• Tidak ada hasil yang ditemukan

Efektivitas layanan ART secara sederhana bisa dilihat dari seberapa jauh target ca-kup an yang ditentukan. Berdasarkan SRAN tahun 2014, target nasional cakupan pengo-bat an ARV adalah 60%.58 Sebagai contoh, Laporan Perkembangan HIV-AIDS Triwulan IV tahun 2015 menunjukkan cakup an la yan an ART di Sulawesi Selatan dan DKI Jakarta sudah melebihi tar get, yaitu cakupan pengo-batan yang ber kesi nam bung an dari mereka yang memenuhi syarat mencapai 80.9%. Hal

58) Angka ini dihitung cakupan angka yang pernah ART dari yang memenuhi syarat ART saja

ini sejalan dengan cakupan ART nasional yang juga sudah memenuhi target, yaitu men capai 82.57%.59 Sementara gambaran le bih lengkap dari cakupan layanan program ART secara nasional dapat dilihat pada gam-bar cascade program ART di bawah ini. Per-sentase cakupan ART sudah melebihi target yang ditetapkan dalam SRAN yakni 81.14%.

Namun angka cakupan yang ditunjukkan pada gambar 12 di atas bila dibandingkan dengan target global yang 90-90-90, capaiannya saat ini masih sangat jauh dari target. Bila dilihat dari 90% dari target yang pertama, yaitu untuk menilai jumlah positif ODHA di Indonesia, agak sulit dinilai karena data yang ada hanya merupakan laporan jumlah kasus kumulatif. Persentase perlu dihitung dari jumlah kumulatif tes HIV yang dilakukan dengan mempertimbangkan juga estimasi jumlah populasi kunci yang ada di Indonesia. Namun data ini tidak tersedia.

59) Data yang diperoleh dari Laporan Perkembangan HIV-AIDS Triwulan IV tahun 2015 dibandingkan dengan target dari SRAN 2010-2014

Gambar 12. Cascade Program ART di Indonesia Sampai dengan Desember 2015

Sumber: Kemenkes - Final Laporan Perkembangan HIV/AIDS TW IV, 2015 dan Estimasi dan Proyeksi HIV/AIDS di Indonesia tahun 2015

268.185 200.618 74,81%

148.718 74,13%

120.677 81,14%

63.066 52,26%

Jumlah positif HIV & AIDS

Masuk perawatan HIV

Memenuhi syarat ART

Pernah ART

On ART

Untuk target 90% yang kedua, yaitu jumlah ODHA yang pernah ART, angkanya akan cukup tinggi bila dihitung hanya dari yang memenuhi syarat ART, yaitu 81.14%. Angka tersebut merupakan capaian fasyankes yang melaksanakan layanan ART, termasuk capaian dari 333 puskesmas dan balai pengobatan yang melaksanakan layanan ART (satelit dan inisiasi). Namun target sesungguhnya adalah untuk mencapai pengobatan ARV bagi semua ODHA. Ini berarti bila dibandingkan dengan jumlah ODHA yang diketahui capaiannya baru setengah dari target global, yaitu sekitar 45% saja. Sementara untuk target 90% yang ketiga belum ada data di Indonesia yang bisa dinilai capaiannya.

E.

Diskusi

Hasil analisis data primer dan sekunder menunjukkan bahwa integrasi pada konsep LKB lebih mengedepankan integrasi dalam bentuk fungsional, yang bertujuan lebih pada memberikan layanan ART melalui layanan kesehatan primer seefektif mungkin melalui koordinasi dan kolaborasi fungsional dari masing-masing aktor. Sementara untuk integrasi struktural akan lebih sulit, mengingat aktor dan komponen yang terlibat cukup banyak dan kompleks.

