Lebih terintegrasinya layanan PKR ke dalam sistem kesehatan memengaruhi efektivitas
05 kinerja PMTS di Kabupaten Merauke. Hal
ini bisa dibuktikan dengan mengacu pada strategi yang dikembangkan dalam program PMTS, yang terdiri dari 4 komponen, yaitu peningkatan peran positif pemangku kepentingan, manajemen dan distribusi kondom, komunikasi perubahan perilaku, dan penatalaksanaan IMS.
Untuk mengukur efektivitas ini digunakan data cakupan penjangkauan pada populasi WPS dan jumlah cakupan layanan IMS. Ca-kupan data penjangkauan dipergunakan un-tuk mengetahui sejauh mana keterpaparan in for masi tentang IMS dan penularan HIV sehingga dapat mengarahkan untuk ter ja
-dinya perubahan perilaku. Sementara un tuk me nge tahui perubahan perilaku maka data yang dipergunakan adalah konsistensi peng gunaan kondom. Sumber data yang di per gunakan untuk mengukur efektivitas ini menggunakan data STBP 2007, serta data cakupan kegiatan yang bersumber dari PKR.
Gambaran pemakaian kondom pada kelompok risiko tinggi, menurut hasil pemantauan oleh PKR melalui kartu isian kondom yang dibagikan dan diambil setiap bulan menunjukkan, bahwa pemakaian kondom rata-rata meningkat dibanding tahun sebelumnya, walau masih belum mencapai target, yaitu 100% penggunaan kondom
Sumber : Data Laporan PKR
Gambar 17. Kecenderungan Penggunaan Kondom Pada Kelompok Resiko Tinggi di Merauke 2008 - 2011
2008 2009 2010 2011
pada setiap hubungan seks berisiko. Meski demikian, data STBP 2007 menunjukkan adanya kecenderungan positif jika dilihat dari tahun 2008 sampai 2011. Akan tetapi berdasarkan laporan PKR kurun waktu terakhir, tercatat jumlah distribusi kondom tahun 2014 adalah 47.183 dan pada tahun 2015 (Januari sampai Oktober) adalah 37.439 yang diberikan kepada 280 kelompok WPS.
Terkait perubahan perilaku dari data PKR untuk konsistensi penggunaan kondom pada hubungan seks terakhir untuk kalangan WPS di lokalisasi mencapai 98,30% dari jumlah WPS yang melaporkan diri sebesar 76,84%
(Laporan PKR, Oktober 2015).
Kemudian data cakupan seperti jumlah perempuan dan laki-laki yang melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu pasangan dalam 12 bulan terakhir yang melaporkan penggunaan kondom dalam hubungan seks terakhir totalnya di tahun 2014 adalah 64.320 orang. Khusus untuk pekerja seks, jumlah pekerja seks yang melaporkan penggunaan kondom dengan pelanggan paling akhir total di tahun 2014 adalah 2359. Pada tahun 2014 persentase pekerja seks yang melaporkan penggunaan kondom dengan pelanggan seks yang paling akhir adalah 76.8% (Laporan PKR, 2015). Jika dilihat persentase tersebut, ini mengalami penurunan dibanding dengan data cakupan penggunaan kondom dari tahun 2008 hingga 2011. Penurunan cakupan tahun 2014 ini dipengaruhi oleh belum efektifnya pelaksanaan dari perubahan kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS yang baru No. 3 Tahun 2013 tentang pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS yang diperluas dari prioritas pada populasi kunci ke sasaran yang lebih luas, yakni masyarakat umum untuk melakukan tes HIV dan penggunaan kondom 100% secara konsisten untuk pencegahan penularan HIV dan IMS melalui transmisi seks.
Kecenderungan jumlah klien yang melakukan test KTS/KTIP mengalami
fluktuasi sebanyak 6.233 klien pada 2011 dibanding cakupan jumlah klien yang tes dan konseling pada tahun 2010 yaitu 7.578 klien. Meskipun jumlah kasus yang ditemukan HIV positif ditemukan semakin meningkat sebesar 2.15% atau mencapai 134 orang terinfeksi HIV seperti digambarkan dalam gambar 18.
Sementara dari data STBP 2007
menunjukkan bahwa cakupan penjangkauan populasi WPS sebesar 97%, angka yang melebihi target nasional sebesar 80%.
Sementara untuk mengukur perubahan perilaku WPS adalah konsistensi
penggunaan kondom dalam hubungan seks dalam seminggu terakhir sebesar 65%, juga melebihi target nasional sebesar 60% untuk terjadinya perubahan perilaku pada WPS.
