• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tiga Puluh Tujuh…

Dalam dokumen Phoebe - Love Latte (Halaman 137-141)

Hanya mimpi. Hari itu Haruka benar-benar menunggu Kent untuk datang tapi Kent tidak datang, hari selanjutnya juga, setelah-setelahnya juga. Kent benar-benar menghilang dan tidak menemui Haruka. Semula Haruka mengira laki-laki itu sakit sampai akhirnya sebuah pesan masuk ke ponselnya dan Haruka harus menerima kata putus dari Kent hanya dengan beberapa kata; Lebih

baik kita putus saja.. Selanjutnya nomor Kent tidak bisa di hubungi

lagi. Sudah hampir dua minggu dan Haruka selalu mencari-cari keberadaan Kent. Kent bahkan juga tidak datang ke kampusnya. Ia sedang cuti kuliah. Beberapa temannya mengatakan kalau Kent sempat bekerja keras dan memberi tau kepada Haruka dimana Kent pernah bekerja. Pelayan restoran, penjaga toserba, bahkan kuli, pekerjaan apa saja yang bisa memberikannya uang dengan cepat. Tapi Kent tidak ada di semua tempat dan dia sudah sangat putus asa. Ibunya juga sudah mendesak Haruka karena tahun ajaran baru akan segera tiba. Haruka harus kembali bersekolah.

Haruka tau Kent mungkin kecewa padanya. Seandainya saat itu dia tidak berkeras mempertahankan tasnya mungkin sekarang Kent masih berada disisinya. Kent kecewa padanya dan saat itu dia masih berusaha menyembunyikannya. Tapi sepertinya Kent tidak akan bisa menyembunyikannya lagi. Ia ingin berpisah dan itu sudah membuat Haruka putus asa. Haruka memutuskan untuk kembali bersekolah. Dalam beberapa hari Haruka akan ke London menemui ayahnya dan memohon untuk bisa bersekolah di Jepang agar bisa melupakan semuanya. Butuh waktu untuk meyakinkan ayahnya hingga laki-laki itu setuju. Haruka tidak ingin mengganggu keluarga ayahnya yang baru dan dia akan berusaha untuk hidup sendiri. Karena itu menjauh adalah pilihannya. Tapi

sebelumnya ia ingin bertemu Kent. Ia ingin melihat Kent untuk yang terakhir kali dan memberi tahu Kent kalau dirinya akan pindah ke Hokaido.

“Tapi kau akan kecewa kalau melihat Kent yang sekarang!” Kata Roth.

Haruka mendesah, ia benar-benar sudah putus asa karena Roth masih menolak memberi tahukan dimana Kent berada. Mustahil Roth tidak tau apa-apa, dia dan Kent sangat dekat. Ini hari wisudanya dan seharusnya juga hari wisuda Kent seandainya tidak ada Haruka dalam kehidupan laki-laki itu.

“Beri tau, aku. Aku harus bertemu dengannya untuk yang terakhir kali!”

Roth mendesah. Ia memandangi Charlene sejenak. “Bawalah Haruka ke flat Kent. Kau tau tempatnya dimana Kan?”

Charlene mengangguk. “Aku akan mengantarmu.”

“Beritahu saja. Kau juga harus menghadiri diklat Roth, kan?” Haruka menolak untuk di antar. Dirinya sama sekali tidak ingin merusak acara keluarga Dimitry karena anak tertua mereka sudah bergelar Master.

“Roth sudah sangat sering wisuda. Aku tidak datang sekali-kali juga bukan masalah. Lagi pula acara seperti itu membosankan. Ayo!”

Haruka mengangguk ia memandangi Roth Dimitry dan membungkuk sebagai ucapan terima kasih. Saat itu ia bisa melihat pandangan tidak rela di wajah Roth meskipun laki-laki itu tersenyum. Haruka berusaha untuk tidak perduli. Ia hanya mengikuti kemanapun Charlene pergi karena dirinya sama sekali tidak tau dimana selama ini Kent tinggal. Yang Haruka tau, Kent tinggal di sebuah apartemen besar dan dia memiliki satu lantai khusus untuk dirinya sendiri. Itu juga dari cerita Charlene. Haruka tidak pernah tau kalau Kent punya cukup uang untuk itu. Selama ini Kent tidak pernah menunjukkan beetapa kayanya dia.

“Kau jadi pindah ke Jepang?” Tanya Charlene saat mereka menaiki sebuah lift.

“Aku harus begitu. Tapi akan ku usahakan untuk tetap kuliah di Inggris. Hanya beberapa tahun kita berpisah dan aku akan kembali.”

“Kalau begitu nanti jangan lupa kirim e-mail, telpon dan…” Bunyi dentingan halus menghentikan ucapan Charlene. Ia memandangi Haruka sejenak. “kita sudah sampai, kau siap untuk masuk?”

Haruka mengangguk. Selanjutnya Charlene membuka pintu flat besar itu tanpa izin. Ternyata memang tidak di kunci. Sebuah pemandangan luar biasa Haruka tangkap dengan kepalanya membuatnya terkesiap. Kent Tokeino berciuman dengan seorang perempuan. Ia kelihatannya sangat mabuk. Di ruangan yang sama juga banyak orang lain yang melakukan hal yang sama, beberapa melakukan hubungan seks tanpa perduli dengan teman-temannya yang lain, dan beberapa sedang memakai obat-obatan.

“Nichan…” Haruka berdesis. Kent memandangnya sejenak lalu Charlene segera menggenggam tangan Haruka.

“Ayo kita pulang. Sudah cukup, kan? Aku dan Roth sudah melihat ini sebelumnya. Karena itulah Roth tidak ingin kau melihatnya. Kent dan Roth sudah berkelahi karena ini!”

Haruka menoleh kepada Charlene. Akhirnya ia mengerti dengan tatapan Roth yang terakhir kali di lihatnya. Pandangannya kembali tertuju pada Kent. Kenapa Kent bisa begini? Sekecewa inikah Kent kepadanya sampai dia melakukan hal ini? Atau ini memang aktivitas yang sering di lakukannya? Tidak, bila Roth sampai marah, artinya ini bukan aktivitas yang biasa Kent lakukan sebelumnya.

“Ayo Haruka! Percuma kalau kau datang sekarang. Dia sedang tidak sadar.”

Haruka nyaris melangkah. Tapi tiba-tiba seseorang menarik lengannya dan membuat Haruka terbaring di atas lantai. Haruka merasakan mulutnya di bekap dengan sesuatu sehingga ia merasa sangat lemas. Tapi Haruka masih bisa menoleh dan berharap Kent menolongnya. Laki-laki itu terus menjelajahi tubuhnya dan Haruka tidak bisa berbuat apa-apa. Kent juga hanya memandanginya dan sesekali tertawa bersama gadis yang berada di sampinya. Charlene terus beteriak dan memukul. Itu cukup untuk membuat laki-laki yang menggerayangi Haruka terganggu. Tapi laki-laki itu mendorong tubuh Charlene dan membawa Haruka pergi menjauh dari tempat itu. Charlene masih berusaha menyusul dan ia terlambat saat laki-laki itu menendang kepalanya sebelum menghilang di dalam lift bersama Haruka yang hanya bisa memandanginya tanpa berbuat apa-apa.

Dalam dokumen Phoebe - Love Latte (Halaman 137-141)