• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dua Puluh Empat…

Dalam dokumen Phoebe - Love Latte (Halaman 90-94)

“Ya. Hanya sampai semua urusanku selesai, tinggal selangkah lagi dan setelah itu aku akan pulang!” Haruka terus bicara dengan ayahnya dan di telpon sambil becermin dan memastikan dirinya sudah rapi.

Kent membuka pintu kamarnya sehingga Haruka memutar tubuhnya setelah melihat bayangan Kent di cermin. Ia menempelkan jari telunjuk di depan bibirnya agar Kent tidak bersuara.

“Baiklah! Oke…akan ku usahakan!” katanya lagi. “Bye. Dad!” Haruka menutup telponya dan memasukkanya kedalam tas tangan yang ada di atas meja.

“Kau sudah siap?” Tanya Kent. “Ayahmu bilang apa?”

Haruka membawa tasnya dan keluar dari kamar begitu juga dengan Kent, keduanya masih mengobrol sambil berjalan menuju mobil yang sudah siap mengantar mereka. Keduanya lalu duduk berdampingan dan Kent masih mendengarkan semua cerita Haruka tentang pembicaraannya dengan ayahnya sambil menyetir.

“Dan akhirnya dia bilang kalau saat aku pulang setelah semuanya selesai, aku mengajak teman serumahku!” Haruka mengakhiri ceritanya. “Aku cuma bilang, akan ku usahakan!”

“Bagaimana kalau ayahmu tau kalau kau tinggal di rumahku?” “Aku juga pernah tinggal dengan laki-laki sebelumnya, jadi jangan khawatir selagi dia tidak tau kalau yang tinggal bersamaku adalah orang yang menghamili putrinya dulu. Ayahku juga tidak tau sampai saat ini, median ibu tiriku akan membawa rahasia itu sampai mati, untungnya aku keguguran!”

Haruka menggigit bibirnya, Ia tidak menyadari nada suaranya sama sekali. Ia hanya bermaksud bercanda dan ternyata Kent tersinggung dengan itu? “Sorry!”

“Sudahlah lupakan saja! Semuanya baru saja membaik, jadi jangan rusak suasana hari ini. Oke!”

Haruka tidak menjawab. Entah mengapa suasana mendadak terasa kaku karena percakapan tentang keguguran tadi. Sepertinya Kent memang sangat tidak suka membicarakan hal itu dan kalimat terakhir Kent membuat Haruka tidak berani berbicara lagi. Ia takut mengeluarkan kata-kata yang salah yang pada akhirnya akan menyebabkan pertengkaran.

Kent benar, semuanya baru saja membaik. Tapi Haruka merasa kalau ketegangan di antara dirinya dan Kent juga meningkat. Kent beberapa kali memandang keluar jendela dan tidak memulai percakapan apapun juga. Sepertinya perasaan Kent memang sudah berubah menjadi buruk karena percakapan tadi.

“Sudah sampai!” Gumam Kent begitu mobilnya terparkir dengan mulus.

“Kau tidak perlu menungguku kalau sedang merasa tidak nyaman, biar aku pergi sendiri!”

Kent mendengus. “Kenapa kau berkata seperti itu? Perasaanku baik-baik saja! Sekarang ayo keluar!”

Haruka memandangi Kent lama, Ia mematung dan tidak ingin beranjak.

Ada apa denganmu? Apa aku salah? Fikir Kent. Ia menutup pintu

mobilnya kembali dan membalas pandangan Haruka beberapa lama. “Mau sampai kapan begini?”

“Aku minta maaf kalau sudah salah bicara.”

“Astaga!” Kent mulai meras geram. Mengapa semuanya jadi seperti ini? Baik dirinya ataupun Haruka saling merasa bersalah pada sesuatu yang sebenarnya sudah tidak menjadi masalah. Haruka yang sekarang sangat sensitif, gampang menangis,

gampang tersinggung. Kent mendengus. “Apa karena aku marah-marah waktu itu? Ayolah, sebenarnya tidak ada yang salah. Kenapa jadi begini?”

Haruka menunduk. “Aku cuma merasa kalau ucapanku selalu membuatmu merasa tidak enak!”

“Kalau begitu mulai sekarang aku akan mengatakan kepadamu kalau aku tidak menyukai sesuatu. Jadi jangan seperti ini lagi, berjanjilah!” Kent memandang Haruka semakin dalam. Butuh waktu yang cukup banyak untuk melihat Haruka mengangguk setuju. “Sekarang ayo kita selesaikan semua urusanmu!”

Kenta membuka pintu mobilnya kembali dan Haruka juga melakukan hal yang sama meskipun dengan malas-malasan. Melihat itu Kent menjadi semakin serba salah, ia berusaha mencairkan suasana dengan berbagai cara. Seandainya bukan Haruka, Kent pasti sudah meninggalkanya karena perbuatan seperti ini sudah membuang-buang banyak waktu dan dirinya bukanlah orang yang suka membuang-buang waktu.

“Hari ini kau pulang malam?” Tanya Kent. Haruka hanya mengangguk.

“Kalau begitu ku jemput.”

“Ya, tapi jangan menelponku terus menerus. Aku tidak bisa menerima telpon pada waktu bekerja!”

“Oke, tidak akan ada telpon, kecuali kau yang menelpon!” suara Kent terdengar lebih senang. Haruka sudah semakin bersemangat meskipun kelihatanya ia masih memikirkan kejadian aneh tadi.

“Apa kau akan mengikutiku terus?” “memangnya kenapa?”

“Teman-temanku bisa salah sangka!”

Kent menghela nafas lalu menghentikan langkahnya. “Baiklah! Aku akan tunggu disini saja. Jangan lama-lama!”

Haruka mempercepat langkahnya tanpa menoleh kepada Kent lagi. Ada yang lain dengan Haruka, biasanya gadis itu dengan berani melotot dan menjawab kata-katanya. Tapi belakangan ini Haruka lebih banyak diam dan mengalah. Meskipun ia tau itu semua karena Haruka mulai melihat keberadaanya sebagai seorang teman, tetap saja Kent merasa tidak nyaman. Ia tidak bisa membayangkan kalau Haruka akan terus seperti itu setiap hari.

“Ni-chan!”

Panggilan itu, dan suara yang mengucapkan kata-kata tersebut seperti pernah di dengarnya. Kent menoleh kearah suara dan melihat Charlene yang sedang berlari kerarahnya sambil menggendong buku-buku tebal. Gadis itu kemudian terengah-engah setelah tiba dihadapanya dalam waktu sekejap.

“Charlene, kau kuliah pagi?”

Charlene menggeleng. “Aku hanya ingin ke perpustakaan. Kau sedang apa disini?”

“Aku?” Kent menunjuk wajahnya. “Aku mengantar Haruka. Dia ada urusan dan minta bantuanku untuk mengantarnya ke sini semalam.”

“Kau dan dia…”

“Kami tinggal serumah sekarang, atau lebih tepatnya ia tinggal di rumahku untuk sementara waktu!”

Charlene menutup mulutnya yang nyaris saja mengeluarkan teriakan. Kent belum menceritakanya kepada Charlene dan ia berjanji akan melakukanya begitu ada waktu luang. Yang bisa Kent lakukan saat ini hanya meminta nomor ponsel Charlene dan berjanji akan menghubunginya bila ada waktu atau butuh sesuatu. Sekarang, ia hanya akan melambaikan tangan kepada Charlene yang meninggalkanya lalu termenung beberapa lama menunggu Haruka selesai dengan urusan yang di rahasiakanya.

Dalam dokumen Phoebe - Love Latte (Halaman 90-94)