Dari kedua data ini dapat menunjukkan bahwa program PMTS cukup efektif, dengan cakupan melebihi target nasional.
G.
Diskusi
Studi kasus PMTS di Kabupaten Merauke ini menyimpulkan bahwa tata kelola intervensi program PMTS relatif terintegrasi dengan sistem kesehatan umum. Integrasi tata kelola secara struktural terjadi melalui kebijakan penanggulangan HIV dan IMS yang dikeluarkan oleh pemda yang mengalami pembaharuan dan perluasan (scale-up) layanan tidak hanya fokus pada kelompok populasi kunci, akan tetapi juga menyasar pada populasi umum sesuai dengan situasi perkembangan epidemi di Kabupaten Merauke (Perda No. 3 Tahun 2013 dan Perbub No. 16 Tahun 2015). Komitmen kebijakan untuk program PMTS ini secara khusus diwujudkan dalam pembentukan unit layanan teknis (PKR) dengan mobilisasi sumber daya lokal untuk penyediaan layanan bagi populasi kunci dan masyarakat
05
umum melalui intervensi pencegahan penularan HIV dan IMS melalui transmisi seksual. Integrasi tersebut telah berkontribusi pada efektivitas layanan penanggulangan HIV dan IMS yang cukup signifikan, seperti perubahan perilaku WPS dalam konsistensi penggunaan kondom dalam seks terakhir mencapai 98% yang berada di atas target nasional sebesar 60% (KPAN, 2010).
Kebijakan kondom 100% meski belum optimal akan tetapi bila didukung oleh pemerintah bisa sangat efektif untuk penanggulangan pencegahan HIV dan IMS dan hal ini telah dibuktikan dengan tingkat efektivitasnya mencapai 95%. Pengalaman Thailand
dalam menerapkan kebijakan kondom 100%
menarik diadaptasi dengan memperluas sanksi tidak hanya pada WPS-nya tetapi juga pada mucikarinya. Thailand berhasil karena dalam praktiknya didukung oleh banyak pihak, seperti pengalaman kasus di Phuket karena didukung oleh gubernur, polisi, dinkes provinsi yang bertanggung jawab, mucikari, dan pekerja seks (UNAIDS, 2000).
Faktor komitmen politik daerah (dinkes) untuk mengambil kebijakan alternatif dengan mengintegrasikan layanan PMTS ke dalam sistem kesehatan melalui pembentukan PKR menjadi penentu (enabler). Pendekatan struktural yang dilakukan oleh Dinkes
Sumber : Data Laporan PKR
Gambar 18. Jumlah klien di KTS/KTIP dan HIV positif tahun 2007-2011
2007
4481
81
2008
7182
59
2009
4639
96
2010
7578
133
2011
6233
134
VCT
HIV
Kabupaten Merauke jauh sebelum program PMTS dikembangkan menjadi penguatan sistem kesehatannya untuk melakukan adaptasi terhadap program spesifik PMTS.
Hal ini seperti yang dinyatakan oleh Atun et al. (2009) bahwa sistem kesehatan yang kuat akan menentukan proses integrasi program penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan yang ada. Implementasi kebijakan desentralisasi oleh dinkes untuk penanggulangan IMS dengan pembentukan unit pelaksana teknis menjadikan efektivitas PMTS lebih terjamin dari berbagai aspek, meliputi ketersediaan sumber pembiayaan yang rutin dari APBD, ketersediaan tenaga kesehatan, dan perencanaan program PMTS yang sesuai dengan dinamika epidemi daerah. Komitmen pemenuhan ketercukupan pembiayaan daerah seperti di Kabupaten Merauke dipengaruhi oleh faktor keputusan politik dengan adanya sumber pendanaan dari Otsus. Hal ini dapat diadaptasi untuk daerah yang mengalokasikan anggaran kesehatan di atas 10% mendapatkan insentif dari pusat.
