• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengembangkan Ide dal am Bentuk Ceri ta Pendek

Dalam dokumen sma11bhsind BhsIndoBhs Indrawati (Halaman 130-133)

SOSIAL-BUDAYA

D. Mengembangkan Ide dal am Bentuk Ceri ta Pendek

Tuj uan Pem bel aj ar an

Pada subbab ini, Anda akan mengarang cerpen berdasarkan realitas sosial. Setelah mempelajari subbab ini, Anda diharapkan dapat mengarang cerpen berdasarkan realitas sosial.

Udin Tak Bisa Ngamen Lagi Oleh Hafiz Mustafa Harras “Goyang dombret…goyang dombret. Kang

Dadang…paling kasep…”. Demikian dendang dua pengamen itu sambil mendekati pintu angkot kami yang tengah berhenti di perempatan lampu lalu-lintas. Lagu dangdut Cirebonan yang lagi ngetop itu mereka nyanyikan dengan iringan ukulele dan kecrekan. Aksi keduanya menurutku bolehlah. Walau suaranya sedikit parau, tapi karena cengkok dangdutnya pas jadinya enak didengar telinga. Penampilan keduanya pun cukup sopan serta tidak urakan. Walaupun pakaiannya tidak bagus namun tidak tampak kumal. Akibat dibakar matahari siang yang menyengat, wajah kedua pengamen yang kutaksir usianya sebaya denganku itu tampak memerah dan mengucurkan keringat.

Usai lagu tersebut, si penabuh kecrek segera mengedarkan tempat bekas minuman air mineral. Kulihat beberapa penumpang memberinya uang recehan. Ada yang ratusan serta lima puluhan. Setelah mengucapkan terima kasih sambil mendoakan keselamatan para penumpang, keduanya segera menuju ke arah tepi jalan bersamaan dengan menyalanya lampu hijau.

Karena setiap kali berangkat dan pulang sekolah selalu naik angkot dan hampir di setiap perempatan kotaku selalu macet, maka hampir setiap pagi dan siang aku menyaksikan aksi para pengamen jalanan ini. Dalam mengamen gaya dan tingkah mereka bermacam-macam. Ada pengamen yang aksi dan

penampilannya cukup sederhana dan sopan, sehingga menarik simpati penumpang seperti pengamen di atas. Namun ada pula sekelompok pengamen yang gaya dan penampilannya urakan dan sedikit sangar.

Biasanya pengamen jenis ini rambutnya dicat warna-warni, kupingnya memakai anting serta pakaiannya penuh dengan pernik-pernik. Biasanya mereka menyanyikan lagu-lagu rock barat. Saat menyanyi suara mereka seperti teriakan, serta alat musik mereka terdengar brang-breng-brong tidak karuan. Begitu pula dengan pengucapan syairnya.

Mungkin karena mereka tidak menguasai bahasa Inggris dengan baik seringkali banyak yang salah. Walaupun begitu mereka umumnya pede saja. Biasanya kelompok pengamen ini kurang ramah terhadap penumpang. Bahkan kadang-kadang kalau sampai tidak ada penumpang yang memberinya uang, mereka suka mengumpat dan marah-marah.

Udin merupakan salah seorang dari puluhan pengamen cilik jalanan di kotaku. Kendati telah berusia 12 tahun namun dirinya masih duduk di SD kelas V. Hal itu menurut pengakuannya karena dirinya pernah dua kali tinggal kelas. Udin tinggal bersama lima orang adiknya yang masih kecil-kecil. Ayahnya seorang pemulung di Pasar Ciroyom Bandung, sedangkan ibunya bekerja serabutan. Menurut pengakuan Udin, terkadang ibunya menjajakan kue-kue di dekat sekolahnya, namun terkadang menjadi buruh cuci pakaian pada tetangganya.

Semua informasi mengenai Udin tersebut saya ketahui, karena ia pernah diwawancarai saat mengikuti diklat jurnalistik yang diadakan oleh redaksi Mading SMP-ku. Saat itu Pak Beni yang merupakan wartawan dari sebuah koran yang terbit di kotaku memberikan materi diklat tentang “Teknik Wawancara”. Dan sebagai tugas dari materi tersebut para peserta diminta melakukan wawancara dengan masyarakat. Ada yang memilih wawancarai Pak Lurah, ulama, pegawai pabrik, pedagang bakso, dan sebagainya. Saat itu saya katakan pada Pak Beni bahwa saya berniat akan mewawancarai pengamen cilik jalanan.

revolusibudaya.

files.wor

dpr

ess.com

Pertimbangan saya mewawancarai mereka praktis-praktis saja. Selain tiap hari dapat saya temui dengan mudah, juga dilihat dari usia beberapa orang dari mereka relatif sama dengan saya. Dengan demikian, saya kira mereka akan dengan mudah diwawancarai. Namun, dalam dalam prakteknya dugaan tersebut ternyata meleset.

Sebagian besar mereka tidak mau diwawancarai. Bahkan, beberapa orang pengamen yang lebih dewasa balik mengintrogasi saya, serta pandangan penuh curiga. Oleh mereka saya ditanyai macam-macam. Seperti, siapa yang menyuruh saya mewawancarai para pengamen, apa tujuan dan maksudnya, mau dikemanakan hasil dari wawancara nanti, dan seterusnya. Walaupun saya sudah jelaskan apa adanya tetap saja mereka tidak mau mempercayainya. Untunglah saat itu Udin datang menghampiri dan menyatakan kesediaannya diwawancarai. Namun syaratnya bukan pada sore itu dan bukan saat dia tengah mengamen, tetapi pada hari Minggu pagi di rumahnya yang terletak di kawasan kumuh Cibuntu Bandung. Pada hari yang dijanjikan itu, saya datang

ke rumah petaknya yang sempit dan berlantaikan tanah, kemudian mewawancarainya panjang-lebar. Selain Udin saya juga berhasil mewawancarai ibu dan adik-adiknya. Dan hasil liputan yang saya beri judul “Udin: Potret Pengamen Cilik” mendapat pujian dari Pak Beni. Sejak peristiwa itu, hubungan saya dengan Udin semakin akrab dan menjadi dua orang sahabat. Udin kerap saya ajak main ke rumah dan sebaliknya saya pun kadang-kadang main ke rumahnya.