Hasil ini berbeda dengan konsep LKB dan integrasi yang digunakan oleh Doherty, et al. (1996) dan Blount (2003) di mana kon-sep integrasi yang dikembangkan meliputi integrasi dalam bentuk fungsional (hanya fungsi dari komponen-komponen yang ter libat yang berintegrasi) dan integrasi struk tural (komponen-komponen yang ter-li bat terintegrasi dalam satu struktur sistem ke sehatan). Hal ini juga bertentangan dengan Freedman (2011) yang menyatakan bahwa untuk memperoleh dampak integrasi

program layanan ART yang baik diperlukan kondisi layanan kesehatan primer yang kuat.

Demikian sebaliknya bila integrasi dapat dilaksanakan dengan baik maka akhirnya akan memberikan dampak juga yaitu menguat kan sistem kesehatan yang ada (Price et al., 2009).

Konsep integrasi melalui LKB yang terjadi pada layanan ART di layanan kesehatan primer di Indonesia, saat dilihat melalui riset operasional LKB di Kota Semarang dan Kota Yogyakarta menunjukkan, beberapa fungsi dasar dari layanan primer seperti fungsi koordinasi dan rujukan serta kapasitas dari staf puskesmas (tenaga kesehatan) masih belum tercukupi. Hal ini menyebabkan proses integrasi program layanan HIV dan AIDS ke layanan primer menjadi terhambat.

Perlu dilakukan penguatan pada sistem layanan kesehatan primer seperti investasi insfrastruktur manajemen organisasi dan sumber daya manusia (Price et al., 2009).

Selain itu juga perlu dilakukan peningkatan layanan kesehatan pada layanan primer yang menunjukkan sinergi positif antara layanan HIV dan AIDS dengan layanan kesehatan dasar lainnya, seperti layanan kesehatan ibu dan anak (KIA), tuberkulosis (TB), infeksi menular seksual (IMS) dan lainnya (Price et al., 2009; Valentijn et al., 2013). Sinergi positif ini diharapkan akan mendorong pelaksanaan layanan kesehatan primer dan mendorong capaian program dalam hal ini target layanan ART.

Untuk mencapai hal tersebut, dibutuhkan integrasi layanan fungsional puskesmas yang meliputi fungsi manajerial dan

operasional di tingkat layanan primer. Fungsi manajerial ini penting untuk menjamin keber-langsungan layanan di puskesmas. Fungsi ini meliputi kegiatan perencanaan, mana-jemen personalia, manamana-jemen keuangan, manajemen logistik, pelatihan untuk staf/

kader/dukun, supervisi, monitoring dan eva luasi, pencatatan dan pelaporan ser ta kepe mimpinan. Pelaksanaan peran

mana-04 jerial yang baik akan menjamin berjalannya

fung si operasional dengan baik (Unger, De Paepe, & Green, 2003). Fungsi operasional termasuk upaya kese hat an masyarakat (UKM), upaya kese hatan perorangan (UKP), perawatan kesehatan ibu dan anak dan pengobatan untuk berbagai macam penyakit termasuk di dalamnya layanan ART. Kedua fungsi ini harus dijalankan de ngan baik untuk mencapai layanan kesehatan masyarakat yang optimal. Untuk integrasi fungsional ini juga harus berjalan selaras dengan integrasi normatif yang merupakan perkembangan dan pemeliharaan kerangka umum sebagai referensi seperti visi, misi, nilai, dan budaya yang dianut antara organisasi, grup profesio-nal dan individu yang terlibat di dalam sistem kesehatan (Valentijn et al., 2013).

Pendekatan layanan kompre hensif di tingkat layanan primer, baik melalui pus-kes mas atau kli nik di lokasi penelitian lain, menunjukkan keberhasilan da lam pening-katan secara cepat cakupan serta mengu-rangi ang ka putus obat dalam ART yang banyak terjadi di RS (Bedelu et al., 2007;

Price et al., 2009). Be berapa kekurangan yang ter jadi pada layanan di RS dapat dia-tasi melalui layanan primer seperti lokasi yang lebih dekat dengan tempat tinggal, ca kupan yang lebih dini untuk mencegah ting ginya tingkat mortalitas, ser ta follow up yang lebih efek tif de ngan memanfaatkan du-kung an dari sektor komunitas yang terse dia di layanan pri mer. Bahkan di salah satu ha sil penelitian di tingkat ka bu paten juga me-nun jukkan bah wa integrasi layanan ART ke da lam layanan primer ini te lah mendorong tercapainya Universal Health Coverage (UHC) di ting kat kabupaten (Bedelu et al., 2007).

