• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pendukung sejati Model 1 adalah mereka yang berafiliasi dengan partai-partai politik Islam.10 Masyumi pascakemerdekaan adalah partai yang paling keras menganut model tersebut. Jadi tidaklah meng herankan bahwa formulasi teoretis model itu sebagian besar dikon sepkan oleh pemimpin partai ini.

Mohammad Natsir (1908-1993) adalah teoritikus paling penting model ini. Dia bukan hanya orang yang memperkenalkan istilah “Negara Demokrasi Islam”, tapi juga pemimpin yang paling konsisten mendukung gagasan itu. Natsir adalah pemikir, bukan hanya politikus. Dia telah menulis tentang isu politik sejak masih belajar

di Bandung. Dia mendapatkan pendidikan formal di Algemeene Middelbare School (AMS), sekolah menengah atas Belanda, tapi belajar Islam secara informal dari Ahmad Hassan (1887-1962), pemim pin karismatik Persatuan Islam (Persis). Walaupun hanya lulusan AMS, Natsir adalah otodidak brilian. Dia menguasai enam bahasa asing: Latin, Belanda, Jerman, Prancis, Inggris, dan Arab.11

Natsir tidak pernah menulis buku. Namun, artikel-artikelnya, yang dia tulis sejak muda, telah dihimpun ke dalam beberapa buku. Koleksi dua volume, Capita Selecta, tak pelak lagi adalah karyanya yang paling penting. Dari 1949-1958, Natsir mengetuai Masyumi dan pada 1950 menjadi Perdana Menteri.

Zainal Abidin Ahmad (1911-1983) adalah teoritikus lain model ini. Seperti halnya Natsir, dia secara politik berafiliasi dengan Masyumi. Dia lahir di Minangkabau dan belajar dari ayah Hamka, Hadji Rasul, di Padang Panjang. Pada 1935, dia menyunting majalah Pandji Islam. Dibawah suntingannyalah debat intelektual antara Soekarno dan Natsir terjadi. Ahmad lebih akademikus daripada politikus. Dia menulis beberapa buku dan sangat terlibat dalam berbagai lembaga pendidikan. Pada tahun-tahun terakhirnya, dia memegang jabatan rektor Perguruan Tinggi Ilmu al-Qur’an (PTIQ), perguruan tinggi bergengsi studi Alquran di Jakarta. Mungkin karena asosiasinya yang kuat dengan kehidupan akademis, dia termasuk di antara sedikit pemimpin Masyumi yang tidak dihukum penjara oleh Soekarno. Ahmad sangat berminat pada filsafat politik dan terutama menulis tentang pemikiran politik. Karyanya yang paling berpengaruh, Membentuk Negara Islam, adalah cetakbiru konseptual model Negara Demokrasi Islam.

Teoritikus lain lagi adalah Sjafruddin Prawiranegara (1911-1989). Dia lahir di Serang, Banten, dari keluarga santri aristokratik. Ayah-nya adalah ambtenaar (pejabat pangreh praja) kolonial dan agak terpengaruh budaya Barat. Seperti Natsir, Prawiranegara belajar di AMS di Bandung dan kemudian RHS (Rechts Hoge School), sekolah hukum Belanda, di Jakarta. Walaupun lulus di bidang Hukum— dan lebih tertarik pada sastra—Prawiranegara diminta bekerja di Departement van Financien (Departemen Keuangan) dan memegang

jabatan di kantor pajak. Pengetahuan Prawiranegara akan keuangan dan ekonomi sangat mungkin berasal dari pengalamannya di kantor ini. Setelah kemerdekaan, dia diangkat menjadi Menteri Keuangan pada kabinet ketiga Sjahrir (1946). Dia dikenal sebagai inisiator mata uang nasional pertama (ORI, Oeang Republik Indonesia). Setelah menduduki beberapa jabatan kementerian yang lain, Prawiranegara ditunjuk sebagai direktur pertama Bank Indonesia. Peran penting politiknya yang lain adalah: kepala Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada 1948 dan kepala Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada 1958. Selain aktivitas politiknya yang padat, Prawiranegara adalah penulis produktif. Dia menulis sejumlah buku dan berbagai artikel tentang Islam dan isu ekonomi.

