• Tidak ada hasil yang ditemukan

Konteks Perubahan Pemerintahan

diikuti dengan pelaksanaan kebijakan baru tentang pendanaan pembangunan di ting kat pusat, provinsi, dan kabupaten/kota. Pe-ne rapannya dibarengi pula desentralisasi ke sehatan sebagai konsekuensi dari de-sen tralisasi secara politik yang menjadi inti Undang-Undang (UU) No. 22/1999 (Trisnantoro, L. 2007). Desentralisasi mem -berikan kewenangan yang lebih be sar kepada pemerintah daerah untuk me nen-tukan prioritas pembangunan di daerahnya.

Di beberapa daerah, masalah kesehatan belum mendapat perhatian dan pendanaan yang cukup, karena kapasitas daerah me-la kukan penime-laian permasame-lahan kesehatan dan analisis kebutuhan masih kurang dan bervariasi di tiap-tiap daerah. Hal ini ditunjukkan misalnya dari tidak adanya dana yang disediakan pemerintah daerah untuk membuat sistem surveilans yang merupakan dasar menyusun strategi penanggulangan suatu penyakit di daerah (WHO, 2008).

Selain itu, cara pandang mengenai tata kelola pemerintah daerah yang cen de rung terpusat dan membatasi dalam mengem-bang kan perencanaan daerah.

pada perlakuan yang sama dan adil pada ODHA;

pertemuan the United Nations Millennium Summit pada September 2000, pemerintah Indonesia menandatangani the Millennium Declaration sebagai komitmen pemerintah untuk bekerja mencapai tujuan the UN Millennium Development Goals (MDGs) yang memasukkan HIV dan AIDS dalam pencapaian tujuan keenam. Selanjutnya, tahun 2001, pemerintah Indonesia menandatangani the Declaration of Commitment of the UN General Assembly Special Session on HIV/AIDS (UNGASS) dengan 11 butir kesepakatan. Pada tahun yang sama, Indonesia juga menandatangani komitmen Menteri-Menteri Asia Pasifik tentang HIV/AIDS pada tahun 2001, komitmen deklarasi Para Kepala Negara Asean tentang HIV/AIDS tahun 2001, deklarasi Inter Parliamentary Union tentang HIV/AIDS 2001.

multisektoral sehingga kebijakan terkait de ngan masalah ini menjadi sangat luas.

Kajian ini hanya membatasi pada konteks sis tem kesehatan di Indonesia sehingga tidak mampu memberikan gambaran mendalam mengenai kebijakan HIV dan AIDS di luar sektor kesehatan.

B.

Perkembangan Kebijakan Penanggulangan HIV & AIDS di Indonesia

Konteks Perubahan Pemerintahan

Di era Orde Baru, respons kebijakan pemerintah Indonesia terhadap epidemi HIV dan AIDS di tingkat nasional dimulai dengan keluarnya Keputusan Presiden (Keppres) No. 36/1994 tentang pembentukan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) sebagai badan koordinasi da lam penanggulangan HIV dan AIDS. Per tim-bang an keluarnya keputusan ini adalah respons terhadap kondisi global untuk pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS serta dorongan dari lembaga internasional melalui Perserikatan Bangsa-Bangsa, yang dalam sidangnya pada Oktober 1987 mencanangkan strategi global pencegahan dan penanggulangan HIV dan AIDS yang diajukan oleh WHO pada tahun 1985/1986.6 Boleh dikatakan bahwa komitmen pemerintah terhadap penanggulangan HIV dan AIDS lebih banyak karena pengaruh kampanye di tingkat global dibandingkan dengan kesadaran teknokratis atau dorongan dari masyarakat sipil.7 Demikian juga di kalangan organisasi

6) Lihat: Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 1994 tentang Komisi Penanggulangan AIDS.

7) Contoh dari “tekanan” internasional ini antara lain kesepakatan Paris Summit 1994 yang menitikberatkan

Untuk meningkatkan efektivitas koordi-na si pekoordi-nanggulangan HIV dan AIDS, ma ka pada 2006 KPA melakukan revital i sa si melalui Peraturan Presiden No. 75/2006 yang semakin menegaskan ko mit men pe-me rintah Indonesia dalam penang gu lang-an HIV dlang-an AIDS. Anggota KPAN menurut Perpres ini terdiri dari 12 Menteri, Sekretaris Kabinet, Panglima TNI, Kepala Kepolisian Negara RI, 3 Kepala Badan, Ketua Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia; Ketua Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia;

Ketua Palang Merah Indonesia; Ketua Kamar Dagang dan Industri; Ketua Organisasi ODHA Nasional. Sedangkan Wakil Ketua 1 adalah Menteri Kesehatan dan Wakil Ketua 2 adalah Menteri Dalam Negeri. Implikasi dari perubahan struktur KPAN ini adalah pada keterlibatan dan kebijakan yang dikeluarkan oleh kementerian dan badan yang menjadi anggota KPAN.

