K
ebijakan restrukturisai di tubuh PT. KAI, kemudian melahirkan salah satu direktorat untuk lebih fokus mengurusi aset non produksi milik PT. KAI yang selama ini lepas dari pengawasan dan penjagaan. Direktorat itu adalah Direktorat Pengelolaan Aset Non Railways.Direktorat Pengelolaan Aset Non Railways (D8), di bawah kepemimpinan
Edy Sukmoro, mengelola aset non railways, meliputi, aset tanah, rumah, dan bangunan diluar railway.
Edi mengatakan, pihaknya sudah membukukan rumah dinas, buku tanah, buku bangunan dinas (ada mess dan kantor) yang terbit bulan Maret 2013. Tujuannya membuat buku kepemilikan aset adalah melindungi aset-aset kita, dengan cara memberitahu ke semua pihak, termasuk Badan Pertahanan Negara (BPN), supaya kalau tanah dan aset kita mau diserobot orang dengan cara mensertipikasikan. Umumnya masyarakat tahu, bahwa aset yang diserobotnya itu adalah aset milik PT. KAI .
Dalam pembukuan itu tanah non railway yang dikelola oleh Direktorat Aset Non Railways luasnya sekitar 270 juta meter persegi. Dari luas tanah 270 juta persegi itu, Direktorat Aset Non Railways ini sudah mensertipikasi tanah seluas 90 juta meter persegi, dan yang belum disertipikasi seluas 180 juta meter persegi.
“Melegalisasi tanah-tanah yang dimiliki oleh PT. KAI itu merupakan upaya yang dilakukan oleh Direktorat Aset Non Railways dari aspek penyelamatan aset tanah,” ujar Edi.
Lanjut Edi, hal itu menjadi persoalan, karena indikasi percepatan untuk mensertipikatkan tanah milik PT.KAI itu 1,2 juta meter persegi pertahun. Dilihat dari sisi percepatan maka dibutuhkan 100 tahun lebih untuk melakukan pensertipikatan tanah yang dimiliki PT. KAI.
Beda lagi dengan aspek pemberdayaan aset-aset non produksi , Edi mengatakan,
pemberdayaan terbagi dalam dua kategori, yaitu pertama, menyewakan rumah dinas diluar dari yang dipakai perseorangan baik pegawai, pensiunan ataupun umum, sebanyak kurang lebih 16.000 unit rumah. Yang kedua, bangunan atau tanah, ada beberapa yang sudah di KSO-kan (Kerjasama operasi atau disewakan kepada pihak lain).
Lanjut Edi, persoalan dalam menertibkan aset-aset yang dimiliki PT. KAI muncul, karena banyak sekali aset-aset PT.KAI sudah terlalu lama tidak diurusi, sehingga banyak pihak-pihak yang menggunakan aset-aset itu tanpa ada ikatan kontrak dengan PT. KAI. “Bahkan ada yang berusaha untuk mensertipikatkan secara sepihak,”katanya dia.
Itu sebabnya buku yang dibuat tadi dikirimkan ke BPN juga, supaya kalau ada usaha untuk mensertipikatkan tanah PT. KAI secara sepihak, BPN bisa terlebih dahulu memberitahu PT. KAI Buku Aset tersebut tiap tahunnya pasti diperbaharui. “Karena tiap tahun bisa ada penambahan atau pengurangan aset,” tandas dia.
Targetan Edi dalam memimpin Direktorat aset non produksi adalah
menjalankan apa yang menjadi tugas utamanya. Tugas utama itu, meliputi penertiban, sertipikasi dan penjagaan aset ditambah dengan tugas ekstra mencakup seluruh aset termasuk bangunan yang mempunyai nilai heritage seperti : stasiun, bangunan dan benda-benda bersejarah, misalnya Gedung lawang sewu, Stasiun ambarawa dengan sepur bergerigi dan yang lainnya.
Adapun aset tanah yang dimiliki oleh PT.KAI merupakan aset-aset negara yang dipisahkan yang diberikan kepada PT.KAI sebagai penyertaan modal negara seperti Badan-Badan Usaha Negara (BUMN) yang 100 persen modalnya berasal dari negara.
