• Tidak ada hasil yang ditemukan

Empat Puluh Satu…

Dalam dokumen Phoebe - Love Latte (Halaman 154-160)

Kent sudah menanti cukup lama di sofa ruang tengah sambil beberapa kali memantau keadaan Haruka lewat jendela. Malam ini ia lebih khawatir dari biasanya sehingga membuat dirinya tidak bisa lebih tenang meskipun ia memutuskan untuk tidak mengikuti Haruka lagi. Tapi ada debaran yang berbeda saat menanti Haruka kembali kerumah, karena ia akan melihat Haruka yang berbeda, Haruka yang sedikit banyak sudah dia ketahui rahasianya. Bunyi pintu terbuka setelah beberapa tuts password di tekan dan mengeluarkan suara halus. Haruka masuk kedalam flat lalu bersandar ke pintu sambil menghela nafas berat. Ia sedang menahan desakan air matanya.

Lampu tiba-tiba menyala membuat Haruka kelihatan sangat terkejut dan memandangi Kent yang berdiri di hadapanya. Sesegera mungkin ekspresinya berganti dengan keriangan yang di buat-buat. Haruka akan berpura-pura seperti apapun, kali ini tidak akan memberikan pengaruh apa-apa pada Kent. Karena Kent sudah tau beberapa hal penting yang selalu di sembunyikan Haruka dari semua orang di dunia ini. Kent sudah bisa membaca kalau di dalam mata hitam milik Haruka bukan hanya berisi kebencian saja, Sinar ketakutan yang sempat tersirat selama inipun terlihat semakin jelas. Ia akan melakukan apa saja untuk melindunginya supaya Haruka tidak terluka, ia bersedia melakukan apa saja.

“Kau membuatku terkejut. Aku kira sudah tidur!” Kata Haruka sambil mengelus dadanya, kamuflase yang brilian.

Kent tersenyum tipis dan menggeleng. Sebelah tanganya terjulur kedepan hendak menyentuh Haruka namun tiba-tiba ia

mengurungkan niat dan malah mendorong pintu yang ada di belakang Haruka dengan tak bertenaga.

“Sudah terkunci, tenang saja!” Kata Haruka sambil melepas high heelnya dan duduk di sofa ruang tengah setelah mengambil sebotol air mineral dalam kulkas sebelumnya.

“Kau baik-baik saja?” Kent berujar sambil duduk di sebelah Haruka dengan agak kikuk. Ada sesuatu dalam suaranya yang tidak bisa Kent mengerti.

Haruka pasti merasa gelisah, ia memandang Kent lurus-lurus seakan-akan mencari tau sesuatu yang membuatnya gelisah. Tapi mata itu hanya akan terus bertanya kepada Haruka tentang apa yang sedang di sembunyikanya di dasar hati yang paling dalam. “Apa kau fikir aku minum lagi? Aku kan sudah berjanji untuk jadi anak yang baik dan tidak menyentuh minuman keras lagi!” Haruka berdiri dari duduknya dan berjalan ke dapur.

Kent memandangnya dengan pandangan kosong, gadis itu menoleh dan memandang Kent penuh tanya, tapi Haruka juga tidak berani bertanya apa-apa. Ia hanya bertanya apakah Kent mau di buatkan kopi? Dan Kent hanya mengangguk. Beberapa saat kemudian Haruka sudah kembali duduk bersisian dengan Kent dan menyeruput kopi buatanya. Ia memandang Kent yang tidak menyentuh kopi buatanya sama sekali.

“Kenapa? Kau takut kopi buatanku tidak enak? Aku bersumpah itu adalah kopi ternikmat yang pernah ku buat. Kau lihat? Aku masih menggunakan seragam, jadi keahlianku belum ku simpan!” Katanya sambil membentangkan kedua tanganya. Tapi Haruka segera mengkerut karena Kent tidak memberi reaksi apa-apa selain memandangnya. “Kau kenapa-apa?”

Kent menggendorkan dasi yang dari tadi masih di kenakanya. Ia belum mengganti pakaianya sama sekali.“Kenapa kau tidak menceritakanya?”