Lahirnya Permendagri No. 20/2007 tentang Pedoman Umum Pembentukan Ko misi Penanggulangan AIDS dan Pember-da yaan Masyarakat Pember-dalam Rangka Pe-nang gulangan HIV dan AIDS di daerah meru pa kan salah satu bentuk komitmen Ke men terian Dalam Negeri untuk mengatasi perma sa lahan HIV dan AIDS melalui kepe-mimpinan daerah. Dalam Permendagri ini, dicantumkan organisasi KPA tingkat provinsi/

kabupaten/kota, tugas dan tanggung jawab, serta sumber pendanaan penanggulangan HIV dan AIDS di daerah. Merespons ke bu-tuh an pendanaan di daerah, KPA Nasional melalui Menteri Dalam Negeri menetapkan kebijakan Permendagri No. 13/2006, yang kemudian dilakukan perubahan pa da Per mendagri No. 59/2007 tentang Penge-lolaan Keuangan Daerah sebagai dasar pengelolaan perencanaan dan pengang gar-an. Pertemuan pembahasan pelaksanaan penganggaran ini telah dimulai pada tahun 2007. Sebagai dampaknya, kontribusi pen-da naan yang bersumber pen-dari pemerintah se makin meningkat dari 22.37% tahun 2004, menjadi 39.03% pada 2008 (KPAN, 2011).

Salah satu pembelajaran penting dalam merespons HIV dan AIDS adalah desentralisasi, penyerahan urusan

pemerintahan dari pusat ke daerah. Ini bukan hal yang mudah. Sering terjadi tumpang tindih atau kekosongan dalam pembagian urusan. Akibatnya, sistem kesehatan menjadi sulit dikelola. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan sistem kesehatan yang harmonis dengan kebijakan desentralisasi untuk meningkatkan status kesehatan masyarakat. Sistem kesehatan nasional (Perppres No. 72/2012 Pasal 1 angka 2) menunjukkan, pengelolaan kesehatan diselenggarakan oleh semua komponen bangsa Indonesia secara terpadu dan saling mendukung guna menjamin tercapainya derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, serta bersifat berjenjang di pusat dan daerah dengan memperhatikan otonomi daerah dan otonomi fungsional di bidang kesehatan.

Berdasarkan kerangka desentralisasi seperti itu, maka program penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia secara nyata masih menghadapi dua tantangan. Pertama, secara internal dalam sistem kesehatan, yaitu keterpaduan antara kebijakan, perencanaan, dan penganggaran, serta pelaksanaan. Kedua, lemahnya sinergi dalam penyusunan program kesehatan dengan sektor lain, contoh program pendidikan HIV dan AIDS atau kesehatan reproduksi bagi remaja di sekolah belum sinergi antara sektor kesehatan dengan sektor pendidikan.

Dalam konteks desentralisasi, seperti dilaporkan oleh PKMK FK UGM (2009), terdapat gejala belum padunya perencanaan pusat dan daerah, misalnya dalam penentuan target program HIV dan AIDS yang masih mengacu pada target pusat. Padahal seharusnya target dan perencanaan di daerah menyesuaikan dengan situasi epidemi, sumber daya di daerah. Di dalam lingkup proses

01 Pengembangan kebijakan daerah

secara umum belum dirasakan manfaatnya oleh kelompok penerima manfaat. Perda terkait HIV dan AIDS yang dihasilkan di berbagai provinsi dan kabupaten/kota sampai sekarang terasa kurang bergigi. Ada anggapan bahwa ada atau tidak ada perda, program penang gulangan HIV dan AIDS tetap berjalan seperti biasa. Sebelum terbit perda, pro gram penanggulangan HIV dan AIDS sudah berjalan dan ham pir memenuhi harapan. Sedangkan setelah terbitnya perda, tidak ada peningkatan kualitas layanan yang berarti bagi penerima manfaat program.