Di samping itu, faktor kepemimpinan dan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance) terbukti efektif dalam mengintervensi pencegahan HIV dan AIDS apabila setiap pemangku kepemimpinan menjalankan fungsi masing-masing secara maksimal (Kang et al. 2013). Hal ini ditemukan sama dengan penegakan regulasi Perda HIV yang signifikan terhadap peningkatan penggunaan kondom melalui konsistensi skrining dari yang dilakukan oleh petugas layanan (PKR dan unit-unit layanan primer) dan Pokja PMTS yang menjalankan sanksi untuk WPS yang tidak melakukan pemeriksaan kesehatan. Meski dari aspek perlindungan hak WPS masih menjadi perdebatan (debatable). Upaya penegakan kebijakan ini memengaruhi efektivitas pencegahan penularan HIV dan IMS melalui transmisi seks (Gurnani et al.,2011 ; Wilson, 2015). Penciptaan lingkungan yang kondusif seperti yang dilakukan oleh pemerintah
Kabupaten Merauke untuk mengambil inisiatif yang lebih moderat dengan tidak melakukan penutupan lokalisasi tetapi merelokasi ke tempat yang agak terpencil dapat menjadi alternatif yang bisa diadaptasi oleh daerah-daerah lain untuk memastikan bahwa program PMTS yang berbasis lokasi akan tetap mendapatkan perhatian dengan kepemimpinan yang visioner untuk pencegahan penularan HIV dan IMS.
Kemudian faktor teknis terkait manajemen kondom yang dilakukan melalui mekanisme berjenjang melibatkan multisek toral, mulai dari KPA dan PKR sebagai leading sector de ngan mengembangkan sis tem monitoring terpantau, me lalui pokja lokasi dan LSM me me nga ruhi cakupan konsis tensi penggunaan kondom pa da WPS yang relatif tinggi mendekati kebijakan kondom 100%.
Sis tem monitoring dan eva luasi yang baik yang dikem bang kan oleh PKR memengaruhi tingkat koor dinasi dan mengurangi
kompleksitas di antara berbagai kepentingan dan menjadi terkontrol ke dalam mekanisme sistem in for masi PKR (Kawonga et al., 2013).
Im ple mentasi monitoring jumlah distribusi dan penggunaan kondom menjadi kontrol ter hadap program PMTS sebagai bahan eva luasi perbaikan perencanaan pengadaan dan pendistribusian kondom serta pelicin ke populasi kunci. Kesiapan mekanisme mo nitoring dan evaluasi untuk program PMTS dengan mengembangkan sistem dan kapasitas sumber daya tenaga yang di persiapkan untuk melakukan kegiatan yang terintegrasi di sistem kesehatan cukup stra tegis.
Faktor mobilisasi sumber pembia ya an daerah melalui APBD yang berke si nam bung-an untuk pembiayabung-an semua pilar utama, baik dari koordinasi pemangku kepentingan, pengadaan kondom dan pelicin, perubah-an perilaku dperubah-an tata laksperubah-ana IMS meme-nga ruhi efektivitas PMTS. Konsekuensi dari kemandirian dalam pembiayaan ini kemudian berdampak pada pembiayaan
05 untuk peningkatan sumber daya kesehatan
dengan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan (Benatar, 2004). Mobilisasi sumber daya menjadi faktor paling menentukan, karena tanpa kemandirian finansial akan menjadikan keberlanjutan upaya pencegahan HIV dan IMS dalam menghadapi tantangan. Oleh karena itu, mobilisasi sumber lokal melalui pengembangan pajak-pajak progresif produk rokok menjadi salah satu kemungkinan yang bisa dikembangkan.
Di samping itu, kreativitas dari daerah untuk memanfaatkan peluang melalui kebijakan BLUD pada tingkat fasilitas layanan primer dapat menjadi kesempatan untuk melakukan peningkatan kapasitas tenaga layanan PMTS dari sektor komunitas atau peningkatan kapasitas tenaga-tenaga kesehatan di tingkat Puskesmas. PKR di Kabupaten Merauke secara rutin melakukan peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dari puskesmas untuk dapat memberikan layanan PMTS.
H.
Simpulan
Pencegahan HIV melalui Transmisi Seksual (PMTS) di Kabupaten Merauke yang terintegrasi dengan sistem kesehatan merupakan konsekuensi pengorganisasian secara struktural dan fungsional, melalui pengambilan kebijakan dalam bentuk perda dan operasionalisasi implementasi pada tingkat teknis dengan pembentukan PKR.
Komitmen politik pemda tersebut merupakan perwujudan dari kebijakan desentralisasi di tingkat daerah yang ditunjang dengan adanya alternatif pembiayaan lokal (otsus) untuk peningkatan status kesehatan masyarakat.
