Pluralisme adalah gagasan yang relatif baru. Di Barat, penerimaan terhadap konsep tersebut sudah terjadi pada zaman Renaisans, ketika orang mulai menyadari bahwa mereka tidak hidup di dalam masyarakat homogen tunggal. Yudaisme dan Islam telah masuk Eropa selama berabad-abad dan agama-agama baru berkembang luas sebagai konsekuensi Reformasi Protestan. Gagasan dasar konsep ini adalah bahwa orang-orang berbeda agama bisa hidup dalam harmoni dan hormat-menghormati. Walaupun tampaknya sederhana, konse-kuensi konsep ini tidak pernah mudah dipraktikkan komunitas agama mana pun. Pertama, pluralisme menuntut penganut agama mengakui kemungkinan adanya kebenaran di dalam agama lain. Hal itu terutama untuk memuaskan prinsip kesetaraan di antara agama-agama, yang tanpanya negosiasi apa pun untuk menemukan landasan bersama tidak bisa tercapai. Terlebih lagi, konsep itu juga menuntut kebebasan bagi setiap penganut agama atau sekte untuk berpegang pada keyakinan mereka dan mengikuti praktik yang didasarkan pada doktrin agama mereka. Ini berarti bahwa tidak boleh ada agama atau sekte dominan. Karena harus diasumsikan bahwa semua agama dan kepercayaan berisi kebenaran, tidaklah pantas bagi penganut salah
satu agama tertentu untuk mempertobatkan orang lain ke dalam agamanya.
Bagi eksponen Model 2, pluralisme agama adalah gagasan penting yang harus dianut dan dikembangkan. Salah satu alasannya, ia sesuai dengan prinsip Negara Demokrasi agama yang coba mereka bangun. Pluralisme agama tidak hanya mengimplikasikan pentingnya agama di tingkat sosial, melainkan juga di tingkat politik. Itu berarti bahwa konsep itu bukan hanya akan memainkan peran dalam penciptaan kehidupan religius harmonis, melainkan juga harus dijadikan dasar untuk melawan sekularisme yang mengancam kehidupan manusia modern. Eksponen Model 2 menyadari bahwa tidak semua Muslim akan setuju dengan konsep itu, terutama karena fakta bahwa ia tidak berasal dari Islam, dan beberapa konsekuensinya bisa diang-gap bertentangan dengan “doktrin Islam”. Namun, mereka meng-anggap penolakan seperti itu pada umumnya didasarkan pada kesalahpahaman Muslim akan konsep itu. Kalau dipahami dengan tepat, kata mereka, pluralisme agama akan sama sekali cocok dengan Islam.
Ulama paling terhormat dalam mengembangkan wacana tentang pluralisme di Indonesia adalah Abdul Mukti Ali, ahli Islam yang menjadi Menteri Agama pada kabinet pertama Soeharto. Mukti Ali adalah salah satu Muslim santri yang menjadi sekutu Soeharto dalam pemerintahan karena dia menyokong agenda Soeharto tentang rekonsiliasi dan pembangunan nasional. Untuk itu, dia men dirikan proyek dialog di antara masyarakat beragama di negeri ini. Dia percaya bahwa dialog agama harus dimulai dari pemimpin agama. Maka, pada 1972, dia memulai Musyawarah Antar Umat Beragama, yang terdiri dari pemimpin berbagai lembaga keagamaan di Indonesia, seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Persatuan Wali Gereja Indonesia (PWGI), Dewan Gereja Indonesia (DGI), Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi), dan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI). Tujuan utama forum itu, seperti dijelaskan Mukti Ali, adalah “memupuk toleransi antaragama”.90
Tugas utama proyek dialog agama di Indonesia, menurut Mukti Ali, adalah untuk meyakinkan Muslim bahwa dialog itu penting dan
bahwa ia tidak melanggar akidah agama mereka. Sudah menjadi pandangan umum di kalangan Muslim bahwa komunikasi intensif dan persahabatan dengan non-Muslim bisa berakibat buruk terhadap dasar terdalam agama seseorang, karena salah satu ayat Alquran menyarankan bahwa Muslim harus bersikap ketat terhadap mereka (ashidda ‘ala al-kuffar). Banyak Muslim menganggap Kristen tidak lebih dari kuffar (kafir), walaupun ada ayat lain dalam Alquran yang menyebut mereka ahl al-kitab (ahli kitab).91 Selain dasar teologis ini, sikap Muslim kontemporer terhadap non-Muslim, khususnya Kristen, sangat bergantung pada situasi sosial-politik selama awal 1970-an, ketika isu Kristenisasi meluas di kalangan masyarakat Muslim. Namun, setelah usaha lebih dari 30 tahun, pluralisme agama di Indonesia telah sangat berkembang. Kerjasama antarpenganut agama meningkat dan forum intelektual yang berfokus pada tujuan khusus ini sangat banyak.92
Yang penting dicatat di sini adalah bahwa pandangan Muslim mengenai agama dan kepercayaan lain makin cepat berubah ke arah positif. Lebih penting lagi, respons positif ini bukan hanya berasal dari intelektual modernis yang telah mendominasi wacana politik Islam sejak kemerdekaan, tapi juga dari tradisionalis. Muslim tradisionalis yang diwakili NU telah menghasilkan satu generasi baru ulama yang lebih moderat dan berpikiran terbuka. Telah saya sebut pemimpin NU seperti Abdurrahman Wahid dan Achmad Siddiq, yang berpandangan religius-politik sangat liberal. Hasyim Muzadi adalah anggota lain NU yang dianggap progresif.93 Pada 2001, dia dinominasi sebagai ketua umum organisasi itu. Dia bukan penulis produktif, tapi kegiatannya sebagai pemimpin Muslim melampaui organisasi yang dia pimpin. Dia menjalin dialog dan kontak dengan pemimpin agama lain dan telah beberapa kali diundang berbicara di gereja dan kuil. Dalam buku berdasarkan wawancaranya, dia menjelaskan pandangannya tentang pluralisme sebagai berikut:
Pluralisme dalam segala bentuknya merupakan suatu kewajaran yang tidak seharusnya dihindari. Ia adalah sebuah refleksi kenya taan sosial yang given atau bagian dari sunnatullah, yang
menggambarkan betapa manusia memang diciptakan olehNya dalam keragaman dan perbedaan antara satu sama lain, sehingga tak akan ada satu kekuatanpun yang sanggup mengingkari serta berusaha menyingkirkannya dari dataran realitas. Semua orang pasti menyadari bahwa antara dirinya dan orang lain, antara kelom-poknya dengan kelompok lain, antara bangsanya dengan bangsa lain, sedikit atau banyak cenderung memperlihatkan perbedaan di samping persamaan dasar sebagai satu kesatuan spesis maupun makhluk Tuhan.94
Kenyataan konkret ini, menurut Muzadi, adalah argumen paling kuat yang tidak bisa disangkal oleh argumentasi lain. Karena alasan inilah, katanya, Alquran sepenuhnya mendukung gagasan pluralisme. Dia menunjuk pada beberapa ayat seperti 30:22 dan 49:1395 sebagai basis pluralisme dalam Islam.
Perilaku toleran dan argumen kuat yang dikembangkan pemimpin Muslim mengenai gagasan pluralisme sangatlah penting, terutama karena mereka adalah otoritas agama yang pandangannya biasanya didengarkan oleh sesama Muslim.