Pemimpin-pemimpin terkenal Masyumi seperti Mohamad Roem (1908-1983), Abu Hanifah (1906-1981), Hamka (1908-1981), dan Mohammad Rasjidi (1915-2001) juga berperan dalam perumusan Model 1. Roem dikenal sebagai diplomat cakap yang meningkatkan profil Masyumi. Dia memegang berbagai posisi di beberapa kabinet dan menulis tentang isu-isu sosial dan politik di media nasional. Tulisan-tulisannya sebagian dihimpun menjadi empat volume ber-ju dul Bunga Rampai dari Sejarah. Abu Hanifah adalah sosialis religius dan juga dikenal sebagai praktisi medis. Dia menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada Kabinet Hatta (1949), dan menulis beberapa buku tentang isu politik dan agama. Hamka adalah salah satu ideolog utama Masyumi. Dia dikenal baik sebagai novelis maupun ulama. Selama 50 tahun dia menulis lebih dari 50 buku. Magnum opus-nya adalah Tafsir al-Azhar, 30 jilid tafsir Alquran. Rasjidi, Menteri Agama pertama, lulus dari universitas di Mesir dan Prancis. Seperti halnya Hamka, dia terutama dikenal sebagai ideolog Masyumi, serta juga sebagai pengkritik keras gerakan pembaruan keagamaan di Indonesia.

Sejumlah kecil pendukung Model 1 berasal dari golongan Nah-dlatul Ulama. Mereka, antara lain, Wachid Hasjim (1914-1953), Idham Chalid (lahir 1921), Imron Rosjadi (lahir 1916), dan Moham-mad Dahlan (1909-1977). Hasjim adalah ketua Nahdlatul Ulama (NU) dan putra Hasjim Ash‘ari, pendiri NU. Dia adalah anggota

BPUPKI dan salah satu penandatangan Piagam Jakarta. Dia menjadi Menteri Agama dalam Kabinet Hatta (1949-1950). Chalid adalah ketua NU dari 1955 sampai 1984 dan dikenal sebagai politikus brilian. Dia memegang berbagai posisi strategis di era Soekarno dan adalah ketua pertama DPR/MPR pada era Soeharto (1971-1977). Rosjadi adalah lulusan MULO dan Fakultas Hukum di Baghdad. Dia adalah ketua Pemuda Ansor dan termasuk sedikit pemimpin NU yang tidak sepakat dengan Soekarno. Karena menentang Soekarno, dia dipenjarakan dari 1962 sampai 1966. Dahlan adalah anggota MIAI (1941) pada zaman prakemerdekaan. Ketika Masyumi didirikan, dia menjadi anggota dewan eksekutif partai sampai 1952. Pada 1954, dia dipilih menjadi ketua umum NU, dan pada 1967, dia menjadi Menteri Agama.

Beberapa pemimpin nasionalis “sekular” sebenarnya dekat dengan, dan mendukung, Model 1. Mohammad Hatta (1902-1980), misalnya, sering dianggap anggota golongan sekular, walaupun dengan halus dia menggalang dukungan Islam terhadap negara demokratis. Dia sendiri mendirikan partai agama dengan nama Partai Demokrasi Islam Indonesia (PDII). Namun, rezim Orde Baru tidak memberinya status legal.12 Beberapa pemimpin sosialis seperti Soedjatmoko (1922-1989) dan Hamid Algadri (1910-1998) bersimpati pada perjuangan politik Masyumi, walaupun mereka tidak secara terang-terangan mendukung model itu. Kedua pemimpin itu berpandangan positif terhadap peran Islam di Indonesia.13 Namun, Hatta dan pemimpin sosialis tidak dianggap pendukung asli Model 1 dalam bab ini.