Ibu, izinkan aku pergi hari ini saja. Aku ingin bersama Kent lebih lama sebelum waktuku untuk pergi ke Hokaido tiba. Aku berjanji akan pulang besok pagi. Terimakasih.
Haruka menulis itu dan ia meletakkannya di atas meja makan sebelum pergi pagi-pagi sekali. Dan sekarang, dirinya sudah menunggu Kent untuk datang menjemputnya di taman dekat rumah. Kent terlambat lagi padahal Haruka sudah sangat merindukannya, seminggu bukan waktu yang sebentar untuk berpisah. Untungnya topi rajut itu masih bisa di jadikan barang pengganti untuk melepaskan rindu sehingga Haruka tidak harus menangis karena tidak bisa bertemu.
“Kau sedang apa?”
Mata Haruka mengerjap beberapa kali. Ada Charlene disini? Apakah dia sedang jogging? Tapi Charlene tidak sedang menggunakan pakaian olah raga, ia mengenakan pakaian yang bisa di bilang lebih pantas untuk di pakai ke pesta.
“Aku sedang menunggu Kent. Dia bilang akan menjemputku disini, Kau sendiri? Tidak sedang olah raga, Kan?”
“Ya, aku menunggu Kakakku, Roth bilang aku sebaiknya menunggu disini karena ia sedang membantu mempersiapkan pesta pernikahan temannya. Ini weekend kan? Sangat banyak pernikahan pada saat Weekend.”
Haruka tersenyum. “Apa Kent ikut?”
“Bisa saja. Teman Roth pasti juga dekat dengan Kent, mungkin dia terlambat karena itu. Bagaimana kandunganmu?”
Haruka memandangi perutnya. Charlene pasti tau dari ibunya, atau mungkin dari Roth dan laki-laki itu tau dari Kent. Tidak ada satupun yang bisa Haruka rahasiakan dari kakak beradik Dimitry
ini bila hal itu menyangkut Kent. “Aku baru memeriksakannya seminggu yang lalu dan baik-baik saja. Hanya saja belakangan ini sudah tidak mual lagi meskipun selera makanku sama sekali belum pulih.”
“Kau serius akan melahirkannya?”
“Apa boleh buat. Aku sudah banyak mendapatkan kebahagiaan karena anak ini. Entah mengapa aku merasa bocah ini nantinya akan banyak mengubah hidupku!”
Charlene tertawa. “Semua calon ibu mengatakan itu!”
“Benarkah? Kalau begitu aku sudah kedengaran seperti ibu-ibu?”
Charlene mengangguk lalu mereka tertawa bersama. Tak lama kemudian Roth datang sambil bertolak pinggang. Tangan sebelah kanannya menjinjing sebuah tas yang terbuat dari kulit. “Kalian tidak sedang menertawakanku kan?”
Haruka dan Charlene menggeleng. Haruka memandang jauh di belakan Roth berharap Kent segera datang. Tapi sayangnya Kent tidak ada dan Roth sepertinya datang sendiri.
“Kau tidak bertemu Kent di pesta itu?” Tanya Haruka penuh harap.
Roth mengangguk tegas. “Tentu saja aku bertemu dengannya. Mana mungkin dia tidak datang ke pesta penting, tapi pestanya belum dimulai. Makanya aku kemari.” Roth menoleh ke Charlene. “Kau sudah siap?”
“Ya. Siap!”
“Kalau begitu Move On!”
Haruka memandangi Charlene yang berusaha menariknya menuju sebuah Van yang tadi Roth bawa. Ia berusaha menolak karena dirinya harus menunggu Kent. Kent memintanya untuk menunggu disini jadi dia harus menunggu sampai jam berapapun laki-laki itu menjemput. Haruka tidak ingin Kent kecewa Karena Kent tidak menelponya untuk ikut kepesta itu dan mustahil
Haruka datang tiba-tiba saja tanpa di undang, ia juga tidak sedang menggunakan gaun pesta.
“Ayolah, Haruka!”