Pencapaian integrasi hanya dapat terjadi bila pemahaman tentang layanan yang kom prehensif berkelanjutan sudah dipahami oleh semua pihak atau aktor yang terlibat, khu susnya para pengambil kebijakan, dalam hal ini adalah pemda. Dengan pemahaman

yang baik dari masing-masing aktor yang terlibat akan peran dan tanggung jawab masing-masing, kolaborasi dan koordinasi menjadi jelas, dengan adanya pembagian kerja, tugas dan kewajiban masing-masing organisasi maupun profesional, serta pelak-sa naan monitoring dan evaluasi berpelak-sama (Belani et al., 2012; Kemenkes RI, 2012; PKMK FK UGM, 2015). Selain itu, kapasitas daerah dan kapasitas masing-masing puskesmas juga menjadi salah satu pertimbangan penting dalam usaha integrasi. Sejauh ma na integrasi perlu dan dapat dilakukan akan sangat bergantung pada kebutuhan serta kondisi dan kemampuan daerah.

Oleh karena itu, peran dari pemda dalam melakukan penilaian kebutuhan dan juga perencanaan menjadi penting.

Sektor komunitas seperti LSM dan KDS merupakan bagian dari sistem kesehatan yang penting dan tidak boleh ditinggalkan dalam perubahan dan proses integrasi. Ini merupakan salah satu bentuk partisipasi masyarakat secara aktif, mulai dari pence-gah an, deteksi dan pengobatan. Seringkali sektor komunitas dan partisipasi masyarakat terlewatkan dan tidak menjadi perhatian ba gi pemda. Bahkan salah satu penelitian yang dilakukan di Afrika Selatan secara je las menunjukkan adanya keraguan dari pa ra petugas kesehatan bahwa masyarakat akan mampu berperan dan membantu dalam la yanan kesehatan primer. Namun setelah menunjukkan hasil yang baik, petugas kese-hat an menjadi lebih terbuka dan merasa ba nyak terbantu dengan pelaksanaan task shifting60 yang dilakukan (Bedelu et al., 2007).

Sejalan dengan itu, Tolle (2009), me nun-jukkan bahwa sektor komunitas memper

li-60) Penelitian yang dilakukan Bedelu, et al, 2007 di Lusikisiki menerapkan task shifting yaitu melatih dan memberdayakan tenaga non kesehatan untuk mem-ban tu perawat dalam melakukan tugasnya, terutama di luar area keperawatan, sehingga mereka lebih fokus melakukan pekerjaan yang berkaitan dengan kepe-ra wat an. Hal ini membantu karena keterbatasan SDM kesehatan

hatkan peran penting pada wilayah yang memiliki keterbatasan sumber daya tenaga kesehatan, dengan menunjukkan dukungan serta mengembangkan hubungan yang baik dengan masyarakat melalui layanan berbasis masyarakat. Dukungan melalui masyarakat ini terbukti telah menurunkan angka putus obat dan juga meningkatkan kondisi kesehatan dan kesejahteraan pasien secara umum.

Lembaga-lembaga yang berasal dari komunitas merupakan sumber daya yang sangat berarti, baik dilihat secara teknis maupun sumber daya keuangan. Namun kelebihan itu tidak boleh dilihat sebagai satu-satunya kelebihan. Kelebihan itu diba-tasi oleh waktu dan merupakan sumber yang tidak terjamin keberlanjutannya.

Keterlibatan sektor komunitas yang utama dan yang paling penting adalah kontribusi mereka dalam menyuarakan kepentingan dan kebutuhan masyarakat, serta kebebasan politik untuk mempromosikan inovasi dalam layanan kesehatan primer. Inovasi ter sebut mendorong mobilisasi keahlian teknis dan menjalin kemitraan dalam mengem bangkan pendekatan yang inovatif.