Beda lagi dengan aset tanah yang berada di sekitar rel kereta api, Edi mengatakan, 11 meter sebelah kiri dan 11 meter sebelah kanan jalur kereta api adalah aset pemerintah c.q Dirjen Kereta Api (DJKA) kira-kira luasnya 27 juta meter persegi. Di luar dari aset yang dikelola oleh Direktorat Aset Non Railways. Meskipun kepemilikan Dirjen KA, pengelolaannya diserahkan kepada kereta api untuk melaksanakan perawatan Jalan Rel Kereta Api dengan pola pemberian Infrastructure Maintenace Operation (IMO).
Terkait dengan dengan anak perusahaan yang berada di bawah kendali PT. KAI, Edi mengatakan, anak perusahaan tidak pernah memiliki aset tanah non produksi, hanya ada satu anak perusahaan yaitu Kereta Api Properti Manajemen (KAPM), yang boleh memberdayakan aset kereta api melalui proses komersialisasi dari Direktorat Komersial (D1).
Sesuai dengan tugas utama Direktorat Aset Non Railways, yaitu mengupayakan penertiban, pensertipikatan dan penjagaan aset-aset yang sekarang ini dikuasai pihak lain yang tidak sesuai dengan aturan. Terutama, aset tanah yang berada di lintas mati (yang tidak beroperasi lagi).
Sekarang ini, banyak jalur rel lintas mati – yang tidak dioperasikan—dianggap masyarakat tidak terurus, sehingga jalur tersebut ditempati dan dipergunakan masyarakat.
Secara prinsip, dalam penertiban jalur mati yang mau direaktivasi lagi, kita melakukan pendekatan persuasif dan menyosialisasikan kepada masyarakat, agar bersedia hengkang dari jalur mati tersebut. “Banyak juga masyarakat
yang mau menuruti dan hengkang dari jalur mati itu,” kata Edi.
Selama ini memang diakui oleh Edi, terhadap lahan-lahan Kereta Api yang ditempati oleh pihak lain, disebabkan karena tidak dijaga, tidak ada yang melihat, dan mengawasi lahan-lahan itu.
Direktorat aset non produksi sendiri, baru berusia dua tahun, lima tahun yang lalu atau sebelumnya masih berada di bawah sebuah divisi yaitu Divisi Property. Diharapkan dengan adanya direktorat sendiri, penertiban, pensertipikatan dan penjagaan aset tanah rumah dinas dan bangunan dinas yang dimiliki dapat dilakukan secara intensif lagi.
Edi mengatakan, tanah yang dimiliki oleh PT. KAI, 100 persen milik negara. Tanah negara kan, tanah rakyat juga? Masa, tanah rakyat dipergunakan oleh pihak-pihak swasta yang hanya memikirkan keuntungan sendiri? Hingga sekarang ini, banyak bangunan mall, rumah sakit dan ruko dibangun tanpa ijin diatas tanah milik PT. KAI. Misalnya bangunan Medan Center
Point dibangun di atas tanah PT.KAI yang ada di Medan, yang diserobot oleh PT. Arga Citra Kharisma (ACK). Untuk penyerobotan tanah yang ada di Medan, sudah kita upayakan proses pengadilan. Proses pengadilan selama ini, PT. KAI selalu dikalahkan hingga sampai kasasi.
Edi mengatakan, kita tak akan pernah menyerah untuk mengupayakan proses hukum terhadap penyerobotan tanah yang ada di Gang Buntu, Medan Timur. Kita akan mengajukan Peninjauan Kembali (PK) supaya aset tanah yang diserobot itu kembali kepada rakyat. Pemerintah juga tidak lepas tangan terhadap aset tanah milik PT.KAI yang diserobot oleh pihak-pihak yang hanya menguntungkan diri sendiri. Pengembalian aset tanah itu sangat penting, supaya PT.KAI bisa mengembangkan usaha-usaha perkeretapian di Indonesia yang lebih maju dan terpadu.