• Tidak ada hasil yang ditemukan

Model 1: negara Demokrasi islam (nDi)

Istilah “Negara Demokrasi Islam” pada awalnya dikemukakan

oleh Mohammad Natsir (1908-1993),57 dalam ungkapan berikut:

“negara yang berdasarkan Islam bukanlah teokrasi. Ia adalah Negara Demokrasi. Ia bukan juga negara sekular. Ia adalah Negara Demokrasi Islam”.58 Dia mengontraskan model negara ini dengan teokrasi, pemerintahan oleh Tuhan, dan negara sekular, pemerintahan tanpa Tuhan. Model 1 adalah jalan tengah di antara kedua model ekstrem. Seperti tampak jelas dari kutipan di atas, Natsir menganggap Negara Demokrasi pada intinya baik, tapi belum cukup baik untuk diper-bandingkan dengan sistem politik Islam. Yang dia maksudkan dengan “sistem politik Islam” adalah sistem yang mencakup segala aspek kehi dupan Muslim. Islam dianggap sebagian besar penganutnya sebagai komprehensif (kamil), serba inklusif (shamil), dan cocok untuk segala zaman dan tempat (salih li kulli zaman wa makan). Pen deknya, ia adalah sistem kehidupan komplet. Dengan karakter superior ini, Islam tidak bisa ditundukkan ke bawah sistem lain mana pun. Karena itu, semua ideologi dan konsep yang datang dari luar Islam harus ditolak atau jika tidak dimodifikasi supaya cocok dengan Islam.

Banyak pendukung Model 1 menganggap demokrasi pertama-tama adalah produk asing. Sebagian mereka berargumen bahwa demokrasi, yang artinya pemerintahan rakyat (“rakyat” sering dipa-hami sebagai lawan “Tuhan”), mutlak bertentangan dengan doktrin Islam bahwa pemerintah (hukumah) semata-mata berada di tangan Tuhan.59 Dalam salah satu tulisan awalnya, Natsir dengan sangat hati-hati menerima demokrasi. Dia berargumen bahwa ada beberapa hal dalam Islam yang dianggap final, sehingga tidak ada ruang bagi orang untuk membahasnya. Baginya, isu-isu seperti pelarangan perjudian dan pornografi tidak bisa dibahas atau di-vote di dalam parlemen. DPR tidak punya hak membahas hal-hal itu.60

Pemahaman pendukung Model 1 tentang demokrasi memainkan peran penting dalam membentuk sikap mereka terhadap isu-isu reli-gius-politik. Dengan memahami demokrasi sebagai konsep yang di ba tasi aturan ilahi, mereka memberikan lebih banyak ruang

kepa-da otoritas religius. Ini terlihat, misalnya, pakepa-da fakta bagaimana mereka mengorbankan beberapa prinsip demokrasi (seperti kese-taraan politik) demi doktrin agama yang, kata mereka, “tidak bisa didiskusikan di parlemen”. Misalnya, masalah kewarganegaraan. Doktrin politik Islam klasik mengakui pembagian komunitas politik ke dalam Muslim dan dhimmi (non-Muslim yang dilindungi). Pembedaan ini bukan sekadar identitas politik, tetapi punya kon-sekuensi bagi hak-hak dan kewajiban politik. Karena itu, dhimmi diharuskan membayar pajak (dikenal dengan nama jizyah) lebih daripada yang dibayarkan Muslim (disebut zakah). Selain itu, mereka juga tidak memiliki hak-hak politik setara, karena mereka tidak boleh memegang jabatan politik strategis, seperti kepala negara. Eksponen Model 1 seperti Natsir dan Zainal Abidin Ahmad (1911-1983) perca-ya pada keabsahan pembagian seperti ini, khususnperca-ya dalam hal hak-hak politik non-Muslim. Bagi mereka, doktrin seperti itu bersifat final dan, karenanya, tidak bisa diperdebatkan secara demokratis di dalam gedung DPR.