Hal ini dapat memberikan layanan HIV yang mudah, terjangkau, dan berkualitas, serta secara umum memperkuat sistem kesehatan (Bedelu et al., 2007). Pemerintah bertanggung jawab dan juga kepentingan dalam menjaga keberlanjutan OMS karena perannya yang cukup krusial dalam res-pons penanggulangan HIV. Dukungan me-lalui peningkatan kapasitas SDM dan ju ga penjaminan pembiayaan melalui contracting out menggunakan dana daerah men jadi salah satu alternatif pemda dalam mem-per tahankan fungsi dukungan OMS dalam layanan ART.

F.

Simpulan

Integrasi layanan ART yang telah dicapai di tingkat layanan kesehatan primer di lokasi penelitian saat ini hanya terjadi pada tingkat koordinasi (tingkat 2). Saat ini hanya terjadi kolaborasi dasar di antara layanan kesehatan yang berbeda. Meskipun ada beberapa daerah yang sudah mulai meningkatkan integrasi sampai pada ko-lokasi (tingkat 3), namun jumlahnya masih sangat terbatas (contoh di DKI Jakarta).

Dampak integrasi yang ada untuk program ART adalah peningkatan cakupan mencapai (80.9%) yang bila dibandingkan dengan target cakupan nasional di SRAN sudah memenuhi target. Namun bila dilihat lebih luas lagi, target yang dicapai ini masih jauh dari target global.

Sementara terkait peran aktor yang terlibat, dalam hal ini pemda, dalam upaya integrasi sangat dibutuhkan. Hal ini dapat berupa komitmen pemda untuk membantu menciptakan lingkungan yang kondusif dalam proses integrasi. Misalnya: adanya peraturan atau regulasi yang mendorong integrasi layanan di puskesmas, dukungan pembiayaan yang mencukupi untuk pengembangan infrastruktur, kapasitas dan juga koordinasi, dan dukungan terhadap OMS. Peran OMS adalah mengisi peran-peran yang tidak dapat dilakukan oleh pemerintah, seperti penjangkauan kepada populasi kunci, dukungan sosial selama pengobatan melalui manajer kasus, pendamping, KDS dan juga dukungan lainnya melalui masyarakat. Dalam melaksanakan perannya, koordinasi yang baik antara OMS dengan puskesmas dan juga aktor lainnya yang sudah ada saat ini perlu ditingkatkan dan dijaga sebagai bagian dari integrasi layanan kesehatan primer.

04 Puskesmas sebagai ujung

tombak dalam pelayanan kesehatan dasar perlu memperkuat fungsi manajerial dan operasionalnya sebagai dasar dari sistem layanan kesehatan primer. Fungsi manajerial ini penting untuk menjamin dan memperkuat keberlangsungan layanan di puskesmas yang memungkinkan proses integrasi akan lebih mudah. Hambatan proses integrasi layanan ART di puskesmas pada beberapa daerah dikarenakan belum berjalannya kedua fungsi tersebut di dalam organisasi puskesmas. Ini menyebabkan bila ada penambahan program untuk diintegrasikan, meskipun program tersebut sudah memiliki struktur dan fungsi yang baik, akan sulit untuk diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan primer yang ada.

Dalam memaksimalkan fungsi manajerial dan operasional, puskesmas juga harus mampu mengoordinasikan komponen lain yang terkait (e.g. RS dan OMS).

G.

Rekomendasi

Berdasarkan hasil diskusi serta simpulan di atas, kebutuhan akan integrasi layanan ART ke dalam sistem layanan kesehatan primer muncul sebagai kebutuhan yang harus segera dipenuhi demi pemberian layanan kesehatan yang lebih

luas serta mencapai target global. Untuk itu, beberapa hal yang dapat menjadi pertimbangan untuk dilakukan dalam meningkatkan proses integrasi, antara lain:

1. Komitmen pemda harus ditunjukkan dalam bentuk regulasi yang lebih mengikat, misalnya dalam bentuk kebijakan daerah melalui SK Dinas Kesehatan tentang penunjukan Puskesmas LKB dan Puskesmas layanan inisiasi ART. Dengan demikian, pemda secara manajerial bertanggung jawab terhadap pelaksanaan kegiatan yang tecermin dalam pembiayaan, penyediaan sumber daya manusia, dan infrastruktur.

