“Kau memuat nama semua orang di laporanmu, Natsuki dan Vanessa juga, Tapi kenapa hanya aku yang tidak? Kenapa kau tidak mengucapkan terima kasih kepadaku?” Kent mengerang untuk yang kesekian kalinya minggu ini. Ia masih kesal karena tidak ada Nama Kent Tokeino dalam laporan Haruka. Kent bertindak seolah-olah hal itu adalah hal yang paling menyakitinya di dunia. Bahkan hari ini dia sama sekali tidak berhenti melakukannya meskipun mereka sedang dalam perjalanan menuju sebuah tempat di Manhattan.
Sadar atau tidak kelakuan kekanak-kanakannya berhasil membuat Haruka tertawa. Bukan hanya Haruka, Ayah dan ibunya bahkan juga Hiro melakukan hal yang sama. Kent kelihatannya sangat kesal sekali karena merasa tidak di anggap ada.
“Namamu sudah ada di hatiku, tidak cukup?” tanya Haruka. Kent menggeleng. “Tidak. Aku ingin semua orang tau, aku ingin kau menuliskan terimakasih untuk suamiku tercinta Kent Tokeino…”
“Kenapa kau tiba-tiba jadi kekanak-kanakan begini? Kau ingin siapa lagi yang tau? Dengan kelakuanmu belakangan ini, sudah berhasil membuat semua orang tau kalau aku bukan wanita lajang. Bahkan teman-teman di coffee shop juga. Kau tau, bagaimana mereka mengejekku setiap hari?”
“Marahi saja! Sekarang Kau Bosnya. Aku mengambil alih Coffee shop itu untukmu sebagai hadiah ulang tahunmu dua bulan yang lalu. Jadi kau berhak memarahi mereka tentunya.” Gumam Kent.
Taksi yang membawa mereka berdua berhenti di sebuah tempat yang sangat Haruka kenal. Meskipun dirinya hanya pernah
sekali datang kemari, tapi semua ingatannya tentang tempa ini masih sangat jelas. Sungai itu, masih tersembunyi dari keramaian. Tempat dimana mereka melepas calon bayi mereka dengan ikhlas, tempat dimana Haruka dan Kent berjanji untuk bersama selamanya. Keduanya keluar dari Taksi dan membiarkannya pergi, dalam hitungan menit, Kent sudah menggenggam tangan istrinya dan duduk di pinggir sungai dengan tenang. Pohon yang rindang membuat tempat ini menjadi sangat teduh.
“Sekarang lakukanlah!” Bisik Kent.
Haruka menganguk lalu menghanyutkan bunga-bunga yang di bawanya dengan tenang. Ia lebih banyak diam dan terhenyak mengenang kehilangan yang sudah di lewati dalam kurun waktu yang lama. Untuk beberapa menit suasana menjadi sangat hening hingga akhirnya Kent kembali berbisik. “Sudah selesai? Kita kesana saja!” Ujarnya sambil menunjuk ke sebuah pohon rindang yang meneduhi sekelompok rumput-rumput tebal di bawahnya.
Tanpa persetujuan selanjutnya Kent kembali meraih tangan istrinya sampai keduanya berakhir dengan berbaring di bawah pohon itu denga nyaman. Kent melepas rasa lelahnya dengan menghela nafas beberapa kali. Perjalalan seharian ini benar-benar sudah berhasil membuat pinggangnya sakit. Ia memandangi Haruka yang berada dalam pelukannya sejenak lalu beralih kepada cahaya yang menelisip dari balik dedaunan.
“Kau merindukan anak kita tidak?” Katanya.
Haruka menyandarkan kepalanya ke lengan Kent lalu mengangguk. “Setiap hari, setiap jam, setiap detik selama sembilan tahun aku selalu merasakan hal itu.”
“Aku juga sama! Tapi dia akan terlahir kembali, Kan?”
“Bagaimana kalau tidak? Bagaimana kalau akau benar-benar tidak akan pernah bisa memberimu anak?”
Kent mendesah. “Haruka-chan, Berarti benar firasatku kalau sebenarnya anak kita sudah terlahir dalam bentuk Yusuke Tokeino.
