“Aku ingin melahirkannya Bu! Biarkan aku melahirkannya!” Haruka sudah lelah mengemis dan memelas. Ia hampir menyerah untuk membujuk wanita itu, tapi ibu tirinya masih tidah perduli dan terus membersihkan rumah sambil sesekali membalas permintaan Haruka dengan ucapan tidak bisa. “Bu…”
“Haruka, hentikan. Tolong hentikan! Aku sudah katakan tidak bisa.”
“Bagaimana kalau setelah ini aku tidak bisa punya anak lagi? Dokter pasti sudah bilang padamu tentang itu kan?”
Wanita itu berhenti bergerak, ia melangkah mendekati Haruka yang bersandar di meja makan sejak tadi. Menggenggam tangan Haruka erat-erat, lalu membawa Haruka kekamarnya. Wanita itu menelanjangi Haruka dan membuat anak itu menatapi seluruh tubuhnya di cermin. Dia tidak perduli meskipun Haruka berontak dan mulai menangis. Ini mungkin pertama kalinya Haruka membiarkan orang lain selain Kent menelanjanginya. Seumur hidupnya Haruka tidak pernah merasa seterhina ini dan tidak bisa melawan. Terlebih setelah melihat ibunya mengeluarkan airmata.
“Perhatikan dirimu! Bagaimana kau bisa hamil dengan tubuh kecil seperti ini? Bagaimana kalu bisa melahirkan anak sedangkan pinggulmu baru saja berkembang? Bagaimana kalau kau kehilangan nyawa karena itu?” Wanita itu menyeka airmatanya. “Aku tau kau tidak menyukaiku Haruka. Karena kehadiranku dan Hiro di rumah ini kau jadi begini, bergaul bebas di luar sana dan kembali kerumah hanya untuk tidur. Tapi aku tidak perduli dengan kebencianmu itu, aku tidak pernah berfikir untuk membalas semua kebencianmu padaku! Melihat dirimu yang seperti ini aku merasa sangat bersalah dan percaya atau tidak aku
sangat menyayangimu. Aku tidak ingin kehilanganmu karena anak itu. Maka singkirkanlah sebelum dia lahir,”
“Tapi Bu, aku juga menyayanginya!”
“Kau menyayanginya? Bagaimana dengan Ayahmu? Kau tidak menyayangi Ayahmu? Kau bisa saja membunuhku tapi aku tidak akan membiarkanmu membunuh Ayahmu. Aku menahan diri untuk menikah dengannya, Haruka. Sampai adikmu Hiro lahir aku belum juga bisa melakukannya sebelum kau memberikan izin. Dan kau tau betapa gembiranya aku saat kau memberikan izin pada ayahmu untuk menikahiku? Kau sangat mencintai laki-laki itu? Apa dia bisa di bandingkan dengan Ayahmu? Ayahmu mengurusimu seorang diri dan itu sangat sulit untuk seorang laki-laki. Sekarang kau ingin menyakiti Ayahmu hanya karena laki-laki itu? Setelah anak itu lahir apa yang akan kau lakukan?”
“Aku akan mencari jalan keluarnya, biarkan aku mempertahankannya” Suara Haruka sudah semakin parau. Semua kata-kata ibunya sama sekali tidak salah, benar jika Kent tidak bisa di bandingkan dengan ayahnya.
“Baiklah, aku punya dua pilihan untukmu dan ini sudah ku fikirkan masak-masak. Gugurkan. Jika itu kau lakukan, jika kau kembali kepada Ayahmu, aku berjanji akan membawa Hiro meninggalkan kalian dan kau akan mendapat kehidupanmu kembali. Atau kau bisa melahirkannya, dan kita masih akan terus menyembunyikannya dari ayahmu. Kau akan tinggal di Hokaido sampai anakmu lahir bersama kakakku dan suaminya. Setelah itu dengan senang hati mereka akan menjaga anakmu, jadi anak itu tidak akan jauh darimu dan tidak perlu kekurangan kasih sayang orang tua karena terlahir tanpa Ayah. Meskipun kau harus menerima kenyataan kalau anakmu kelak tidak bisa memanggilmu ibu. Mengertilah Haruka, Aku tidak bisa melihat Ayahmu tersakiti, aku juga tidak ingin menyakitimu seperti ini.”
