• Tidak ada hasil yang ditemukan

DKI Jakarta (10)

Sumber: Data sekunder dari KPAP DKI Jakarta (KPAP DKI Jakarta, Agustus 2015, http://kpap.jakarta.go.id/news/read/193/daftar-layanan-kth-dinkes-2015.

Jakarta Pusat (1)

Puskesmas Gambir

Jakarta Timur (3)

Puskesmas Jatinegara, Puskesmas Kramat Jati, Puskesmas Pulo Gadung, Puskesmas Pasar Rebo

Jakarta Utara (2)

Puskesmas Tanjung Priuk, Puskesmas Koja

Jakarta Barat (2)

Puskesmas Cengkareng, Puskesmas Tambora

Jakarta Selatan (2)

Puskesmas Tebet, Puskesmas Setiabudi

04 layanan kesehatan dimasukkan

dalam sistem JKN, melalui asuransi kesehatan sosial yang dikelola oleh BPJS. Sayangnya, belum semua kebutuhan kesehatan masuk dalam skema pembayaran ini. Salah satu contohnya adalah layanan terkait HIV dan AIDS, di mana belum semua layanan pemeriksaan atau pengobatannya masuk dalam skema pembiayaan ini.

Sementara untuk pengobatan ARV, pemeriksaan laboratorium CD4 dan viral load karena penanggulangan HIV dan AIDS merupakan salah satu permasalahan yang menjadi tanggung jawab pemerintah, maka pengobatan dan pengadaan ART ini menjadi program nasional yang menggunakan dana dari APBN. Sementara pembiayaan layanan kesehatan lainnya yang terkait, masuk dalam pembiayaan sistem kesehatan yang ada melalui JKN dan APBD, kecuali untuk pemeriksaan lab CD4 dan viral load yang masih harus out of pocket.

“Walaupun adanya JKN sering kali disebut-sebut sebagai hal yang positif bagi ODHA, namun sampai saat ini hanya komponen IO [infeksi oportunistik] yang sudah masuk dalam skema pembiayaan JKN. Dalam JKN sayangnya skema untuk pengobatan HIV belum dimasukkan karena adanya argumen bahwa sampai saat ini obat ARV masih ditanggung pemerintah melalui bantuan lembaga asing. Selanjutnya dalam JKN, biaya untuk pemeriksaan pra-ARV juga belum dimasukkan sehingga biaya tersebut harus dibayar sendiri oleh klien atau ditanggung oleh LSM yang mendapat bantuan dari donor asing”

(Wawancara mendalam Universitas Udayana, Dinkes, 2014)

6. Keberlanjutan layanan pasca dukungan donor masih menjadi tanda tanya.

Konsep layanan yang komprehensif dan berkelanjutan tidak hanya

berhenti sampai pada aksesibilitas dan ketersediaan layanan pengobatan ART serta pemeriksaan laboratorium saja.

Pengobatan ARV merupakan pengobatan yang kompleks dan membutuhkan komitmen seumur hidup, serta adanya

kemungkinan berbagai efek samping yang ditimbulkan dari proses minum obat dengan jangka waktu yang panjang tersebut.

Dukungan serta layanan sebelum dan setelah proses inisiasi menjadi sangat penting. Hal ini akan membutuhkan dukungan sosial baik dari petugas kesehatan, petugas non kesehatan, keluarga, maupun lingkungan. Dari sini dapat dilihat bahwa SDM dalam penanggulangan HIV dan AIDS, termasuk layanan ART ini tidak hanya meliputi tenaga kesehatan saja namun juga tenaga non kesehatan.56

Kebanyakan tenaga SDM non kesehatan yang ada di layanan primer ini, terutama terkait dengan layanan ART, dilakukan oleh OMS seperti tenaga penjangkau, pendamping, dan manajer kasus. Oleh karena itu, menjadi penting untuk memastikan keberlangsungan OMS menjaga keberlanjutan layanan ini. Tenaga non kesehatan tersebut belum memiliki nomenklatur yang diakui oleh pemerintah, sehingga pembiayaan masih bergantung pada donor selama ini. Namun demikian, salah satu wilayah dengan komitmen tinggi adalah Kota Makassar. Gubernur telah mengeluarkan SK yang mengatur pembiayaan petugas non kesehatan melalui APBD. Sayangnya ini belum terjadi di wilayah lainnya.

