• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sumber-sumber Islam klasik telah dipertentangkan baik oleh Muslim konservatif maupun liberal untuk membenarkan pandangan mereka masing-masing akan perempuan. Sementara konservatif mengacu pada ayat Alquran atau Hadis yang dapat mendukung pandangan mereka akan status rendah perempuan, liberal mencari yang mendukung pandangan mereka akan emansipasi dan kesetaraan perempuan. Sumber-sumber klasik tampaknya telah menjadi sumur berlimpah-ruah bagi Muslim untuk membenarkan pandangan-pan dangan berbeda. Jadi, sia-sialah berargumen secara teologis tentang status perempuan dalam Islam, karena sumber klasik Islam menyediakan bahan untuk kedua titik pandang tersebut.

Eksponen Model 2 tidak berangkat dari ayat tertentu dalam memandang status perempuan, tapi mereka secara langsung terus mengulang bahwa semangat dan prinsip dasar Islam menyokong

hak-hak perempuan. Agama yang sangat menghormati martabat manusia tentulah dengan sendirinya menghormati martabat perempuan; dan aspek paling penting penghormatan terhadap perempuan adalah menghargai hak-hak dan statusnya. Dari asumsi dasar ini, mereka mengembangkan argumen bahwa seluruh pesan Alquran pada dasarnya menentang diskriminasi terhadap perempuan.96 Ini tidak dengan sendirinya berarti bahwa mereka tidak menyadari adanya ayat-ayat yang tampaknya diskriminatif terhadap perempuan, seperti ayat-ayat tentang pewarisan, saksi, dan status perempuan pada umumnya. Semua ayat itu, kata mereka, harus dibaca dalam konteks semangat zamannya.97

Kontekstualisasi adalah istilah penting bagi eksponen Model 2 dalam memanfaatkan sumber-sumber klasik Islam, karena mereka percaya bahwa sumber-sumber itu, khususnya Alquran, disampaikan sebagai respons terhadap kondisi tertentu di waktu tertentu. Di lain pihak, Islam adalah agama yang mengklaim menyediakan pedoman bagi segala zaman dan tempat (salih li kulli zaman wa makan). Jadi, normal saja bahwa sumber-sumber itu memerlukan interpretasi ulang sehingga sesuai dengan situasi yang berubah dan berbeda. Sahal Mahfudh, tokoh NU ternama, berargumen bahwa kebutuhan kita akan kontekstualisasi Alquran terutama disebabkan fakta bahwa waktu selalu berubah sementara wahyu sudah berhenti.98

Orang yang paling bertanggungjawab atas gagasan kontekstualisasi sehubungan dengan isu hak-hak perempuan di Indonesia adalah Munawir Sjadzali yang telah disebutkan di muka. Dia memakai istilah “reaktualisasi” dan “kontekstualisasi”, tapi yang pertama jauh lebih populer dan hampir secara eksklusif dikaitkan dengan nama-nya.99 Yang dia maksudkan dengan “reaktualisasi” adalah upaya meninjau dan memikir ulang sumber-sumber primer Islam untuk mendapatkan pemahaman baru yang lebih sesuai dengan semangat zaman sekarang. Munawir menganggap pemahaman Muslim akan Alquran harus disesuaikan dengan keadaan kehidupan seseorang, kalau tidak, “Islam akan menjadi penghalang besar terhadap kema-juan dan pembangunan”.100 Salah satu ayat Alquran yang memerlukan reaktualisasi, menurut Munawir, adalah ayat yang berkenaan dengan

pewarisan. Ayat itu jelas-jelas menyatakan bahwa perempuan hanya berhak atas separuh dari apa yang didapatkan laki-laki. Munawir menganggap formula itu tidak adil, khususnya berkaitan dengan konteks Indonesia. Dia melihat bahwa formula itu mengandung bias kuat lokalitas di tempat Islam diwahyukan. Jadi ayat itu tidak bisa dibaca secara harfiah, melainkan harus dibaca sesuai dengan situasi dan konteks tempat Muslim tinggal. Dalam salah satu bukunya, Munawir menjelaskan mengapa dia secara khusus ingin mereaktualisasi ayat itu:

