Situasi Program Pencegahan HIV & AIDS
1. Pencegahan Penularan Melalui Transmisi Seksual - WPS
Dari hasil studi kasus tentang integrasi penanggulangan HIV dan AIDS ke dalam sistem kesehatan dan efektifitas penanggulangan HIV dan AIDS di
daerah, yang dilakukan oleh PKMK FK UGM bekerjasama dengan 9 universitas di 8 provinsi, pelaksanaan pencegahan HIV dan AIDS melalui Program PMTS di Medan, Kupang dan Merauke mengacu pada pedoman nasional yang dikeluarkan KPAN tahun 2014, yakni pedoman PMTS paripurna dengan komponen program terdiri dari:
peningkatan peran positif pemangku kepentingan, komunikasi perubahan perilaku, manajemen pasokan kondom dan pelicin, serta penatalaksanaan IMS dan HIV.
Gambaran pelaksanaannya sebagai berikut:
Peningkatan peran positif pemangku kepentingan dalam PMTS WPS dirancang
Tabel 4. Prevalensi Kasus AIDS Tahun 2015 di Provinsi Wilayah Penelitian
Sumatera Utara
40,27
Sumber: Dirjen P2M dan PL, Kemenkes 2015
DKI Jakarta
84,23
Jawa Timur
36,35
Nusa Tenggara Timur41,14
Bali
152,18
Papua
470,39
02 dari pusat dengan pendekatan struktural
untuk WPS di lokalisasi, sehingga dalam pelaksanaannya terjadi bias di lapangan ketika daerah memberlakukan kebijakan yang tidak pro-lokalisasi. Misalnya, pemerintah Kota Medan tidak mengakui adanya lokalisasi di kota ini. Akibatnya, pendekatan Pokja Lokasi sebagai pendekatan untuk meningkatkan peran pemangku kepentingan di lokalisasi, tidak relevan di daerah yang tidak pro.
Namun demikian, ditemukan inovasi dari pemerintah daerah Kota Medan dengan membuat Pokja PMTS tidak di lokalisasi, tetapi disebut dengan Pokja Kota dalam pencegahan HIV dan AIDS di Medan. Pokja Kota ini dikoordinir oleh KPAK dengan melakukan pertemuan rutin membahas isu-isu penting dalam pelaksanaan program PMTS. Isu-isu bahasan dalam pertemuan itu, antara lain pasokan kondom, koordinasi dengan anggota KPAK, hambatan pelaksanaan pokja, seperti razia yang dilakukan Satpol PP dan keberlanjutan akses ART untuk WPS yang kena razia Satpol PP.
Fungsi KPA dalam hal ini memastikan agar hambatan-hambatan yang ditemui dalam pelaksanaan Pokja Lokasi bisa diselesaikan dengan membicarakannnya bersama saat rapat koordinasi dan ada kesepakatan penyelesaiannya dengan pemangku kepentingan.
Pokja PMTS membuat kesepakatan dengan pemangku kepentingan untuk meningkatkan pelaksanaan PMTS terkait dengan hambatan adanya razia WPS oleh kepolisian dan Satpol PP.
Kepolisian dan Satpol PP di Medan, Merauke, dan Kupang sebenarnya merupakan bagian dari pokja PMTS dengan tujuan agar mereka tidak menghambat kegiatan PMTS pada WPS. Dengan keterlibatan kepolisian di Medan, kepemilikan kondom sudah tidak lagi digunakan sebagai alat bukti untuk melakukan penangkapan WPS. Satpol
PP masih melakukan tugasnya merazia, tetapi di Medan mereka menunjukkan dukungannya dengan tidak merazia tempat hiburan yang melaksanakan PMTS. Sedangkan tempat hiburan yang tidak mendukung pelaksanaan PMTS tetap dirazia dengan harapan mereka dapat mendukung.
“Jadi istilahnya kalo semua tempat itu dirazia, akhirnya kan agak menyulitkan kita juga gitu.
Jadi justru yang sebenarnya dirazia itu tempat-tempat yang nggak bisa kita ajak kerjasama.
Aaa, kan jadi umpamanya ada satu tempat, ini nggak bisa diajak kerjasama, ya razia terserah.
Tapi kalau dia mau ya, janganlah.” (KPA Kota Medan – Tim Peneliti USU, September 2015).
Komunikasi Perubahan Perilaku (KPP) dilakukan melalui pendekatan Kelompok Dukungan Sebaya (KDS) dan kader lokasi. LSM berperan meningkatkan pelatihan komunikasi pada KDS dan kader lokasi melalui pelatihan yang dikoordinasikan dengan KPAK. KDS adalah WPS yang bisa menjadi pendidik atau role model bagi kelompoknya dalam hal berperilaku aman. KDS dapat menjadi pendidik yang efektif. Mereka biasanya dilatih oleh KPA atau oleh LSM yang berkoordinasi dengan KPA.