PKR secara fungsional mengelola penanggulangan HIV dan IMS melalui transmisi seks di Kabupaten Merauke. PKR
melakukan koordinasi multisektoral yang efektif pada fungsi-fungsi horizontal antar bidang di bawah dinas kesehatan melalui pembentukan unit pelaksana teknis PKR yang didukung oleh bidang P2, Puskesmas dan RSUD dalam manajemen tata laksana IMS secara komprehensif. Tata kelola fungsional ini disertai dengan mobilisasi sumber daya finansial untuk program PMTS untuk penyediaan layanan (service delivery). Dengan memperhatikan penerapan program PMTS di Kabupaten Merauke, pada dasarnya, adalah memperkuat peran layanan kesehatan dan “menarik” populasi untuk mendekatkan diri pada layanan. Ini menjadikan program PMTS bukan layanan yang semata berbasis lokasi, tetapi berbasis layanan primer yakni layanan IMS yang diberikan fasilitas kesehatan tingkat pertama di puskesmas dan rujukannya di PKR, dengan melibatkan sumber daya yang ada, sehingga menjadikan program ini lebih berkelanjutan.
Integrasi struktural ini dalam konteks koordinasi sumber daya seperti dalam pengadaan dan pendistribusian alat pencegahan penularan HIV dan IMS dengan kondom, PKR berkoordinasi dengan KPAD selaku penanggung jawab pelaksanaan distribusi kondom dari pusat.
Integrasi struktural ini ditunjang dengan peraturan peningkatan peran KPA sebagai lembaga yang memiliki kewenangan dalam mengelola upaya pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS.
Sebagai konsekuensinya faktor-faktor kepemimpinan dan komitmen pemerintah lokal yang disertai dengan penyediaan sumber daya pada tingkat daerah memengaruhi efektivitas dari kinerja penyedia layanan untuk PMTS, baik sektor kesehatan maupun lingkungan sosialnya. Oleh karenanya, PMTS di Kabupaten Merauke mendapatkan jaminan keberlanjutan melalui integrasi dengan sistem kesehatan yang ada, baik secara
“PKR melakukan koordinasi multisektoral yang efektif pada fungsi-fungsi horizontal antar bidang di bawah dinas kesehatan melalui pembentukan unit pelaksana teknis PKR yang didukung oleh bidang P2, Puskesmas dan RSUD dalam manajemen tata laksana IMS secara komprehensif.”
fungsional maupun struktural, melalui PKR yang menjadi unit pelaksana teknis sebagai bagian dari SKPD terkait.
Efektivitas program PMTS di Merauke dipengaruhi oleh komitmen pemerintah, melalui pengalokasian dana yang besar untuk penanggulangan HIV dan IMS lewat pendanaan APBD.
Program PMTS merupakan inisiatif lokal dengan membentuk unit kelembagaan yang secara khusus menangani HIV dan IMS. Dengan kewenangan yang dimilikinya, memungkinkan PKR mengintegrasikan program PMTS dengan berbagai pemangku kepentingan daerah.
Integrasi yang terjadi adalah bentuk koordinasi dari para pemangku kepentingan yang dilakukan oleh PKR. Oleh karena itu menjadikan PKR sebagai unit yang melakukan upaya kesehatan masyarakat, khususnya untuk pencegahan HIV dan IMS.
I.
Rekomendasi
Agar dapat direplikasi di daerah lain, faktor-faktor yang memengaruhi efektifitas PMTS di Kabupaten Merauke adalah sebagai berikut:
Pengembangan kebijakan PMTS diintegrasikan ke dalam sistem kesehatan di berbagai daerah melalui pembentukan unit alternatif oleh dinas kesehatan yang secara
fungsional dapat dioptimalkan keberlanjutannya. Mekanisme yang bisa dilakukan adalah menempatkan PMTS sebagai bagian dari unit layanan di bawah dinkes seperti puskesmas yang terintegrasi dengan pendekatan LKB, melalui Keputusan Dinkes dengan pemberian kewenangan untuk melakukan perencanaan, penganggaran, dan monitoring dan evaluasi.
Menguatkan kepemimpinan daerah, dalam hal ini dinkes, untuk berani mengambil kebijakan alternatif mewujudkan berbagai keputusan atau payung hukum yang sudah ada terkait dengan pencegahan HIV dan IMS melalui transmisi seksual.
Mekanisme yang dapat ditempuh adalah dengan integrasi
struktural layanan PMTS sebagai bagian dari layanan komprehensif berkelanjutan (LKB) dengan penataan pengelolaan yang mandiri dengan sumber pembiayaan dari APBD.