Partisipasi masyarakat dalam layanan ART lebih banyak terlihat melalui

keterwakilannya dalam OMS. Sementara bentuk pelibatan langsung masyarakat, terutama pada layanan ART di RS, lebih banyak hanya sebagai penerima manfaat program atau layanan kesehatan saja. Dari data yang dikumpulkan ada beberapa temuan terkait partisipasi masyarakat melalui populasi kunci dan ODHA. Kegiatan-kegiatan

56) Peraturan Menteri Kesehatan (Permekes) RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS.

partisipasi masyarakat lebih banyak dimotori oleh OMS melalui berbagai Kelompok Dukungan Sebaya (KDS). Di beberapa daerah seperti DKI Jakarta juga menunjukkan bentuk keterlibatan masyarakat umum melalui Warga Peduli AIDS (WPA) yang kini berjumlah 25 orang dan ada sekitar 30 LSM yang aktif bererak dalam penanggulangan HIV dan AIDS.57 Namun kegiatan seperti ini sangat tergantung pada keaktifan masyarakat dan juga komitmen pemda dalam mendukung program kesehatan, termasuk HIV dan AIDS.

Berdasarkan isu-isu layanan ART di tingkat layanan primer seperti digambarkan di atas, serta mengacu pada kerangka konseptual dalam tulisan ini, dilakukan penilaian untuk menentukan tingkat koordinasi yang terjadi. Pelaksanaan LKB yang belum berjalan dengan baik menunjukkan bahwa koordinasi layanan ART yang ada belum terjadi satu atap, terutama puskesmas belum bisa memberi layanan yang komprehensif. Umumnya layanan ART di puskesmas terbatas pada layanan satelit saja, sehingga masih perlu dilakukan rujukan ke RS inisiasi ART untuk memulai pengobatan. Proses rujukan yang terjadi saat ini sudah menunjukkan adanya bentuk kolaborasi, dengan terbangunnya komunikasi antara penyedia layanan kesehatan primer dan layanan sekunder/tersier dalam bentuk rujukan dan pembahasan tentang kasus ODHA yang dirujuk. Ada juga sebagian kecil puskesmas di daerah (contoh di DKI Jakarta), yang sudah memulai layanan inisiasi ART di tingkat puskesmas sehingga layanan HIV lebih komprehensif di satu lokasi dan kolaborasi yang terjadi menjadi lebih dekat.

Bentuk kolaborasi yang terjadi seperti di atas masih berbentuk dasar. Selain itu

57) Permenkes RI Nomor 21 Tahun 2013 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS yang berkaitan dengan partisipasi masyarakat dituangkan dalam pasal 50, 51, dan 53.

juga kolaborasi lainnya berupa komunikasi antar aktor-aktor yang terlibat juga sudah terjadi secara periodik, yang ditunjukkan dengan adanya forum koordinasi yang dimotori oleh KPA, termasuk dengan masyarakat dan populasi kunci melalui OMS. Namun koordinasi ini masih terpisah dengan koordinasi layanan kesehatan yang dilakukan oleh dinkes. Di sini dapat dilihat masih adanya pemisahan antara layanan klinis dengan program penanggulangan HIV dan AIDS lainnya, seperti promosi dan pencegahan.

Di layanan kesehatan sendiri masih ter jadi tarik menarik antara integrasi struk-tural dan fungsional, di mana dalam konsep pelaksanaan LKB yang ditekankan adalah integrasi fungsional. Usaha melak sa nakan layanan satu atap baru dilaksanakan secara parsial. Meski ada upaya mengintegrasikan semua layanan dalam satu atap (ko-lokasi), namun secara program, layanan ART masih berjalan dengan sistem yang terpisah. Hal ini dikarenakan komponen-komponen dalam program ART cukup banyak dan kompleks serta berbeda dengan layanan kesehatan umum. Layanan ART tidak terbatas pada la yanan kesehatan saja, tetapi komponen psikososial juga memegang peran yang cukup besar. Oleh karena itu, integrasi penuh yang juga meliputi integrasi struktural sulit terjadi.

Berdasarkan penilaian di atas, bisa disim-pulkan bahwa tingkat integrasi menunjukkan bahwa bentuk koordinasi yang terjadi untuk layanan ART masih ada di tingkat 2. Artinya adalah walaupun sudah ada beberapa pus kesmas yang melakukan layanan ART inisiasi, namun jumlahnya masih sangat kecil dibandingkan dengan kebutuhan dan juga jumlah keseluruhan puskesmas yang ada. Belum adanya ko-lokasi layanan di satu tempat, meski sudah ada koordinasi dan komunikasi secara periodik antara pemangku kepentingan dan berjalannya sistem rujukan untuk membahas kepentingan

pasien dari layanan primer ke layanan 04 sekunder. Lebih lanjut, sudah ada komunikasi di antara komponen-komponen lainnya mes-kipun masih berjalan terpisah.

D.