Sedangkan kader lokasi adalah orang penting di lokasi hot spot atau tempat lokalisasi, semisal mucikari atau pemilik losmen atau pemilik penginapan di sekitar lokalisasi.
Manajemen pasokan kondom dan pelicin di Medan, Merauke, dan Kupang dikelola oleh KPAN dengan mekanisme pen dis tribusian melalui KPAD, yang ke-mu dian diteruskan ke layanan di LSM atau di outlet kondom. Saat penelitian dila kukan, akses kondom dapat diper-oleh dari kondom subsidi yang dikelola oleh KPAN, dengan mekanisme dis tri-busi melalui KPAD ke LSM, outlet kon-dom, pendidik sebaya, dan petugas
pen jangkau dari LSM. Salah satu upaya KPAN untuk mendistribusikan kondom agar mudah diakses oleh WPS adalah de ngan membuat outlet kondom seperti yang terdapat di Merauke ada 89 outlet kondom, di Medan 158 outlet, dan di Kupang sebanyak 28 outlet kondom.
Untuk memudahkan akses, outlet kon-dom ini dibuat di dekat hot spot agar WPS dan pelanggannya mudah mendapatkan kondom yang bersubsidi.
Selain kondom bersubsidi, di Merauke ditemukan penyediaan kon-dom mandiri yang dikelola dalam ben tuk koperasi, yang pengadaannya dila kukan secara mandiri oleh pokja lo kalisasi. Pengelolaan kondom man diri ini dilakukan untuk mengurangi keter gan-tung an WPS pada kondom subsidi.
“Kita ada punya program kondom mandiri di lokalisasi Yobar, artinya bahwa itu kita diskusi, kita sepakatkan bahwa ada pendistribusian kondom, terus kemudian ada salah satu wisma di sana kita beri tanggung jawab, dia yang akan menjual kondom sutra, dengan harga sesuai dengan di apotek, lebih murah dari itu.
Kita mengantisipasi supaya kebutuhan kondom yang diinginkan mereka tetap ada di lokalisasi Yobar. Kedua mereka tidak keluar dari Yobar.
Dan juga yang ketiga, bahwa dengan adanya kondom mandiri dengan mereka beli kita punya cadangan mengantisipasi kalau nanti program kondom dari KPA nasional ini hilang.” (Sekretaris KPA Kabupaten Merauke – Tim Peneliti Uncen, Juli 2015).
Penatalaksanaan IMS dan HIV menjadi tanggung jawab dinas kabupaten/
kota untuk menyediakan layanan pemeriksaan dan pengobatan IMS dan layanan tes HIV sesuai kebutuhan WPS.
Kader atau petugas lapangan berperan sebagai pendamping dan merujuk WPS yang memerlukan layanan. Di Medan, kader dan petugas lapangan merujuk ke Puskesmas Padang Bulan. Puskesmas menerima rujukan pasien WPS dari LSM dan puskesmas juga merujuk ke rumah sakit untuk layanan lanjutan apabila
diperlukan. Puskesmas dan rumah sakit bertanggungjawab melaporkan kepada dinas kesehatan kota tentang berapa pasien yang dilayaninya, tetapi puskesmas tidak melapor kepada KPAK.
Di Merauke dan Medan, puskesmas pun melakukan kegiatan mobile clinic untuk pengobatan IMS, KTS mobile ke lokasi-lokasi hot spot bekerjasama dengan petugas penjangkau dari LSM.
Di Medan, selama 2014, jumlah WPS yang berkunjung ke layanan IMS sebanyak 2.034, yang dites sifilis 1.233, ditemukan kasus IMS sebanyak 1.127, dan yang diobati 891 (Dinkes Kota Medan, 2014). Dinas kesehatan me nar-get kan pengobatan 100% bagi kasus yang ditemukan. Dengan demikian, kesenjangan antara yang diobati dengan kasus yang ditemukan menunjukkan bah wa target belum tercapai. Tes dan perawatan IMS juga menjadi pintu un-tuk merujuk pasien ke klinik KTS. Ada 1.648 atau 81% dari WPS yang datang ke layanan IMS yang kemudian dirujuk un tuk mendapatkan tes HIV (Dinkes Kota Medan, 2014).
Dilihat dari sisi efektivitasnya, pro-gram WPS di Sumatera Utara telah men cakup 48% populasi WPS yang dipetakan. Sementara itu di Merauke sebesar 97% dan di Kupang sebesar 75,3% (STBP, 2007). Sedangkan cakupan program berdasarkan data dari sistem informasi PKBI di Sumatera Utara sebesar 61,4%. Dilihat dari perubahan perilaku, indikasinya bisa dilihat dari WPS yang melaporkan selalu menggunakan kondom di minggu terakhir 65,6 % di Papua dan 16% di Deli Serdang, Sumatera Utara (STBP, 2007). Rendahnya cakupan program di Sumatera Utara dan di se-bab kan oleh sulitnya menjangkau WPS karena tidak ada lokalisasi, sedangkan di Merauke dan Kupang masih tersisa sejumlah lokalisasi.
