Haruka merasa hampir pingsan, ia terus muntah-muntah dan hanya mengeluarkan lendir dari rongga mulutnya. Beberapa kali ia menghirup udara sebanyak-banyaknya agar di beri kekuatan lebih. Muntah-muntah seperti ini menandakan kalau bayinya juga berjuang, lalu bagaimana bisa ia membunuh janin yang terus berjuang untuk hidup? Haruka kembali muntah beberapa kali lagi, ia sudah terbiasa dan sudah sangat siap dengan ini setiap hari. Terakhir Haruka membasuh wajahnya karena mualnya sedikit mereda.
Haruka sudah tidak sekolah selama seminggu, surat peringatan juga sudah sampai ke rumah melalui Charlene karena Haruka sangat sering libur. Ibunya bilang, Haruka mungkin akan mengulang tahun pertamanya di sekolah pada ajaran baru berikutnya. Meskipun sedih semuanya bukan masalah, Haruka masih bisa menjalaninya karena ini adalah pilihannya. Ia akan melahirkan bayinya meskipun dalam beberapa bulan lagi dirinya harus segera pindah ke Hokaido. Semuanya sudah di urus. Tapi sebelum itu terjadi haruka memastikan kalau setiap hari ia harus bersama Kent, harus meninggalkan banyak kenangan indah setidaknya untuk dirinya sendiri.
“Haruka, Kent sudah menunggumu!” ibunya berteriak. Wanita itu sudah lebih melunak dan membiarkan Haruka terus bersama Kent karena Haruka selalu mengatakan kalau dirinya akan mati bila berpisah begitu saja. Kent adalah nafasnya, maka kehilangan Kent ia akan menjadi tidak bernyawa.
Haruka memandangi penampilannya sekali lagi di cermin, wajahnya agak pucat tapi bukan masalah yang besar. Selebihnya baik-baik saja, ia sudah bersiap-siap sejak tadi karena pagi ini Kent akan mengantarnya kerumah sakit untuk memeriksakan
kehamilan bulan keduanya. Setelah keluar dari kamar mandi, Haruka ke dapur untuk minum susu yang disiapkan ibunya, ia tidak akan sarapan karena bayinya selalu menolak makanan apa saja yang masuk. Haruka tidak akan merusak acaranya dengan Kent hari ini karena muntah-muntah di sepanjang jalan. Dengan cepat Haruka berpamitan dan langsung menemui Kent yang sudah menantinya di luar pagar, ia menyambut Haruka dengan senyumnya.
“Rumah sakit mana?” tanya Kent.
“Rumah sakit tempat aku di rawat kemarin, bulan lalu aku pergi dengan ibu, ini pertama kalinya aku pergi dengan Ayah anakku!”
Kent duduk di hadapan Haruka dan menarik tangannya agar bisa ia gendong. Kent tidak ingin Haruka merasa lelah dan harapannya, di gendong menjelang ke stasiun bisa membuatnya merasa lebih aman karena Haruka ada di sisinya. Haruka tidak menolak, ia membiarkan Kent menggendong tubuhnya yang kecil dan ringan. Yang Haruka lakukan selanjutnya adalah memeluk Kent erat-erat.
Sangat banyak yang mereka bicarakan saat perjalanan di rumah sakit juga tentang rencana Kent yang ingin merawat anaknya setelah lahir nanti, ia sedang semangat untuk segera menyelesaikan magisternya agar bisa segera mencari uang yang banyak. Dan setiap kali mendengar itu, Haruka menyimpan luka karena Kent hanya akan terus bermimpi. Jauh di dalam lubuk hatinya Haruka berjanji akan menemui Kent kelak, jika di suatu saat nanti dia siap, dia juga akan membawa anaknya serta dan haruka Berharap Kent bisa menunggu.
“Lingkari pertanyaan di bawah ini, pasien datang untuk; 1. Melahirkan bayi 2. Menggugurkan kandungan!” Haruka membaca pelan saat perawat memintanya mengisi sebuah formulir sebelum
masuk keruang dokter. Sangat banyak yang antri hari ini, mungkin karena awal bulan.
“Yang satu, dong!” Kent mengambil alih pena yang Haruka genggam dan melingkari jawaban di angka satu. “Jika jawaban nomor satu, Bagaimana anda akan melahirkan bayi anda? 1. Normal, 2. Operasi.” Ken menyentuh dagunya. Jika ia menjawab nomor dua tentu pertanyaan berhenti sampai disini, semua pertanyaan di buat berdasarkan jawaban nomor satu.
“Normal, banyak yang ingin melahirkan normal, Kan?” Bisik Haruka.
“Apa bisa kau melahirkan normal? Operasi juga tidak masalah. Aku tidak mau ambil resiko untuk kehilanganmu karena melahirkan secara normal di usia muda seperti sekarang.”
“Nyonya Tokeino Giliran anda!” Perawat memanggil Haruka dari depan pintu ruang dokter lalu kembali masuk setelah Haruka menjawab ya.
“Kau mendaftarkanku sebagai nyonya Tokeino? Kita belum menikah!” Desis Haruka sambil merapikan barang-barangnya dan berdiri.
“Kau akan melahirkan anakku. Tentu saja akau sudah jadi nyonya Tokeino!”
Haruka memutar bola matanya. “Aku akan masuk. Mungkin akan lama, tunggu di luar saja!” ia tersenyum sebelum masuk ke ruang dokter.
Masih dokter yang sama, Namanya Mark. Haruka sudah mengenalnya karena ia yang mengambil alih penanganan Haruka setelah Haruka di ketahui hamil. Ia tersenyum saat melihat formulir yang Haruka sodorkan. “Operasi?”
“Itu, Ayah bayi di kandunganku yang melingkarinya!”
“Dia kelihatannya sangat penuh perhitungan.” Mark tersenyum. “kau ingin melihat janinmu Haruka? Ini mungkin
terakhir kalinya kita bertemu karena aku akan pindah ke London. Aku mendapat tugas disana!”
“Bisa?”
“Tentu saja bisa.” Mark memandangi Perawat yang sudah sibuk menyiapkan semua alat-alatnya.
Setelah Perawat memberi tau kalau semuanya siap, Haruka bisa merasakan semua prosesnya dengan seksama, saat ia berbaring dan perutnya di olesi krim bening yang dingin dan saat alat berwarna putih itu menyentuh perutnya. Haruka hanya bisa memejamkan mata. Tapi begitu Mark memintanya membuka mata dan meliihat ke monitor, Haruka hampir meledak. Ia melihat bayinya.
“kau lihat, Tonjolan hitam itu adalah bayimu. Lihat dia berdetak dan sangat sehat. Kau harus berbangga hati dengan anak ini.” Mark mengatakan itu sambil tersenyum.
Haruka masih terperangah untuk beberapa waktu, semua penjelasan Mark di dengarkannya dengan seksama meskipun matanya sama sekali tidak berpaling dari bayinya. Ia masih ingin memandanginya berlama-lama, tapi tidak mungkin. Kent menunggunya di luar. Sebelum ia pergi Mark menyodorkan sesuatu untuknya dan Haruka hampir menangis melihat itu. Sebuah foto yang sama persis dengan apa yang di lihatnya dari dalam monitor.
“Itu hadiah perpisahan dariku. Foto janinmu di bulan kedua. Sampai jumpa lagi di lai kesempatan.”