Kau tau, kan? Vanessa juga sama sepertimu. Hanya saja wanita itu lebih kuat untuk membuat pertahanan terhadap dirinya sendiri dan pasti bisa hidup tanpa Natsuki bila saat itu dia benar-benar membawa rahasia kehamilannya pergi dari kami. Aku merasakannya, saat mengetahui kalau Vanessa sedang mengandung aku merasa kalau yang berada dalam kandungannya adalah anakku.”
“Seandainya aku lebih kuat, mungkin aku tidak akan kehilangan janinku. Tidak akan kehilanganmu, dan…”
“Berhentilah berbicara seperti itu. Kau memang harus tercipta sebagai sosok yang lemah agar aku bisa selalu melindungimu. Jika kau sama kuatnya seperti Vanessa, aku yakin kalau sekarang kita tidak akan bersama lagi. Kau akan benar-benar menjauh dan tidak akan kembali demi ayahmu. Kau tau tidak? Saat itu Vanessa sudah siap meninggalkan semua keluarganya. Jadi aku tidak akan rela kalau kau seperti dia!”
Haruka tertawa halus. Benar, jika Haruka sama seperti Vanessa, maka Haruka tidak akan pernah kembali ke London, tidak akan melarikan diri ke Jepang, Haruka pasti akan lebih memilih untuk pergi ke tempat dimana tidak ada seorangpun yang akan menduga kalau dirinya berada disana. Dia beruntung menjadi orang yang lemah, beruntung karena masih di beri kesempatan untuk bersama Kent pada akhirnya dalam damai seperti sekarang.
Haruka mengangguk mengerti. “Kau belum memberi jawaban yang ku inginkan. Jika aku benar-benar tidak bisa memberimu anak bagaimana?”
“Kita jemput saja anak kita yang ada di Jepang. Selagi Yusuke masih bisa di iming-imingi dengan mainan, dia pasti akan ikut dengan kita!”
Kent tertawa senang. Lalu memejamkan matanya perlahan. “berhentilah berkata sedih seperti itu. Masih banyak cara untuk bahagia di dunia ini. Jika kau mengatakan tidak pernah memberiku anak, itu anggapan bodoh. Kau sudah pernah hampir memberikannya meskipun bocah itu gagal lahir kedunia seperti rencana kita. Itu sudah cukup. Aku masih bisa melakukan hal lain bersamamu untuk bahagia, kan?”
Sejenak Hening. Nafas Kent mulai teratur karena dirinya mulai mengantuk. Tapi meskipun ia suda memejamkan matanya, Kent masih belum bisa tidur dengan nyenyak. Ia ingin membuka matanya dan melihat apa yang Haruka lakukan saat ini. Apakah Haruka sedang tersenyum, atau sedang menangis…
Akhirnya Kent membuka matanya saat sebuah kecupan hangat haadir hanya untuknya. Ia memandangi Haruka yang tersenyum untuknya. Haruka mendesis mengucapkan terimakasih dengan bisikan yang sangat halus di telinga Kent. Kent menghela nafas dalam berusaha untuk menyembunyikan perasaan haru yang mendesak. Ia sangat bahagia.
“Kenapa kau berterima kasih?” Tanya Kent gugup. “Untuk semua kebaikanku, ya? Kau tidak perlu melakukan itu. Sudah sifatku…”
“Untuk bersedia menerimaku kembali setelah semua yang terjadi. Aku beruntung karena mencintaimu Kent Tokeino!”
“Aku juga.” Suara Kent terdengar lebih pelan dari yang tadi. “Jarang sekali ada pria yang seberuntung aku. Saat usiaku hampir empat puluh tahun, aku masih bisa memandangi wanita seksi berusia dua puluh tahunan yang menjadi istriku sekarang.” Kent lalu tertawa bangga. Kebahagiaannya bukana hanya karena itu. Tapi lidahnya teramat sulit untuk menjelaskan semuanya.
Special Thanks for Shoujo Magic.
Thanks for the great Animation in this book’s. I love Animation Ever After… ^_^