• Tidak ada hasil yang ditemukan

Awalnya, Sarekat Islam adalah organisasi dagang yang didirikan di Solo pada 1911. Pendiriannya, kata Deliar Noer, punya dua alasan: peningkatan kompetisi dalam perdagangan batik, khususnya dari pedagang China; dan penindasan oleh bangsawan Solo.61 Pendirinya, Haji Samanhudi (1868-1956), tidak pernah berpikir bahwa organisasi itu akan menjadi organisasi politik. Tetapi, pemimpin salah satu ca-bang nya (Surabaya) mengubahnya menjadi gerakan politik. Pemim-pin itu, H.O.S. Tjokroaminoto (1882-1934), adalah orang yang

karismatik dan ahli pidato, yang lebih tertarik pada politik daripada perdagangan. Pada 1912, Tjokroaminoto membuang kata “Dagang” dan mengubahnya menjadi Sarekat Islam (SI).

Dalam perkembangan awalnya, Sarekat Islam berkutat dengan karakter organisasi. Raden Mas Tirtoadisurjo, salah satu pendiri, me nyusun anggaran dasar dan merumuskan aturan-aturan untuk urusan organisasi. Tirtoadisurjo adalah seorang Muslim taat dari keluarga priyayi. Dia ingin SI menjadi organisasi Islam modern dan percaya bahwa hanya lewat modernisasilah kondisi Muslim bisa mem baik. Dia berkata:

Setiap orang tahu bahwa masa kini dianggap zaman kemajuan. Kita perlu bimbingan [dalam mengejar kemajuan]: janganlah mengejar kemajuan hanya melalui kata-kata. Pada diri kita umat Muslim, upaya-upaya untuk mengejar kemajuan ini adalah kewajiban dan karena itu, kita harus bertekad mendirikan Sarekat Islam.62

Secara umum, SI adalah organisasi progresif. Pemimpin utama-nya adalah intelektual Muslim yang sebagian besar lulusan lembaga pendidikan Barat. Dua tokoh sangat berpengaruh pada awal pendirian SI: Agus Salim (1884-1954) dan Abdul Muis (1890-1959). Dengan latar belakang agama yang kuat, Salim dan Muis memberikan ciri Islam yang kokoh kepada organisasi itu.

Salah satu tantangan utama yang SI hadapi pada tahun-tahun awal adalah bagaimana mengambil sikap politik berhadapan dengan pemerintahan kolonial non-Muslim. Pertanyaan yang menghantui kaum Muslim Indonesia pada masa itu adalah bagaimana berhadapan dengan isu itu. Sebagian dari mereka waswas apakah agama mem-perbolehkan sikap setia kepada Belanda yang mereka anggap kafir. Tjokroaminoto memahami kekhawatiran Muslim, dan dalam salah satu pidatonya dia mengeluarkan pernyataan ini: “Menurut Syariat Islam, kita harus tunduk pada pemerintah Belanda, kita harus setia mengikuti undang-undang dan peraturan Belanda…”63 Tidak jelas sejauh mana pidato itu berpengaruh pada anggota-anggota SI. Tetapi fakta bahwa sebagian besar anggota SI tidak menentang pemerintahan

non-Muslim adalah indikasi persetujuan mereka dengan sang pemimpin. Bahkan kalau pun ada sikap antipemerintah (yang ber-wujud dalam gerakan nonkooperasi), hal itu tidak didasarkan pada agama, melainkan hanya pada ketidakpuasan terhadap kinerja pemerintah.64

Tantangan lain yang SI hadapi adalah problem dasar organisasi —apakah harus ketat bersifat Islam atau membiarkannya bersifat terbuka. Jika harus memakai Islam, bagaimanakah mereka berhadapan dengan isu anggota komunis di antara mereka? Bisakah Islam menoleransi Komunisme? Masalah ini sangat menghabiskan perhatian pemimpin-pemimpin SI pada 10 tahun pertama pendi-riannya. Gagasan tentang Komunisme telah ada di negeri ini sejak 1913, ketika Hendricus Josephus Franciscus Marie Sneevliet, seo-rang warga Belanda, tiba di Indonesia. Bersama dengan seoseo-rang Belanda lain, Adolf Baars, Sneevliet mendirikan ISDV (Indische Sociaal-Democratische Vereeniging), organisasi politik yang awal-nya menyebarluaskan gagasan sosialis, tapi kemudian berpaling sepenuhnya kepada Komunisme.65 ISDV sangat berpengaruh pada anggota-anggota SI, terutama para pekerja dan Muslim kelas bawah. Di Semarang, anggota ISDV bahkan sangat berhasil mengubah cabang SI menjadi organisasi komunis yang kemudian dikenal sebagai SI Merah. Pemimpin cabang Semarang seperti Semaun, Darsono, dan Alimin, menganggap dasar CSI (Central Sarekat Islam) tidak sanggup menerima kemajemukan masyarakat Indonesia. Mereka mengusulkan agar dasar Islam SI diubah menjadi Komunisme, karena Komunisme menerima segala macam manusia, Muslim serta non-Muslim. Dalam surat terbuka berjudul “Marilah Kita Menyucikan Diri”, Alimin secara terbuka menyatakan:

