• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dukungan Pemberian Bantuan

Dalam dokumen DINAMIKA DUKUNGAN KELUARGA PADA PEMIMPIN (Halaman 105-112)

Hasil PenelitianBAB IV

C. Hasil Penelitian

1) Dukungan Pemberian Bantuan

Dalam menjalankan perannya Lintang mendapatkan dukungan dari orang-orang terdekat, yaitu keluarga, rekan kerja dan dari masyarakat yang dipimpinnya. Lintang mendapatkan dukungan keluarga terutama dari suami dan anak-anak. Mengacu pada hasil observasi dan wawancara, terlihat bahwa keluarga Lintang terutama suami mem-berikan dukungan dengan memberi bantuan nyata dalam

rangka membantu meringankan beban Lintang menjalan-kan peran sebagai pemimpin perempuan.

Sebagai seorang public igure, Lintang memiliki kegiatan yang sangat banyak dan seringkali harus mengu-tamakan kepentingan kantor daripada pulang ke rumah. Di tambah lagi suami Lintang juga sering bertugas ke luar kota sehingga intensitas Lintang berkumpul/ quality time

dengan keluarga menjadi berkurang. Hal ini menjadi kan anak-anak Lintang terbiasa ditinggal oleh kedua orang-tuanya bekerja. Sejak anak-anak masih kecil sudah sering ditinggal dinas oleh suami Lintang yang saat itu masih bekerja di lingkungan militer.

“Karena mungkin sudah, dari kecil sudah terbiasa saya terutama saya yang sering meninggalkan kalau dinas sebulan..sebulan saya tinggal. Jadi dengan komposisi ibunya kerja, saya kerja atau siapapun yang ada di rumah mereka sudah terbiasa.”(SO1.Y/W1.165-170) Oleh sebab itu, kedua anak Lintang menjadi lebih mandiri dan kooperatif. Anak-anak sudah mengetahui tang gung jawab pribadinya. Seperti kapan mereka harus mandi, makan, atau apa yang harus dilakukan saat baru pulang dari sekolah. Anak-anak tidak protes terhadap kesibu kan Lintang. Hanya saja jika Lintang tidak kun-jung pulang ke rumah, kedua anaknya mencari dan me-nanyakan melalui WA tentang kapan Lintang pulang. Selain itu, anak-anak juga patuh terhadap arahan-arahan Lintang. Seperti perihal penjemputan sepulang sekolah. Anak-anak menuruti arahan Lintang supaya tidak ikut pulang dengan orang lain meskipun dengan orangtua dari teman dekat anak Lintang. Anak-anak diberi pengetahuan

bahwa mereka harus menunggu dijemput oleh Lintang atau orang yang diminta Lintang untuk menjemput de-ngan terlebih dahulu konirmasi melalui telefon. Ketika Lintang terlambat menjemput dan tidak meminta orang untuk membantu menjemput, kedua anak Lintang masih

stand by di sekolah yang masih satu lingkungan dengan Masjid Syuhada, bahkan pernah mereka sampai tertidur di bangku depan sekolah karena menunggu Lintang.

“Jadi mereka memang harus memposisikan diri memang e saya selalu mewanti­wanti, kalau bukan bunda yang jemput, bukan ayah yang jemput, bukan eyang kakung atau yangti atau om yang jemput, nggak boleh ikut. Meski pun itu kenal, meskipun itu temannya bunda, meski pun itu e…mamahnya temannya itu nggak boleh.”(N1.L/W1.1009-1017)

Lintang berupaya memberikan pagar-pagar kepada kedua anaknya untuk tidak mudah ikut dengan orang lain yang meskipun mereka dikenal oleh Lintang. Lintang merasa bersyukur karena sampai sekarang anak-anak masih melakukan pagar-pagar yang diajarkan oeh Lintang kepada keduanya. Hal tersebut membuat Lintang terbantu karena kedua anaknya bisa dipercaya dan diajak bekerjasama yang secara tidak langsung membantu menyukseskan peran Lintang.