“Aku tidak bisa ikut. Kent bisa malu kalau aku hadir disana. Dia akan bilang apa pada teman-temannya tentang aku? Lebih baik kalian saja, pestanya mungkin sudah di mulai!”
“Bagaimana mungkin bisa di mulai jika mempelai wanitanya ada disini?”
Haruka terdiam lalu menoleh kepada Roth yang berada di sampingnya. “Maksudmu?”
“Ayolah Haruka. Ini adalah hari pernikahanmu.” Roth menyodorkan tas yang tadi di jinjingnya kepada Haruka dan Haruka mengambilnya. “Ikutlah Charlene ke Van, di Van sudah ada perias pengantin. Dan itu adalah baju pengantin kalian!”
Haruka menyerah. Ia membiarkan Charlene menyeretnya menuju Van dan kemudian seorang wanita mulai memerintahkan yang macam-macam. Ia juga mengganti pakaian Haruka dengan sebuah gaun berwarna merah darah yang berada di dalam tas kulit. Baju pernikahan berwarna merah? Haruka merasa kalau ada yang salah. Tapi kebingungannya di sela oleh sebuah amplop yang di berikan Charlene kepadanya.
“Baca, atau aku yang bacakan? Aku dengan senang hati menjadi orang pertama yang membacanya!”
“Biar aku sendiri!” Seru Haruka. Ia mengambil surat itu saat tukang rias menata rambutnya. Surat dari Kent.
Dear
Gadis kecilku. Aku sudah mendapat persetujuan dari ibuku. Satu saja sudah cukup untuk mengadakan sebuah pesta. Bukan pesta besar karena hanya akan ada aku, dirimu, Charlene dan Roth. Aku hanya bisa membelikan sebuah gaun pesta, bukan gaun pengantin yang bersih dan putih. Lagi pula untuk apa gaun berwarna putih? Yang penting kau
datang ke Altar karena sekarang aku sudah menunggumu disini. Kau tidak perlu bertanya siapa yang akan membawamu ke Altar, untuk itulah Roth ada, Kan? Segera selesaikan semuanya dan aku akan terus menunggu sampai kau datang.
Kent
Haruka menghela nafas lega. Ternyata semua ini bukan main-main dan dia akan segera menikah? Haruka mendengar tawa Charlene saat sahabatnya itu merampas surat yang ada di tangannya dan membacanya.
“Dia serius. Meskipun bukan gaun berwarna putih dia sudah menyiapkan segalanya. Kau jangan terkejut Haruka, di sana mungkin tidak ada musik, tidak ada pesta, hanya ada pendeta. Aku mendengar obrolan Roth dengannya beberapa hari yang lalu, meskipun pernikahan ini tidak terdaftar di Negara, tapi seharusnya sudah cukup bisa mengikatmu untuk tidak mencari pria lain!”
“Harusnya dia yang tidak berselingkuh! Teman wanitanya sangat banyak!”
“Tapi hanya kau yang di perlakukan seperti ini. Hanya dirimu yang di belikan sebuah gaun meskipun berwarna merah.”
“Aku juga tau kalau aku tidak pantas menggunakan gaun berwarna putih. Gaun putih adalah symbol kesucian dan aku sama sekali tidak…”
“Sudah! Untuk apa bersedih!” Charlene segera memotong ucapan Haruka yang mulai merusak suasana. “Ini hari pernikahanmu. Setelah ini semalaman kita akan berpesta di rumahku. Ayah dan ibuku sedang keluar kota, dan kami sudah mempersiapkan segalanya. Hari bahagia seharusnya di sambut dengan bahagia, Kan?”
Haruka mengangguk. Ya, ini adalah hari bahagia. Dirinya akan menikah di usia lima belas tahun dengan laki-laki berusia dua
puluh lima tahun? Mungkin ini adalah kisah tergila yang terjadi dalam hisup manusia. Tapi meskipun begitu, hari ini ia akan segera berjalan menyongsong Kent di Altar dan mereka akan hidup sebagai pasangan suami istri selamanya