2. Komitmen pemda terhadap pelaksanaan regulasi harus menjamin keberlangsungan layanan ART, khususnya terkait pembiayaan yang bersumber pada dana daerah. Ini sebagai salah satu bentuk kesiapan keberlanjutan layanan pasca dukungan donor (bentuk exit strategy daerah).

Pembiayaan daerah juga harus mempertimbangkan pembiayaan kepada sektor komunitas (OMS) terkait LKB ini, karena mereka merupakan salah satu komponen penting dalam LKB. Salah satu alternatif adalah melalui contracting out dari pemda terhadap LSM sebagai lembaga.

3. Kapasitas dan ketercukupan SDM merupakan salah satu

“Puskesmas sebagai ujung tombak dalam pelayanan kesehatan dasar perlu memperkuat fungsi

manajerial dan operasionalnya sebagai dasar dari sistem layanan kesehatan primer.”

hal yang penting dalam pelaksanaan integrasi program layanan ART ke dalam layanan primer.

Dinkes harus mampu menjamin ketercukupan jumlah dan pengembangan kapasitas SDM di puskesmas, khususnya terkait layanan ART melalui penyediaan tenaga terlatih dan pelatihan.

Dalam pemenuhan SDM di daerah, Dinkes berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian daerah (BKD) yang

bertanggung jawab dalam kebijakan teknis terkait kepegawaian. Ketercukupan jumlah tenaga harus sesuai dengan prasyarat yang berlaku yaitu jumlah dokter, perawat, petugas pencatatan, dan pelaporan.

4. Selain itu perlu juga dipikirkan oleh dinkes dan pemda mengenai kebutuhan untuk tenaga non kesehatan (e.g.

penjangkau, pendamping, dan manajer kasus), serta bagaimana keberlanjutan tenaga ini yang notabene masih di luar nomenklatur SDM pemda. Penjaminan SDM non kesehatan ini termasuk ketercukupan jumlah kebutuhan SDM non kesehatan di daerah dan juga menjamin kualitas SDM non kesehatan untuk mendukung layanan kesehatan, termasuk ART di daerah, dengan mengacu pada peraturan yang berlaku. Alternatif penjaminan ketercukupan SDM ini dapat dilakukan melalui kontrak individu, baik

dari pemda melalui dinkes atau menggunakan dana BLUD Puskesmas.

5. Penguatan kapasitas manajerial puskesmas (e.g. kepala puskesmas dan penanggung jawab program HIV dan AIDS) oleh dinkes kabupaten/

kota sebagai penanggung jawab kesehatan di daerah. Penguatan ini untuk memperkuat layanan kesehatan primer di puskesmas sebagai dasar integrasi. Penguatan manajerial ini juga

memberikan kemampuan manajerial puskesmas dalam meningkatkan koordinasi dan kolaborasi dengan aktor lain yang terkait, seperti OMS, kader atau masyarakat umum, dalam upaya

memberikan dukungan sosial di masyarakat untuk layanan ART. Contoh bentuk kolaborasi bisa berupa kesepakatan kerjasama antara dua lembaga (MoU) atau bentuk lain yang dianggap memungkinkan.

6. Optimalisasi peran KPAD mengolaborasikan peran OMS dengan layanan kesehatan. Optimalisasi ini dilakukan dengan memperkuat sistem

koordinasi untuk memastikan semua kegiatan dapat dimonitoring dan dievaluasi dengan baik. Selain itu, peran koordinasi KPAD juga dapat di maksimalkan untuk membantu meningkatkan

“Hambatan proses integrasi layanan ART di puskesmas pada beberapa daerah dikarenakan belum berjalannya kedua fungsi tersebut di dalam organisasi puskesmas.”