“Naa…itu sebenarnya pagar­pagar yang harus saya kuatkan pada mereka. Jadi, mereka alhamdulillah sam pai sekarang e belum pernah melanggar batas itu. Jadi yaudah mau di sekolah bosennya kayak apa, nggak bawa duit dan segalam macam itu ya mereka tunggu di sekolah gitu. Entah main apa, tidur bahkan sampai

tidur di bangku di depan sekolah itu pernah sampai sete ngah 6 coba itu gimana, karena waktu itu rapat dengan walikota nggak bisa saya tinggal, e saya nggak bisa berdiri kemudian keluar. Nah itu akhirnya mereka sampai setengah 6 di sekolah.” (N1.L/W1.1029-1040) Selain itu, kedua anak Lintang juga tetap bisa koopera-tif ketika tidak bisa langsung pulang setelah se harian di sekolah. Lintang sering membawa kedua anaknya ke kantor, karena di kantor Lintang memiliki ruangan sendiri sehingga anak Lintang bisa bermain di dalamnya dengan leluasa. Sembari Lintang memberikan pengertian ke pada anak-anak mengenai perannya sekarang supaya mereka paham. Intensitas Lintang yang cukup sering dalam mem-bawa anak ke kantor membuat loker yang ada di ruang kerja berisi perlengkapan mandi anak-anak dan diri nya. Ketika berada di kantor dan ditinggal Lintang rapat di lantai 2, anak-anak berada di ruang kerja dan mereka bisa mandi sendiri.

“Saya leksibel aja kalau emang anak­anak bisa diajak ke kantor karena ada tempatnya kan, nah saya ajak ke kantor gitu.”(N1.L/W1.946-957)

“Jadi yang namanya loker ini itu isinya sudah sabun, handuk, baju ganti itu udah semua punya saya dan pu nya anak­anak. Jadi saat anak­anak dibawa kesini mereka udah tahu, oh harus nunggu bunda kalau saya di atas rapat mereka mandi, mandi sendiri gitu. Jadi udah..udah tahu.”(N1.L/W1.1080-1086)

Dukungan bantuan selanjutnya datang dari suam.. Suami memberikan bantuan seperti mengantar jemput Lin tang pergi rapat dan ke kegiatan masyarakat ketika

suami sedang tidak bertugas ke luar kota. Meskipun suami hanya mengantarkan saja dan tidak ikut turun dari mobil. Suami Lintang adalah tipikal orang yang kurang percaya diri untuk berada di depan umum, sehingga suami hanya mengantarkan lalu ditinggal pulang dan nanti dijemput kembali. Suami Lintang bahkan sengaja mengenakan pakai an tidak formal seperti memakai celana pendek supaya ada alasan tidak ikut ke acara. Lintang sudah sangat mafhum jika suaminya tidak akan turun dari mobil walau-pun oleh masyarakat sudah disiapkan kursi untuknya. Meski demikian, dengan diantar oleh suami, Lintang ingin me nunjukkan kepada masyarakat bahwa keberadaannya di kegiatan tersebut sebagai lurah atas dukungan dan izin dari suami.

Selain itu, suami juga kooperatif saat Lintang sibuk dengan urusan peran di luar rumah sedangkan suami se-dang tidak sibuk, maka suami yang menemani anak-anak di rumah.

“Istri sibuk terus saya nya nganggur ya saya yang mungkin ngurusin anak­anak di rumah gitu. Soalnya kalau di rumah kan untuk paling banyak kerjaannya paling sama anak­anak.”(SO1.Y/W1.112-116)

Dalam kaitannya dengan urusan pekerjaan domestik seperti bersih-bersih rumah, memasak, Lintang dan suami memiliki asisten rumah tangga. Lintang mengatakan jika ia menyukai keadaan lingkungan yang bersih dan rapi, tapi Lintang tidak suka bersih-bersih, maka untuk membantu meringankan pekerjaan domestiknya, di rumah terdapat asisten rumah tangga. Selain itu, suami juga memfasilitasi segala macam kebutuhan Lintang dalam konteks dukungan

inansial. Selain memberi nafkah yang memang menjadi kewajiban, suami Lintang juga tidak merasa sayang apabila mengeluarkan biaya untuk kebutuhan sekunder narasumber. Termasuk kebutuhan yang menunjang peran Lintang di luar rumah, seperti membeli baju, seragam, tas, sepatu, kosmetik, dan juga bahan bakar minyak di mobil yang selalu penuh. Oleh karena itu, peran sebagai public igure dirasakan oleh Lintang mendapatkan dukungan penuh dari suami.