Contoh lain terlihat pada sikap mereka terkait isu kebebasan berpikir atau kebebasan berekspresi. Memang, pendukung Model 1 mengakui kebebasan sebagai bagian penting demokrasi. Tapi kebebasan pun harus tunduk pada doktrin agama.61 Karenanya, kebe-basan yang melanggar doktrin agama harus ditolak. Kasus seperti ini pernah terjadi pada 1973 ketika seorang sutradara film Mesir ternama, Moustapha Akkad, mengumumkan akan membuat film tentang Nabi Muhammad. Banyak ulama Muslim menolak rencananya. Di Indonesia, respons kaum Muslim diliput media massa, termasuk Tempo dan Panji Masyarakat. Penolakan mereka terutama didasarkan pada doktrin Islam klasik bahwa Nabi Muhammad tidak boleh divisualkan, baik dalam gambar atau film. Dalam sebuah wawancara dengan majalah Tempo, Natsir berkata, “Saya akan menggerakkan massa kalau film itu benar-benar dibuat”. Dalam majalah yang sama Hamka (1908-1981), juga ideolog Model 1, menyatakan bahwa “Saya pasti akan menyerangnya”.62

Kasus menarik lain yang berkaitan dengan kebebasan berekspresi mencakup reaksi beberapa pendukung Model 1 terhadap cerita

pendek yang ditulis Ki Panjikusmin berjudul Langit Makin Mendung. Cerpen ini diterbitkan majalah Sastra pada Agustus 1968, dan memicu kontroversi panas berkepanjangan di kalangan Muslim Indonesia. Beberapa pemimpin Muslim menganggap cerpen itu berisi hujatan dan hinaan kepada Allah, Islam, dan Nabi Muhammad. Ki Panjikusmin adalah nama samaran seseorang yang berasal dari Malang, Jawa Timur. Penerbitan cerpen itu dan penutupan identitas penulisnya dilakukan oleh Hans Begue Jassin, pemimpin redaksi majalah itu. Jassin tidak hanya bertanggungjawab atas penerbitan cerita itu, ia pun membela penulisnya atas dasar kebebasan berekspresi. Hamka, yang juga seorang novelis, mengambil sikap moderat, walaupun dia menyesalkan bahwa Jassin menerbitkannya. Dia menganggap cerita itu “gagal total sebagai karya seni, karena hanya memuat hinaan, sinisme, dan keburukan kepada Allah, Muhammad, Jibril, ulama, dan kiai”.63 Langit Makin Mendung menjadi simbol hubungan sumbang antara Islam dan kebebasan berekspresi.

Namun, tidak semua pandangan religius-politik pendukung Model 1 sejalan dengan doktrin Islam klasik (yang menolak prinsip-prinsip demokrasi). Dalam kasus lain, mereka mengikuti pan dangan “liberal”. Mengenai isu kepemimpinan perempuan, misalnya, seba-gian besar mereka setuju bahwa perempuan bisa menjadi pemim pin politik dalam jabatan apa pun, termasuk kepala negara. Pandangan ini jelas-jelas bertentangan dengan doktrin Islam klasik yang diikuti banyak ulama Muslim.64 Hamka mengeluarkan fatwa dalam artikelnya bahwa seorang perempuan bisa menjadi pemimpin politik, baik sebagai perdana menteri, presiden, atau ratu. Akan tetapi, argumen Hamka sebetulnya lebih bersifat historis daripada teologis. Dia menjelaskan bahwa ada banyak pemimpin perempuan (ratu) di masa lalu yang berhasil memimpin kerajaan Islam.65

Kesimpulannya, Model 1 berupaya menerima nilai-nilai politik modern tanpa mengabaikan doktrin-doktrin Islam klasik. Kompromi itu tidak selalu mulus. Seperti terlihat dari contoh-contoh di atas, upaya mengharmoniskan Islam dengan modernitas kadang-kadang tidak konsisten, dan hasilnya seringkali bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi liberal.