04 koordinasi dan komunikasi dalam

proses pelaksanaan layanan ART melalui pertemuan-pertemuan rutinnya.

KPAD bersama dengan pemda juga harus memberikan dukungan dan meningkatkan kapasitas OMS sesuai dengan peraturan Kementerian Dalam Negeri, baik melalui pendanaan daerah ataupun melalui penyaluran pendanaan dari mitra (CSR, MPI, dll)

7. Pengembangan sistem pelaporan yang terintegrasi oleh kemenkes secara terpadu yang diturunkan secara berjenjang dari dinkes sampai dengan puskesmas sebagai layanan kesehatan primer. Dinkes bertanggung jawab untuk manajemen di tingkat daerah (provinsi/kabupaten/kota), sementara puskesmas bertanggung jawab di wilayah kerjanya yakni kecamatan (disesuaikan dengan lingkup administrasi daerah). Sistem manajemen

laporan ini dapat dipergunakan sebagai dasar perencanaan serta monitoring dan evaluasi untuk menjamin keberlangsungan dan kualitas layanan di titik tanggung jawab puskesmas, yaitu kecamatan (atau desa untuk DKI Jakarta atau sesuai kondisi di daerah).

Gambaran sistem manajemen laporan yang terintegrasi melalui koordinasi dan kolaborasi berbagai aktor yang digunakan sebagai dasar monitoring dan evaluasi perencanaan dan pelaksanaan program digambarkan dalam alur (cycle) Gambar 13.

8. Di tingkat kecamatan, puskesmas sesuai dengan SK Menkes No. 128 Tahun 2004 tentang kebijakan dasar pusat kesehatan, bertugas sebagai penggerak pembangunan kesehatan di kecamatan dan sebagai tenaga ahli pendamping Camat. Puskesmas di bawah koordinasi camat, bekerjasama dengan instansi

Gambar 13. Komponen dan Alur Layanan Kesehatan yang Terintegrasi

Perencanaan layanan kesehatan terintegrasi

Kolaborasi Monitoring &

evaluasi

Sumber: Diadaptasi dari WMWR November 9, 2012 by CDC tentang integrasi layanan pencegahan (Belani et al., 2012)

Koordinasi

lainnya di tingkat kecamatan dalam perencanaan, pelaksanaan dan monev program kesehatan di puskesmas.

9. Di tingkat nasional, kemenkes dan BPJS sebagai pelaksana JKN harus mengkaji ulang sistem administrasi layanan JKN dengan mempertimbangkan kemudahan akses layanan bagi kelompok populasi kunci dan kelompok termarjinalkan lainnya. Ini termasuk juga mengkaji ulang agar layanan PDP dapat dijamin dalam JKN. Tidak hanya pengadaan ARV saja, tetapi juga meliputi proses pemeriksaan laboratorium, pemeriksaan follow up selama pengobatan, dll.

Untuk tingkat daerah, pemda juga harus mengkaji kesediaan coverage dari JKN dan juga program nasional, serta memastikan bahwa layanan terkait HIV dan AIDS, khususnya ART, tetap dapat diakses secara mudah dan gratis oleh populasi kunci dan kelompok termarjinalkan. Bila layanan belum masuk dalam JKN atau pembiayaan program nasional, maka pemda harus menjamin layanan tersebut melalui jaminan kesehatan daerah, semisal melalui Jamkesda atau lainnya (contoh di Jakarta dengan KJS) untuk melengkapi jaminan yang diberikan JKN.

Daftar Pustaka

Bedelu, M., Ford, N., Hilderbrand, K., & Reuter, H.