Pengembangan kapasitas sumber daya kesehatan daerah melalui berbagai pelatihan untuk peningkatan kapasitas dan peningkatan jumlah SDM kesehatan tingkat puskesmas oleh dinkes dengan mekanisme pendanaan yang jelas
bersumber dari pembiayaan daerah. Kemampuan teknis ini termasuk dalam melakukan pencatatan dan pelaporan yang standar untuk pemantauan perkembangan PMTS di daerah sebagai bagian dari mekanisme dalam sistem kesehatan umum.
05 Pemda didorong oleh masyarakat sipil
untuk tidak menutup lokalisasi. Kebijakan ini menjadikan program PMTS yang berbasis lokasi tetap berjalan. Mempertahankan lokalisasi daerah dapat mengembangkan model penanggulangan PMTS yang berbasis lokasi. Kebijakan ini perlu didukung dengan komitmen dari semua pihak khususnya untuk jaminan pembiayaan melalui APBD.
Daftar Pustaka
Atun, R. et al. 2010. “Integration of Targeted Health Interventions into Health Systems: a Conceptual Framework for Analysis”. Health Policy and Planning.
23: 104-111.
Beck et al. (2006). The HIV Pandemic: Local and Global Implications. New York and London: Cambridge University Press.
Benatar Salomon R. 2004. “Health Care Reform and the Crisis of HIV and AIDS in South Africa”. The New England Journal of Medicine. 351 : 81-92.
Coker R et al. 2010. “Conceptual and Analytical Approach to Comparative Analysis of Country Case Studies:
HIV and TB Control Programmes and Health Systems Integration. Oxford University Press in Association with the London School of Hygiene and Tropical Medicine”. Health Policy and Planning. 2010:25:i21-i-31 Departemen Kesehatan RI (2009) Analisis Kecenderungan Perilaku Berisiko Terhadap HIV Di Indonesia. Laporan Survei Terpadu Biologi dan Perilaku Tahun 2007 Dirjen P2PL Kementerian Kesehatan RI (2014)Laporan
STBP 2013 Survei Terpadu Biologis dan Perilaku Dudley, L. and Garner, P. (2011). Strategies for Integrating
Primary Health Services in Low- and Middle-income Countries at the Point of Delivery (Review). The Cochrane Collaboration, 7.
Gurnani V., Beattie TS.,Bhattacharjee P.,CFAR Team.,Mohan HL.,Maddur Srinath.,Washington Reynold., Isac S., Ramesh BM.,Moses S., Blanchard J. 2011. “An Integration Structural Intervention to Reduce Vurnerability to HIV and Sexually Transmitted Infections Among Female Sex Workers in Karnataka State South India”. BMC Public Health. 11 : 755.
Kang D., Xiaorun Tau.,Meizhen Liao.,Jianzhou Li.,Na Zhang.,Xiaoyan Zhu.,Xiaoguang Sun., Bin Lin.,Shengli Su.,Lianzheng Hao.,Yujiang Jia. 2013. “An Integrated Individual, Community, and Structural Intervention to Reduce HIV/STI Risks Among Female Sex Workers in China”. BMC Public Health. 13 : 717.
Kawonga M, Fonn S, Blaauw D. 2013. Administrative Integration of Vertical HIV Monitoring and Evaluation into Health Systems: a Case Study from South Africa. Global Health Action, 6:19252 http://dx.doi.
org/10.3402/gha.v6i0.19252.
Komisi Penanggulangan Aids Nasional (2010) Strategi Rencana Aksi Nasional Penanggulangan HIV dan AIDS 2010-2014
Pinkerton S. and Abramson P. , 1997. “Effectiveness of condoms in preventing HIV transmission”. Social Science and Medicine, Volume: 44, Issue: 9, Pages:
1303-1312
Schwartländer, B., Stover J., Wolker N., Bollinger S., Gutierrez, J.P., Mcgreevy W., Opuni,M,, Forsythe S., Kumaranayake L., Watts, C., Bertozzi, S., (2001), Resource Needs for HIV/AIDS. SciencExpress/
www.sciencexpress.org/21 juni 2001/page1/ 10.1126/
science.1062876UNAIDS (2000). Evaluation of the 100
% Condom Program in Thailand.
World Health Organization (WHO). 2007. Everybody’s Business: Strengthening Health System to Improve Health Outcomes: WHO’s Framework for Action.
Geneva: WHO. Integrasi upaya penanggulangan HIV&AIDS-final version 34
Wilson David. 2015. HIV Program For Sex Workers:
Lessons and Challenges For Developing and Delivering Programs. PLOS Medicine. 12 (6) : e1001808.
Website
Papua.bps.go.id/linkTableStatis/View/id/35