Proses pengembangan kebijakan belum bisa mewakili kepentingan po pulasi kunci, melainkan hanya demi kepentingan elite.

Proses implementasi kebijakan dan pro ses evaluasi belum berjalan sesuai harapan. Ini semua berdampak pada efektivitas ke bijakan terhadap populasi pe ne rima manfaat.

Bahkan perda HIV belum bisa menjadi jaminan untuk penyediaan dana khusus un tuk penanggulangan HIV dan AIDS dari APBD. Ironisnya, KPAD masih bergantung pada dana hibah, yang besarannya bergantung pada kepedulian dari Gubernur/

Walikota/Bupati.

Secara umum, kelemahan mendasar dalam respons ter ha dap HIV dan AIDS adalah ke cen derungannya bertumpu pada aksi kebijakan dan ke lem bagaan saja, yaitu pembentukan KPA daerah, pe-nyusunan peraturan daerah atau pedoman pelaksanaan; na mun lemah terkait dengan kapasitas implementasi kebi jak an. Hal ini sesuai de ngan pengamatan Prof. Lant Pritchett dari Harvard Kennedy School yang disampaikan dalam laporan kertas kerjanya (2014) bahwa permasalahan pokok pembangunan di negara berkembang adalah pada tahapan implementasi.

Selanjutnya Prof. Pritchett menyatakan bahwa kita sering kali memilih teknik

“Isomorphic Mimicry” seperti yang

dilakukan oleh ular jenis Scarlet King Snake perencanaan ada kesulitan untuk mengubah

pola pikir dari ”project oriented” atau

”budget oriented” kepada ”performance based-budgeting”. Faktor lain adalah terbatasnya SDM yang dapat menunjang upaya perencanaan pembangunan kesehatan, serta tidak lancarnya pelaporan kegiatan dan pengembangan yang bertujuan meningkatkan mutu perencanaan pembangunan kesehatan

Respons penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia sampai saat ini masih berjalan dengan menggunakan pendekatan vertikal, meskipun tata kelola pemerintahan sudah terdesentralisasi. Pendekatan vertikal pada program penanggulangan HIV dan AIDS terjadi sejak awal masuknya HIV dan AIDS di Indonesia sebagai bentuk respons darurat. Saat ini, situasi epidemi sudah bergeser. Respons penanggulangan HIV dan AIDS seharusnya sudah beralih menggunakan pendekatan horizontal, yang mengedepankan kebutuhan daerah serta menjaga keberlangsungannya. Namun hal ini belum terjadi, ditunjukkan dari pengalaman daerah dalam menyikapi penanggulangan HIV dan AIDS yang masih cenderung menunjukkan pendekatan vertical, seperti rencana strategi daerah provinsi tentang pencegahan HIV dan AIDS dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) kabupaten/kota.

Di tingkat kabupaten/kota juga terlihat jelas bagaimana respons pemerintah kota dan kabupaten cenderung hanya mengikuti apa yang dibuat di tingkat nasional. Contoh, jika di tingkat pusat ada kesepakatan Sentani, di tingkat provinsi ada banyak kesepakatan lintas kabupaten/kota yang dibuat. Selain itu, target program di daerah juga mengikuti target nasional, bukan berdasarkan situasi epidemi di daerah. Padahal tujuan desentralisasi pada hakikatnya adalah mendekatkan pembuat kebijakan dengan masyarakat melalui kebijakan yang disusun di tingkat provinsi atau kabupaten/kota.

(Lampropeltis elapsoides) yang tidak berbisa—dengan mem-pu nyai belang yang mirip ular Eastern Coral Snake (Micrurus fulvius) yang sangat berbisa.

Ular Scarlet yang tidak berbisa ini, dengan penampakan seperti ular yang berbisa, dapat menipu mu suhnya. Teknik “seolah-olah berbisa” ini juga banyak di-pakai dalam merespons tan-tang an pembangunan dengan membentuk lembaga baru, me ngeluarkan kebijakan, mengeluarkan komitmen ber-sa ma, dan sebagainya; seolah-olah dengan semua respons ini tampak kelihatan merespons de-ngan baik. Namun semua hal ini tidak efektif karena kemampuan ke lembagaan dan kapasitas im plementasi dari kebijakan dan pro gram masih rendah (Prichett, Lant., Woolcock, Michael., Andrews, Matt., 2012).

Penelitian sebagai