Sudah hampir tiga hari ini, pemandangan jalanan kotaku tampak lebih bersih dan tertib dibandingkan hari-hari biasanya. Lubang-lubang yang banyak menghiasi jalanan kotaku kini telah ditambal aspal. Begitu pula pinggiran trotoarnya yang berwarna hitam dan putih kini telah dicat lagi, sehingga tampak rapi. Selain itu jumlah polisi yang mengatur arus lalu-lintas terlihat lebih banyak jumlahnya. Dan yang lebih penting lagi, di perempatan-perempatan jalan kini tak terlihat lagi gerombolan para pedagang asongan dan aksi brang-breng-brong para seniman jalanan, termasuk aksi Udin sahabatku.

Perubahan pemandangan yang terjadi di kotaku ini, sering menjadi perbincangan banyak orang, khususnya para penumpang angkutan umum. Seperti halnya saya, mereka pun banyak yang heran dibuatnya. Mereka tentu saja senang dengan adanya perubahan yang lebih baik ini. Selain jalanan tampak enak dipandang juga arus lalu-lintas menjadi lebih tertib dan lancar. Meski demikian, tak urung pertanyaan pun banyak dilontarkan mereka, khususnya mengenai penyebabnya. Ada yang menghubungkan dengan akan adanya tim penilai adipura, ada yang mengatakannya sebagai persiapan pemilu dan seterusnya.

Setelah diusut-usut dan membaca berita di koran, kini diketahui penyebab yang sesungguhnya dari semua itu. Katanya, dua hari lagi kota kami akan kedatangan Presiden. Kedatangan beliau ke kotaku ini, katanya dalam rangka membuka sebuah konferensi internasional yang membahas mengenai masalah kemiskinan di perkotaan. Nah, oleh karena mobil yang akan ditumpangi oleh Bapak Presiden akan melintasi jalan-jalan di kotaku, maka mesti

Lat i han 6

licin dan terlihat rapi serta bersih, termasuk dari aksi para pedagang asong serta pengamen jalanan. Ketika informasi ini saya sampaikan kepada Udin saat berkunjung ke rumahnya suatu sore, dengan lugu dia berkata, “Oh begitu. Jadi Bapak Presiden akan datang ke kota kita dan akan membicarakan nasib orang-orang miskin seperti kami. Tapi mengapa kaminya diumpetin? Padahal kami kan bisa dijadikan contoh nyata oleh Bapak Presiden kita saat membicarakan masalah kemiskinan.”

“Hus! Ini sudah urusan politik Din. Kita ini masih anak-anak jadi belum boleh berbicara seperti itu,” kataku spontan.

“Mengapa?” tanya Udin masih dengan tatapan lugu. Aku hanya diam karena memang tidak tahu harus menjawab apa. Setelah beberapa saat kami membisu, lantas sahabatku itu meraih ukulele butut kesayangannya yang tergantung di dinding bilik rumahnya. Setelah itu dari mulutnya terdengar ia menyanyikan lagu “Goyang Dombret”.

Hafiz Mustafa Harras Santri Ma’had Al-Zaytun Kelas III Desa Mekarjaya Kecamatan Haurgeulis Indramayu

1. Buatlah sebuah cerpen berdasarkan realitas sosial!

2. Tukarlah cerpen yang Anda buat dengan teman sebangku Anda untuk saling mengomentari dan memberi masukan untuk perbaikan cerpen tersebut! Hal-hal yang dikomentari mengenai pilihan kata, alur, dan lain-lain.

3. Bacalah cerpen tersebut dengan suara nyaring dan jelas di depan kelas! Mintalah tanggapan dari teman-teman Anda mengenai cerpen yang Anda buat tersebut!

E. Kata Berkonfiks

Tuj uan Pem bel aj ar an

Pada subbab ini, Anda akan menganalisis kata

berkonfiks yang terdapat

dalam teks.

Setelah mempelajari subbab ini, Anda diharapkan dapat menganalisis kata

berkonfiks yang terdapat

dalam teks dan dapat menggunakan kata

berkonfiks dalam konteks

kalimat.

Perhatikan contoh berikut ini!

ke-an → keamanan, kesatuan, kebetulan peng-an → penanaman, pemahaman, penyesuaian per-an → perusahaan, persawahan, petokoan ber-an → berhamburan, bersamaan, bersalaman se-nya → selama-lamanya, sejauh-jauhnya

Setelah melihat contoh-contoh imbuhan dan kata-kata berimbuhan di atas apa yang Anda pikirkan mengenai imbuhan tersebut? Cocokkan jawaban Anda dengan pengertian berikut. Konfiks adalah imbuhan yang dilekatkan di depan-belakang bentuk dasar secara bersamaan.

Lat i han 6

Identifikasilah kata berkonfiks yang terdapat dalam teks di bawah ini! Tulislah ke dalam format seperti berikut ini!

No. Konfiks Contoh Kata Makna

Dalam dokumen sma11bhsind BhsIndoBhs Indrawati (Halaman 130-133)