“Tentang Toby, juga kakaknya, tentang pederitaanmu karena aku!”

Haruka tidak menjawab, tapi ia merasakan ketegangan gadis itu. Tanganya tiba-tiba bergetar dan Haruka membatalkan keinginanya untuk meminum kopinya sekali lagi. Gadis itu meletakkan cangkir itu kembali keatas meja lalu berusaha menggenggam tanganya yang lain untuk menyembunyikan keteganganya. “Aku mau istirahat dulu!” katanya.

Haruka berdiri dari duduknya, tapi Kent segera menarik tanganya sehingga Ia duduk kembali di tempat semula. Ia tidak akan mengizinkan Haruka melarikan diri sebelum memberikan ketenangan kepadanya. “Apa yang terjadi malam itu?”

“Kau sedang mengatakan apa! Malam yang mana? Aku baik-baik saja!” suara Haruka terdengar lebih pelan dari biasanya. Tanganya yang berada dalam genggaman Kent masih gemetaran. Haruka tidak menariknya dan juga tidak melakukan apa-apa.

“Benarkah?”

“Kau sedang menyelidikiku? Kau tidak akan dapat apa-apa.” “Charlene tau kan? Dia sudah memberi tahu, jadi berhentilah berpura-pura!” Kent berusaha menyerang. Ia melihat Haruka semakin gugup. Tapi gadis ini masih berusaha untuk kelihatan biasa meskipun semuanya sudah tampak dengan jelas. “Kenapa kau tidak lapor polisi?”

“Aku…” Haruka menyiapkan kata-katanya, beberapa saat kemudian kata demi kata keluar dengan suara bergetar dan terdengar sangat lirih. “Aku tidak mungkin melakukanya.”

“Karena tidak ingin melukai Toby? Perasaanmu sangat bodoh!”

Haruka menggeleng pelan. “Bukan cuma itu. Ayahku, dia adalah satu-satunya alasan mengapa aku tidak melakukanya. Saat itu terjadi, ayahku sedang sakit keras, bila kau lapor polisi ayahku pasti akan segera tau. Aku cuma tidak ingin dia kecewa padaku.

Semenjak aku kembali padanya, dia adalah orang yang paling bangga dengan keberadaanku dan aku tidak ingin membuatnya merasa malu. Kalau Ayah tau ada banyak hal buruk yang terjadi padaku, kalau dia tau aku sudah pernah mengandung, keguguran, kalau dia tau kalau tubuhku sudah menjadi konsumsi para netter yang sakit jiwa itu…aku tidak bisa berfikir apa yang terjadi padanya. Aku bisa gila karena ini…” Kedua tanganya terkepal erat, ia terlihat semakin tertekan.

“Karena itu kau tidak kembali kerumah Ayahmu setelah kejadian itu?” Kent menatap Haruka iba. Seharusnya saat itu Haruka mencari seseorang yang bisa menjadi tempatnya mengadu. “Karena itu juga kau menerima penawaranku di kantor polisi karena takut Ayahmu tau kau bermasalah? Selama ini kau membiarkan Ayahmu menganggap kalau dirimu dalam keadaan baik-baik saja dan kau juga selalu ketakutan setiap kali ada kemungkinan jika Ayahmu melihat sesuatu yang buruk terjadi padamu!”

Haruka berusaha meng-iyakan komentar Kent dengan senyum kakunya. Ia menarik tanganya dari genggaman Kent dan menghapus air matanya. “Setidaknya aku tidak hamil lagi karena itu. Aku lega!”

Kent terdesak, rasa frustasi mulai menjalarinya karena ia sudah melihat luka besar yang selama ini di sembunyikan Haruka dari semua orang. Akhirnya Haruka mau bercerita meskipun ia terlihat sangat tersiksa. Firasat Kent benar kalau sudah terjadi sesuatu yang lebih buruk di bandingkan dengan tindak pelecehan seperti yang dikatakan Charlene. “Berapa kali dia melakukannya malam itu?”