(2007). Implementing antiretroviral therapy in rural communities: the Lusikisiki model of decentralized HIV/AIDS care. The Journal of Infectious Diseases, 196 Suppl (Suppl 3), S464–S468. http://doi.

org/10.1086/521114

Belani, H., Chorba, T., Fletcher, F., Hennessey, K., Kroeger, K., Lansky, A., … Wynn, B. A. (2012). “Integrated prevention services for HIV infection, viral hepatitis, sexually transmitted diseases, and tuberculosis for persons who use drugs illicitly: summary guidance from CDC and the U.S. Department of Health and Human Services”. MMWR, Morbidity & Mortality Weekly Report, 61(RR-5), 1–40. Retrieved from http://

www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/23135062

Blount, A. (2003). “Integrated primary care: Organizing the evidence”. Families, Systems & Health, 21, 121–134.

http://doi.org/10.1037/1091-7527.21.2.121 Cohen, M. S., McCauley, M., & Gamble, T. (2012). “HIV

Treatment as Prevention and HPTN 052”. NIH Public Access, 99–105. http://doi.org/10.1097/

COH.0b013e32834f5cf2.

Doherty, W. J., McDaniel, S. H., & Baird, A. M. (1996).

“Five level of Primary Care/Behavioral Healthcare Collaboration”. Behavioral Healthcare Tomorrow, 25–28.

Freedman, L. P. (2011). “Integrating HIV and maternal health services: will organizational culture clash sow the seeds of a new and improved implementation practice?”. Journal of Acquired Immune Deficiency Syndromes (1999), 57 Suppl 2, S80–2. http://doi.

org/10.1097/QAI.0b013e31821dba2d Friedland, G., Harries, A., & Coetzee, D. (2007).

“Implementation issues in tuberculosis/HIV program collaboration and integration: 3 case studies”. The Journal of Infectious Diseases, 196 Suppl (Suppl 1), S114–S123. http://doi.org/10.1086/518664 Green, B. C. W., & Nagar, K. (2013). Care , Support &

Treatment for PLHIV in Indonesia. Retrieved from http://spiritia.or.id/

Heath B, Wise Romero P, and R. K. A. (2013). A Standard Framework for Levels of Integrated Healthcare.

Washington, D.C.SAMHSA-HRSA Center for Integrated Health Solutions.

Kemenkes RI. (2004). Pedoman Nasional Terapi Antiretroviral. Retrieved from http://spiritia.or.id/li/

bacali.php?lino=403

Kemenkes RI. (2011). Pedoman Nasional Tatalaksana Klinis Infeksi HIV dan Terapi Antiretroviral Pada Orang Dewasa.

Kemenkes RI. (2012). Pedoman Penerapan: Layanan Komprehensif HIV-IMS Berkesinambungan.

KPAN. (2005). Country Report mengenai Tindak Lanjut Deklarasi Komitmen HIV/AIDS (UNGASS).

KPAN. (2010). STRATEGI DAN RENCANA AKSI NASIONAL PENANGGULANGAN HIV DAN AIDS TAHUN 2010 - 2014, 110.

04

Nadjib, M., Megraini, A., Ishardini, L., & Rosalina, L. (2013).

Final Report National AIDS Spending Assessment 2011-2012.

Palmisano, L., & Vella, S. (2011). “A brief history of antiretroviral therapy of HIV infection: success and challenges”. Ann Ist Super Sanità, 46(1), 66–80. http://

doi.org/10.4415/ANN

PKMK FK UGM. (2015). Prosedur Pengobatan pada Layanan Komprehensif HIV-AIDS Berkesinambungan di Kota Yogyakarta dan Semarang, 1–183.

Price, J. E., Leslie, J. A., Welsh, M., & Binagwaho, A.

(2009). “Integrating HIV clinical services into primary health care in Rwanda: a measure of quantitative effects”. AIDS Care, 21(5), 608–14. http://doi.

org/10.1080/09540120802310957

Prichett, L., Woolcock, M., & Andrews, M. (2010). Capability Traps ? The Mechanisms of Persistent Implementation Failure. Retrieved from http://www.hks.harvard.edu/

Prichett, L., Woolcock, M., & Andrews, M. (2010). Capability Traps ? The Mechanisms of Persistent Implementation Failure. Retrieved from http://www.hks.harvard.edu/