Selain dari suami dan anak, dukungan pemberian bantuan langsung juga diperoleh dari orangtua Lintang. Dalam situasi yang mengharuskan Lintang keluar rumah seperti rapat di malam hari dan suami sedang bekerja, maka Lintang dan suami membuat keputusan bersama supaya menitipkan anak-anak ke orangtua.

“Seperti ini saya harus berangkat kerja, istri juga lagi ada kesibukan misalnya malam rapat, malam sama siapa kayak gitu bagaimana solusinya ini. Keputusannya entah mungkin anak yang bisa ditinggal atau mungkin harus dititipkan ke orangtua, atau gimana yang penting intinya adalah komunikasi aja.” (SO1.Y/W1.119-126) Tidak hanya dalam kondisi Lintang dan suami sibuk, saat mereka membutuhkan waktu untuk pergi misalnya menonton berdua, anak-anak juga dititipkan ke orangtua Lintang.

“Kadang nonton berdua gitu, anak­anak dititipkan ke eyangnya gitu. Kita nonton berdua, midnight kita pernah ya.heheheh pernah.”(N1.L/W3.382-383)

Dukungan bantuan langsung juga diterima Lintang dari rekan kerja di kantor. Ketika Lintang sedang tidak bisa menjemput anak karena ada rapat dengan walikota yang tidak bisa ditinggal, ia meminta bantuan kepada salah satu tenaga bantu untuk menjemput kedua anaknya di sekolah.

“Pernah kok karena saya rapat di balai kota jam setengah 1 harusnya saya jemput, karena mereka pulang lebih dulu setengah 1. Saya terpaksa telfon ptt naban yang ada disini, Mas Yoni tolong anak saya dijemput, anak saya nggak mau ikut, e mau telfon bunda dulu.”(N1.L/ W1.1017-1023)

Lintang juga merasa terbantu saat rekan kerja me-mahami porsi tugas masing-masing. Terkadang saat tidak bisa menghadiri acara, Lintang mendisposisikan undangan kepada staf. Kemudian staf datang untuk mendampingi di acara tersebut tanpa mengambil alih fungsi Lintang sebagai-mana lazimnya yaitu membuka acara. Dalam pandangan Lintang, dengan hadirnya staf ke acara tersebut dan tidak mewakili Lintang membuka acara sudah merupakan bagi-an dari dukungbagi-an mereka kepada Lintbagi-ang.

“Tapi mereka hanya datang, monggo silahkan acara di buka oleh ketua paguyuban, saya ada hadir disini diutus sama bu lurah untuk mendampingi. Jadi mereka tidak mau mengambil alih fungsi saya untuk membuka, nah itu. Itu bagi saya udah..udah ini lho, udaaah..udah lain. Daripada mereka disana kemudian show up, bu lurah nggak bisa datang, saya yang membuka, lain kaan..beda. Jadi, ada porsi­porsi tertentu yang memamg mereka tidak akan ambil gitu.” (N1.L/W3.349-359)

Selanjutnya masyarakat juga memberikan bantuan langsung kepada narasumber. Seringkali kegiatan di masya rakat dilaksanakan pada malam hari, sementara rumah Lintang relatif jauh. Tanpa disangka-sangka, masya rakat sudah menyiapkan pengawalan untuk Lintang hing ga benar-benar sampai di daerah rumah. Lintang pernah menceritakan jika pada suatu waktu ia hadir di ke gia tan masyarakat sampai larut malam. Lintang merasa takut karena menyetir sendiri. Kemudian oleh masyarakat disiapkan pengawalan.

“Dan alhamdulillah masyarakatnya support Mbak. Jadi kalau sudah malam gitu mereka dengan sadar dirinya aja, he bu lurah rumahnya jauh lho. Bahkan mereka sudah siapkan pengawalan buat saya.”(N1.L/ W1.1200-1205)

Dalam dokumen DINAMIKA DUKUNGAN KELUARGA PADA PEMIMPIN (Halaman 105-112)