Sekarang setelah Sarekat Islam menjadi besar dan kuat, ia sudah bukan lagi Sarekat Islam, ia sudah menjadi Sarekat Hindia. Cara terbaik untuk mendapatkan pertumbuhan lebih jauh adalah mem-buka keanggotaannya kepada siapa saja yang mau berjuang, tanpa membedakan ras atau agama.66

Tentu saja, agitasi anggota-anggota komunis ditantang oleh pe-mimpin-pemimpin Muslim seperti Agus Salim dan Abdul Muis. Mereka menganggap anggota cabang Semarang sudah berbuat terlalu jauh dan melanggar fondasi dasar organisasi. Bagaimanapun, sejak 1917, Salim dan Muis berusaha membatalkan keanggotaan mereka di SI pusat. Hanya karena campur tangan Tjokroaminotolah upaya mereka gagal. Namun, pada kongres SI keenam di Surabaya pada 1921, rencana Salim dan Muis akhirnya berhasil. Mereka mengajukan gagasan disiplin partai, yang berarti bahwa setiap orang yang meme-gang lebih dari satu keanggotaan harus dipecat.67 Targetnya jelas, yakni anggota cabang Semarang yang sekaligus menjadi ang gota Partai Komunis Indonesia (PKI), partai yang tumbuh dari ISDV. Penting dicatat di sini bahwa ketika keputusan itu diambil, Tjokroaminoto tidak hadir di dalam kongres itu.68

Kecuali Tjokroaminoto, pemimpin SI pusat pada umumnya menen-tang anggota komunis dan Komunisme pada umumnya. Mereka bisa bertolerasi terhadap sosialisme, tapi tidak Komunisme. Kondisi ini terutama disebabkan anggota komunis itu sendiri, khususnya mereka yang berasal dari cabang Semarang, yang merendahkan Islam dan pemimpinnya. Di Solo, hubungan antara SI dan Komunisme relatif harmonis, khususnya karena banyak pemimpin agama adalah anggota partai komunis. Salah satu pemimpin paling berpengaruh di kota itu adalah Haji Misbach (wafat 1926), seorang kiai yang sudah aktif di SI sejak 1914. Misbach menganggap Islam dan Komunisme sama-sama penting dan karena itu keduanya tidak bisa dipisahkan.69 Dia ingin SI menjadi organisasi yang berjuang untuk gagasan komunis. Perjuangan Misbach untuk Komunisme bukan hanya dilakukan dengan bergabung dengan cabang Solo SI. Dia sendiri mendirikan sebuah organisasi dakwah yang dinamai SATV, singkatan dari Sidik Amanat Tableg Vatonah, empat sifat utama Nabi. Dengan organisasi ini, Misbach melatih ratusan mubaligh dengan memakai ajaran Islam dan Komunisme.

Misbach bukan satu-satunya ulama yang menyokong Komunisme. Di Sumatra Barat, tempat lahir pembaruan Islam, seorang ulama bernama Datuk Batuah (1895-1948) menjadi aktivis komunis. Dia

adalah lulusan Sumatra Thawalib dan salah satu murid paling cerdas. Dia sangat dekat dengan tokoh-tokoh pembaru Minangkabau, khusus nya Abdul Karim Amrullah, ayah Hamka. Dalam bukunya, Ajahku, Hamka menjelaskan bahwa Batuah bertanggungjawab mem-perkenalkan Komunisme di Sumatra Barat. Karena dialah Komunisme menyebar cepat di wilayah itu. Dia adalah komunis militan sekali-gus Muslim taat. Suatu hari dia berkata kepada Hamka bahwa

ke-ter libatannya dalam Komunisme disebabkan tanggungjawabnya

sebagai Muslim. Komitmennya terhadap Komunisme tidak pernah luntur, walaupun lama ditahan oleh pemerintah dan orang banyak membencinya. Hamka mengisahkan pertemuannya dengan Batuah setelah kemerdekaan dan merasa heran karena Batuah masih berkomitmen pada Komunisme sambil tetap taat pada agamanya.70

Misbach dan Batuah mungkin adalah contoh radikal bagaimana kaum Muslim Indonesia menyambut dengan semangat perubahan politik di negeri mereka. Mereka tidak melihat Komunisme, walaupun berkait kuat dengan ateisme, sebagai bertentangan dengan keyakinan mereka. Bahkan, mereka merasa gagasan-gagasan Komunisme itu sejalan dengan Islam. Yang patut dicatat di sini bukanlah apakah Misbach atau Batuah berhasil, melainkan bagaimana mereka berusaha keras mengawinkan Islam dengan gagasan-gagasan baru yang datang dari luar tradisi mereka.