02 2. Pencegahan Penularan Melalui
Transmisi Seksual - LSL
Program pencegahan HIV dan AIDS melalui transmisi seks pada kelompok LSL, pada praktiknya, lebih dikenal dengan nama program LSL. Pada awalnya, program ini diinisiasi oleh para LSL dengan aktivitas melakukan edukasi, informasi, dan komunikasi perubahan perilaku, serta advokasi ke pemerintah untuk menyediakan layanan yang dibutuhkan oleh LSL. Upaya LSL mengadvokasi pemerintah membuahkan hasil dalam bentuk terse dia nya layanan IMS, layanan HIV dan AIDS untuk LSL di fasilitas layanan kesehatan di puskesmas dan rumah sakit.
Program pencegahan HIV dan AIDS menjadi per hatian pemerintah pu sat karena peningkatan prevalensi HIV dan IMS yang cukup signifikan pada LSL. Kebijakan program LSL mengacu pada kebijakan penanggulangan HIV dan AIDS, baik yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat mau pun pemerintah daerah. Aktivitas program LSL berupa penjangkauan, pemberian edukasi, informasi dan ko mu nikasi perubahan perilaku agar para LSL mengurangi perilaku berisiko menularkan atau tertular IMS dan HIV. Sebagai program yang awalnya diinisiasi oleh LSL maka wadah kegiatan LSL ada di LSM, semisal Gaya Nusantara (Surabaya) dan Gaya Dewata (Denpasar, Bali). Kedua LSM ini adalah motor penggerak kegiatan LSL di daerah masing-masing, bahkan berperan sangat diperhitungkan dalam jaringan lembaga yang melaksanakan program ini di Indonesia. Sumber daya LSM ini adalah para LSL dan sesuai dengan tu juan pendiriannya untuk memberdayakan LSL.
Hal yang menarik adalah kemampuan LSM LSL memobilisasi sumber dana dan sumber daya melaksanakan program LSL di lembaganya. LSM LSL mampu
memobilisasi sumber dana dari MPI, seperti Global Fund (GF), AusAID dan USAID lewat program Aksi Stop AIDS (ASA), Scaling Up for Most-At-Risk Populations (SUM) I dan SUM II.
Dalam kegiatannya, LSM LSL ini menjadi mitra puskesmas dalam memberikan layanan kepada LSL, dengan melakukan penjangkauan dan pendampingan kepada LSL dan merujuk mereka yang membutuhkan layanan ke fasilitas layanan kesehatan. Selain itu, LSM LSL juga aktif memberikan pendidikan ke komunitas dan panti-panti pijat agar mereka mendukung pemakaian kondom dan pelicin ketika melakukan hubungan seks. Contoh, LSL Gaya Nusantara di Surabaya membuat perjanjian dengan para pemilik panti pijat agar mereka menyosialisasikan pemakaian kondom dan pelicin serta mengajak LSL untuk melakukan tes HIV.
Untuk melihat efektivitas program LSL, ada dua sumber data yang digunakan yakni data Survei Terpadu Biologi dan Perilaku/STBP (2007) dan STBP (2011) untuk Kota Surabaya dan data program untuk program LSL di Denpasar karena ibu kota Bali ini tidak termasuk wilayah STBP. Di Surabaya, cakupan program mulai dari pertama kali dikontak oleh petugas hanya 36% (2007) dan 25% (2011) dan perubahan perilaku dengan selalu menggunakan kondom saat hubungan seks anal dengan pelanggan laki-laki dalam 1 minggu terakhir hanya 31% (2007) dan 38,5% (2011). Di Denpasar, tidak ada data terkait perubahan perilaku, tetapi dari sisi cakupan berdasarkan data dari KPA Kota Denpasar (2014) masih rendah, yakni LSL yang mendapatkan informasi sebesar 15%, yang mendapat layanan konseling IMS sebesar 17,4 %. Kinerja program ini masih di bawah target yang ditentukan dalam SRAN 2010 -2014, yaitu sebesar 45% untuk 2011 dan sebesar
80% tahun 2014. Untuk perubahan perilaku, target nasional mencakup 60%
program perubahan perilaku LSL. Salah satu penyebab dari rendahnya cakupan program adalah kurangnya pelaksana program dan kecilnya dukungan pemerintah. Masing-masing di Surabaya dan Denpasar hanya ada satu LSM yang melaksanakan program LSL.
3. Pengurangan Dampak Buruk Napza