Bel berbunyi berkali-kali, Haruka terpaku dan ibunya juga. Wanita itu segera mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Ia memandangi Haruka sekali lagi lalu mengambil selimut untuk menyelimutinya.
“Istirahatlah. Sepertinya ada tamu!” Wanita itu menghapus airmatanya dengan kikuk lalu meninggalkan Haruka sendirian.
Sekarang apa yang bisa Haruka lakukan? Ia kembali memandangi cermin dan berusaha untuk tidak menangis. Gugurkan dan wanita itu akan memberikan kembali kehidupannya yang hilang. Atau melahirkan anak itu di tempat yang jauh. Tidak ada satupun dari pilihan-pilihan itu yang melibatkan Kent di dalamnya. Apapun pilihannya Haruka tetap harus menjauh dari Kent.
Haruka menajamkan pendengarannya. Ibunya sedang berdebat dengan seseorang dan sepertinya Haruka mendengar suara yang di kenalnya. Ia merapatkan selimut yang membungkus tubuhnya dan keluar kamar pelan-pelan. Kent ada disana, penampilannya benar-benar berubah, ia mengecat rambutnya menjadi gelap dan Kent benar-benar tampak dewasa. Ia melakukan itu lagi, bersujud di depan ibunya dan memohon agar di beri kesempatan untuk bertanggung jawab.
“Biarkan dia melahirkanya, aku mohon. Aku berjanji akan…” “Berhentilah. Kau tidak kasihan kepadaku? Tidak kasihan kepada ayahnya?”
“Aku berjanji akan merawat anak itu. Aku akan melepaskan Haruka, menunggunya setelah dia benar-benar dewasa, dan selama itu, aku akan merawat anak itu sendiri. Biarkan dia melahirkan anak kami, aku akan sangat berterima kasih.”
“Pulanglah, Kent! Fikiranku masih belum berubah!”
Kent terdiam sejenak lalu berdiri dari sujudnya. Ia membungkuk dalam dan pergi setelah mengatakan kalau dirinya
akan datang dan terus datang setiap malam sampai wanita itu mengizinkannya.
Haruka menyentuh perutnya. Ia menangis lagi, dan berusaha kembali kekamarnya secepat mungkin lalu membuka Jendela kamarnya yang berada di lantai dua. Kent di bawah sana melintas di lorong gang dan berhenti untuk melihat jendela kamar Haruka. Ia pasti tidak menyangka Haruka ada disana memandanginya.
“Kau belum tidur?” Tanya Kent
Haruka menggeleng sambil merapatkan selimutnya. “Aku baru terbangun dan ingin melihat langit. Ternyata aku menemukanmu. Kau darimana?”
“Aku habis jalan-jalan di sekitar sini.”
Dia tidak ingin mengatakan yang sebenarnya? Dia tidak ingin aku stress memikirkannya. Anakku, kau beruntung karena ayahmu adalah
Kent. Bisik Haruka sambil membelai perutnya. Untungnya
satu-satunya cahaya hanya berasal dari kamarnya sehingga Kent tidak bisa melihat wajah Haruka dengan jelas karena gadis itu membelakangi lampu. Tapi Haruka bisa melihat wajah Kent dengan jelas dan laki-laki itu terus berusaha untuk tersenyum. “Kenapa dengan rambutmu?”
“Aku ingin berubah penampilan. Ingin lebih terlihat sebagai seorang Ayah? Pantas atau tidak?”
Haruka mengangguk tegas. “Kau sangat pantas sekali.”
“Kalau begitu sekarang tidurlah, sudah larut malam. Jika tidak kita bisa kehilangan bayi kita karena kurang istirahat!” lagi-lagi Kent tersenyum.
Haruka meneteskan air mata sekali lagi. Ia merasakan kebahagiaan dalam keadaan seperti ini. Sebelum menutup jendela kamarnya Haruka melambaikan tangan dan Kent membalasnya. Walau bagaimanapun dirinya tidak mungkin membiarkan seorang Haruka menjalani hidup tanpa Kent Tokeino. Dia akan mati, bila tidak ada Kent disisinya. Dia akan mati.