pasang nama,“ kata Saliyem: dan lagi apa to namanya! Kalau orang tahu makanannya enak, itu sudah cukup.
Lho, penting punya nama! Kalau saya cerita nanti pada kawan, saya makan pecel enak, lalu dia bertanya, makannya di mana, kan saya tidak bisa memberikan keterangan jelas. Sedangkan kalau warung Anda punya nama, kawan saya pasti mudah menemukannya.
(NH. Dini “Warung Bu Sally)
Amanat yang tersirat dalam penggalan cerpen di atas ... a. Kebodohan akan menimbulkan keluguan.
b. Pujian akan diberikan kepada orang pandai. c. Pujian itu harus dikaji.
d. Nama sesuatu itu tidak begitu penting.
e. Nama itu sangat penting supaya mudah dikenali.
3. Aku berdiri dan pergi mengambil minuman untuk kami berdua. Aku ambil dua buah sloki. Satu di antara sloki itu aku masukkan serbuk racun ke dalamnya. Aku tuang wiski. Aku beri ajudan itu satu sloki dengan serbuk racun di dalamnya.
Unsur intrinsik yang paling menonjol adalah ....
a. alur d. sudut pandang
b. tema e. plot
c. setting
4. ”Sudahlah semua sudah terjadi, tidak perlu ditangisi lagi.”
“Aku tidak ingin pura-pura inilah saatnya. Aku memang Maya, tetapi aku adalah cerm,in jiwa nyata menangislah bersamaku jika sedih dan tertawalah bila kau gembira. Itu lebih baik daripada berpura-pura.”
Watak pelaku Aku apada penggalan cerpen di atas adalah ... .
a. agung d. harmonis
b. jujur e. sederhana
c. sabar
5. Hal-hal di bawah ini termasuk unsur ekstrinsik sastra, kecuali .... a. biografi pengarang d. poin of view (sudut pandang)
b. psikologi e. politik
c. agama
B. Jawabl ah per tanyaan-per tanyaan beri kut i ni dengan tepat dan j el as!
1. Kegiatan karya wisata ke Macchu Picchu perlu perencanaan yang lebih matang lagi, terutama dalam hal pemilihan penyedia jasa sarana transfortasi dan penentuan biaya/iuran yang harus dikeluarkan oleh setiap siswa. Bagian apakah paragraf tersebut pada notulen rapat?
2. Jelaskanlah perbedaan antara kata majemuk dan frasa!
3. Bacalah sebuah hikayat lainnya (selain hikayat Si Miskin), kemudian buat sinopsisnya dan ceritakanlah isi hikayat tersebut di depan kelas!
C. Buatl ah drama satu babak berdasarkan penggal an cerpen beri kut i ni ! Pelayan Restoran
BIASANYA kalau saya mau minta tambah sepiring bubur lagi, saya tidak usah mengeluarkan sepatah kata. Cukup dengan menoleh ke kiri, menaikkan alis mata saja, dan menunjuk ke piring yang sudah saya kosongkan, dan pelayan itu akan mengerti bahwa saya minta tambah satu piring bubur kacang hijau lagi.
Malam ini adalah malam keenam saya tidak melihat pelayan itu lagi di situ. Saya kira dia sakit, tapi saya rasa saya tak perlu menanyakan dia. Tapi saya tetap tertarik padanya. Jarang-jarang saya masuk ke dalam sebuah restoran, di mana saja menemukan seorang pelayan yang suka tersenyum seperti dia. Dan menurut pendapat saya, dia adalah orang yang tepat untuk tersenyum, sebab banyak saya melihat seseorang tersenyum, bukan menambah ia semakin baik, tetapi malah membikin jengkel sebab tidak tepatnya. Tapi sekali lagi akan saya katakan bahwa pelayan restoran itu tepat untuk tersenyum, bukan saja karena ia tahu guna tersenyum itu, tapi barangkali ia tidak mengetahui, bahwa dengan tersenyum itu ia kelihatan semakin gagah, dan hal ini membikin saya beririhati kepadanya. Bagi saya ia seorang lelaki yang menarik, dan agaknya tepat kalau pendapat ini dikemukakan oleh seorang wanita. Kebanyakan saya lihat, kalau seorang lelaki berwajah tampan, selalu didampingi oleh gerak-gerik dengan mata yang nakal, dan kira-kira kita mengetahui pula apa yang terpikir oleh otaknya ketika itu: Saya dikagumi banyak wanita. Pelayan restoran ini, yang sampai sekarang tidak saya ketahui pula namanya, —tidaklah demikian. Beberapa waktu yang lalu penghabisan saya melihat dia di sini, dia menanyakan kepada saya kenapa sendirian saja ke sini. Saya tahu apa yang dia maksud, sebab saya sering membawa seorang gadis untuk memakan empat piring bubur kacang hijau dan dua gelas teh pahit. Dia tahu itu, bahwa kami akan selalu makan empat piring kacang hijau san cuma akan minum dua gelas teh pahit. Dulu pernah dia bertanya, apakah gadis itu kekasih saya.
Dan saya menjawab, bahwa gadis itu memang kekasih saya. Lalu dia bertanya lagi, kapankah kami akan kawin. Dan saya menjawab, bahwa kami akan kawin bila ia telah menamatkan pelajaran di SGKP tahun depan. Dan dengan tersenyum dia berkata, alangkah senangnya. Dan dia bertanya, apakah syarat-syarat untuk kawin? Dan saya menjawab, bahwa tiap-tiap orang mempunyai pendapat dan syarat-syarat sendiri. Dan dia bertanya, apakah itu? Dan saya berkata, bahwa untuk saya syarat-syaratnya itu tidak banyak. Saya katakan kepadanya, kalau saya sudah yakin dan kekasih saya juga sudah yakin untuk kawin, itu telah merupakan syarat utama. Kemudian saya katakan pula, saya sudah tidak menggantungkan diri kepada orang lain lagi sekarang. Lalu sempat pula saya ceritakan pengalaman saya dua tahun yang lalu, ketika saya ditawarkan paman saya untuk mengawini anaknya dengan persediaan yang cukup dan saya tidak perlu mengeluarkan uang sedikitpun. Juga ketika saya katakan, bahwa saya belum punya pekerjaan tetap, paman saya menjanjikan akan membantu keuangan saya, tawaran itu saya tolak. “Kenapa?”
“Sekali saya terima, seumur hidup saya akan diperbudaknya”
“Mengapa begitu?”
“Saya melihat sendiri, bagaimana abang saya sekarang yang kawin dengan anak paman saya yang sulung dan kini menjadi penjaga toko bukunya,” kata saya sambil sejenak mengingat abang saya yang sudah punya anak tiga dan kehilangan kegembiraan selalu.
Percakapan kami waktu itu terputus karena saya melihat dia dipanggil dengan isyarat oleh pemilik restoran.
... ...
Pada pembelajaran ini Anda akan belajar menulis resensi. Apakah resensi itu? Pernahkah Anda membaca atau membuat resensi? Resensi apa yang pernah Anda baca atau tulis? Nah, untuk lebih jelasnya pelajarilah paparan berikut ini. Resensi adalah suatu tulisan atau ulasan mengenai nilai sebuah hasil karya (buku, puisi, pementasan drama, dan lain-lain). Tujuan resensi adalah menyampaikan pendapat/penilaian kepada para pembaca apakah sebuah hasil karya patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.
Pada pelajaran ini Anda akan belajar membuat resensi drama. Dengan demikian, tujuan resensi drama adalah menyampaikan pendapat/penilaian kepada para penonton apakah sebuah hasil karya patut mendapat sambutan dari masyarakat atau tidak.