sambil sarapan bersama. Lintang mengaku jika ia sering mencuri-curi waktu sekitar satu atau dua jam supaya dapat menikmati sarapan bersama sang suami yang sangat dicintainya tersebut.
“Saya sering kok nyurinyuri waktu gitu, habis apel gitu, sarapan bareng yuk..bisa, sekedar setengah jam..satu jam di luar kemudian saya ke kantor.”(N1.L/W3.468-472) Lintang juga selalu berusaha membuat momen-momen spesial ketika bisa berdua dengan suami. Oleh karena sejak berpacaran mereka LDR dan sangat terikat dengan tugas masing-masing. Lintang yang saat itu masih
mene mpuh pendidikan tinggi di STPDN yang lokasinya jauh, sementara suami sudah bekerja. Hingga setelah meni-kah, Lintang dan suami masih sering LDR karena suami sering bertugas ke luar kota/ luar negeri. Momen spesial tersebut seperti menonton berdua saat midnight dan anak-anak dititipkan ke orangtua Lintang, atau mereka pergi kemana.
“LDR itu udah sejak zaman pacaran itu udah LDR, makanya setiap kali kita bareng ada waktu tertentu kita bisa satu tempat, satu waktu itu saya selalu berusaha untuk membuat momenmomen spesial. Ya cuman itu aja cuma makan bareng yaudah makan. Kadang nonton berdua gitu, anakanak dititipkan ke eyangnya gitu. Kita nonton berdua, midnight kita pernah ya.” (N1.L/ W3.373-384)
Sebagaimana yang dilakukan Lintang yang berusaha menciptakan momen-momen spesial saat waktu mengizin-kan mereka untuk jalan berdua, suami juga melakumengizin-kan hal serupa. Dalam merawat keberlangsungan peran, suami berusaha untuk menciptakan suasana saling memahami dan saling mendukung. Pada satu kondisi, Lintang sedang marah, suami meresponnya dengan diam. Jika Lintang bercerita maka suami mendengarkan atau sebaliknya. Ke-duanya harus bisa saling mengerti, mendukung, dan peka terhadap kebutuhan pasangan.
“Cuman kalo misal dia ribut ya saya diem. Kalau dia ribut saya juga ribut, nggak selesai. Karena memang tipikal nya begitu, yang satu cerita yang satu dengerin. Nggak bisa kan duaduanya cerita, harus..harus sama sama saling mengerti, saling support dan apaapa yang
harus diperluin itu apaa gitu biar tetap jalan.”(SO1.Y/ W1.1048-1055)
Selain dari keluarga, dukungan emosi juga diterima Lintang dari rekan kerja di kantor. Rekan kerja Lintang di kantor sebanyak 6 orang ditambah dengan 2 orang tenaga bantu yang bertugas membantu staf kelurahan mengurusi bagian pelayanan/ front oice. Di lingkungan kelurahan, para staf sudah dengan kesadarann sendiri menciptakan sua sana kerja yang nyaman seperti berada di rumah. Para staf bekerja secara gotong royong dan mengutamakan kebersamaan dengan jargon “Sopo sing selo nandangi, sing rame dibantu, sing penting krasan”. Maksudnya adalah siapa saja staf yang sedang tidak ada pekerjaan, maka ia mengerjakan pekerjaan apa saja yang belum selesai, kemudian jika mereka melihat ada salah satu staf yang sedang banyak pekerjaan, maka dibantu, dan yang penting betah bekerja di kantor. Para staf juga saling menghargai apabila salah satu dari mereka memiliki urusan keluarga, boleh meninggalkan kantor sepanjang ketiadaannya di kantor tercatat dalam izin.
“Kesadaran kamikami selaku staf menciptakan kelurah an atau tempat kerja itu senyaman mungkin, jadi itu kuncinya disitu. Jadi merasa betah di kelurahan gitu aja, jadi antara satu dengan yang lain saling menghargai, saling menghormati, kalau punya acara keluarga yang penting ya silahkan sepanjang mereka harus izin pamit.”(SO2.H/W1.324-334)
Setiap hari Jum’at pagi, seluruh staf kelurahan ter-masuk Lintang juga melakukan senam bersama untuk men jaga pola hubungan kekeluargaan diantara mereka.
“Saat itu narasumber mengenakan baju dan celana trai ning, jilbab warna pink, serta sendal jepit warna biru. Wajah narasumber terlihat natural tanpa balutan make up. Sementara itu, di atas meja kerja narasumber terlihat ada piring kecil berisi gorengan dan juga gelas yang berisi minuman teh yang tinggal sedikit. Saat peneliti mencoba bertanya mengenai apa yang baru dilakukan oleh narasumber, ternyata narasumber pada pagi harinya sehabis melakukan senam bersama dengan para staf kelurahan.” (N1.L/OB-3.13-25)
Saat Lintang mendapatkan permasalahan dalam masya rakat, terkadang staf juga menjadi tempat Lintang ber cerita. Seperti menceritakan pengeemar Lintang karena ia sudah merasa kehabisan cara untuk menghadapinya. Di sisi lain, terkadang ada hal-hal terkait dengan peran kepe-mimpinan Lintang yang enggan diceritakan kepada suami, sehingga Lintang menceritakannya kapada staf sembari mencari solusi.
Begitu pula dengan masyarakat. Sebagai seorang lurah perempuan yang sudah berkeluarga dan memiliki dua anak yang masih kecil, Lintang merasa dimanjakan di tengah-tengah masyarakat. Saat Lintang berada di acara PKK hari minggu sore dan terlihat oleh masyarakat sudah duduk disana terlalu lama, Lintang seringkali ditegur oleh masya-rakat. Masyarakat mempersilahkan Lintang untuk pulang terlebih dahulu, apabila ada urusan keluarga. Apalagi ketika acara tersebut berlangsung di malam hari, bapak-bapak dan ibu-ibu masyarakat sudah sangat mengerti jika Lintang datang maka acara tidak boleh lebih dari pukul 21.00 malam.
“Akhirnya malah kemudian saya dimanjakan disini. Saya e menjadi lurah termuda disini, sudah berkeluarga, punya anak kecil, dari Ibuibu PKK dari bapakbapak itu sangat mengerti sekali bahwa, o kalau bu lurah datang itu acara tidak boleh terlalu malam, jam 9 sudah harus selesai.”(N1.L/W3.963-970)
Lintang juga merasa bahwa ia menjadi sosok yang di-per caya oleh masyarakat, sehingga Lintang berusaha untuk menjaga kepercayaan tersebut. Selain itu, semangat masya-rakat yang tampak ketika Lintang menghadiri acara-acara mereka menjadi kepuasan tersendiri bagi Lintang.