Dalam pembagian harta warisan, al-Qur’an surat al-Nisa, ayat 11, dengan jelas menyatakan bahwa hak anak laki-laki adalah dua kali lebih besar daripada hak anak perempuan. Tetapi ketentuan tersebut sudah banyak ditinggalkan oleh masyarakat Islam Indo-nesia, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal itu saya ketahui setelah saya mendapatkan kepercayaan menjabat sebagai Menteri Agama.... Sebagai Menteri Agama, saya mendapat laporan dari banyak hakim agama di berbagai daerah, termasuk daerah-daerah yang terkenal kuat Islamnya seperti Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan, tentang banyaknya penyimpangan dari ketentuan al-Qur’an tersebut. Para hakim agama seringkali menyaksikan, apabila seorang keluarga Muslim meninggal, dan atas permintaan para ahli warisnya, Pengadilan Agama memberikan fatwa waris sesuai dengan hukum waris Islam atau faraidl, kerapkali terjadi para ahli waris tidak melaksanakan fatwa waris tersebut, dan pergi ke Pengadilan Negeri untuk meminta agar dipelakukan sistem pembagian yang lain, yang terang tidak sesuai dengan

faraidl.... Sementara itu telah membudaya pula penyimpangan tidak

langsung dari ketentuan al-Qur’an tersebut. Banyak kepala keluarga yang mengambil kebijaksanaan pre-emptive. Semasa hidup mereka telah membagikan sebagian besar dari kekayaannya kepada anak-anaknya, masing-masing mendapat bagian yang sama besar tanpa membedakan jenis kelamin, sebagai hibah. Dengan demikian maka pada waktu mereka meninggal, kekayaan yang harus dibagi tinggal sedikit, atau bahkan hampir habis sama sekali. Dalam hal contoh

yang terakhir ini memang secara formal tidak terjadi penyimpangan dari ketentuan al-Qur’an di atas. Tetapi apakah melaksanakan ajaran agama dengan semangat demikian itu sudah betul? Apakah tindakan-tindakan itu tidak termasuk katagori helah atau main-main dengan agama?101

Jadi, reaktualisasi ayat pewarisan, bagi Munawir, bukan hanya bertujuan membela hak-hak perempuan, melainkan juga menyelamatkan Alquran dari Muslim yang kurang merasa nyaman dengan sebagian isinya.

Contoh lain ayat yang perlu dikontekstualisasi adalah ayat ten-tang status perempuan, yang menyatakan “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan” (al-rijalu qawwamuna ‘ala al-nisa’).102 Ayat itu sangat sering dipakai untuk membenarkan pelarangan terhadap perempuan untuk menjadi pemimpin politik. Ketika isu presiden perempuan muncul di panggung politik Indo-nesia pada 1999, setelah nominasi Megawati Soekarnoputri sebagai calon presiden, ayat itu sering dikutip oleh Muslim konservatif untuk mendiskreditkannya. Sebagian besar eksponen Model 2 juga tidak mendukung Megawati sebagai presiden. Akan tetapi mereka menolaknya, bukan karena terinspirasi oleh doktrin Alquran seperti ayat di atas, melainkan hanya karena mereka tidak percaya pada kemampuan Megawati memimpin Indonesia. Jadi, mereka tidak pernah memakai ayat itu untuk mendiskreditkannya.103 Bagi mereka, ayat di atas tidak ada kaitannya dengan politik, apalagi pela rangan terhadap perempuan untuk menjadi presiden. Sebagian besar eksponen Model 2 cenderung memilih penafsiran liberal dalam memahami ayat seperti itu. Ahmad Syafii Maarif, misalnya, lebih suka penafsiran Muhammad Asad (1900-1992); dia menafsirkan kata qawwamuna sebagai “mereka yang bertanggungjawab atau mereka yang melindungi”. Jadi, dalam ayat Alquran itu, laki-laki tidak ditempatkan lebih superior daripada perempuan, tetapi sebagai pihak yang setara dalam suatu pasangan yang bertanggungjawab atas keluarganya. Penafsiran itu, kata Maarif, jelas lebih positif sehubungan dengan posisi perempuan daripada pemahaman Muslim

konservatif.104

Sebagai model yang mengasumsikan demokrasi sebagai salah satu pilar utamanya, sikap positif Model 2 terhadap hak-hak perempuan tidaklah mengherankan. Bahkan Model 1, yang tampaknya konser-vatif dalam beberapa isu politik, punya visi positif tentang hak-hak perempuan (lihat Bab 3). Walaupun demikian, advokasi hak-hak perempuan tidak berarti bahwa mereka sepenuhnya mendukung gerakan feminis. Bahkan, beberapa feminis radikal—misalnya, yang menyokong lesbianisme—tidak pernah ditolerasi, hanya karena mereka dianggap bertentangan dengan Islam.105 Fondasi demokrasi Model 2 memungkinkan penganutnya mendukung gerakan feminis, tapi fondasi religiusnya membatasi dukungan mereka, sehingga unsur-unsur radikal tertentu tidak termasuk.