Haruka mendengus keras. Ia tidak menyangka kalau Kent berhasil memancingnya untuk membuka rahasia terbesar dalam hidupnya. Ia mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, di pipinya terlihat garis samar yang hitam searah dengan aliran air

matanya yang membawa eyelinernya serta. Haruka terlihat sangat kacau sekarang tapi ia merasa lebih tenang. “Setidaknya aku merasa lebih baik karena ada seorang lagi yang tau hal ini! Tapi aku tidak bisa mengingat berapa kali dia melakukannya, Aku bersyukur dia bukanlah orang yang merenggut keperawananku. Karena jika itu yang terjadi, aku pasti sudah mencari cara untuk bunuh diri. Jika bukan karena Ayah, mati adalah pilihan paling baik. Aku tidak ingin Ayah bersedih jika aku memilih bunuh diri sebagai akhir hidupku.”

Lagi-lagi Kent melihat wajah Haruka tertunduk, kisah buruk itu tidak akan hilang begitu saja dari kepalanya. Pasti sulit bagi Haruka untuk melupakanya. Kent menggigit bibirnya, melihat Haruka yang mematung di hadapanya membuatnya memberanikan diri untuk menggenggam tangan-tangan Haruka yang dingin dan menyentuh bibir gadis itu dengan bibirnya, lembut. Haruka terkejut dan segera melepaskan tanganya dari genggaman Kent lalu mendorong tubuhnya menjauh.

“Kau…kau membuatku takut!” Haruka bergumam pelan. Ia menunduk semakin dalam dan tubuhnya bergetar lagi. Haruka takut di sentuh, Kent bisa merasakanya. Ini sudah berkali-kali terjadi dan dia baru menyadarinya hari ini.

“Aku akan menghapus semuanya. Cukup katakan padaku dimana dia pernah menyentuhmu. Aku akan membuatmu menganggap kalau kejadian itu tidak pernah ada!”

Haruka menggeleng keras. “Aku tidak bisa melakukanya, Aku sangat takut!”

Kent menelan ludah dengan susah payah. “Aku tau, Kau megharapkan Toby yang melakukanya!” Suara Kent yang pelan dan berat membuat Haruka mengangkat wajah. Ia menatap kedalam mata Kent yang berwarna gelap, matanya sudah benar-benar di butakan untuk malam ini. Tapi walau bagaimanapun, Haruka hanya bisa merasakan keberadaan Kent, meskipun

matanya sudah tertutup. “Yang perlu kau lakukan hanya membayangkan kalau aku adah dia!”

Haruka menggigit bibirnya setelah tubuhnya di peluk dengan hangat. kedua tanganya terkepal disisi tubuhnya. jangan

menangis…jangan menangis…jangan….. Haruka tidak bisa menahan

air matanya untuk tumpah sekali lagi. sebuah rasa yang megah menjalar kesekujur tubuhnya. apa yang dirasakanya? sedih ataukah bahagia? Yang ia tau, dirinya berusaha membendung perasaan takut yang hadir setiap kali Kent menyentuh tubuhnya. Kent sudah berhasil membuka semua pakaiannya, dan pada akhirnya Haruka benar-benar berteriak ketakutan karena semua perasaan megah yang dirasakannya diawal tiba-tiba berubah menjadi terror yang membuatnya teringat dengan apa yang sudah Sbastian lakukan kepadanya, tapi Kent terus memaksanya dan sama sekali tidak berhenti. Kent memeluk Haruka yang menggigil saat ia merasa terpuaskan di klimaks yang pertama. Haruka sangat ketakutan, tubunya gemetaran dan berusaha menjauhkan tubuh Kent dari dirinya. Berkali-kali ia menyebut nama Sbastian dan mencaci makinya.

“Haruka, buka matamu!” Kent membentak keras. “Buka matamu. Lihat kalau yang bersamamu adalah aku, Bukan Sbastian!”

Haruka membuka matanya dengan susah payah. Ia benar benar ketakutan dan tidak membiarkan Kent menyentuhnya sekali lagi saat laki-laki itu hendak memeluknya. “Pergi..lah!” Desisnya. “Tinggalkan aku sendiri!”

Dalam dokumen Phoebe - Love Latte (Halaman 154-160)