Haruka memegangi kepalanya yang pusing, tidak ada satu pertanyaan polisipun yang berhasil di jawabnya karena ia memang sedang tidak berkonsentrasi. Berkali-kali Polisi menudingnya karena membawa mobil dalam kecepatan tinggi tapi Haruka tidak bereaksi apa-apa kecuali saat di tanya apakah dirinya sedang mabuk, maka ia akan menjawab dengan kata tidak bernada sengit.
Kent sudah mendunganya. Tidak ada satupun yang meleset dan hal itu cukup untuk membantunya mengikat Haruka. Sudah hampir satu jam Kent berdiskusi dengan kepala polisi distrik setempat untuk menyelamatkan keduanya dan ia cukup berhasil meskipun tidak sempurna. Haruka tidak sedang mabuk sehingga kemungkinan bebasnya lebih besar sedangkan Cassey selain sedang dalam keadaan mabuk juga merupakan pemilik mobil dan satu-satunya orang yang bisa menyetir antara keduanya, Maka Cassey harus bertanggung jawab atas itu suka ataupun tidak. Sekarang yang di lakukanya hanyalah duduk santai di ruagan itu sambil menanti Haruka di bawa masuk untuk mendapatkan nasehat dari kepala polisi yang bernama George.
Kent berusaha menahan senyum saat melihat wajah Haruka yang terkejut melihat keberadaanya di kantor polisi. Walau bagaimanapun, Haruka cepat atau lambat harus mengakui kalau kali ini Kent sangat berjasa dalam kehidupanya.
“Untung Dia ada disini untuk menjamin!” Kata George kepada Haruka yang duduk di hadapanya. “Tapi kau belum bebas, selama satu minggu ini kau masih akan berada dalam pengawasan dan bila mengulanginya lagi kau akan mendapatkan hukuman dua kali lipat!”
Haruka diam seribu bahasa, sesekali ia melirik Kent yang berada di sampingnya sambil menyembunyikan perasaan tidak sukanya.
“Tuan, Gadis ini adalah bimbinganmu dan aku kembalikan kepadamu, Pastikan dia selalu berada di tempat yang benar dan bersama orang yang benar. Jangan sampai dia tidak berada di rumahmu saat petugas memeriksa, dan Kau!” George beralih memandang Haruka. “Jangan bersikap buruk seperti ini lagi. Pastikan dirimu selalu berada di dalam kegiatan terlapor dan meminta izin bila ada kegiatan di luar wilayah terlapor!”
Setelah melalui percakapan yang panjang, Akhirnya George mengizinkan Kent untuk membawa Haruka pulang. Sudah hampir pagi, mungkin dua atau tiga jam lagi langit berubah menjadi terang benderang. Haruka mengikuti Kent keluar dari kantor polisi dengan kawalan dua orang prajurit hingga pintu utama terlewati.
“Wilayah terlapor, kegiatan terlapor apa?” Tanya Haruka sengit.
Ia menolak untuk pulang bersama Kent meskipun Kent sudah membujuknya untuk ikut berkali-kali. Haruka bahkan tidak mau mendekati mobilnya di parkiran dan lebih memilih untuk berdebat tidak jauh dari pintu kantor polisi. Gaun pestanya yang berkerlip, bergoyang-goyang di tiup angin. Matanya juga memerah dan wajahnya tampak sangat pucat.
“Aku cuma melaporkan kegiatanmu sehari-hari karena kau masih berada dalam pengawasan sekarang. Jadi kau hanya boleh berada di wilayah yang ku sebutkan setidaknya selama seminggu sebelum mereka memberikan kelonggaran. Itu juga bila kau patuh, Kegiatanmu yang boleh di laksanakan hanya di Coffee shop hingga sore atau malam kalau kau lembur, lalu sisanya Apartemenku!”
“Apa?” Haruka terdengar shock. Ia harus berada di Apartemen Kent dalam waktu yang cukup lama, seminggu bukan
waktu yang sebentar jika harus hidup bersama orang yang tidak di harapkanya. “Kalau begitu biarkan aku di penjara saja.”
“Kau tidak punya pilihan lain selain mengikuti saranku. Kalau kau memilih untuk di hukum bersama Cassey, maka silahkan bersiap-siap menerima kekecewaan Ayahmu. Kau tidak suka membuat orang tuamu Khawatir, Kan? Cassey adalah kalangan sosialita juga, berita ini pasti akan segera menyebar bahkan sebelum malam ini habis. Kau mau kalau namamu terbawa-bawa dalam kasus ini dan orang tuamu akan melihat namamu terpampang di surat kabar? Anak bodoh! Seharusnya kau berterima kasih kepadaku!” Kent kemudian tersenyum penuh dengan percaya diri.
Haruka memegang kepalanya. “Kenapa aku harus tinggal denganmu?”
“Karena kau menjadi Nany di rumahku.” Kent mengeluarkan secarik kertas tugas dari NYU yang menunjukkan kalau Haruka akan menjadi pengasuh anak yang berada di rumahnya. Hanya alasan karena Kent tidak punya anak dan ia tinggal sendiri. Tapi untungnya dengan mudah ia bisa mendapatkan izin melalui bantuan Natsuki Tokeino dan menjadikan Yusuke sebagai tanggung jawabnya sementara. “Sebaiknya Kau ikut aku, mengerti?”
Haruka meletakkan kedua tanganya di pinggang sambil menghela nafas tak percaya. Bagaimana mungkin ia bisa terjebak dalam situasi seperti ini sekarang? “Bagaimana bila aku mau ke kampus?”
“Aku juga sudah melaporkan Kampus sebagai tempat yang boleh kau kunjungi, Sekarang pulanglah bersamaku atau kau akan kehilangan kesempatan menjadi sarjana setelah kuliah sekian lama. Penjara bisa membuat reputasi kampus terdengar buruk dan kau bisa di keluarkan hanya karena sebuah masalah kecil seperti ini! Makanya jangan menyetir sambil mabuk!”
“Aku tidak menyetir dan tidak sedang mabuk!” Suara Haruka terdengar sengit.
“Kalau tidak mabuk, lalu kenapa kau tertidur di dalam mobil dengan mata merah seperti itu?”
“Aku hanya merasa lelah dan harus istirahat. Seharusnya aku pulang dan menolak untuk di ajak kepesta!” Haruka kemudian menggosok hidungnya beberapa kali, kelihatanya dia akan segera terkena flu.
Kent melepas Jasnya dan menyelimuti tubuh Haruka secara tiba-tiba, tapi Haruka menolak. “Sudahlah, Jangan sok perhatian!”
“Aku sudah berjanji pada Ibumu untuk menjagamu!”
“Aku bukan anak kecil lagi, aku bisa menjaga diri dan tidak mungkin melakukan kesalahan!”
Kent mendengus. ”Lalu tertangkap oleh polisi dalam keadaan mabuk, Apa namanya kalau bukan kesalahan! Aku akan melepaskanmu kalau selama seminggu ini kau berperilaku baik! Jadi jagalah dirimu dari kesalahan-kesalahan berikutnya. Mengerti?” Kata Kent kesal.